Istri Kesayangan Tuan Pram

Istri Kesayangan Tuan Pram
Tommy Antasena


__ADS_3

Lisa mengawal Freya hingga kembali ke kantor CEO. Sikapnya itu membuat hati Freya cukup tersentuh. Selain cerewet dan tidak tahu malu, teman barunya itu ternyata cukup perhatian.


Ketika mereka masuk, CEO Pram sedang serius membaca dokumen di meja kerjanya. Pria itu bahkan tidak mendongak ketika mendengar sapaan Freya dan Lisa. Dia hanya bergumam pelan sambil terus membaca.


Freya yang tadinya ingin mengucapkan terima kasih karena suami sekaligus atasannya itu telah membelanya di depan semua orang, akhirnya memilih untuk bungkam.


Jika pria sombong itu membalas dengan ucapan yang menusuk hati, itu hanya akan membuatnya sakit hati dan terluka. Lebih baik tidak usah mengatakan apa-apa.


Lisa melihat interaksi yang canggung itu dan merasa serba salah. Ia tidak berani berbicara sembarangan di depan CEO. Lebih baik ia keluar dan menunggu di bawah.


“Itu ... aku akan menunggumu di luar. Kalau ada apa-apa, panggil saja,” ucapnya sambil melarikan diri dari ruangan itu.


Freya memarahi Lisa yang tidak setia kawan dan menarik kembali pujiannya terhadap teman barunya itu.


Apanya yang perhatian?


Si cerewet itu jelas-jelas berani membully orang yang lebih lemah dan takut kepada yang lebih kuat.


Setelah kepergian Lisa, Freya akhirnya berbicara kepada Pramudya. “Pak, saya mau minta izin pulang. Pakaian saya—“


“Kikan belum memberikannya kepadamu?”


“Apa?” Freya bingung ketika ucapannya disela. Apa yang diberikan oleh Sekretaris Kikan?


Tepat ketika Freya hendak membuka mulut untuk bertanya, lebih dulu terdengar suara pintu yang terempas dan terbuka.


Freya menoleh dan tercengang. Sesosok pria yang tak kalah tampan dari CEO Pram berjalan masuk dengan santai. Baru kali ini ia melihat ada orang yang berani masuk ke kantor CEO tanpa mengetuk pintu. Bahkan Pak Bayu yang usil dan sedikit sembrono itu pun tetap mengikuti aturan ketika memasuki kantor atasannya.


Lalu, siapa pria ini?


Di sisi lain, Pramdya yang sejak tadi acuh tak acuh akhirnya bereaksi. Tangannya yang sedang memegang pena mengepal erat. Rahangnya yang mengetat beberapa kali menunjukkan betapa pria itu sedang berusaha menahan diri. Ia menatap tamu tak diundang itu dengan ekspresi yang tidak terbaca. Meski begitu, ia tetap duduk dengan tenang dan tidak mengucapkan sepatah kata pun.


Sementara itu, sang tamu tak diundang itu tetap berjalan dengan santai hingga hanya berjarak sekitar tiga langkah di sebelah Freya, lalu berhenti dan menebarkan senyuman yang terlihat sangat menawan.


“Tidak kusangka adikku bergerak sangat cepat. Bahkan langsung menikahi sekretaris pribadinya yang baru ditemui tiga hari lalu. Aku baru menyadarinya, rupanya adikku sangat tidak pemilih,” ucap pria itu seraya terus menatap ke arah Freya.


Freya yang berdiri di hadapan pria itu hanya mematung. Pria itu menyebut Pak Pram dengan sebutan adik? Apakah mereka bersaudara?

__ADS_1


Karena baru masuk kerja satu hari dan membolos dua hari berikutnya, ia tidak mengenali pria ini sama sekali. Tapi sepertinya pria ini mengenalinya hanya dalam sekali tatap. Siapa dia?


“Jangan ganggu dia.” Suara Pramudya terdengar dingin. Tatapannya tajam dan penuh peringatan.


Pria itu menoleh ke arah Pram, mengangkat satu alisnya dan memberikan tatapan yang mengandung kesan main-main.


“Oh, lihatlah, kamu bahkan langsung mengeluarkan cakar dan taring seperti itu. Kudengar sekelompok karyawan bahkan hampir disiram air panas atas perintahmu ... benar-benar melindungi istri dengan sangat baik,” godanya.


Ketegangan secara di udara bertahap meningkat, tapi pria yang ditatap sedemikian rupa masih berdiri dengan tenang. Dia bahkan masih bisa tersenyum dengan sangat indah.


Freya hampir merasa silau melihat deretan gigi yang putih dan rapi itu.


Garis tulang rahangnya sangat kokoh, memberi kesan maskulin dan sangat menarik perhatian. Selain itu, matanya yang jernih menampilkan sepasang iris cokelat muda yang memikat.


Freya menilai dalam hati. Penampilan pria ini bisa dikatakan tidak lebih buruk dari CEO Pram. Ketampan pria ini adalah jenis yang berbeda dengan sang CEO.


Ya, Freya mengakui bahwa CEO Pram memang tampan, tapi sikap dingin dan acuh tak acuhnya itu membuat orang enggan mendekat. Sedangkan pria di depannya ini benar-benar berbanding terbalik dengan CEO Pram. Selain tampan, pria ini terlihat sangat santai dan hangat.


Freya lebih menyukai tipe yang seperti ini dan merasa hampir terpesona. Ia sendiri tidak menyadari tatapannya terlihat sedikit memuja dan kagum, tapi Pramudya Antasena yang duduk di mejanya dapat melihat itu semua dengan sangat jelas.


Pramudya merasa sangat emosi. Gadis konyol itu, yang sudah menjadi istrinya yang sah secara hukum, tidak pernah menatapnya seperti itu. Dia bahkan selalu terlihat sungkan dan menjaga jarak. Tapi di depan Tommy, gadis itu terlihat seperti gadis normal yang bisa merasa tertarik kepada lawan jenisnya. Memikirkan hal itu membuat Pramudya semakin kesal. Kekuatannya bertambah hingga pulpen di tangannya hampir patah.


Tommy Antasena masih terlihat sangat santai, sama sekali tidak terintimidasi dengan sikap Pramudya yang bermusuhan itu.


“Adik, kamu terlalu sungkan. Kita adalah saudara, kenapa tidak kamu kenalkan aku kepada istrimu ini? Bukankah kita akan segera menjadi satu keluarga?”


Ucapan Tommy terdengar sangat tulus dan penuh perhatian, tapi Pramudya bisa mendengar adanya provokasi dan ancaman di dalamnya. Hidup selama puluhan tahun bersama Tommy membuatnya mengenal kakak tirinya itu dengan sangat baik.


Melihat Pramudya yang tetap diam di tempat, Tommy merasa semakin senang. Ia tidak keberatan meskipun harus berbicara seorang diri dan tidak ditanggapi.


“Kenapa? Tidak mau mengenalkan kami? Kamu takut aku akan merebutnya?” tanyanya lagi seraya memasang wajah polos.


Pramudya benar-benar sudah tidak bisa menahan diri lagi.


Ia bangkit dari kursi dan berjalan menghampiri Freya, menarik tangan gadis itu mundur, lalu berdiri di antara mereka sambil berkata dari sela giginya, “Aku peringatkan kamu, jangan berpikir macam-macam tentang istriku. Kalau tidak, aku tidak akan melepaskanmu dengan mudah.”


Freya terkejut. Perkataan Pramudya barusan terdengar seperti sedang membelanya, tapi ia sadar dirinya sebenarnya bukan siapa-siapa di mata Pramudya Antasena. Oleh sebab itu ia hanya menunduk dan tidak mau ikut campur dalam perseteruan kedua orang itu.

__ADS_1


Di sisi lain, alih-alih merasa takut, Tommy justru tertawa hingga kepalanya mendongak, membuat Pramudya semakin ingin meninjunya sampai babak belur.


“Pramudya, kamu terlalu munafik,” ucap Tommy setelah tawanya reda.


Ia melirik ke arah Freya yang separuh tubuhnya tertutupi oleh Pramudya, kemudian berkata, “Kamu begitu terburu-buru menikah, menutup akses ke catatan sipil dan memblokir semua hotel agar aku tidak bisa mendahuluimu. Harus kuakui kamu telah bekerja keras. Tenang saja, aku tidak akan mengganggu kalian. Anggap saja sebagai hadiah pernikahan dariku.”


Pramudya hanya mendengkus. Siapa yang akan mempercayai omong kosong itu?


Melihat sikap permusuhan terang-terangan itu, Tommy justru tersenyum semakin lebar dan berkata, “Lagi pula aku ke sini untuk mengundang adik ipar untuk makan malam bersama. Kakek juga akan datang. Dia pasti akan sangat senang merestui kalian. Jangan lupa, pukul tujuh di kediaman utama.”


Pramudya menggertakkan gigi hingga bunyi bergemerutuk terdengar jelas. Freya bahkan bisa merasakan hawa dingin semakin memadat di sekitar tubuh Pramudya. Pria itu jelas memiliki keinginan untuk membunuh yang sangat kuat.


Anehnya, Tommy justru mengulurkan tangannya dan menepuk-nepuk bahu Pramudya dengan santai.


“Sudah, aku pergi dulu. Katakan saja kalau kamu membutuhkan sesuatu untuk acara resepsi nanti. Aku akan berusaha membantu sebisaku.” Tommy menatap Pramudya lekat-lekat. Senyum tipis masih tersungging di wajahnya. Setelah tiga detik, ia berbalik dan pergi.


Brak!


Pramudya menyapu semua barang di atas meja kerja Freya dengan tangannya sehingga membuat gadis itu terkejut setengah mati. Ia mundur tiga langkah, menjaga jarak aman dari CEO yang tampaknya sudah akan meledak karena amarah itu.


Sial, apa yang harus aku lakukan?


Freya mengumpat dalam hati. Mengapa dirinya harus terjebak di tengah-tengah perselisihan yang tidak jelas ini?


**


Freya be like, pengen elus-elus kepalanya sambil bilang : Bapak jangan marah-marah, nanti tambah tua ...😅


Pram: ....



heii, reader kesayangan, kalau terhibur, jangan lupa komen yaaa...


Komen-komen kalian itu mood booster banget untuk otak yang buntu, 😂


makasih selalu setia membaca...

__ADS_1


💙 you all


~B


__ADS_2