Istri Kesayangan Tuan Pram

Istri Kesayangan Tuan Pram
Bulan Madu


__ADS_3

Di bawah pengawasan ketat Pak Tua, Freya dan Pramudya berangkat dari rumah pukul setengah enam pagi. Pria itu mengantarkan mereka sampai masuk ke dalam mobil, bahkan masih sempat berpesan agar mereka tidak perlu terburu-buru pulang.


Freya dan Pramudya hanya bisa menampilkan senyuman terbaik mereka dan menjawab dengan patuh bahwa mereka akan bersenang-senang.


Empat puluh menit kemudian, mereka telah tiba di Bandara Soekarno-Hatta. Setelah check-in dan mengurus hal-hal lainnya, mereka duduk di ruang tunggu.


Beberapa kali kepala Freya terantuk-antuk karena mengantuk. Tanpa sadar kepalanya bahkan terkulai ke pundak Pak Pram, lalu tertidur beberapa saat. Ia akan tersentak bangun ketika mendengar suara pengumuman atau karena langkah kaki para pengunjung lain yang lalu lalang.


Pramudya diam-diam sedikit merosot, membuat posisi pundaknya lebih rendah agar gadis itu bisa bersandar dengan nyaman


Seorang bocah laki-laki tiba-tiba berseru dan melintas dengan cepat di depan Freya, membuatnya tersentak bangun dan menoleh ke kanan dan kiri karena terkejut.


“Cuma anak-anak. Tidurlah lagi, aku akan membangunkanmu kalau sudah waktunya berangkat,” ucap Pramudya.


Freya menoleh dengan linglung.


Oh, mau pergi bulan madu ....


“Tidak apa-apa. Terima kasih.” Freya mengangkat tangannya dan menutup mulutnya yang ingin menguap.


Astaga. Benar-benar mengantuk.


Ada dua pasang lingkaran hitam yang sangat besar di kelopak matanya. Terpaksa ia meminta bantuan Ruth untuk menyamarkannya dengan concelar dan alas bedak sebelum berangkat tadi.


Selain tidur di kamar Pak Pram membuatnya gugup, ia juga masih harus menyelundup ke kamarnya diam-diam saat tengah malam untuk mempersiapkan barang-barang yang harus dibawa. Untung saja Pak Pram mengutus Ruth dan seorang pelayan lainnya untuk membantu sehingga ia tidak terlalu keteteran.


Ding.


Suara ponsel membuat Freya tidak jadi menguap untuk yang ketiga kalinya. Ia merogoh saku celana dan mengeluarkan ponselnya.


Ada satu pesan dari Yoga.


[Kamu di mana? Aku sudah sampai di depan rumah]


Sial.


Freya menepuk keningnya dengan keras, lalu memekik karena rasa sakit.


Pramudya menoleh. Ia sudah bisa menebak siapa pengirim pesan itu sehingga mampu membuat istrinya bertingkah aneh. Ia sedikit merasa penasaran pesan apa yang dikirimkan oleh berandalan itu, tapi tidak ingin bertanya kepada istrinya. Ia masih tetap harus menghormati batasan yang ada meskipun hubungan mereka telah sedikit membaik.

__ADS_1


Freya mengetik pesan balasan beberapa kali, menata kalimat penjelasan yang tidak akan membuatnya terlihat seperti seorang pecundang yang plin-plan.


Kemarin karena emosi yang meledak-ledak, ia langsung mengirim pesan kepada Yoga dan menyetujui usul pria itu untuk mengganti kompensasi kepada Pak Pram. Sekarang belum sampai 24 jam, tapi ia telah berubah pikiran dan berada di bandara, bersiap untuk pergi “bulan madu”.


Ckckck ... bahkan ia sendiri merasa dirinya sangat tidak konsisten.


[Maaf, aku pergi ke luar kota sampai minggu depan.]


[Nanti aku hubungi lagi]


Akhirnya Freya hanya mengirimkan kedua pesan itu tanpa menjelaskan apa-apa. Ia merasa sedikit tidak enak hati karena telah memanfaatkan Yoga yang ingin menebus kesalahan dengan menjadikannya sebagai tempat pelarian.


Ketika ia sedang kesal kepada Pak Pram, ia akan menghubungi Yoga dan mengajaknya mengobrol. Tapi ketika ia sudah berbaikan dengan suaminya, ia akan sepenuhnya melupakan Yoga ... seperti saat ini. Ia benar-benar lupa telah membuat janji dengan Yoga untuk dijemput pergi ke kampus.


Freya merasa sikapnya itu sedikit mirip seperti gadis yang suka mempermainkan perasaan pria: kejam dan tidak berperasaan.


Tapi ....


Ding.


[Pergi dengan suamimu?]


Freya membaca pesan yang mengambang di layar ponsel itu, tapi tidak berani membukanya. Ia tidak tahu harus membalas apa. Haruskah ia mengatakan yang sebenarnya? Rasanya agak malu ....


Ding.


Freya menggigit bibirnya dan mengusap layar ponsel, masuk ke aplikasi WhatsApp dan membuka pesan dari Yoga.


Jari-jarinya bergerak cepat di atas layar, menjawab pertanyaan itu.


[Ya]


Ia lalu mengetik kata “maaf”, tapi menghapusnya lagi. Ia tidak berutang penjelasan apa pun kepada Yoga.


Pesan balasan masuk dengan cepat.


[Oke. Hati-hati di jalan]


Freya tertegun membaca pesan itu. Apakah ia tidak salah lihat? Yoga tidak bertanya ia pergi ke mana, atau kenapa ia melupakan janji mereka. Pria itu bahkan memintanya untuk hati-hati. Ini terasa sedikit ganjil.

__ADS_1


Melihat ekspresi wajah istrinya yang berubah-ubah, akhirnya Pramudya tidak tahan.


“Ada apa?” tanyanya.


“Eh? Oh, ini ... teman ....” Freya mematikan ponselnya dan memasukkannya kembali ke saku celana.


“Teman kampus?”


“Hm. Semacam itulah.” Freya tidak terbiasa berbohong. Ia mengalihkan pandangannya dan memainkan kuku jarinya.


“Apa ada masalah? Seharusnya Bayu sudah mengurus izinmu kepada pihak kampus.”


“Bukan itu. Aku ada janji, tapi lupa karena buru-buru pergi.”


“Oh.” Pramudya tidak bertanya lagi.


Ia tahu teman yang dimaksud oleh istrinya bukanlah Lisa karena gadis itu sedang dalam perjalanan bersama Bayu menyusul mereka ke bandara. Ia mati-matian menahan diri untuk tidak marah tanpa alasan, atau memberi komentar pedas. Toh, istrinya berada di sisinya saat ini, bukan di samping pria lain.


“Freya!” Suara teriakan Lisa yang kencang membahana di dalam ruang tunggu.


Freya menoleh ke sumber suara, melihat temannya itu hampir berlari sambil mendorong kopernya yang berwarna pink nude. Di belakangnya, Pak Bayu menyusul dengan koper abu-abu tua.


Sisa kantuk Freya menghilang. Ia tidak bisa menahan diri dan tertawa. Mereka terlihat seperti akan melakukan double date. Lagipula, Pak Bayu terlihat cocok dengan Lisa.


“Aduh, gila, macet parah. Kukira bakal telat. Jantungku hampir copot.” Lisa mengempaskan diri di sebelah Freya, mengatur deru napasnya yang tidak beraturan. Ia bahkan sampai lupa menyapa Bos Besar yang duduk bersisian dengan Freya.


Bayu datang dengan napas yang tak kalah berantakan. Ia melemparkan diri di samping Pramudya dan memejamkan mata. Sahabat gilanya ini kenapa sangat senang menyiksanya setiap saat? Meneleponnya tengah malam, menyuruhnya memesan ini dan itu, mempersiapkan akomodasi tambahan di villa untuk dirinya dan Lisa. Masih juga harus menjemput gadis itu di depan gang sempit, terjebak macet dan hampir gila karena frustasi. Benar-benar menguji batas kesabarannya.


“Aku minta bonus akhir tahun dibayar dua kali lipat.” Bayu bergumam dengan mata masih terpejam.


“Hm.”


Seulas seringai tipis muncul di bibir Bayu. Satu kata “hm” itu saja sudah lebih cukup. Ia kaya mendadak! Rasanya tidak sia-sia ia berlarian ke sana kemari dan mengurusi semuanya sepanjang malam. Hasilnya sangat sepadan!


Di sebelah Pramudya, Freya menyodok pinggang Lisa dan berbisik di dekat telinganya, “Kamu tidak menegur tambang emasmu? Awas dia kesal dan membatalkan tiket pesawatmu.”


Lisa langsung duduk dengan tegak dan menoleh ke samping, mengulas senyum palsu dan menyapa dengan suara paling ramah, “Pagi, Pak.”


Pramudya hanya bergumam dan mengangguk sekilas. Ia memang sengaja menghubungi Bayu dan memintanya mengajak Lisa turut serta dalam perjalanan “bulan madu” ini. Ia tidak ingin istrinya merasa canggung, lalu hubungan mereka kembali menegang.

__ADS_1


Lagi pula, ia juga ingin menanyakan beberapa hal kepada Bayu.


***


__ADS_2