Istri Kesayangan Tuan Pram

Istri Kesayangan Tuan Pram
Bagaimana Ini?


__ADS_3

Cahaya matahari menembus jendela, jatuh di atas kening Freya. Kelopak matanya bergerak-gerak tak beraturan. Kepalanya terasa sangat berat. Sekujur tubuhnya pegal-pegal, bahkan sampai tulangnya terasa sedikit ngilu.


Ketika sepasang matanya perlahan terbuka, ia mengamati jendela dan kursi di depannya dengan pikiran yang campur aduk.


Di mana ini?


Pada saat yang bersamaan, ketika otaknya berusaha mengumpulkan kepingan informasi yang berserakan, embusan napas hangat yang terasa menerpa tengkuknya. Tubuh Freya seketika membeku.


Ia tidak berani menoleh ke belakang. Hanya bisa menahan napas dan melirik ke bawah dengan sangat hati-hati.


Ada sebuah lengan yang kokoh melingkari pinggangnya. Sebuah telapak tangan yang besar berada di balik baju tidurnya, terasa hangat menangkup perutnya.


Matilah.


Apa yang terjadi?


Freya memejamkan mata dan menggigit bibirnya dengan keras, berusaha mengingat apa yang terjadi semalam.


Setelah tiba di Sky Garden, mereka berhenti sebentar di lantai satu, lalu Pak Bayu mengajak mereka untuk naik ke ruang VIP di lantai tiga.


Lalu ....


Ya, Tuhan ... apa yang terjadi?


Apa yang telah kulakukan?


Apakah semalam aku mabuk dan tidur dengan seseorang?


Freya sangat ingin menangis. Apakah dirinya benar-benar telah menghabiskan malam bersama orang asing?


Betapa mengerikannya kalau sampai benar seperti itu.


Dengan sangat pelan dan hati-hati, ia berusaha menggeser lengan yang melingkar di pinggangnya.


Akan tetapi, sebelum ia berhasil menjalankan misinya, suara yang serak dan dalam datang dari balik tubuhnya.


"Sudah bangun?"


Suara ini ....


Freya tidak berani bergerak.


Tidak berani bernapas.


Tidak berani bersuara.


Saat itu ia baru merasakan jika punggungnya menempel pada dada yang bidang dan padat. Kakinya yang sedikit menekuk saling membelit dengan sepasang kaki yang hangat, tertutup oleh selimut sampai sebatas paha.


Posisi ini ....


Otak Freya kacau balau. Kepingan memori berserakan dan ia membutuhkan waktu untuk memproses segalanya.


Hal terakhir yang ia ingat adalah pergi ke bar bersama Lisa, Pak Pram, dan Pak Bayu. Lalu ia meminum segelas jus semangka yang rasanya sangat enak. Lalu, ia ingat berseru dan berterima kasih kepada Kakek.


Lalu ....


Ya, Tuhan.


Benarkah tadi malam ia melompat ke atas sofa dan berteriak dengan lantang?


Wajah Freya memerah dan memanas dengan cepat. Napasnya tersengal-sengal dan ia merasa akan pingsan saat itu juga.

__ADS_1


Setelah itu apa?


Apa yang dilakukannya lagi setelah melompat ke atas sofa?


Astaga. Astaga. Astaga ....


Tolong katakan ini cuma mimpi buruk.


“Ada apa? Kamu masih pusing?”


Embusan napas yang hangat menerpa tengkuk Freya sekali lagi. Tubuhnya menegang ketika telapak tangan yang besar itu keluar dari balik bajunya, bergeser naik dan menyentuh keningnya. Ia terlalu terkejut untuk memberikan reaksi apa pun. Matanya berkedip-kedip seperti seekor anak rusa yang tersesat.


Perlu beberapa detik baginya untuk meyakinkan diri bahwa ia tidak sedang bermimpi.


“Pram?” panggilnya dengan suara yang sangat pelan, seperti tikus yang mencicit dengan nada rendah karena terjepit di sela pintu.


“Hm.”


Gumaman yang terdengar asal-asalan dan santai itu membuat perut Freya seperti diaduk-aduk. Jantungnya menggedor-gedor dengan kencang sampai ia merasa hampir memuntahkan hatinya ke luar.


Kenapa dia?


Kenapa pria ini?


Bagaimana dia bisa ada di sini?


Sekarang aku harus bagaimana?


Pura-pura sedang mengigau atau bangun saja?


Kepala Freya dipenuhi ribuan pertanyaan yang datang silih berganti, membuat pandangannya tiba-tiba berkunang-kunang. Langit-langit kamar terlihat berputar-putar.


Ya, Tuhan ....


Tolong ....


“Mana yang tidak nyaman? Kepala dan perutmu masih sakit atau tidak?” tanya Pramudya seraya menekan-nekan bagian tengah alis Freya dengan jari telunjuknya.


Freya tidak berani membuka mulut dan bersuara lagi. Ia belum gosok gigi.


Dengan sangat perlahan ia menjauhkan tangan Pramudya dari kepalanya, lalu menggelosor ke sisi yang berlawanan.


“Mau ke mana?”


Freya tidak berani berbalik dan menghadapi pria di belakangnya. Ia hanya ingin melarikan diri dengan cepat dari atas kasur.


Astaga.


Bagaimana penampilannya saat ini?


Apakah ada kotoran mata?


Apakah wajahnya bengkak dan sembap?


Bagaimana kondisi rambutnya saat ini? Pasti terlihat seperti baru saja dicakar ayam.


Tuhan, cobaan ini terlalu berat, hiks ....


Freya bangun dan duduk di tepi ranjang, menjulurkan kakinya ke atas lantai, lalu berjalan dengan cepat menuju kamar mandi tanpa menoleh ke belakang.


Hampir tersandung dua kali, tapi untungnya dapat tiba di kamar mandi tanpa melibatkan insiden yang memalukan.

__ADS_1


Ia mengunci pintu kamar mandi, lalu berdiri di depan wastafel, menatap cermin bulat yang tergantung di depan wajahnya dengan teliti.


Wajah siapa itu?


Kenapa jelek sekali?


Ada dua lingkaran hitam besar di bawah kelopak matanya. Bibirnya kering dan pecah-pecah. Urat-urat di matanya terlihat merah. Rambutnya berantakan tak karuan.


Ini benar-benar terlihat seperti anak kucing yang jatuh ke dalam got.


Dan tadi itu ... Pak Pram memeluknya seperti itu sepanjang malam?


“Tobat. Tidak akan minum alkohol lagi.” Ia bergumam pelan sambil memejamkan mata, menyesali semua kebodohan dan kecerobohannya.


Astaga!


Seperti baru tersadar, Freya buru-buru menyingkap bajunya dan memeriksa tubuhnya sendiri.


Kenapa sepertinya hanya dirinya yang mabuk. Bukankah Pak Pram juga meminum jus yang sama?


Atau jangan-jangan pria itu juga mabuk, lalu Lisa membiarkan mereka berdua tidur bersama tadi malam.


Apa yang dilakukan pria dan wanita mabuk ketika tidur berduaan satu ranjang?


Ia bahkan tidak bisa mengingat apa yang ia lakukan dan katakan setelah mabuk.


Bagaimana ini?


Freya benar-benar panik. Ia menarik lepas kaosnya dan memeriksa seluruh tubuhnya dengan teliti di depan cermin.


Setelah hampir sepuluh menit, ia akhirnya bisa bernapas lega. Tidak ada tanda-tanda aneh di tubuhnya. Rasa sakit dan pegal-pegal itu sepertinya karena pengaruh alkohol.


Untung saja pria itu adalah Pak Pram, bukan orang lain. Ia tidak dapat membayangkan jika ... jika ia menggila dan melakukan hal yang tidak-tidak dengan orang asing. Itu terlalu mengerikan untuk dibayangkan.


Sekarang satu masalah sudah selesai.


Masalah selanjutnya adalah, bagaimana harus keluar dan menghadapi Pak Pram. Ia tidak punya muka untuk menemui suaminya itu.


Terlalu memalukan ... ia tidak sanggup ....


Sayangnya, keinginan untuk mengurung diri di kamar mandi itu gagal total.


Suara ketukan terdengar dari luar, disusul suara Pramudya yang masih terdengar serak.


“Freya, ada apa? Kamu baik-baik saja?”


Pramudya mengetuk sekali lagi ketika tidak terdengar jawaban. “Freya?”


“Ya ... tidak apa-apa ....” Freya menjawab sambil memukuli keningnya sendiri.


Dasar bodoh!


Bodoh!


Bodoh!


Ia menggosok gigi dan mencuci muka, lalu mengisi bathtub dengan air hangat. Ia menambahkan sabun, mengaduknya sampai berbusa, lalu masuk dan berendam di dalamnya.


Tenangkan diri dulu. Setelah itu baru hadapi Pak Pram.


***

__ADS_1


__ADS_2