Istri Kesayangan Tuan Pram

Istri Kesayangan Tuan Pram
Siapa yang Kamu Sukai?


__ADS_3

Melihat Pramudya yang tidak marah dan hanya menurut kakinya di atas sofa, pundak Freya luruh ke bawah. Tadinya ia sudah siap bertarung sampai mati jika pria itu bersikeras menyerangnya.


Tapi sekarang, melihat kondisinya yang menyedihkan itu, mau tidak mau ia merasa kasihan. Ia menggeledah setiap laci dan lemari yang ada di dalam kamar itu untuk mencari kotak obat. Untung saja segera ditemukannya di laci bagian bawah wastafel.


Dengan langkah perlahan, ia menghampiri Pramudya dan berlutut di lantai. Tanpa mengatakan apa-apa ia menyingkirkan tangan Pramudya dan menggulung kaki celananya.


Pramudya menurut, tidak bertingkah macam-macam lagi. Matanya terus mengawasi sepasang tangan mungil yang sedang menggulung celananya dengan hati-hati.


Gadis konyol ini ternyata bisa perhatian juga ....


Sebuah lingkaran biru tua tercetak dengan jelas di tulang kering Pramudya. Ada bercak-bercak merah tua di sekitar lingkaran itu. Freya mendongak, menatap Pramudya dengan matanya yang berair.


“Maaf, aku tidak bermaksud seperti ini ...,” ucapnya pelan. Dengan hati-hati ia mengoleskan salep untuk menghilangkan lebam, lalu menurunkan gulungan celana dan merapikannya seperti semula.


Ada senyuman yang mengambang di bawah kelopak mata Pramudya, tapi tidak sampai di bibirnya. Ia menahan senyuman itu untuk dirinya sendiri.


"Kamu tahu, jika aku cedera, semua keuntungan yang akan kamu dapatkan dari pernikahan ini bisa hangus. Kamu tidak merasa menyesal?”


Freya mengangguk dengan sedih. Apakah seharusnya tadi ia membiarkan bajingan ini menciumnya saja? Toh, hanya ciuman. Mereka sudah pernah melakukannya satu kali. Tidak masalah menambahnya menjadi dua atau tiga kali lagi. Mungkin ia hanya perlu meminta biaya tambahan saja.


“Maafkan aku ... lain kali kalau kamu menciumku, aku tidak akan memukulmu, tapi biayanya 200 juta setiap satu ciuman!” Freya berseru dengan kesal.


Bibirnya masih polos dan suci, oke? Bisa-bisanya pria ini sembarangan menciumnya sesuka hati!


Freya berharap dengan mengatakan hal itu, pria mesum ini akan berpikir ratusan kali sebelum menciumnya lagi.


Namun, siapa yang menyangka setelah mendengar ucapan itu, respon Pramudya adalah tertawa terbahak-bahak. Pria itu tertawa sampai matanya menyipit. Freya pikir pria itu sedang menertawai dan mengejeknya, tapi balasan yang keluar dari mulut pria itu hampir membuatnya tersedak.


“Oke, lain kali aku akan membayar setelah menciummu. Apa ini termasuk kesepakatan?” Sepasang mata Pramudya bersinar bagaikan bintang.


Freya bangun sambil memperhatikan gerak-gerik Pramudya dengan saksama.


Pria ini, yang ditendang adalah kakinya, kenapa otaknya yang bermasalah.


Apa maksudnya membalas dengan ucapan seperti itu? Dia masih ingin menciumku lagi di masa depan?


Tidak tahu malu! Apakah pria ini sudah terbiasa membayar wanita untuk disentuh?


Freya bergidik ngeri. Orang kaya terlalu semena-mena. Dua ratus juta untuk satu kali ciuman, dan dia menyetujuinya begitu saja? Apa tidak takut bangkrut? Seberapa banyak uangnya? Atau jangan-jangan dia hanya sedang membual?


Hm. Pasti karena sedang mabuk.


Freya terlalu malas untuk meladeni suaminya lagi.


Pramudya melihat ekspresi istrinya dan bisa menebak dalam hati apa yang sedang dipikirkan oleh istri kecilnya itu.

__ADS_1


“Kamu cukup lucu, kamu tahu itu? Sepertinya Bayu benar ... aku memang sedikit menyukaimu. Jangan ge'er. Hanya sedikit. Mungkin 0,01 persen," ucapnya dengan wajah dipenuhi senyuman. Itu adalah senyuman paling tulus yang pernah ia perlihatkan kepada orang lain.


"A ... ap ... apa?"


Freya tergagap. Ia menatap wajah Pramudya Antasena dengan sorot tak percaya. Pria itu pasti hanya sedang bercanda. Dia sedang mabuk, jadi sembarangan bicara.


"Anda ... ehm, kamu pasti sedang bercanda," ujar Freya seraya mundur dua langkah.


"Tidak. Untuk apa aku bercanda denganmu? Kenapa? Apakah aku tidak boleh menyukaimu? Apakah kamu menyukai seseorang? Siapa dia? Yoga Pratama?"


Astaga, kenapa cara bicara pria ini terdengar seperti pacar yang posesif?


Freya mengibaskan tangan kirinya ke depan wajahnya. Mendadak udara dalam kamar terasa pengap dan panas, padahal hanya ada mereka berdua di dalam sana.


Freya ingin sekali membalas ucapan Pramudya dengan mengatakan bahwa masih ada Nona Carissa yang mencintai dan mengharapkannya, tetapi yang keluar dari mulutnya justru gumaman tidak jelas. Ia tidak ingin memprovokasi pria itu sehingga menekan dan menciumnya lagi.


"Katakan, siapa yang kamu sukai?" desak Pram.


"Tidak ada." Freya menjawab singkat, lalu berbalik dan pergi mengembalikan tempat obat ke tempat semula.


"Apa kamu menyukaiku?" tanya Pramudya setelah gadis itu kembali.


Freya berhenti melangkah. Ia berdiri dengan jarak sekitar tiga meter di depan Pramudya, melihat lurus ke wajah pria itu dan tidak bereaksi untuk waktu yang cukup lama.


“Kenapa? Apakah pertanyaan itu terlalu sulit?” tanya Pramudya lagi.


“... ah!” Freya memekik terkejut ketika Pramudya menerkam ke arahnya dengan cepat. Ia bahkan tidak sempat melihat bagaimana pria itu melompat bangun dari atas sofa.


Tubuhnya ditekan sekali lagi di tembok. Ia belum sempat pulih dari rasa terkejutnya, tubuh Pramudya yang tinggi dan besar telah bersandar di bahunya.


Ia melotot, tapi tidak berani bertindak sembarangan lagi, hanya bisa menahan napas menghadapi berandalan ini.


“Freya ....” Pramudya bergumam di dekat telinga Freya.


Hawa panas dari napas Pramudya menggelitik leher dan telingnya. Freya berjengit dan berusaha mengusir raksasa besar itu dari pundaknya, tapi pria itu tidak bergeming.


“Freya ....”


“Eng.”


Freya berdiri diam dan menunggu apa yang akan dikatakan oleh Pramudya, tapi ia hanya mendengar suara napas pria itu yang secara bertahap menjadi teratur di telinganya.


Apa yang dia lakukan? Tidur di bahuku?


“Pram?” Freya memanggil sambil menepuk lengan Pramudya pelan.

__ADS_1


Tidak ada jawaban.


“Pramudya.” Freya memanggil sekali lagi.


Sial. Panggilan ini sangat canggung. Usia mereka terpaut 8 tahun, tapi pria tidak tahu malu ini memaksanya memanggilnya seperti mereka seumuran saja. Huh. Memang dasar bermuka tebal.


Pramudya yang sedang dimarahi dalam hati oleh Freya masih tidak memberikan reaksi. Kepalanya terasa berputar, membesar dan mengecil dengan cepat. Ia bisa mendengar sayup-sayup seseorang memanggil namanya dari kejauhan, tapi ia sama sekali tidak bisa merespons. Rasanya hampir semua kekuatannya terserap habis.


“Pramudya Antasena!” Kali ini Freya berteriak marah. Seluruh bobot tubuh pria itu telah berpindah ke bahu dan dadanya.


Lancang!


Ia ingin mendorong tubuh suaminya yang tidak tahu diri itu dan membiarkannya jatuh ke lantai, tapi pada akhirnya hati nuraninya menang, ia merasa tidak tega.


Sambil menggertakkan gigi, Freya mendorong tubuh suaminya agar sedikit menjauh, lalu menangkap lengannya sebelum dia jatuh. Dengan menggunakan seluruh kekuatannya, Freya menyeret pria itu ke ranjang dan menjatuhkannya ke atas kasur.


“Bede*bah!” umpatnya seraya mengangkat kedua kaki Pramudya agar naik ke kasur.


Ia melepaskan sepatu dan kaus kaki Pramudya, melongkarkan ikatan dasinya, lalu dengan susah payah melepaskan jasnya.


Sialan. Pria ini benar-benar sudah mabuk sampai tidak sadarkan diri. Mungkin kalau ada orang jahat yang datang dan menculiknya pun dia tidak akan sadar.


Freya pergi ke kamar mandi, membasahi sebuah handuk kecil dan membawanya ke kamar. Ia duduk di tepi ranjang, terdiam selama beberapa saat dan bertarung dalam hati.


Untuk apa ia ingin membersihkan tubuh pria itu? Kenapa harus memainkan peran sebagai istri yang baik?


"Brengsek. Anggap saja sebagai kompensasi dari uang yang aku dapatkan."


Freya mengatupkan rahangnya, menguatkan tekadnya dan maju sedikit ... menunduk ... dengan hati-hati melepaskan kancing kemeja Pramudya. Ia menggunakan handuk basah untuk membasuh wajah Pramudya dengan sangat sangat pelan, turun ke lehernya yang berkeringat ....


Matanya tertuju pada jakun yang menonjol, lalu turun ke bawah ... menatap otot dada yang terbentuk dengan sempurna. Tidak ada lapisan lemak di perutnya. Semuanya kencang dan padat. Sangat enak dilihat.


Freya menjilat bibir tanpa sadar.


Sial. Pria ini terlalu tampan dan sempurna sampai rasanya tidak masuk akal.


Sebenarnya tidak sulit untuk menyukai suaminya ini. Sayangnya ....


Freya mengeyahkan semua pikiran kotor di kepalanya, lalu kembali mengancingkan kemeja Pramudya dengan cepat. Takutnya akan terjadi hal-hal yang tidak senonoh malam itu, dan dia adalah pelaku utamanya.


Hish.


Sangat menakutkan.


***

__ADS_1



__ADS_2