
Setelah menanyakan masakan kesukaan suaminya dan sang Kakek kepada Pak Anton, Freya pun menyiapkan bahan-bahan untuk membuat iga bakar pedas manis, sup kepiting asparagus, dan capcai seafood. Selera Kakek dan Pramudya sama. Ketiga jenis makanan itu yang paling mereka suka.
Setelah semua bahan siap, Freya membuka Youtube dan mencari resep iga bakar pedas manis lebih dulu. Ia merasa sedikit bersemangat sekaligus berdebar-debar, takut hasil masakannya tidak sesuai selera Pramudya dan Kakek. Tapi karena sudah berjanji, ia akan tetap memasak meski harus sambil mengintip tutorial di ponselnya.
Setelah memarinasi iga sapi untuk dipanggang, ia mencuci dan memotong sayuran untuk capcai.
Masakan seperti ini, ia belum pernah memasaknya sebelumnya. Biasanya ia hanya membuat tumis sayur sederhana, menggoreng tempe atau tahu, sambal terasi atau sambal tomat, ditambah lalapan.
Kalau sedang ada uang lebih, paling-paling ia hanya membuat opor ayam atau sup tulang sapi yang harganya sedikit lebih murah. Tidak ada menu mahal seperti ini.
Tiba-tiba Freya teringat Yoga. Dulu, ia sering membuatkan nasi goreng abang-abang dan mie tek-tek untuk Yoga. Itu adalah makanan kesukaan mereka berdua.
Yoga tidak suka pedas, jadi ia akan menambahkan irisan cabai rawit dalam piring miliknya setelah memisahkan milik Yoga.
Freya menghela napas tanpa sadar. Kehidupannya sekarang tidak memungkinkan untuk kembali kepada Yoga. Oleh sebab itulah ia sudah memutuskan, setelah makan malam nanti ia akan mengirimkan pesan, meminta untuk bertemu dengan pria itu besok pagi.
Ia akan menjelaskan semuanya, mengatakan kepada Yoga untuk tidak menunggunya lagi karena sekarang ia telah menjalin hubungan dengan Pramudya Antasena, hubungan yang serius atas dasar perasaan suka di dalam hati mereka masing-masing, bukan karena terikat kontrak perjanjian. Perasaannya untuk Yoga sudah hampir terkikis habis. Tidak ada apa-apa lagi selain kenangan masa lalu.
Hal-hal yang sudah berlalu, seberapa indah pun itu, tidak bisa dibandingkan dengan apa yang sedang ia jalani sekarang.
“Ah!” Freya memekik karena terkejut. Dua lengan yang kokoh memeluk pingganggnya tiba-tiba dari belakang.
Pisau tergelincir dan hampir menggores jarinya.
Sedetik kemudian ia mengembuskan napas dengan kesal. Tanpa menoleh pun ia sudah tahu siapa pelakunya. Aroma tubuh yang khas ini menempel di ujung hidungnya dan terekam dengan baik dalam ingatannya.
“Pram!” Freya berdecak sebal sambil memutar kepalanya ke samping. Pria ini semakin berani!
“Hm.” Pramudya bergumam dengan suara rendah.
“Kenapa mengangetkan seperti itu? Aku hampir mengiris jariku,” protes Freya.
“Apa yang sedang kamu pikirkan? Aku sudah memanggilmu sejak tadi,” ucap Pramudya pelan, berusaha menahan nada bicaranya agar terdengar biasa saja meski ada gemuruh yang menggedor dadanya dengan kencang.
Apakah gadis ini masih memikirkan kekasih masa kecilnya?
Cemburu ... ia merasa sangat cemburu ....
__ADS_1
Ia menempelkan dagunya di bahu Freya dengan santai hingga wajah mereka hanya berjarak satu jengkal. Harum sampo dan aroma tubuh istrinya yang alami membuatnya ingin memeluk lebih erat.
Atau mungkin karena ia takut kehilangan? Takut kalau tiba-tiba gadis ini berubah pikiran dan lari meninggalkannya.
Harus ia akui, dalam “permainan” perasaan ini, ia yang telah lebih dulu “kalah”. Freya belum menyatakan perasaannya secara terang-terangan atas inisiatifnya sendiri. Status pacaran mereka juga karena dirinya yang memaksa. Bagaimana kalau sebenarnya di dalam hati istrinya masih ada Yoga Pratama?
Pramudya merasa sangat tidak berdaya. Ia belum pernah merasa sangat tidak berdaya seperti saat ini. Seolah-olah semuanya sangat tidak pasti dan istrinya dapat pergi kapan saja. Ia sedikit takut.
“Aku cemburu ... jangan memikirkan pria lain,” ucapnya sambil mengetatkan pelukannya, masih dengan intonasi suara yang sangat pelan dan terdengar hati-hati.
Ia tidak ingin istrinya salah paham dan menganggap dirinya terlalu mengatur. Tapi ia harus mengatakannya isi hatinya dengan jelas. Ia tidak ingin gadis kecil ini memikirkan siapa pun, terutama Yoga Pratama.
Freya berpaling. Wajah suaminya terlalu dekat. Napasnya yang hangat dan harum menerpa, membuat perutnya tergelitik. Daun telinganya memerah dengan tidak jelas.
“Aku tidak ....” Freya menggigit bibirnya dan tidak jadi mengelak. Barusan ia memang sedang memikirkan Yoga, tapi untuk alasan yang jelas. Haruskah ia mengatakannya kepada suaminya?
“Tidak apa?” tanya Pramudya. Ia memutar bahu Freya sehingga tubuh mereka berhadapan. Ia ingin menatap sepasang mata bulat itu ketika menjelaskan apa yang ada dalam pikirannya.
Freya membeku. Tubuhnya terjepit oleh dada bidang Pramudya dan meja dapur. Posisi ini terlalu dekat ... terlalu ambigu ... membuatnya harus menahan napas. Masih ada Pak Anton dan para pelayan yang bisa datang kapan saja.
“Menjelaskan apa?” Tangan Pramudya terangkat, memainkan anak rambut Freya dengan santai.
“Kalau kita ... eng, kalau kita ... aku ... itu ....” Freya terbata-bata. Kali itu bukan hanya daun telinganya yang memerah, tapi seluruh wajahnya telah berubah warna.
Sial. Mengapa selalu malu dan gugup saat berhadapan dengan pria ini?
Pramudya menyeringai seperti orang bodoh. Ia menumpu kedua tangannya di meja dapur, mengurung tubuh Freya dalam pelukannya, menunduk hingga ujung hidung mereka hampir saling bersentuhan.
“Kita kenapa?” gumamnya dengan suara yang mulai terdengar serak. Setelah tahu rasanya berciuman, ia ingin terus mengulangnya.
Saat mencium Freya di depan semua orang ketika Carissa memprovokasi, itu dilakukannya karena amarah, tidak ada hal lain yang dirasakannya selain emosi yang meledak-ledak.
Ia baru tahu, ciuman terasa berbeda ketika dilakukan dengan alasan yang berbeda pula. Ketika ia melakukannya karena benar-benar menginginkannya, itu terasa sangat enak. Ia sangat menyukainya.
Freya menyusutkan tubuhnya sekecil mungkin. Ia sangat ingin melarikan diri dari Paman Tua ini.
Paman, tolong, ini di dapur. Kamu mau apa?
__ADS_1
Jangan sampai pelayan dan Pak Anton menangkap basah. Itu akan sangat memalukan!
“Ehm! Maaf, aku kira masakannya sudah matang.”
Suara Kakek yang datang dari arah pintu membuat jantung Freya hampir copot.
Bukan Pak Anton atau pelayan, tapi Kakek!
Freya mendorong dada Pramudya dengan panik, tapi pria itu tidak mau menyingkir. Ia meninju dada suaminya sambil melotot, memberi isyarat agar pria itu melepaskannya, tapi Pramudya tetap berdiri sekokoh karang.
“Ka ... Kakek, aku baru saja akan memasaknya. Kakek tunggu sebentar lagi, ya,” ucapnya sambil melongok dari balik tubuh Pramudya.
Sangat ingin menangis karena malu ... hiks ....
Pak Tua melambaikan tangannya di udara. “Sudahlah, kalian lanjutkan saja. Aku akan menyuruh Anton memesan makanan saja.”
Wajah Freya semakin merah tak karuan.
Apanya yang lanjutkan?
Memangnya ia sedang melakukan apa?
Kakek, tolong jangan berprasangka buruk. Cucu Anda yang tidak bermoral ini yang memaksa ....
Melihat istrinya yang sangat malu dan tidak bisa berkata-kata, Pramudya tidak ingin menggodanya lagi. Ia berbalik dan mengambil celemek di atas meja.
“Kakek tunggu sebentar, aku akan membantunya. Tidak akan lama.”
“Terserah kamu saja. Dasar berandalan. Lain kali lihat tempat sebelum melakukan sesuatu,” omel sang Kakek sebelum berbalik dan pergi, tapi ada senyuman yang sangat lebar yang terpatri di wajahnya setelah meninggalkan pintu.
Tampaknya cicitnya akan segera datang ....
***
Tampan tidak?
__ADS_1