Istri Kesayangan Tuan Pram

Istri Kesayangan Tuan Pram
Tidak Bisa Berenang


__ADS_3

Dua puluh lima menit kemudian, mobil memasuki kawasan Pantai Tajung Benoa. Meski hari masih terbilang pagi, lokasi itu telah dipenuhi pengunjung. Ada turis lokal dan mancanegara yang berbaur menjadi satu. Tawa dan pekikan kegembiraan terdengar di mana-mana.


“Ramai sekali,” ucap Lisa seraya mengedarkan pandangannya.


“Kalau mau sepi, pergi ke kuburan,” celetuk Freya.


Lisa mendelik, tapi tidak bisa marah. Mana berani ia memarahi Freya di depan Pak Bos? Lihat saja nasib Pak Bayu ketika menertawakan Freya tadi, dia langsung dipermalukan seperti itu. Ia masih menginginkan harga dirinya. Lebih baik tutup mulut daripada semua aibnya diumbar di muka umum. Pak Bos terlalu mengerikan.


Bayu melirik Lisa dan merasa kasihan. Tampaknya mereka ditakdirkan untuk bernasib sama, selalu ditindas dan tidak bisa membalas. Tidak ada yang bisa dilakukannya untuk membantu gadis itu. Ia sendiri masih memiliki banyak aib yang hanya diketahui oleh Pramudya. Bisa gawat kalau Pramudya tersinggung lalu menyebarkan semuanya ke seluruh dunia. Hancurlah imej cool yang dibangunnya selama ini.


Pram berdeham. Semua ketegangan langsung hilang.


Lisa menatap langit.


Bayu melihat laut.


Freya memilin jari tangannya.


Rasanya seperti sedang ditegur oleh kepala sekolah.


Pria ini terlalu semena-mena. Auranya terlalu menindas.


“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Pramudya. Ia belum pernah pergi ke tempat seperti ini sebelumnya. Ini adalah pengalaman pertamanya berbaur dengan kerumunan manusia yang begini banyak.


“Karena istrimu dan Lisa tidak bisa berenang, aku sarankan untuk bermain yang aman saja,” jawab Bayu.


Pramudya memberikan tatapan penuh peringatan. Perlukah kata “tidak bisa berenang” itu diulang lagi?


Bayu langsung bungkam. Dasar preman. Begitu pun tidak boleh. Sebelum ia sempat protes, terdengar sapaan datang dari sisi kanan tempatnya berdiri.


“Permisi, Bli.” Dua orang pria yang terlihat seperti penduduk lokal menyapa Pramudya dan Bayu, lalu mengangguk sopan ke arah Freya dan Lisa.


Salah seorang dari pria itu berambut gondrong dan memiliki kulit sawo matang, sedangkan yang satunya berkepala pelontos dengan kulit yang sedikit lebih hitam, mungkin karena terpapar sinar matahari sepanjang waktu. Keduanya terlihat cukup ramah dan sopan.


“Mau mencoba wahana apa, Bli? Ada banana boat, flyboard, snorkeling, scuba diving, jet ski, dan lain-lain. Bli dan Gek ini mau coba yang mana?” tanya si rambut gondrong.


Lisa dan Freya saling menatap. Meski tidak bisa berenang, mereka juga tetap ingin mencoba permainan air yang ada.


“Yang aman untuk pemula yang mana, Pak?” tanya Freya.


“Semuanya aman, ada jaket pelampung dan pendamping di setiap permainan,” jawab si pelontos dengan ramah.


“Kami tidak bisa berenang, Pak” jelas Lisa.

__ADS_1


“Oh, tenang ... nanti bisa didamping, Gek. Mau coba wahana yang mana? Kalau yang di air ada jet ski, kalau yang terbang ada parasailing. Nanti bisa ditemani oleh pendamping atau berdua sama pacarnya ini,” timpal si gondrong antusias.


“Saya bukan pacarnya,” sangkal Lisa sambil menunjuk ke arah Bayu. “Dia atasan saya.”


Ia tidak mau ada kesalahpahaman yang terjadi di tempat ini.


Wajah Bayu masam seperti jeruk peras. Bukan pacar ya sudah, kenapa harus dijelaskan?


“Oh, maaf, Gek. Kami tidak tahu,” ucap si gondrong sambil menangkupkan kedua tangannya.


“Nggak apa-apa. Ini beneran aman, Pak?”


“Iya, seratus persen aman.”


Freya berdiri diam dan mendengarkan percakapan itu. Ia tidak menyadari seseorang yang sedang memperhatikannya dengan serius.


Wajah Pramudya yang semula menegang akhirnya berubah relaks. Ia langsung tertarik dengan kedua jenis permainan itu. Ia juga langsung memberi nilai positif untuk kedua pemandu wisata itu.


“Kalian mau coba?” tanya Pramudya sambil menatap Freya. Ia merasa senang karena gadis itu tidak menyangkal dan mengatakan bahwa mereka tidak berpacaran.


Yah, sebenarnya mereka sudah menikah, tapi bukan itu intinya. Yang jelas Freya tidak mengoreksi ucapan sang pemandu wisata seperti Lisa, ia sangat puas dan senang.


Kenapa hal sepele seperti itu penting untuknya?


Freya terlihat ragu-ragu, tapi pada akhirnya ia mengangguk.


“Nanti kalau misalnya ada apa-apa pasti dibantu ‘kan, Pak?” tanyanya untuk memastikan.


“Iya, jangan takut, Gek. Kru kami akan selalu stand by.” Si pelontos menjawab mantap.


“Oke.” Freya mengangguk.


Kedua pemandu wisata itu semringah karena berhasil menggaet pelanggan. Mereka mengajak calon customer pergi ke titik kumpul.


“Kamu bisa berenang, ‘kan?” tanyanya sambil menatap Pramudya.


Pramudya mengangkat alisnya. Tentu saja ia bisa berenang. Ia bahkan sudah bisa berenang sejak masih bayi. Ibunya telah menyewa tutor untuk mengajarinya berenang sejak ia masih berusia enam bulan.


Ia masih menyimpan video rekaman ketika ibunya mendampinginya berlatih di dalam kolam. Ada banyak rekaman handycam yang tersimpan di dalam kaset DVD, rekaman-rekaman yang menyimpan memori tentang ibunya. Kadang ketika merasa rindu, ia akan membuka rekaman-rekaman itu dan menontonnya seorang diri.


“Pram?” panggil Freya seraya menarik jari Pramudya. Kenapa pria ini malah melamun?


“Ya. Aku tidak akan membiarkanmu tenggelam. Jangan takut,” jawabnya seraya menatap tangan Freya yang masih memegangi jari-jarinya.

__ADS_1


Freya tersenyum dan mengangguk. Karena Pramudya sudah berkata seperti itu, ia tidak merasa takut lagi. Ia sangat yakin suaminya akan menjaga dan melindunginya dengan baik.


Bayu tidak bisa tahan dan mencibir, “Bermesraan seperti itu untuk dilihat siapa? Kakek tidak ada di sini.”


“Kalau iri, pergi cari istri.” Pramudya membalas dengan santai, lalu menarik tangan Freya berjalan mengikuti kedua pemandu wisata yang sedang menghampiri sekelompok pria di tepi pantai.


Bayu mengepalkan tangannya dan mengacungkannya ke arah Pramudya. Tidak lupa ia memaki tanpa suara.


Lisa yang melihat tingkah sang wakil CEO hanya bisa menutup mulut dan tertawa diam-diam. Benar-benar kekanak-kanakan. Konyol sekali.


“Bli mau coba yang mana?” tanya si gondrong ketika Pramudya dan Freya tiba di dekatnya.


“Yang bagus yang mana?” Pramudya balik bertanya.


“Oooh ... kalau untuk Bli dan Gek ayu ini boleh coba parasailing, itu yang di sana itu ... cocok untuk berdua.” Si rambut gondrong senyum-senyum penuh arti seraya menunjuk ke arah speed boat yang ada di dermaga.


Biasanya Pramudya paling tidak suka jika ada orang yang mencari muka di depannya, tapi kali ini si gondrong adalah pengecualian. Ia justru ingin memberikan tip untuknya.


“Kamu mau coba?” tanyanya sambil menoleh ke arah Freya.


“Hm. Aman nggak, Pak? Itu bakal terbang ke atas, ya?” tanya Freya lagi. Ia benar-benar cemas. Bagaimana kalau talinya copot dan mereka jatuh?


“Tenang, Gek. Amaaan ... semua udah ngikutin standar keamanan internasional, kok,” jawab si pelontos meyakinkan.


Freya menggigit bibirnya dan menatap Pramudya. Ia ingin mencoba, tapi juga sangat takut.


“Kalau kamu takut, kita coba yang lain. Atau kalau mau jalan-jalan saja?” tanya Pramudya. Ia bisa melihat bahwa istri kecilnya benar-benar ketakutan.


Freya menarik napas dan membulatkan tekad.


“Baiklah. Ayo, coba.”


**


Siapa di sini yang gak bisa renang?


Tos dulu. Otor bisanya cuma gaya batu jatuh bebas.


*Bli: sapaan untuk laki-laki di Bali


*Gek: sapaan untuk perempuan di Bali


(secara umum)

__ADS_1


__ADS_2