Istri Kesayangan Tuan Pram

Istri Kesayangan Tuan Pram
Hadiah


__ADS_3

Freya masih bergelung di dalam selimut meski cahaya matahari telah menerangi kamar. Serangan fajar yang dilakukan oleh suaminya baru selesai setelah matahari terbit. Semua tenaganya terkuras habis.


Entah berapa kali ia memohon dan meminta ampun agar Pramudya melepaskannya, tapi suaminya itu justru menekannya semakin keras sehingga berkali-kali ia gemetar tak terkendali.


Stamina suaminya membuat Freya tidak tahu harus merasa kagum atau mengasihani diri sendiri. Pria itu masih bisa bangun dengan bersemangat dan pergi ke kantor. Sementara dirinya hampir tidak bisa bergerak. Tulang dan seluruh tubuhnya terasa ngilu. Membuka mata saja ia malas. Rasanya masih ingin berbaring sedikit lebih lama lagi.


Suara pintu yang terbuka membuat kening Freya sedikit berkerut.


Bukankah serigala buas itu sudah pergi? Siapa yang datang?


“Sayangku ....”


Sisi ranjang melesak di sebelah kanan. Tak lama kemudian bibir yang lembap dan dingin menyentuh kening Freya. Ia menggeliat dan berusaha membuka mata.


Suaminya sedang menatapnya sambil tersenyum.


Freya mengerang pelan. Ia merasa sedang berada di surga dan bertemu malaikat yang sangat tampan. Tapi mengingat malaikat ini yang telah menyiksanya hingga hampir pingsan, ia mengerucutkan bibir dan kembali memejamkan mata.


Dua detik kemudian, Freya berjengit seperti baru saja tersengat listrik. Bibirnya menjadi sasaran serigala buas.


Ia mengangkat tangan dan mendorong dada suaminya sambil bergumam pelan, “Paman, aku sudah tidak sanggup lagi. Tolong kasihani aku.”


Melihat istrinya yang bergumam dengan mata terpejam tanpa tenaga membuat Pramudya tak bisa menahan tawa.


“Siapa Paman? Apakah aku kurang memuaskanmu? Kalau begitu kita bisa coba lagi,” balasnya seraya memberi tatapan menggoda.


Freya menarik selimut dan menyembunyikan dirinya di dalam gulungan kain itu.


“Pergi. Jangan ganggu aku!” serunya dari balik selimut.


Astaga, istri kecilnya ini sangat lucu. Pramudya sangat ingin menempel dengannya sepanjang waktu. Tapi kali ini ada hal penting yang harus diselesaikan olehnya.


Ia mengambil setumpuk dokumen dan pulpen yang tadi diletakkannya di atas meja dan menyodorkannya kepada Freya.


“Aku akan pergi setelah kamu tanda tangan di sini."


Kepala Freya menyembul dari balik selimut.


“Tanda tangan apa?” tanyanya sambil menatap suaminya dengan curiga.


“Hanya hadiah kecil untuk istriku.”


“Hadiah?”


“Hm.” Pramudya mengangguk.


Kening Freya berkerut, mencoba mengingat tanggal berapa hari itu.

__ADS_1


Ia tidak sedang ulang tahun.


“Hadiah apa?” tanya Freya lagi. Kali itu ia keluar dari gulungan selimut dan bergeser mendekati suaminya.


Pramudya menghela napas panjang, tidak tahu harus tertawa atau menangis. Istrinya ini bahkan tidak ingat tanggal pernikahan mereka.


Ia menangkup wajah Freya dan mendaratkan sebuah ciuman di keningnya sebelum berkata, “Nyonya Antasena, terima kasih karena telah bersedia menjadi istriku. Terima kasih karena telah menerimaku kembali. Aku berjanji hanya akan mencintai kamu sampai mati. Selamat ulang tahun pernikahan yang pertama, Sayangku.”


Freya tercengang. Sudah satu tahun?


Sekarang tanggal berapa?


Bulan apa ini?


Ia mengerjap dengan linglung dan menoleh ke arah suaminya dengan perasaan bersalah. Ia benar-benar tidak mengingat tanggal pernikahan mereka.


Pramudya tertawa lagi. Wajah bingung istrinya tetap terlihat sangat imut di matanya. Ia bahkan tidak bisa merasa kesal meski istrinya melupakan tanggal pernikahan mereka.


“Tidak masalah kalau kamu lupa, aku akan mengingatkanmu setiap tahun,” bisiknya di dekat telinga istrinya.


Jantung Freya tiba-tiba berdegup kencang. Uap panas dan suara seksi yang keluar dari mulut suaminya selalu berhasil membuatnya meremang.


Tunggu.


Sepasang mata Freya membola.


Jadi serangan fajar tadi itu ....


“Tadi pagi itu kamu ... kamu ....” Freya menunjuk dada suaminya dengan kesal, tapi tidak mampu menyelesaikan ucapannya.


Paman Tua ini!


Pramudya tertawa, meraih pundak Freya dan mencium puncak kepalanya. Ia lalu menyodorkan setumpuk dokumen kepada istrinya dan memintanya untuk tanda tangan.


Freya membaca sekilas tulisan bercetak tebal pada kertas yang berada di tumpukan paling atas.


Matanya membulat. Dalam sekejap rasa kesalnya berkurang, digantikan oleh rasa terkejut dan tidak percaya.


Isi surat-surat itu kurang lebih adalah penyerahan aset yang dimiliki oleh suaminya, mulai dari yang ada di Indonesia sampai di luar negeri, semuanya dipindahtangankan atas namanya.


“Sayang, kamu jangan menakutiku.” Tangan Freya tiba-tiba gemetar. Otaknya berhenti menghitung pada jumlah nol yang ke-12. Semuanya dalam kurs dollar.


“Kakek bilang, semua harta suami adalah milik istri. Aku bekerja keras untuk istriku. Apa yang aku miliki adalah milikmu. Bahkan hati dan tubuhku juga milikmu, Sayangku." Sambil mengucapkan kalimat itu, jari-jari Pramudya bergerak naik turun di lengan istrinya.


Freya merinding. Apanya yang memiliki hati dan tubuh? Paman Tua ini semakin tidak tahu malu.


Ia mengalihkan pandangan dari wajah suaminya, menatap kembali tumpukan kertas di tangannya dan berkata, “Ini terlalu banyak, aku tidak dapat menerimanya.”

__ADS_1


Pramudya tetap tersenyum dengan sangat menawan. Ia tahu jawaban ini akan keluar dari mulut istrinya.


“Istriku, anggap saja ini sebagai jaminan. Kelak jika aku macam-macam, kamu bisa menendangku pergi tanpa sepeser pun uang di tangan,” ucapnya.


Freya melotot. “Kamu berani macam-macam?”


“Tidak ... tidak ... maksudku, untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Jika aku lebih dulu mati, kamu dan anak-anak kita bisa—“


“Sudah. Sudah. Berhenti omong kosong. Aku tanda tangan.” Freya membubuhkan tanda tangannya pada setiap lembaran kertas sebelum suaminya mengucapkan kalimat yang lebih tidak masuk akal.


Pramudya tersenyum puas. Membujuk istrinya tidak sesulit yang ia bayangkan.


Freya menyerahkan dokumen yang telah selesai ia tanda tangani dengan wajah cemberut.


“Sudah. Apa aku sudah bisa tidur?” tanyanya.


“Hm.” Pramudya mengangguk, lalu menarik pinggang istrinya ke bawah, masuk kembali ke dalam selimut.


“Apa yang kamu lakukan?” Freya mendesis marah dan menggeliat untuk melepaskan diri dari Paman Tua yang semakin messum itu.


“Minta hadiah,” jawab Pramudya. Suaranya mulai berat dan serak. Tangannya bergerak melepaskan kancing kemeja dengan gerakan yang sangat terampil.


“Pramudya Antasena!”


“Ya, Sayangku.”


“Umph!” Freya hampir tersedak karena marah. Mulutnya disumpal oleh lidah yang basah.


Ingin menangis ....


Freya melepaskan diri dari ciuman yang semena-mena itu dan memaki suaminya, “Paman Tua, tahan dirimu sedikit! Aku bisa mati di atas ranjang kalau terus begini.”


Gerakan Pramudya terhenti. Ia menatap wajah mungil istrinya dengan sepasang mata yang berkabut.


“Siapa Paman Tua?”


Alarm di kepala Freya menyala. Ancaman yang terdengar dalam pertanyaan itu membuat tubuhnya menyusut. Ia sudah salah bicara.


Cepat-cepat ia menggoyangkan tangan dengan panik dan membalas, “Aku salah. Suamiku sangat muda dan tampan. E-he-he-he ... tidak tua sama sekali ....”


Sayangnya, Paman Tua tidak mau mendengar alasan apa pun.


Pagi itu, Paman Tua bekerja keras untuk membuktikan bahwa dirinya tidak masuk dalam kategori "tua".


**


__ADS_1


__ADS_2