
Setelah saling menatap tanpa mengatakan apa-apa, Freya lebih dulu mengalihkan pandangannya. Tatapan pria tampan di depannya itu terlalu tajam.
Astaga, suaminya itu memang sangat tampan sampai rasanya tidak masuk akal. Mana ada manusia yang begitu sempurna seperti ini? Sayangnya cara menatap pria itu terlalu menakutkan. Ia merasa seperti sedang ditelanjangi. Entah apa yang sedang ingin dicari tahu oleh Pak Pram sampai menatapnya dengan cara seperti itu.
Pria ini diam saja dan tidak menanggapi ucapannya barusan, itu artinya sudah setuju, bukan? Atau dia sedang marah?
Haish. Kenapa pria ini sangat susah ditebak?
Freya kembali menatap Pramudya dan berbicara, “Ehm. Kalau tidak ada lagi yang ingin Anda bicarakan, sebaiknya Anda segera beristirahat. Saya juga ingin tidur,” ucap Freya.
Sebelum Pramudya sempat menjawab, terdengar suara ketukan di pintu. Freya langsung bangkit berdiri seperti robot. Ia sangat terkejut.
“Siapa itu?” gumamnya pelan.
“Mungkin Kakek.”
“Kakek? Untuk apa Kakek datang ke sini?” Freya panik. Pak Tua itu mau apa? Haruskah ia pergi membukakan pintu?
“Mungkin ingin melihat apakah kita benar-benar tidur bersama atau hanya sedang berakting,” jawab Pramudya acuh tak acuh.
“Apa?” Langkah kaki Freya berhenti mendadak. Ia berlari kembali ke arah sofa, meraih selimut dan bantal, melemparkannya dengan asal ke atas kasur, lalu melompat naik dan bersembunyi di balik selimut.
Pramudya hanya mengangkat alisnya melihat tingkah Freya. Rupanya gadis konyol itu cukup pintar dalam situasi seperti ini.
Suara ketukan terdengar lagi. Kali ini lebih keras dengan tempo lebih cepat dari yang pertama kali.
Pramudya bangun dari sofa. Ia melepas dua kancing kemejanya dan melonggarkan ikat pinggangnya, lalu menarik ujung kemejanya keluar.
Freya meringkuk ke sudut ketika melihat Pramudya berjalan mendekat ke arahnya.
“Anda ... Anda mau apa?” tanyanya hampir menyerupai bisikan.
Pramudya tidak memedulikan kepanikan di wajah gadis itu. Ia bertumpu dengan lutut dan menghampirinya.
“Pak ... eng, Pram ... Pramudya, kamu mau apa?” Lidah Freya terbelit dan ia tidak tahu harus bicara apa. Penampilan Pramudya sangat menakutkan. Pria itu tidak melepaskan tatapan dari wajahnya ...
Semakin mendekat ...
Tambah mendekat ....
__ADS_1
“Aaah!” Freya menjerit dan hampir menendang Pramudya ketika tangan pria itu terulur ke arahnya. Namun, kedua kakinya ditekan dengan kuat oleh pria itu.
“A ... apa yang kamu lakukan? Kakek ada di luar ... sepertinya ada hal mendesak ... coba kamu lihat dulu ....” Freya tidak berani menyerang sembarangan. Biar bagaimana pun, pria ini adalah tambang emasnya sekarang, jadi ia hanya bisa memohon dengan tubuh setengah gemetaran.
Ia bisa mendengar pintu sudah hampir roboh karena digedor oleh Pak Tua, tapi pria mesum ini justru menindihnya di atas ranjang.
Pramudya menunduk dan berbisik di telinga Freya. “Hal apa yang lebih mendesak daripada memberikannya cicit? Berteriaklah. Semakin keras semakin bagus.”
Ia sangat yakin, bukan hanya kakeknya, mungkin kakak dan ibu tirinya pun sedang menguping.
“Ka ... kamu ....” Freya sangat ingin menangis. Kenapa ia baru tahu kalau CEO Pram ternyata bisa menjadi seorang berandalan?
Dasar bajingan!
“Aku bilang berteriak. Kalau ingin berakting, harus serius sampai akhir ....” Pramudya menekan Freya dan mengendus lehernya.
Sial. Tadinya ia hanya ingin berpura-pura, tapi kenapa aroma tubuh gadis ini begitu memikat? Segar seperti sekuntum bunga yang hendak mekar. Ia tidak tahan dan menempelkan bibirnya di pembuluh darah di leher Freya.
“Aaah ....” Freya terkejut dan memekik. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri ... seperti sedang berteriak tapi sekaligus terdengar seperti sedang mendesah.
Sialan!
Freya sangat terkejut.
Suara ketukan pintu tidak terdengar lagi. Freya tidak berani sembarangan bergerak di bawah tubuh Pramudya. Ia diam dan menahan napas sampai wajahnya hampir membiru. Terlalu menakutkan ... ini adalah pengalaman traumatis. Ia membutuhkan seorang psikiater sekarang juga!
Pramudya memejamkan mata dan berusaha mengumpulkan akal sehatnya yang berserakan entah ke mana. Ia tidak pernah kehilangan kendali di depan siapa pun. Pengalaman baru ini sedikit menakutkan. Ia juga tidak berani sembarangan bergerak. Inti tubuhnya bereaksi dengan keras dan membuatnya kesakitan.
Setelah menghela napas dan mengembuskannya beberapa kali, ia menggertakkan gigi dan bangkit dari ranjang. Sambil menyugar rambutnya yang berantakan, ia pergi ke pintu dan memutar gagang pintu.
Brak!
Pak Tua yang sedang menempelkan kuping ke daun pintu kehilangan keseimbangan dan hampir tersungkur ke depan, disusul oleh asistennya yang juga hampir terjungkal menabrak tuannya.
Pramudya mengulurkan tangan dan menangkap keduanya dengan sigap. Ia mengangkat alisnya dan menatap kedua pria tua itu bergantian.
“Astaga, Kakek, ada apa? Kenapa kalian berdiri di depan pintu?” tanyanya sambil memasang wajah bodoh.
Pak Tua melihat penampilan cucunya dan tidak bisa menahan rahangnya yang hampir jatuh ke lantai. Ia tidak berani melihat ke ranjang, langsung berbalik dan melarikan diri sambil menutup mata.
__ADS_1
Ia berseru seraya melambaikan tangannya, tersandung-sandung meninggalkan kamar Pramudya. “Aku tidak lihat apa-apa ... aku tidak melihatnya! Masalah yang lain bicarakan nanti saja!”
Pramudya masih bisa mendengar Pak Tua itu berteriak dari ujung lorong.
“Kalian lanjutkan saja! Jangan hiraukan aku!”
Setelah berbelok di ujung lorong, asisten Pak Tua mengatur napasnya yang tersengal dengan susah payah sambil memarahi majikannya itu. “Anda sudah lihat, kan? Hubungan Tuan Muda Kedua dengan Nona Muda sangat baik. Saya sudah melarang Anda untuk pergi, tapi Anda begitu keras kepala. Kalau Anda terus mengganggu seperti itu, kapan mereka akan memberikan Anda cicit?”
Pak Tua melambaik-lambaikan tangannya dengan cepat. “Tidak akan lagi! Aku sudah tahu aku salah, seharusnya aku tidak mendengarkan ucapan menantuku yang tidak berguna itu saat makan tadi.”
Asistennya tersenyum puas dan membantunya kembali ke kamar. Mereka tidak menyadari sosok yang keluar dari sisi lain lorong, memegang gelas sampanye dan menatap kepergian mereka dengan ekspresi yang tidak terbaca. Ia menoleh ke arah kamar Pramudya, menyesap wine dalam gelasnya dengan gerakan yang sangat pelan.
Ia tidak menyangka Pramudya dan istri kecilnya akan berakting dengan sangat baik. Sepasang suami istri itu ternyata tidak mengecewakannya.
Karena pertunjukannya sudah usai, ia berbalik dan berjalan pergi. Masih ada banyak waktu untuk menyaksikan pertunjukkan yang lebih mengasyikkan.
Di dalam kamar, Freya telah menggulung tubuhnya di dalam selimut seperti kepompong. Bahkan tidak ada celah untuk bernapas.
Dulu, meskipun selalu bersama Yoga sepanjang waktu, ia tidak pernah melakukan kontak fisik yang melewati batas. Paling-paling mereka hanya bergandengan tangan, itu pun jika berjalan di tengah kerumunan yang ramai. Yoga takut ia tertabrak orang dan terluka.
Freya tahu itu hanya alasan yang dibuat oleh Yoga karena mereka sama-sama tahu, ia tidak akan terluka hanya karena tertabrak pejalan kaki. Namun, kala itu ia membiarkan Yoga mengatakan kebohongan itu dan menggandengnya di sepanjang jalan.
Tapi barusan ... astaga, barusan itu terlalu mengejutkan. Kedekatannya dengan Pak Pram tadi terlalu intens. Jantungnya tidak dapat menahan rangsangan sebesar itu. Ia bersumpah nyawanya sudah hampir melayang.
“Kamu ingin mati?”
Suara Pramudya terdengar seperti menggeram persis di sampingnya. Freya membeku. Apa lagi yang ingin dilakukan oleh pria itu?
Ia memberontak dengan keras ketika merasakan Pramudya hendak melepaskan gulungan selimut yang ia gunakan sebagai senjata pertahanan.
“Jangan kekanak-kanakan. Kakek sudah pergi. Keluarlah dari selimut itu. Aku akan tidur di sofa.”
Freya tetap berpegangan kuat pada gulungan selimut. Ia diam dan mendengarkan. Sepertinya Pramudya telah mengambil bantal dan benar-benar pindah ke sofa. Ia akhirnya bisa bernapas lega. Jantungnya yang sempat kehilangan irama akhirnya kembali berdetak dengan normal.
Ini tidak baik ... benar-benar tidak baik ....
Kalau terus seperti ini, mungkin aku akan mati lebih dulu sebelum kontrak berakhir.
Malam ini ditakdirkan menjadi malam yang panjang .....
__ADS_1
***