Istri Kesayangan Tuan Pram

Istri Kesayangan Tuan Pram
Tuan Berhati Lembut


__ADS_3

Di lantai satu, Pak Anton menghampiri sang Nyonya Muda yang sedang sibuk membuat nasi goreng di dapur. Gadis sederhana itu menolak masakan yang dibuatkan oleh koki dan lebih memilih untuk memasak sendiri.


Oleh sebab itulah Pak Anton mengambil kesempatan itu dan mengusir para pelayan lainnya. Ada hal penting yang ingin dibicarakan olehnya dengan sang Nyonya.


“Nyonya,” sapa Pak Anton dengan segan. Ia meremas tangannya dengan gugup. Sebenarnya ia merasa sedikit lancang dan tidak layak, tapi ia juga tidak bisa hanya berdiam diri melihat Tuan dan Nyonya bertengkar setiap saat.


“Ya. Ada apa, Pak?” Freya menoleh sekilas, kemudian kembali fokus mengawasi nasi di dalam penggorengan. Sebentar lagi matang. Ia sudah kelaparan.


Alih-alih menjawab, Pak Anton melirik ke arah pintu. Ia merasa sedikit gugup. Bagaimana kalau Tuan Pram tiba-tiba turun?


Ruth mengacungkan jempol dengan mantap, memberi isyarat bahwa ia akan menjaga pintu dan tidak akan membiarkan siapa pun mendekat.


“Ada apa, Pak?” tanya Freya lagi karena Pak Anton tak kunjung bersuara.


“Nyonya selesaikan saja dulu masak nasi gorengnya,” ucap Pak Anton.


“Oke. Sebentar ya, Pak.” Freya mengambil botol kecap dan menuangkannya sekitar dua sendok makan ke atas nasi goreng, mengaduk-aduknya dengan cepat sehingga butiran nasi di dalam wajan berubah warna menjadi cokelat muda.


Dalam sekejap aroma nasi goreng yang lezat memenuhi ruangan. Freya mengaduk-aduk nasi gorengnya lagi sebentar, menyendok secuil dan mencicipi rasanya. Ia mengangguk puas.


Pak Anton buru-buru mengambilkan piring dan menyerahkannya kepada sang Nyonya.


“Makasih, Pak.” Freya menerima piring itu dan menyendokkan separuh isi wajan ke atasnya.


“Sama-sama, Nyonya. Itu ... em, saya ingin berbicara sebentar mengenai Tuan Muda. Apakah Nyonya ada waktu?”


“Mengenai Tuan Pram?”


Pak Anton mengangguk dengan sungkan.


Freya tidak jadi membawa piringnya ke meja makan. Ia tahu Pak Anton sengaja menemuinya di dapur agar tidak ada yang mendengar percakapan mereka. Melihat dari gerak-gerik dan ekspresi wajahnya, a sudah bisa menebak bahwa Pak Anton ingin membujuknya agar tidak terlalu keras menghadapi Pak Pram, atau memintanya untuk lebih bersabar dalam menghadapi suaminya itu.


Tapi, ia tetap berpura-pura tidak tahu dan bertanya, “Ada apa, Pak?”


Pak Anton terlihat semakin gelisah. Ia menunduk dan tidak berani menatap wajah majikannya.


“Nyonya, maafkan kalau saya lancang ... saya hanya tidak tahan melihat Nyonya dan Tuan terus bertengkar ....


“Tidak apa-apa, Pak. Katakan saja. Ada apa?”


“Nyonya, saya tahu hubungan Nyonya dengan Tuan tidak biasa ... tapi, bisakah Nyonya tolong bersabar menghadapi Tuan Muda?”


Freya mengernyit. “Maksud Bapak bagaimana?”


“Sebenarnya, Tuan Pram berhati lembut. Sejak kecil dia sangat penurut dan manja, terutama dengan ibunya. Karena ayahnya selalu sibuk bekerja, Tuan Pram lebih dekat dengan ibunya. Itulah mengapa kematian ibunya menjadi pukulan yang sangat besar untuk Tuan Pram.

__ADS_1


Sementara itu ... em, di rumah utama ... itu, almarhum Tuan Besar justru membawa wanita penyebab kematian istrinya dan menjadikannya sebagai istri sah, membawa serta anak di luar nikah yang usianya lebih tua dari Tuan Pram. Itu adalah pukulan terberat yang kedua. Butuh waktu bertahun-tahun bagi Tuan Pram untuk pulih dari masa berduka dan berdamai dengan keadaan. Tapi ... dia berubah menjadi dingin dan tidak mudah didekati.”


Pak Anton mendongak sekilas untuk menatap wajah majikannya. Tampaknya sang Nyonya mendengarkan semua perkataannya dengan saksama. Ia merasa cukup lega. Ternyata Nyonya Muda tidak terlalu acuh tak acuh terhadap tuan mudanya.


Pria itu menghela napas pelan sebelum melanjutkan, “Selama saya bekerja dengan Tuan Pramudya, Tuan tidak pernah membawa wanita mana pun untuk menginap di rumah. Bahkan Nona Carissa pun tidak. Nyonya adalah wanita pertama yang dibawa pulang dan diperlakukan dengan sangat baik oleh Tuan. Saya yakin Tuan memiliki sedikit perasaan khusus kepada Nyonya, tapi Tuan hanya tidak bisa mengutarakannya saja. Oh, ya, Tuan juga tidak pernah terlibat skandal apa pun, jadi Nyonya tenang saja. Masa lalu Tuan sangat bersih.”


Freya menggigit bibirnya dan tidak tahu harus mengatakan apa.


Inti dari pembicaraan ini adalah ...?


“Meski wajahnya selalu masam dan ucapannya kadang cukup tajam, sebenarnya Tuan tidak bermaksud jahat. Tuan hanya tidak terbiasa bersosialisasi dan berkomunikasi dengan orang lain, terutama dengan perempuan. Contohnya saja mengenai Tuan yang melarang Nyonya pergi bekerja lagi di kantor. Saya yakin itu karena Tuan tidak ingin Nyonya dilukai oleh orang lagi.”


Freya tertegun sesaat. Ia tahu, hampir seisi rumah sudah tahu ia “dilarang” untuk pergi bekerja di kantor. Ia juga telah memikirkan beribu alasan “pemecatannya” itu. Salah satu alasan yang menurutnya paling kuat dan masuk akal adalah karena Pak Pram malu telah menikahi dirinya. Tapi ia tidak pernah memikirkan kemungkinan alasan ketika Pak Pram menyuruhnya berhenti bekerja adalah agar ia tidak terluka lagi.


Tapi, benarkah itu alasannya? Karena Pak Pram tidak ingin ia terluka lagi?


Melihat sang Nyonya yang hanya diam dan sibuk dengan pikirannya sendiri, Pak Anton berkata, “Saya harap Nyonya bisa lebih bersabar dalam menghadapi Tuan dan juga tidak menjauh. Tuan hanya tidak tahu bagaimana caranya menyampaikan apa yang ada dalam pikirannya dengan cara yang benar.”


Freya menahan dorongan kuat untuk mengembuskan napas dan memutar bola matanya. Ini adalah permohonan secara terang-terangan agar ia mengalah di depan Pak Pram.


Apakah pria tua ini tidak tahu bahwa pernikahan ini hanya pura-pura?


Ia akan berpisah dengan Pak Pram enam bulan kemudian. Untuk apa menceritakan semua ini kepadanya?


Pak Anton tidak mungkin berharap dirinya akan berhasil mengubah balok es itu menjadi hangat dan jatuh cinta kepadanya hanya dalam waktu enam bulan, kan?


Hm ...


Mungkin iya.


Mungkin juga tidak.


Yang jelas. Pak Anton telah salah menebak dirinya. Apakah di wajahnya ada tertulis “kesabaran dan kelemahlembutan”?


Coba lihat. Ada atau tidak?


Selain itu, sebenarnya ia juga tidak sebaik yang dikira. Masa lalunya berantakan. Ia tidak punya orang tua, sering bolos sekolah dan pergi berkelahi dengan gangster. Ia juga pergi dari panti dan tinggal bersama Yoga. Meski mereka tidak tidur sekamar atau melakukan hal-hal di luar batas, tapi ... kehidupan seperti itu, mana bisa disandingkan dengan Pak Pram?


Hubungan ini akan berakhir dalam enam bulan. Mereka hanya sedang menjalani kesepakatan yang saling menguntungkan. Tidak ada yang bisa menggoyahkan atau mengubah hal itu.


“Nyonya?” panggil Pak Anton ketika sang majikan terlihat seperti sedang melamun.


“Hm?”


“Anda tidak marah, kan?” tanya Pak Anton. Ia merasa sedikit gugup. Bagaimana kalau Nyonya Muda tersinggung dan melaporkannya kepada Tuan Pram? Habislah sudah nasibnya ....

__ADS_1


“Pak Anton nggak perlu khawatir. Saya mengerti apa maksud Bapak. Untuk hal-hal lainnya, saya tidak berani janji apa-apa sama Bapak. Tapi, terima kasih karena sudah cerita,” ucap Freya dengan tulus. Setidaknya ia menjadi tahu latar belakang Pak Pram sehingga bisa lebih mudah menghadapinya di masa depan.


Pak Anton menatap nasi goreng dalam piring yang sudah hampir dingin. Ia menawarkan diri untuk Ia membawakan piring itu ke meja makan, tapi sang Nyonya Muda menolak.


“Bapak jangan sungkan, saya bisa sendiri.” Freya memegang piring nasi gorengnya dan berjalan keluar.


Ia melewati Ruth yang tidak berani menatapnya di depan pintu. Sepertinya gadis itu merasa bersalah karena sudah bekerja sama dengan Pak Anton.


“Ambil nasi goreng di wajan. Temani aku makan,” pintanya sambil berlalu.


“Eh? Oh ... baik, Nyonya.” Ruth tergagap-gagap masuk ke dapur dan mengambil sisa nasi goreng dalam wajan.


Syukurlah Nyonya tidak marah ....


Ia sangat berharap hubungan Tuan dan Nyonya dapat terjalin selamanya ....


Freya duduk di kursi dan mulai menikmati nasi goreng “abang-abang” buatannya. Ia mengangguk puas. Rasanya cukup enak.


Tak lama kemudian, Ruth datang dan berdiri di dekat Freya. Ia ragu harus duduk di mana. Sebenarnya pelayan tidak boleh makan satu meja dengan majikan. Tapi ia juga tahu Nyonya tidak akan mengizinkannya makan di tempat khusus pelayan.


“Duduklah. Kenapa bengong di situ?” tegur Freya.


“Eng ... saya—“


Freya bangun, mengambil piring di tangan Ruth dan meletakkannya di dekat piringnya sendiri.


“Duduk,” perintahnya.


Akhirnya Ruth duduk dengan segan di sebelah Freya.


“Makan,” perintah Freya lagi.


Ruth memegang sendok dan mulai makan. Aura Nyonya tidak kalah menindas dibandingkan Tuan. Ia merasa sedikit takut.


“Enak tidak?” tanya Freya.


Ruth mengangguk. Masakan Nyonya lumayan, terasa cocok di lidahnya.


Freya tersenyum puas. Ia makan dengan senang, menghabiskan isi piring hingga bersih tak bersisa. Setelah menyelesaikan ganjalan di hatinya dan makan dengan kenyang, rasanya hatinya lebih lapang dan lega.


Ia sungguh berharap ketenangan seperti ini bisa bertahan selama enam bulan ke depan.


***


__ADS_1



__ADS_2