
Freya terbangun oleh aroma disinfektan yang menusuk indera penciumannya. Ia membuka mata, lalu terdiam menatap langit-langit dan dinding berwarna putih yang mengelilinginya.
Ada semburat cahaya matahari yang menerobos masuk melewati jendela kaca. Tatapannya lalu berhenti pada seraut wajah yang sedang memandanginya dengan ekspresi cemas.
“Freya ....” Yoga bangun dari kursi dan menghampiri sisi ranjang. “Apa ada yang sakit?”
Freya tidak menjawab pertanyaan itu. Tatapannya turun ke arah punggung tangan kirinya yang dipasangi infus. Sisa cairan NaCl di kantong yang tergantung sisa setengah. Berapa lama ia tidak sadar?
“Freya, kamu—“
“Pergi.”
Tangan Yoga yang terangkat berhenti di udara. Ucapannya ditelan kembali ketika melihat kesedihan di wajah Freya, seolah-olah gadis itu sedang menahan rasa sakit yang sangat.
“Aku ingin sendiri, tolong keluar.” Freya memalingkan wajahnya menghadap tembok. Pelupuk matanya tiba-tiba memanas.
Bodoh sekali. Kenapa ia mengharapkan pria brengsek itu yang ada di sini. Sudah jelas hal itu tidak mungkin. Dirinya hanya mainan. Mungkin sekarang bajingan itu sedang bersenang-senang dengan mainan yang baru. Mana mungkin mainan yang sudah dibuang masih diingat.
Ingat Freya, bajingan itu sudah bosan. Kamu bukan siapa-siapa lagi untuknya.
“Kondisimu belum stabil. Kalau kamu tidak ingin melihatku, aku akan duduk di dekat pintu,” Yoga membujuk dengan hati-hati. Ia tidak mau meninggalkan Freya seorang diri meski diusir seperti ini.
Freya memiringkan tubuhnya dan memunggungi Yoga. Ia tidak ingin bicara apa pun saat ini. Mungkin tadi seharusnya ia tidak usah sadar. Kalau perlu tidak usah bangun lagi untuk selamanya.
Ia tidak bisa menahan rasa sakit yang menghancurkan hatinya lagi. Ia tidak sanggup menanggung rasa kesepian ini lebih lama lagi.
Freya meringkuk di bawah selimut. Dadanya terasa sesak. Udara memadat dan menekan paru-parunya dengan kuat. Ia sangat merindukan Pramudya Antasena. Sangat rindu sampai tidak ada lagi ruang yang tersisa untuk hal lainnya.
Yoga melihat bahu Freya yang bergetar dengan tatapan yang rumit. Ia tahu Freya sedang menangis, tapi ia tidak tahu kata-kata penghiburan seperti apa yang dapat menenangkan gadis itu. Hatinya ikut sakit melihat Freya yang seperti ini.
“Freya, aku—“
“Pergi, Yoga. Tolong pergi. Tinggalkan aku sendiri. Aku tidak ingin berbicara dengan siapa pun saat ini.”
Yoga membuang napas pelan, menyerah dan mengalah untuk saat ini. Ia diam-diam mengangkat kursi dan duduk di dekat pintu, berada sejauh mungkin dari jarak pandang gadis itu.
Ia akan tetap menunggu dengan sabar sampai Freya membuka hati kembali, memberi kesempatan kepadanya untuk mendekat.
***
__ADS_1
Pada sore hari, Lisa datang membawa sekeranjang buah-buahan dan satu buket bunga mawar yang sangat cantik dan harum. Tadi pagi ia tidak bisa menemani Freya karena mendadak penyakit ayahnya kambuh. Adiknya lah yang mengabari bahwa sang ayah kejang-kejang ketika menjelang subuh.
Ia lalu pulang dengan memesan ojek online, membawa ayahnya ke rumah sakit yang sama dengan tempat Freya dirawat agar tidak repot bolak-balik.
Ayahnya dirawat di kamar kelas III, berada dua lantai di bawah ruangan Freya.
Terima kasih kepada Pak Bos, dengan gajinya yang lebih dari cukup, ia tidak perlu mengikuti prosedur BPJS yang berbelit-belit dan sering membuat ayahnya kepayahan sebelum mendapatkan kamar rawat inap.
Ia juga tidak perlu mengantri obat, berdesakan dan tidak kebagian tempat duduk hingga kadang harus mengemper di luar gedung rumah sakit sampai nomor antrian dipanggil.
Sebut saja ia mata duitan dan tidak punya harga diri, ia tidak peduli dengan semua label itu selama uang yang ia dapatkan dengan cara halal dapat mengobati penyakit ayahnya, memberikan setidaknya sedikit kenyamanan di saat rasa sakit mendera pria yang sudah merawat dan membesarkannya itu.
“Kamu sudah datang,” sapa Freya ketika melihat Lisa di pintu masuk.
Lisa mengangguk dan berjalan cepat menghampiri Freya. “Kamu sudah baikan?”
“Hm. Lumayan. Sudah tidak sepusing tadi.”
“Bagus. Ini, aku bawakan bunga cantik dan segar agar kamu lebih bersemangat. Coba cium, harum tidak?” Lisa menyodorkan buket mawar merah itu kepada Freya dengan penuh semangat.
Freya mengulas senyum tipis dan menerima pemberian itu. Ia mendekatkan wajahnya dan mencium harum mawar yang segar dan manis. Semangat dan optimisme Lisa menular kepadanya. Ia mendongak. Senyuman di wajahnya sedikit melebar.
“Hm.” Lisa mengangguk puas. “Itu dibeli dengan segenap cinta. Kamu boleh memeluknya tidur nanti malam.”
Kali itu Freya tertawa. Tingkah konyol temannya ini selalu membuat dunianya yang suram sedikit berwarna.
Ia meletakkan buket bunga itu di sisinya dan menutupi bagian bawahnya dengan selimut sehingga hanya kuntum-kuntum mawar yang menyembul keluar, terlihat serasi dengan selimut dan seprai yang berwarna biru muda.
“Sudah oke?” tanyanya.
Lisa mengacungkan jempol. “Oke. Sekarang mau makan buah apa? Ada pisang, jeruk, apel, anggur, buah naga, pir ... kamu mau yang mana?”
“Um ... buah naga, boleh?”
“Boleh dong, tunggu sebentar.” Lisa membawa keranjang buah ke samping, meletakkannya di atas meja, lalu mengeluarkan isinya satu demi satu.
“Aku sudah bilang berkali-kali, jangan memaksakan diri. Tubuhmu bukan robot. Sekarang jadi sakit begini, siapa yang rugi?” omelnya seraya memotong-motong buah naga yang seukuran dua kepalan tangannya.
“Aku tahu aku salah, maaf, ya ... lain kali aku akan mendengarkan perkataanmu,” jawab Freya dengan patuh.
__ADS_1
Lisa memutar bola matanya. “Aku tidak percaya. Kamu begitu keras kepala. Tadi malam menakutiku sampai hampir ikut pingsan. Darah yang keluar dari hidungmu sangat banyak dan tidak mau berhenti. Aku takut kamu akan mati karena kehabisan darah.”
“Separah itu?” tanya Freya.
“Kamu tidak percaya? Tanya saja perawat yang berjaga di UGD semalam. Aku terlihat seperti baru saja membunuh orang ketika turun dari mobil. Ada darah di mana-mana.” Lisa membawa potongan buah di dalam piring dan mendekat ke ranjang.
Freya tertawa lagi. Ia tahu pernyataan itu sedikit berlebihan, tapi itu karena Lisa mencemaskan dirinya.
“Ngomong-ngomong, di mana penggemarmu itu?” tanya Lisa.
“Siapa?”
“Siapa lagi yang selalu menempelimu seperti tokek jantan yang ingin kawin?” Lisa mendengkus kesal. Seharusnya semalam ia menampar berandalan kecil itu tidak hanya satu kali. Tangannya masih gatal, ingin memukul orang.
Tokek jantan ingin kawin?
Tawa Freya menyembur lagi.
“Yoga?” tanyanya di sela tawa.
“Hm.”
“Katanya ada urusan di kantor. Kenapa?” Freya sedikit heran, tidak biasaya Lisa menanyakan keberadaan Yoga.
“Oh. Tidak apa-apa. Baguslah kalau dia sudah pergi. Menyakiti mataku saja.”
Freya kehabisan kata-kata. Seberapa besar rasa tidak suka Lisa kepada Yoga? Ia tahu Lisa selalu menunjukkan rasa tidak sukanya kepada Yoga secara terang-terangan.
“Ada apa?Kenapa kamu sangat membencinya?” tanya Freya.
“Aku tidak membencinya. Aku hanya tidak suka dengan orang munafik. Sudahlah. Lupakan saja. Cepat makan buah ini. Atau mau aku suapi?”
“Tidak usah, aku bisa sendiri. Terima kasih, ya.” Freya menusuk sepotong buah naga dengan garpu dan memasukkannya ke mulut.
"Jangan sungkan." Lisa mengambil kursi dan duduk di sebelah ranjang. Ia membuka ponsel dan menggulir berita online yang muncul di berandanya.
Saat ini ada adiknya yang menemani ayahnya. Ia bisa menjaga Freya dengan tenang.
***
__ADS_1