
Tiga puluh lima menit kemudian, mobil berhenti di depan kafe tempat Freya bekerja paruh waktu. Ia merasa sedikit gugup. Meski telah meminta maaf kepada Ibu Nancy lewat pesan WhatsApp, ia tetap merasa tidak enak hati. Mana ada bos yang menunggu bawahannya ketika janji temu. Seharusnya ia yang menunggu.
Freya membuka pintu mobil dengan tergesa-gesa dan berjalan masuk.
Ia berpapasan dengan Doni yang sedang membawa nampan berisi kopi dan waflle.
Kening Freya mengerut. Bukankah Doni selalu mengambil shift malam? Apakah Doni bertukar shift dengan Andri dan Jeni?
“Doni!” Freya berseru memanggil nama rekan kerjanya itu, tapi pria itu langsung membuang muka dan berpura-pura tidak melihat.
Aneh. Jelas-jelas tadi mereka sempat bersitatap selama beberapa detik. Ia yakin dirinya juga menyungingkan senyuman ketika Doni melihat ke arahnya.
Sikap Doni yang janggal membuat Freya bertanya-tanya, tapi ada hal lebih penting yang harus segera diselesaikannya.
Ia berlari ke lantai dua, tempat ruangan kantor Ibu Nancy berada. Kafe itu memang berada di deretan ruko yang bagian atasnya bisa digunakan sebagai kantor.
Lisa tidak mengikuti Freya ke atas. Ia terpana melihat Doni yang menurutnya cukup keren ketika menggunakan apron. Dengan postur yang tinggi dan tegap, pria itu pasti akan membuat kehebohan ketika diajak kondangan.
Ia duduk dengan gaya yang menurutnya paling anggun di kursi sudut, kemudian memanggil Doni untuk meminta menu. Ia lalu berpura-pura tidak mengerti dan menanyakan menu unggulan di kafe itu.
Sesekali Lisa memilin rambut di ujung jarinya dan menatap Doni dengan sedikit malu-malu. Setahunya, para pria suka tipe gadis seperti itu. Sayangnya, ia tidak tahu bahwa Doni menyukai gadis pemberani dan apa adanya seperti Freya.
Sementara itu, di lantai atas, Freya terlalu kaget sehingga tidak bergerak dari depan pintu kantor Ibu Nancy. Pria paruh baya yang dikenalnya sedang berbincang-bincang dengan Ibu Nancy.
Di kursi sebelah mereka, ada seorang pria yang usianya mungkin sekitar 34 atau 35 tahun, memakai setelan necis, berkacamata, dan membawa tas kulit hitam yang biasa dilihatnya dibawa oleh Pak Bayu. Jelas pria itu bukan pria biasa. Sepertinya dia memiliki pekerjaan dan kedudukan yang penting.
Pak Brata bangkit berdiri dan menyapa dengan ramah, “Selamat sore, Nyonya. Anda sudah datang ....”
Suara yang ramah dan tidak asing itu membuat Freya semakin yakin kalau dirinya sedang tidak bermimpi.
“Selamat sore, Pak Brata ....” Freya membalas sapaan itu dengan canggung. Apa yang dilakukan Pak Brata di tempat ini? Apakah dia mengenal Ibu Nancy?
__ADS_1
Wanita berkulit putih yang masih terlihat cantik meski usianya telah hampir mencapai setengah abad itu bangun dari kursi dan menyambut Freya dengan sopan. Seperti biasa, ia memakai blus putih polos dan rok span abu-abu tua. Dengan kacamata berbingkai emas yang bertengger di ujung hidungnya, Bu Nancy terlihat sangat cantik dan berkelas. Freya sangat menyukai penampilan bosnya yang fashionable itu.
“Freya, kemarilah. Maaf, beberapa hari kemarin Ibu benar-benar sibuk sehingga tidak sempat membaca pesan-pesan darimu. Tolong jangan diambil hati, ya ....”
Tiba-tiba Freya merinding. Meskipun Ibu Nancy bukan tipe bos yang kejam dan jutek, tapi dia juga bukan seorang atasan yang ramah dan murah senyum seperti ini. Biasanya, dia hanya berbicara sekadarnya, mengingatkan untuk memeriksa stok dan meminta laporan keuangan setiap akhir bulan.
Ada apa ini? Kenapa mendadak Ibu Nancy berubah begitu manis dan ramah?
Freya membuka mulut dan bersuara, “Ibu ... maaf, saya—“
“Tidak apa-apa. Ayo, duduk dulu. Kita ngobrol sambil ngopi, ya. Tadi saya sudah pesan sama Doni antarkan minuman kesukaan kamu,” sela Ibu Nancy seraya menggandeng tangan Freya dan mengarahkannya untuk duduk di sebelahnya. Ia bahkan tidak membiarkan Freya menyelesaikan permintaan maafnya. Lagi pula, siapa yang butuh permintaan maaf? Saat ini ada yang lebih penting daripada basa-basi tentang permintaan maaf.
Pak Brata hanya mengawasi dengan tenang sampai Freya duduk di sofa. Setelah itu, ia memberi isyarat kepada pria yang duduk di seberangnya untuk berbicara.
“Selamat sore, Nyonya. Perkenalkan, saya adalah Samuel dari Law Office Ari Pratomo & Associate. Tolong Anda baca akta kesepakatan jual beli ini lebih dulu. Jika tidak ada yang perlu diganti, silakan tanda tangan,” ucap pria itu seraya menyodorkan setumpuk berkas yang cukup tebal kepada Freya.
Tanda tangan?
Freya menatap Pak Brata dengan curiga. Apakah pria itu ada hubungannya dengan semua ini?
“Nyonya jangan khawatir, saya sudah memeriksa semuanya. Sejauh ini tidak asa masalah. Silakan Nyonya baca dulu pelan-pelan. Kalau ada yang ingin ditanyakan, jangan sungkan,” ucap Pak Brata ketika melihat tatapan penuh tanya dari Nyonya Muda Antasena.
Freya menelan ludah. Tebakannya benar. Ini ada kaitannya dengan Pak Brata. Jangan bilang kalau ....
Ia mengambil tumpukan kertas yang disodorkan kepadanya dan mulai membacanya dari halaman awal.
Akta Jual Beli Mapple Kafe & Resto.
Membaca kalimat yang tercetak tebal di halaman pertama membuat tangan Freya gemetar. Ini memang seperti dugaannya.
Matanya memindai terus ke bawah, membaca nama Ibu Nancy sebagai pemilik yang menjual kafe kepada “Freya”.
__ADS_1
Melihat namanya yang tercantum sebagai pemilik baru kafe akhirnya membuat Freya meletakkan kembali dokumen itu tanpa menyelesaikan membaca isinya. Tangannya terasa seperti baru saja menggenggam bara api. Sangat panas! Ia tidak dapat menahannya lebih lama lagi.
“Apa maksud semua ini?” tanyanya.
“Itu adalah hadiah pernikahan dari Tuan Pramudya,” jawab Pak Brata dengan tenang, seolah-olah perubahan ekspresi wajah Freya tidak memengaruhinya sama sekali.
“Hadiah pernikahan?” Freya membeo dengan linglung.
“Ya.” Pak Brata mengangguk tanpa ragu.
Memang itu yang dikatakan oleh Tuan Pramudya ketika ia bertanya untuk apa pembelian kafe ini dilakukan. Bos yang lebih muda dari dirinya itu berpesan pemindahan kafe sudah harus selesai sebelum makan malam. Untung saja dirinya memiliki relasi yang sangat luas, kalau tidak ... mungkin ia tidak bisa melaksanakan perintah itu.
Belum lagi ia harus merayu sang pemilik kafe yang enggan melepaskan usahanya dengan harga pasaran. Wanita tua licik itu meminta harga berkali lipat dari yang seharusnya. Karena tidak ada pilihan lain, ia tidak dapat menolak permintaan harga yang sedikit tidak masuk akal itu.
Lihatlah wajah wanita tua yang menyeringai lebar sampai sudut-sudut bibirnya hampir mencapai daun telinga itu. Dia pasti merasa sangat puas dengan pembayaran yang sebentar lagi akan masuk ke rekeningnya.
Freya menatap Samuel, Pak Brata, dan dokumen di atas meja bergantian.
Kenapa suaminya tidak mengatakan apa-apa kepadanya? Meski mereka tidak saling bertemu, bukankah bisa mengiriminya pesan atau meneleponnya sebentar.
Untuk apa melakukan hal-hal seperti ini?
Kejutan kah?
Mereka bahkan bukan pasangan suami istri yang asli! Juga tidak ada Pak Tua yang perlu dibohongi. Untuk apa pria itu melakukan semua ini?
Ia sungguh tidak mengerti dengan jalan pikiran Pramudya Antasena. Suaminya itu bersikap sangat dingin dan menjaga jarak dengannya, terkadang mencibir dan menghina dirinya secara terang-terangan, di saat yang lain pria itu memberikan kebaikan yang tidak terpikirkan olehnya.
Sebenarnya apa maunya?Kenapa harus bersikap membingungkan seperti ini?
***
__ADS_1