
“Kakek, jangan dengarkan rumor yang disebarkan oleh orang luar,” ucap Pramudya dengan tenang.
“Jadi itu hanya rumor?” tanya Pak Tua.
Ia menatap Tari dan Tommy dengan penuh rasa curiga. Sudah lama ia mengurung diri dari dunia luar, tidak ingin ikut campur dengan urusan apa pun. Jika bukan karena Tommy yang menghubunginya dan mengatakan bahwa Pramudya akan datang makan malam, ia pun tidak akan datang.
Pramudya memandangi wajah kakeknya dan berkata dengan sungguh-sungguh, “Ya. Kakek tidak usah pedulikan.”
Tari Antasena sudah hampir meledak karena emosi. Anak sialan itu sedang menyindirnya sebagai orang luar! Brengsek!
Tommy menatap ibunya dan menggeleng pelan. Mereka tidak boleh bertindak gegabah di depan Pak Tua.
Tari terpaksa menelan kembali semua keluhannya dan tidak mengatakan apa pun. Ia tidak ingin membuat citra Tommy di depan Pak Tua menjadi buruk karena dirinya.
“Kalau begitu, bagaimana kalian bertemu? Ceritakan padaku,” pinta Pak Tua dengan bersemangat. Tatapannya penuh godaan, persis seperti seseorang yang ingin bergosip.
Mau tak mau Pramudya tersenyum tipis karena melihat tingkah kakeknya itu. Ia memutuskan untuk memberi sedikit “hidangan pembuka” bagi Tommy dan Tari.
“Karena Kakek sangat penasaran, aku akan mengatakannya,” ucap Pramudya seraya menatap dengan ekspresi setengah serius setengah main-main ke arah kakeknya.
Sejujurnya ia sedikit menyesal telah mengabaikan kakeknya akhir-akhir ini karena fokus mengurus perusahaan. Seharusnya ia tahu bahwa pria tua itu pasti kesepian.
“Sudahlah, untuk apa menatapku seperti itu? Cepat katakan, bagaimana kalian bertemu? Apakah dia terpesona kepadamu, atau kamu yang lebih dulu tertarik kepadanya?” desak Pak Tua semakin penasaran.
“Aku yang lebih dulu tertarik kepadanya,” jawab Pramudya dengan tenang.
Para pelayan di sekitar meja membuka mulut karena tidak percaya, termasuk Freya, mulutnya hampir tidak bisa menutup lagi. Kalau bukan karena Pramudya yang mencubit dagunya dengan lembut sambil terkekeh, ia pasti masih melongo.
“Istriku, kenapa begitu terkejut?” goda Pramudya sambil menatap Freya dengan sepasang matanya yang bercahaya.
__ADS_1
Freya terlalu terkejut untuk memberikan reaksi. Omong kosong macam apa ini? Ia tahu mereka hanya sedang berakting, tapi bukankah akting Pak Pram sudah sedikit kelewatan? Sejak kapan pria itu tertarik kepada dirinya? Kenapa ia tidak tahu bahwa seorang CEO konglomerat sedang mengejar dirinya?
Pak Tua terlihat terkejut sebentar, lalu tertawa karena merasa sangat puas. Rupanya cucunya yang berharga ini masih normal. Sudah sangat lama ia mengkhawatirkan bocah malang ini. Ia takut cucunya yang kaku ternyata tidak menyukai seorang wanita. Untungnya sekarang terbukti kecemasannya itu tidak beralasan.
“Bagus sekali! Sangat bagus.” Pak Tua menepuk pahanya dengan bersemangat.
Tommy mendengkus pelan. Ia menyesap wine dalam gelas dengan tenang. Kecuali Kakek, mereka semua tahu Pramudya Antasena tidak akan berinisiatif untuk mengejar seorang wanita, apalagi itu hanyalah seorang gadis kecil yang asal-usulnya tidak jelas. Entah sejak kapan saudara tirinya itu menjadi semakin hebat dalam mengarang cerita. Dia bahkan tidak berkedip saat berbohong.
Melihat ekspresi meremehkan di wajah Tommy membuat hati Pramudya terasa gatal. Ia tidak suka diprovokasi. Oleh sebab itulah ia meraih tangan Freya dan menggenggamnya dengan lembut seraya berkata, “Dia adalah penyelamatku.”
Otak Freya tiba-tiba kosong melompong. Kebohongan macam apa yang ingin diceritakan oleh atasannya itu? Kenapa pria itu semakin tidak masuk akal? Namun, ia tidak mungkin membuka mulut untuk membuka kedok Pramudya. Ia tetap duduk manis dan menemani pria itu berakting dengan patuh. Siapa yang tahu, sebelum ia memberikan senyuman palsu, suara Pramudya telah terdengar lagi.
“Lima bulan lalu, aku dikejar orang-orang tidak dikenal di jalanan. Aku terpisah dari pengawal, hanya bisa berusaha sekuat tenaga agar tidak tertangkap. Situasinya cukup sulit saat itu karena aku tertembak di bahu kanan. Beruntungnya, ada seorang gadis pemberani yang kebetulan sedang keluar untuk membuang sampah. Saat itu sepertinya dia sedang beres-beres setelah menutup kafe.
Melihatku hampir pingsan di pintu belakang kafe, tanpa berpikir dua kali, dia menyeretku masuk lewat pintu belakang kafe sehingga orang-orang itu kehilangan jejakku. Saat gadis pemberani itu sedang sibuk mencari kotak obat, aku diam-diam mengambil kunci motor di atas meja kasir dan menyelinap keluar.” Pramudya diam sebentar untuk mengamati ekspresi wajah Freya. Tampaknya gadis konyol itu terlalu terkejut mendengar cerita yang baru saja ia sampaikan.
Freya sudah hampir menangis. Jadi sepeda motornya yang hilang itu dicuri oleh Pak Pram?
Pria itu tidak tahu ia menangis dua hari dua malam karena cicilan sepeda motor yang hilang itu sudah hampir lunas! Merepotkan sekali bolak-balik membuat surat laporan kehilangan di kantor polisi dan mengklaim asuransi kehilangan. Selain itu, ia harus mengulang membayar cicilan sepeda motor dari awal! Hu-hu ... sangat sedih ....
Pramudya yang tidak mengetahui isi pikiran istrinya mengulurkan tangan dan menjentik kening gadis itu dengan ekspresi main-main. “Gadis pemberani itu muncul di kantorku lima hari lalu. Tentu saja aku tidak akan melepaskannya begitu saja. Kalau bukan karena dia, aku pasti sudah mati malam itu. Jadi, aku pasti akan menebusnya dengan baik.”
“Kurang ajar! Siapa yang berani mencelakaimu! Aku akan mengirim orang untuk menghabisi mereka!” sentak Pak Tua sembari menggebrak meja.
“Sudahlah, Kakek tidak perlu mencemaskannya. Bagaimana kalau sekarang kita makan dulu? Aku yakin istriku sudah kelaparan. Jangan lihat badannya yang kecil, nafsu makannya sangat bagus. Nanti Kakek boleh bertanya apa saja.” Pramudya memberi saran sambil mmeri tatapan menggoda kepada Freya.
Freya tidak tahu harus tertawa atau menangis. Pak Pram semakin berani! Ia melirik dengan kesal. Benarkah pria ini adalah orang yang ditolongnya lima bulan lalu? Orang yang justru membawa kabur sepeda motornya tanpa permisi.
Huh!
__ADS_1
Ia merasa sedikit menyesal telah menyelamatkannya. Mungkin seharusnya biarkan saja dia dipukuli setengah mati.
Melihat bibir mungil yang cemberut itu, Pramudya tersenyum tanpa sadar. Rasanya cukup menyenangkan melihat gadis itu kesal. Istri kecilnya itu terlihat cukup imut.
Pak Tua tertawa bahagia melihat interaksi antara cucu dan cucu menantunya itu. Jika dilihat, hubungan mereka memang cukup baik. Sepertinya sebentar lagi ia akan segera menimang cicit. Ia merasa sangat bersemangat!
“Pelayan, hidangkan makanannya,” perintah Tommy ketika melihat suasana telah kembali mencair.
“Baik, Tuan Muda Pertama.” Kepala pelayan bergegas memberi instruksi kepada bawahannya untuk mengeluarkan makanan yang telah mereka siapkan.
Tari terlihat puas. Sebagai putra pertama yang menempati kediaman utama Keluarga Antasena, putranya memiliki wewenang untuk mengatur dan memberi perintah kepada pelayan di kediaman itu. Pramudya telah meninggalkan rumah utama ketika duduk di bangku kelas 1 SMA. Saat itu Pak Tua mengirim Pramudya untuk belajar di luar negri, langsung diteruskan dengan kuliah di sana. Setelah kembali, Pramudya tidak pernah kembali ke kediaman utama lagi.
Sementara Pak Tua pun memilih untuk menempati villa yang tenang di luar kota. Dengan begitu, semua kekuasaan di rumah itu jatuh ke tangannya dan putra semata wayangnya. Akan tetapi, ia bisa menebak dalam hati, jika ia dan Tommy tidak mempersiapkan serangan balasan untuk Pramudya, cepat atau lambat mereka akan diusir dari rumah itu.
Pelayan menghidangkan makanan dan menatanya di atas meja. Freya hampir meneteskan air liur. Sebenarnya ia memang sangat kelaparan!
Sejak siang perutnya belum terisi karena pertemuan mendadak dengan Yoga membuatnya tidak berselera. Sekarang, saat melihat semua hidangan yang menggugah selera di depan matanya, ia hampir-hampir tidak bisa menahan dirinya lagi.
Pramudya mengupas kulit lobster dengan teliti, lalu mendorongnya ke depan Freya sambil berkata, “Makan yang banyak, dengan begitu tubuhmu bisa lebih kuat agar kita bisa segera memberikan cicit yang sehat dan imut untuk Kakek.”
Uhuk!
Freya benar-benar tersedak. Ia terbatuk hingga wajahnya memerah.
Pramudya mengulurkan tangannya dan menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut. Gerakannya itu benar-benar terlihat seperti seorang suami yang perhatian. Bisa dikatakan sikapnya itu tidak terlihat seperti tidak sedang berpura-pura. Freya tidak tahan dan terbatuk semakin parah.
Ini terlalu gila. Pasti ada alasan yang masuk akal di balik perubahan Pak Pram. Mungkinkah tubuhnya dirasuki roh gentayangan atau alien?
Ya, pasti begitu!
__ADS_1
Tidak ada alasan lain yang lebih masuk akal, jadi anggap saja seperti itu.
***