Istri Kesayangan Tuan Pram

Istri Kesayangan Tuan Pram
Jangan Lupa, Kita Sudah Menikah


__ADS_3

Freya memperhatikan Pramudya dengan hati-hati. Dengan jarak sedekat ini, aroma wine di tubuhnya tercium dengan jelas.


Akan tetapi, sepertinya Pak Bayu juga mabuk. Ada apa ini? Kenapa mereka berdua minum-minum selarut ini?


“Anda mabuk?” tanya Freya sekali lagi. Pertanyaannya tadi tidak dijawab, tapi dibalas dengan pertanyaan oleh Pramudya.


"Siapa yang mabuk? Aku tidak ... aku tidak mabuk ...." Pramudya maju satu langkah sehingga jarak mereka semakin dekat.


“Lihat, aku tidak mabuk, kan?” Ia berdiri dengan stabil dan terus memaku Freya dengan tatapannya, seolah menunggu reaksi gadis itu atas ucapan dan tindakannya.


Freya mendongak. Ia meneliti wajah Pramudya, rona merah di wajah pria itu memang terlihat lebih jelas.


Pak Pram jelas-jelas mabuk, meski gaya bicaranya masih terdengar normal. Freya lalu menunduk untuk menghindari tatapan Pramudya. Apakah pria ini minum-minum karena terpaksa menikah dengannya?


“Apakah ini karena Nona Carissa? Anda merasa menyesal karena menikah dengan saya?” tanyanya setelah terdiam cukup lama.


“Seharusnya kemarin Anda menerimanya saja, dengan begitu hari ini pengantin wanitanya adalah dia,” imbuhnya lagi sebelum Pramudya sempat menjawab.


Napas Pramudya menjadi sangat keras. Sepasang matanya yang merah terlihat membara. Ia mengulurkan tangan dan mencekal lengan Freya dengan sedikit erat.


"Kenapa kamu sangat bodoh?" tanya Pramudya dengan jengkel. Apakah Gadis ini mengira ia mabuk karena menyesal telah menikahinya? Benar-benar konyol.


“Apa?” Freya terperangah. Kenapa responnya seperti ini?


Aku 'kan hanya bertanya. Kenapa harus mengataiku bodoh?


Freya menarik tangannya dengan kesal dan menjauhi Pramudya.


Persetan dia mau mabuk atau mati, siapa yang peduli.


Bayu langsung menarik tangan Lisa keluar dari ruangan itu. Biarkan sepasang suami istri itu berbicara dari hati ke hati. Ia tahu Pramudya sedikit tertarik kepadanya istrinya, tapi terlalu angkuh untuk mengakuinya. Sekarang kesempatan ada di depan mata, ia tidak boleh mengganggu mereka berdua.


Lisa langsung mengerti. Ia tidak mengatakan apa-apa dan diam-diam keluar dengan patuh. Ia sangat berharap Freya bisa rukun dengan Bos selamanya, dengan begitu baru dirinya bisa ikut merasakan kebahagiaan ... haish, siapa yang tidak cinta uang? Sini, tidak perlu banyak omong kosong, transfer saja semua uang ke rekeningnya!

__ADS_1


Ruth pun mengekor di belakang Bayu dan Lisa. Ia menutup pintu dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara. Dalam hati, ia berharap Tuan Muda Kedua benar-benar bisa menjalin hubungan yang baik dengan Nyonya Muda, lalu melahirkan banyak tuan dan nona kecil yang imut dan lucu.


Aih, itu pasti akan sangat ramai dan menyenangkan! Tanpa sadar wajah Ruth menjadi berseri-seri karena khayalannya itu.


Di dalam kamar, Freya melirik pintu yang tertutup dan tiba-tiba merasa panik. Orang-orang tidak berperasaan itu, bisa-bisanya meninggalkan dirinya dengan seorang pria mabuk! Benar-benar tidak dapat diandalkan!


Pramudya mengabaikan orang lain yang pergi meninggalkan mereka berdua di kamar. Fokusnya kali ini hanya ada pada Freya. Ia mendekati gadis itu lagi.


Satu langkah ....


Dua langkah ....


Tiga ....


Freya menyusut dan terus mundur. Pria ini ... untuk apa terus mendekatinya? Otaknya langsung berpikir dengan cepat, ia harus menggunakan jurus yang mana untuk melumpuhkan pria ini nanti.


Sayangnya, sebelum angan-angannya terealisasi, punggungnya telah menabrak tembok. Ia menoleh dengan panik dan mencoba bergeser ke kiri, tapi lengan Pramudya yang panjang dan kokoh memblokir jalannya.


Freya menggigit bibir dan berdiri dengan kaku. Tidak ada jalan untuk melarikan diri lagi. Haruskah ia menendang selangka*ngan pria ini sekarang?


Freya mendongak dengan ragu-ragu, mencoba mencari tahu apa yang diinginkan oleh pria yang sedang menatapnya dengan intens itu.


Sepasang mata mereka saling menatap. Tidak ada yang bicara.


Freya menyadari bahwa jarak antara puncak kepalanya dan ujung dagu Pak Pram hanya sekitar dua jengkal.


Itu terlalu dekat.


Ia menyusutkan tubuhnya lagi hingga benar-benar menempel ke tembok dan memberanikan diri untuk bertanya, “Pram, apa yang Anda inginkan? Kita bisa bicarakan baik-baik.”


Pramudya mengerutkan keningnya, pertanda tidak senang. "Apa yang aku inginkan? Aku juga tidak tahu ... sebenarnya, aku mau apa? Coba kamu beritahu aku ...."


Freya menoleh dan memperhatikan wajah Pramudya dengan saksama. Ini adalah kali pertama pria itu berbicara dalam kalimat yang panjang dengannya. Juga berbicara dengan sangat tidak masuk akal.

__ADS_1


Apakah karena pengaruh alkohol?


Freya mendesah dan membuang muka. Semua ini membuat kepalanya terasa pusing. Akan tetapi, ia tetap berusaha untuk berbicara dengan sangat rendah hati, berharap pria itu dapat melepaskannya.


“Ehm, Pram ... Pramudya, ada apa? Bisakah kita bicarakan sambil duduk? Saya ... ini ... ehm, aku sedikit tidak nyaman ....”


"Kenapa? Kamu keberatan kalau mendekatimu? Jangan lupa, kita sudah menikah."


Freya menatapi pria yang hampir menempel dengannya itu dan merasa emosi bercampur bingung.


Apa-apaan ini? Bukankah ini hanya pernikahan palsu? Kenapa menggunakan status suami istri untuk menekannya?


Ia memberanikan diri untuk melawan pria itu dengan keras, “Pram, kalau aku tidak salah ingat, pernikahan ini hanya pernikahan kontrak. Kita bahkan tidak berhak mencampuri urusan pribadi satu sama lain, jadi tolong ... lepaskan aku dan kembali ke kamarmu.”


Sepasang mata Pramudya menjadi lebih terang. Ia mencubit ujung dagu Freya, memaksanya untuk menatap wajahnya dan tidak melarikan diri dari pandangannya.


“Bagaimana kalau aku tidak mau? Isi perjanjian itu, aku bisa mengubahnya kalau aku mau. Apa kamu tidak tahu?” Pramudya sendiri tidak tahu mengapa ia bersikap begitu, tapi ia merasa harus melakukannya agar gadis bodoh ini tahu bahwa meskipun hanya di atas kertas, untuk saat ini dia adalah miliknya, milik Pramudya Antasena seorang.


Freya mengggigit lidahnya dengan keras untuk menahan umpatan yang hampir meluncur keluar dari mulutnya. Namun, detik berikutnya, Pramudya maju tiba-tiba dan menempelkan bibirnya dengan kuat. Rasanya dingin dan sedikit manis, dengan aroma wine yang enak dan embusan napas yang hangat ... perpaduan rasa itu membuat Freya linglung sejenak.


Hanya sejenak ... karena sepersekian detik kemudian, ia sudah menendang tulang kering Pramudya dengan sangat keras.


“Dasar pembohong! Bajingan! Tidak tahu malu! Aku ingin bercerai! Sekarang!” Freya mengamuk.


Gila, ya? Menciumnya sesuka hati seperti ini. Benar-benar cari mati! Kemarin ia diam saja karena ada Pak Tua, tapi sekarang ... rasanya ia ingin mencekik bajingan ini sampai mati.


Pramudya meringis kesakitan dan terpincang-pincang menuju sofa. Sialan. Sakit sekali. Seketika separuh mabuknya hampir menghilang.


Ia meringkuk kesakitan di atas sofa dan menghela nafas satu-satu.


Sudahlah, tidak perlu perhitungan, salahnya sendiri berkata sembarangan dan mencium tanpa izin lebih dulu.


***

__ADS_1


__ADS_2