Istri Kesayangan Tuan Pram

Istri Kesayangan Tuan Pram
Bersenang-senang


__ADS_3

Freya diam-diam menghela napas lega ketika akhirnya mobil berbelok memasuki pelataran villa yang tampaknya akan menjadi tempat mereka menginap selama lima hari ke depan. Ia tidak mengerti mengapa Pak Pram menatapnya seperti itu, tapi pengalaman barusan terlalu intens. Ia merasa sangat gugup dan salah tingkah.


“Apa kita akan tidur sekamar?” tanya Lisa setelah turun dari mobil.


“Aku tidak tahu. Pak Pram yang mengaturnya.” Freya menjawab seraya mendongak dan mengamati villa megah di hadapannya dengan perasaan takjub.


Dilihat dari desain bangunan dan keadaan lingkungannya saja, ia sangat yakin villa ini dipatok harga yang fantastis per malam. Bayangkan berapa banyak biaya yang dihabiskan untuk lima hari ke depan. Kakek memang sangat murah hati dan tidak pelit. Freya semakin merasa bersalah kepada pria tua itu.


“Ayo.” Pramudya menghampiri Freya dan Lisa, memberi isyarat agar kedua wanita itu mengikutinya.


Di belakang, Bayu memberi arahan kepada petugas hotel untuk membawakan tas dan koper ke kamar. Selain itu, ia masih harus mengonfirmasi mobil sewaan yang akan membawa mereka berkeliling hari ini.


Sebenarnya, jika menuruti rencana Pak Tua, maka Pramudya dan Freya seharusnya tidak pergi ke mana-mana. Ia hanya membelikan tiket pesawat dan memesan penginapan, tentu saja tujuannya agar cucu dan cucu menantunya bisa relaks dan berusaha dengan maksimal untuk menghadirkan cicit yang menggemaskan.


Jika saja Pak Tua apa yang sebenarnya sedang terjadi di Pulau Bali sekarang, mungkin ia akan memesan penerbangan paling cepat dan menyusul untuk memukuli bokong Pramudya Antasena.


Staf hotel menyambut rombongan Pramudya dengan ramah. Sepasang petugas pria dan wanita memandu jalan dan menunjukkan letak villa eksklusif yang akan ditempati oleh mereka.


Di sepanjang jalan, jika bukan karena kehadiran Pak Pram, sepertinya Lisa sudah akan mengeluarkan ponsel dan berselfie di semua tempat. Pajangan-pajangan yang ada sangat indah. Benar-benar berkelas dan elegan. Ia menyukai semuanya, mulai dari hiasan ruangan, lantai dan dinding yang mewah, juga pelayanan para staf yang sangat ramah.


Freya tertawa melihat mata Lisa yang sudah hampir berkaca-kaca karena bahagia.


“Jangan norak,” godanya seraya menyodok lengan Lisa.


“Dalam mimpi pun aku tidak pernah datang ke tempat seperti ini, jangan salahkan aku sedikit norak.” Lisa mengerucutkan bibirnya dan membalas dengan ekspresi memelas.


Kapan lagi ia bisa mendatangi tempat seperti ini? Tampaknya seumur hidup ia tidak akan bisa menikmati semua fasilitas mewah seperti ini untuk yang kedua kalinya.


Freya melambaikan tangannya, memberi isyarat agar Lisa mendekat.


“Apa?” tanya Lisa seraya mendekatkan telinganya.

__ADS_1


“Kamu nikahi saja Pak Bayu, pasti dia akan sering mengajakmu ke tempat-tempat seperti ini,” bisik Freya, lalu terbahak ketika melihat ekspresi wajah Lisa.


“Kamu gila? Kalau gila jangan ajak-ajak aku. Cukup kamu saja yang menderita dan galau, aku tidak mau terlibat dalam hidup yang berkecukupan tapi penuh kekacauan ini.” Lisa mencibir sambil melotot.


“Benarkah? Kamu yakin? Dia tampan dan kaya, juga lebih ramah dan baik hati daripada Pak Pram. Kenapa tidak coba saja dulu?” Freya mengangkat alisnya dan memberi tatapan main-main kepada Lisa.


“Tidak, Nyonya. Terima kasih. Aku tidak mau dimusuhi semua orang dan disiram air panas, oke? Memangnya aku ini seekor ayam potong yang hendak dicabut bulunya?” Lisa memutar bola matanya dengan kesal. Hih! Mengerikan. Ia tidak mau bernasib sama seperti Freya.


“Siapa tahu keluarga Pak Bayu juga lebih baik. Mungkin mereka akan memperlakukanmu seperti emas permata dan menjagamu dengan baik.”


“No way! Stop, Freya.” Lisa memelototi Freya dengan kesal. Baginya, waiter yang memakai apron di Kafe milik Freya itu cukup tampan.


Yah, meski Pak Bayu sedikit lebih tampan dari waiter itu, ia lebih memilih kehidupan yang tenang. Ia tidak memiliki nyali untuk berharap lebih, apalagi menjadi kekasih Pak Bayu. Memikirkannya saja sudah membuatnya merinding.


Freya masih ingin menggoda Lisa, tapi mereka telah berhenti di depan sebuah villa yang sangat cantik. Kaca-kaca jendelanya langsung menghadap laut lepas. Ada sebuah infinity pool yang memanjang di depan villa, menghadap ke arah Samudra Hindia yang berwarna biru pekat.


Keduanya berhenti berjalan dan terpana untuk beberapa saat. Pemandangan di depan mereka benar-benar indah. Tidak ada orang-orang yang berlalu lalang di pantai, hanya ada hamparan pasir putih yang lembut dan sangat bersih.


Ia tersenyum dan mengarahkan tangannya ke sisi kanan, tepat ke bagian paling ujung dari infinity pool dan mengimbuhkan, “Tangga untuk ke pantai ada di sana. Tuan dan Nyonya bisa turun kapan saja.”


“Oh, oke ....” Freya manggut-manggut tanpa melepaskan tatapannya dari pantai. Ia sangat menyukai laut dan pantai, tapi tak memiliki banyak kesempatan untuk mengunjungi tempat-tempat yang indah seperti ini.


Deburan ombak ... angin sepoi-sepoi ... ia benar-benar sudah tidak sabar untuk turun ke sana dan bersenang-senang.


Dari samping kanan, Pramudya melirik istrinya dan melihat semua antusiasme yang berusaha ditahan oleh gadis itu. Ia diam-diam mencatat dalam hati: selain menyukai kucing, istrinya juga menyukai pantai.


“Ini kunci kamarnya, Nyonya. Satu kamar di sisi timur, satunya lagi di sisi barat ... yang dekat dengan tangga ke pantai,” ucap sang pelayan wanita seraya menyerahkan serangkaian anak kunci kepada Freya.


Freya menerima kunci yang disodorkan kepadanya seraya berkata, “Baik. Terima kasih.”


“Sama-sama, Nyonya. Kalau Tuan dan Nyonya membutuhkan sesuatu, silakan gunakan telepon ekstension yang ada di kamar.”

__ADS_1


“Baik.”


“Kami permisi dulu.” Kedua pelayan itu mengangguk bersamaan dan pamit undur diri.


Freya menoleh ke arah Pramudya dan mengangkat tangannya.


“Kamar kami yang mana?” tanyanya.


“Kamu pilih saja.”


“Benarkah? Tidak apa-apa?”


“Hm.” Pramudya mengangguk. Baginya kamar yang mana sama saja.


Freya tersenyum lebar. Tentu saja ia memilih kamar di sisi barat. Ia pasti akan sering turun untuk bermain ombak dan mencari kerang. Ia mengajak Lisa untuk membawa koper dan barang bawaan mereka ke kamar.


Meski awalnya ia datang karena memenuhi keinginan Kakek, tapi sekarang ia merasa kedatangannya ini tidak sia-sia. Ia berjanji dalam hati, setelah pulang nanti, ia akan memasak sesuatu yang spesial untuk Kakek sebagai bentuk ucapan terima kasihnya.


Bayu mendorong pelan bahu Pramudya yang masih mengamati kepergian istrinya.


“Awas matamu copot,” godanya.


“Sialan! Tutup mulutmu!” Pramudya balik mendorong dengan keras sehingga Bayu hampir terjungkal.


“Pramudya kamu bajingan! Tidak tahu bercanda, ya?” Bayu memarahi sahabatnya sambil mendelik. Kalau bukan karena kesigapannya, ia pasti sudah mencium lantai marmer dengan keras tadi.


“Berisik!” Pramudya mengabaikan Bayu yang mengomel dan membawa tasnya ke kamar.


Tiba-tiba ia merasa ide kakeknya untuk “bulan madu” ini tidak terlalu buruk.


***

__ADS_1


Itu yang nanya kapan bucin mulu ntar tak suruh dicium Pak Bayu, loh😒


__ADS_2