
Yoga mengangkat tangannya yang bebas dan menampar pipinya sendiri. Ia menggunakan seluruh kekuatannya tanpa ragu. Telinganya berdengung keras dan rahangnya sangat ngilu. Ia bisa merasakan amis besi di dalam mulutnya, tapi tidak merasa menyesal. Ia memang pantas mendapatkannya.
Suara pukulan yang sangat keras membuat Freya melonjak karena terkejut. Ia melotot ketika melihat Yoga masih akan memukuli pipinya lagi.
“Apa yang kamu lakukan?” Freya melompat maju dan menahan tangan Yoga sebelum mengenai wajahnya sekali lagi.
“Kamu sudah gila, ya?! Untuk apa melakukan hal seperti ini?” Freya mengempaskan tangan Yoga dengan keras dan memarahinya.
Alih-alih merasa sakit, Yoga justru tersenyum seperti orang bodoh. Ternyata Freya masih peduli kepadanya.
“Kenapa tersenyum seperti itu? Otakmu bergeser?” Freya memelototi Yoga dengan ganas.
Bajingan ini, sengaja menyakiti dirinya sendiri seperti itu agar ia merasa kasihan dan tidak tega? Benar-benar licik.
Seringai di wajah Yoga semakin lebar. Meski sudut bibirnya terasa nyeri, tapi itu tidak menghalanginya untuk terus tersenyum.
Akhirnya, setelah semua cara yang ia gunakan untuk mendapatkan perhatian Freya ... rasa sakit ini sepadan ....
Freya terlalu malas meladeni sikap kekanakan Yoga.
“Pulanglah,” ucapnya sebelum berbalik dan berjalan menuju pintu kantornya.
“Freya!” Yoga berseru sambil mengulurkan tangan untuk menahan lengan Freya.
Freya melirik ke arah tangan Yoga.
“Um, maaf ....” Yoga melepaskan tangannya dengan canggung. Ia mundur satu langkah dan memberi jarak di antara mereka.
“Aku tahu aku tidak layak mendapatkan maaf darimu. Aku tahu tidak ada alasan apa pun yang bisa membenarkan kepergianku. Kamu boleh memukuliku, menendangku, teriaki aku, caci maki ... apa saja, aku tidak keberatan. Tapi aku mohon ... jangan membenciku, ya ....” Yoga memohon dengan sangat rendah hati.
Ia tahu, dengan alasan apa pun, ia tidak layak membela diri. Oleh sebab itulah, saat ini ia hanya akan membiarkan Freya melampiaskan semuanya sampai tuntas ... agar tidak ada lagi jarak dan batas di antara mereka.
Freya terdiam di depan pintu. Kedua tangannya terkepal erat di sisi tubuhnya. Ia tidak mau membalas ucapan Yoga. Takutnya, begitu ia membuka mulut maka semua pertahanan dirinya akan runtuh. Ia tidak ingin mengucapkan kata-kata kasar yang tidak pantas, tapi kenapa Yoga terus menekan batas kesabarannya?
Dari getaran di bahu Freya, Yoga tahu gadis itu sedang menangis. Ia maju dengan hati-hati dan hendak mengulurkan tangan untuk membujuknya.
__ADS_1
“Pergi.”
Suara Freya terdengar sebelum tangan Yoga menyentuh pundaknya.
“Freya, aku—“
“Aku bilang pergi!” Freya membentak Yoga dengan keras. Untuk pertama kalinya, ia berteriak kepada Yoga. Tidak bisakah pria itu membiarkan dirinya menenangkan diri sejenak?
Kehadiran Yoga hanya membuat perasaannya jungkir balik tak karuan. Ia ingin marah, tapi juga merasa rindu—rasa rindu yang meluap dan kadang hampir menghancurkan akal sehatnya. Ia ingin memeluk dan mengatakan bahwa ia telah memaafkan, tapi juga merasa tidak terima karena luluh dengan mudah.
Bagaimana boleh ia memaafkan dengan mudah? Butuh waktu yang sangat lama baginya untuk merelakan dan menata kembali hidupnya. Perasaan yang rumit seperti ini sangat menyiksa.
“Freya, apakah kamu benar-benar membenciku?” Yoga jatuh berlutut di dekat kaki Freya. Ia tahu Freya terluka karena kepergiannya, tapi ia sendiri juga tidak menjalani hidup yang mudah. Satu-satunya wanita yang ada di hatinya hanyalah Freya. Bagaimana bisa ia melepaskannya begitu saja?
Tidak akan.
Ia tidak akan menyerah.
“Apa yang kamu lakukan?” Freya memutar tubuhnya dan memelototi dengan matanya yang memerah. Ingin membuat drama untuk ditonton siapa?
Ia menyusut air matanya dengan punggung tangan, berbalik dan berjalan ke dalam kantor.
“Untuk apa berlutut di situ? Masuk,” ucapnya sebelum melangkah melewati pintu.
Pupil Yoga melebar. Ia buru-buru bangun dan menyusul Freya ke dalam kantor.
“Duduklah.”
“Baik.” Yoga duduk dengan patuh di kursi yang ada di ruangan itu.
Freya pergi ke kamar mandi yang ada di dalam kantor. Ia membasuh wajahnya dengan air dingin, menepuk-nepuk pipinya beberapa kali sebelum mengeringkannya dengan tisu.
Menghadapi Yoga selalu membuatnya emosional. Ia membenci dirinya sendiri yang selalu mudah menangis jika tidak bisa melampiaskan amarahnya. Ia membenci dirinya sendiri karena tidak bisa benar-benar tegas ketika berhadapan dengan Yoga. Sangat bodoh dan lemah. Ia membenci dirinya yang seperti itu.
Harus kuat, Freya. Jangan cengeng. Masalah tidak bisa diselesaikan dengan air mata. Hadapi dia.
__ADS_1
Freya menghela napas dalam-dalam sebanyak tiga kali sebelum berjalan keluar. Ia duduk di kursi yang berhadapan dengan Yoga. Lalu, dengan segenap kekuatan yang ia kumpulkan, ia menatap lurus ke arah pria itu, pria yang dulunya ia kira akan ia nikahi.
Lihatlah bagaimana takdir mempermainkan nasib mereka.
Yoga duduk dengan canggung. Kini setelah benar-benar bisa duduk berduaan dengan Freya, seluruh keberaniannya lenyap tak bersisa. Semua rangkaian kata-kata yang telah dipersiapkannya menguap entah ke mana.
Apalagi ... tatapan Freya itu membuatnya merasa sedikit terintimidasi. Tatapan seperti itu tidak pernah diberikan Freya kepadanya.
Dulu, Freya selalu memandangnya dengan tatapan memuja, tatapan yang hangat dan ceria. Tapi sekarang, mereka duduk berhadapan seperti sepasang orang asing.
Freya yang lebih dulu bersuara.
“Katakan apa yang kamu inginkan,” ucapnya.
“Aku ... aku ingin meminta maaf kepadamu. Aku tahu beribu permintaan maaf pun tidak cukup untuk mengobati luka di hatimu. Aku harus bagaimana agar kamu memaafkanku, Freya?”
“Aku sudah memaafkanmu.”
“Benarkah?” Yoga tampak ragu-ragu. Kenapa wajah Freya tidak ada ekspresi ketika mengucapkan kalimat itu?
“Ya. Sudah, ‘kan? Sekarang kamu sudah bisa pergi? Aku masih ada banyak urusan.”
Yoga menelan ludahnya yang terasa getir. Freya memaafkannya hanya karena tidak ingin berlama-lama duduk di depannya. Kenapa rasanya lebih menyakitkan ketimbang gadis itu berusaha menjauhinya?
Yoga mengesampingkan perasaan tidak nyaman di hatinya. Saat ini ada hal yang lebih penting yang ingin diutarakan olehnya.
“Freya, aku tahu kamu masih marah. Tapi kedatanganku kali ini untuk membicarakan hal yang lain juga. Aku ....” Yoga melirik Freya dengan ragu. Apakah gadis itu akan mengamuk jika ia mengutarakan tujuannya?
“Ada apa?” Suara dan air muka Freya masih cukup tenang.
"Berapa uang yang sudah diberikan oleh Pramudya Antasena kepadamu? Aku akan melunasinya. Kamu bisa bebas. Tidak perlu kembali denganku. Kamu bisa menjalani kehidupan yang kamu inginkan. Anggap ini penebusanku untukmu ....”
Setelah mendengar kalimat itu, Freya memaku tatapannya di wajah Yoga. Ia ingin tahu sebenarnya apa yang sedang dipikirkan oleh pria itu. Kenapa sangat ingin ikut campur dalam kehidupannya?
Benarkah Yoga masih memiliki perasaan yang sama terhadapnya seperti tiga tahun yang lalu? Atau ini hanya pura-pura?
__ADS_1
***