
Dua hari kemudian, setelah melakukan janji dengan salah satu salah seorang “marketing” Apartemen Sky Blue, Freya ditemani Lisa pergi ke salah satu tower yang sedang dipasarkan.
“Kamu yakin tidak ada biaya DP?” tanya Freya saat mereka tiba di depan gedung yang bernuansa hitam dan abu-abu itu. Entah kenapa ia sedikit ragu. Mana ada apartemen semurah ini?
Lisa mengangguk dengan sangat kuat. Tentu saja ia yakin, Pak Bayu sudah mengatur semuanya. Ia hanya perlu berakting saja untuk meyakinkan Freya.
“Kemarin, setelah membuatkan akun TikTok untuk kita berjualan, aku iseng cari-cari info kos-kosan murah. Eh, kebetulan muncul iklan apartemen ini, jadi aku hubungi nomor yang tertera.” Lisa menyampaikan skema yang sudah ia susun di kepala sejak tadi malam.
Kemarin mereka memang sempat mencari-cari kontrakan ke beberapa lokasi, tapi ia sengaja tidak setuju pada semua pilihan Freya. Mulai dari lokasi yang tidak strategis, rawan kemalingan, penuh aura gelap, sampai bapak pemilik kontrakan yang terlihat mesum. Semua alasan yang dibuat-buat itu ia kemukakan hanya agar Freya tertarik kepada gedung apartemen yang menjulang tinggi di hadapan mereka saat ini.
“Lihat, dari sini hanya sekitar sepuluh menit ke kampus. Akses kendaraan juga lebih mudah. Selain itu, yang paling penting adalah sistem keamanannya sudah pasti terjamin. Selain itu, dari pada mengontrak dan uangnya hilang begitu saja, apartemen ini akan menjadi milikmu dengan jumlah pembayaran angsuran yang kurang lebih sama dengan biaya sewa kos. Kan lumayan,” ucap Lisa.
Freya melirik curiga. “Kamu dikasih komisi berapa kalau aku deal mau di sini?”
Lisa tertawa canggung, menepuk-nepuk lengan Freya hingga tubuh teman baiknya itu terdorong ke samping.
“Komisi apa? Aku hanya tidak ingin kamu kenapa-kenapa. Sudah, ayo cepat masuk,” ucapnya seraya menarik tangan Freya ke arah pintu.
Seorang satpam menyambut mereka dengan ramah. Lisa lalu menjelaskan maksud kedatangan mereka.
Sang satpam meminta mereka untuk menunggu di lobi utama, sedangkan ia pergi memanggil “marketing” yang dimaksudkan oleh Lisa.
Tak lama berselang, seorang wanita yang berpakaian formal menghampiri mereka seraya tersenyum lebar.
“Halo, selamat sore. Ini dengan Mbak Lisa, ya?” sapa wanita itu seraya mengulurkan tangan untuk bersalaman.
“Iya, Bu. Ini teman saya ... Freya, yang ingin membeli apartemen di sini,” jawab Lisa.
“Baik, Mbak Lisa, Mbak Freya. Perkenalkan, nama saya Revina. Saya jelaskan dulu ya ....”
Lisa memasang wajah serius ketika Ibu Revina menjelaskan syarat-syarat pembelian salah satu unit apartemen yang ia pasarkan. Wanita itu juga menjelaskan sistem pembayaran dan fasilitas apa saja yang didapatkan dari pembelian unit apartemen itu.
“Bu, maaf ... kok, bisa murah?” tanya Freya setelah Ibu Revina selesai menjelaskan detailnya.
__ADS_1
“Ini karena kita hanya sisa empat unit aja, Mbak. Makanya diskon gede-gedean ....”
“Oh ....” Freya membulatkan bibirnya dan mengangguk-angguk meski masih heran. Bukankan stok akhir unit apartemen biasanya justru semakin mahal?
Lisa menyikut Freya dan berkata, “Sudah, jangan lama-lama ... nanti kehabisan.”
Ia lalu menoleh ke arah Bu Revina dan meminta persetujuan, “Bener, nggak, Bu?”
“Bener banget, Mbak Lisa.” Bu Revina ikut tersenyum lebar.
“Jadi ini saya langsung bayar angsuran pertama saja?” tanya Freya memastikan.
“Betul. Nanti setelah berkas-berkas masuk dan disetujui, Mbak Freya bisa langsung bayarkan angsuran pertama ke nomor rekening kantor, ya. Saya izin minta kontak Mbak Freya boleh?”
Freya mengangguk dan menyebutkan sederet angka. Di sebelahnya, Lisa mengacungkan kedua jempolnya di udara.
Ia mengeluarkan ponsel dan mengajak Freya selfie. Untuk kenang-kenangan, begitu katanya.
Lalu, ketika Freya sedang sibuk berbicara dengan Bu Revina, ia mengirimkan foto itu kepada Pak Bayu.
Misi berhasil dijalankan!
Setelah urusan mengenai apartemen beres, Freya langsung mengajak Lisa untuk pergi ke kafe. Ia ingin melihat lokasi dengan jelas dan membuat perencanaan yang matang sebelum memperlebar tempat itu dan membuka butik di sana.
Dengan mobil yang dipesan dari aplikasi online, keduanya pergi ke kafe. Lisa terlihat lebih bersemangat dibandingkan Freya. Di sepanjang jalan ia terus mengoceh tentang ini dan itu, mulai dari teman-temannya di kampus yang baik dan juga yang menjengkelkan, sampai tingkah Pak Bayu yang membuatnya kesal.
Freya duduk menyamping, menopang dagu dengan punggung tangannya sambil memperhatikan bibir Lisa yang tidak berhenti bergerak. Ia menahan senyum ketika Lisa menirukan gaya bicara Pak Bayu yang menurutnya telah bersikap sangat tidak sopan kepadanya, lalu tawanya tak bisa ditahan lagi ketika Lisa menyebut pria itu “gadis tengil”.
Astaga, ia tidak dapat membayangkan betapa emosi Pak Bayu ketika dipanggil seperti itu.
“Kamu benar-benar bernyali besar. Awas dia datang mencarimu dan membuat perhitungan,” goda Freya. Harus ia akui, kehadiran Lisa membuat pikirannya terdistraksi, tidak melulu mengingat pria brengsek yang entah sekarang sedang melakukan apa.
Lisa mencibir, “Coba saja dia datang, aku akan menendang bokongnya sampai dia menangis seperti bayi.”
__ADS_1
“Dasar bermulut besar. Paling-paling kamu akan bersembunyi dan tidak berani menemuinya,” balas Freya.
Lisa ingin membalas lagi, tapi mobil sudah menepi di dekat halaman depan kafe.
“Sudah sampai ya, Kak,” ucap sang sopir seraya menekan tombol untuk membuka kunci pintu.
“Oke, terima kasih, Mas,” kata Freya sebelum turun dari mobil.
Lisa hanya bisa mengerucutkan bibir dan turun dari sisi yang berlawanan dengan Freya. Kenapa ia bisa punya teman yang tidak bisa diajak bercanda?
Freya lebih dulu berjalan menuju pintu masuk. Sore itu sangat ramai, hampir tidak ada kursi kosong yang tersisa. Ia menoleh ke arah meja kasir. Doni sedang melayani sederet pelanggan yang ingin membayar. Pria itu tampak sangat fokus sehingga tidak menyadari kehadirannya
“Kamu lihat, kafe sangat ramai ... pasti akan menjadi ladang bisnis yang bagus,” bisik Lisa yang berhasil menyusul Freya.
Freya mengangguk setuju. Ide Lisa tidak buruk sama sekali. Ia menoleh ke sisi kanan, ke arah tanah kosong berukuran sekitar 3 x 4 meter yang hanya dijadikan taman kecil dengan sebuah air mancur yang alirannya tidak terlalu deras.
Tempat itu pasti akan menarik lebih banyak pelanggan jika ia berhasil mengubahnya menjadi butik yang memajang beragam hasil desain yang unik.
Apalagi jika pakaian-pakaian itu dijual dengan harga yang terjangkau oleh anak muda, peminatnya pasti akan sangat banyak. Ia hanya perlu mempelajari bahan seperti apa yang sesuai dengan rancangannya, memiliki kualitas bagus, tapi dengan harga murah meriah.
“Kamu sudah memikirkan konsepnya?” tanya Lisa.
“Ya.” Freya mengangguk. Sudah ada beberapa gambaran di kepalanya.
“Apa yang bisa aku bantu?”
“Hm ... ayo, ikut aku ke kantor. Kita lembur malam ini.” Freya menggamit tangan Lisa dan membawanya ke lantai dua.
Lisa tidak banyak protes dan mengikuti Freya. Demi bayaran tiga kali lipat, tidak tidur sampai besok pagi pun tidak masalah. Siapa tahu Pak Bos berbaik hati dan memberinya upah lembur.
Xixixi ... membayangkannya saja sudah membuat air liur Lisa hampir menetes.
Ia jadi merasa sedikit bersalah karena sudah ikut marah-marah ketika Pak Bos tidak pulang. Sekarang, setelah memahami duduk masalahnya, ia tidak bisa menyalahkan pria itu sepenuhnya. Selain itu, berdasarkan apa yang dilakukan secara diam-diam oleh pria itu, ia berani bertaruh dengan nyawanya: Pak Bos sangat mencintai Freya.
__ADS_1
***