
Setelah makan malam yang penuh drama, Freya masih harus menghadapi kenyataan yang mendebarkan lainnya: ia masih harus tidur sekamar dengan Pak Pram.
Tentu saja.
Masih ada Kakek.
Siapa yang berani macam-macam?
Dengan langkah kaki yang terasa berat, ia memasuki kamar itu sekali lagi. Jika enam hari lalu ia masuk tanpa perasaan yang mengganjal karena tahu suaminya tidak akan macam-macam, tapi malam ini ... jelas situasinya sudah berubah 180 derajat.
“Ada apa, Sayang?” tanya Pramudya sambil tersenyum penuh arti.
Lutut Freya gemetar. Kenapa rasanya seperti sedang mengantarkan diri sendiri ke dalam mulut harimau yang kelaparan?
Pintu tertutup di belakangnya. Tubuh Freya menegang ketika tiba-tiba Pramudya berbalik dan menghadap ke arahnya. Embusan napas yang hangat seketika menerpa wajahnya.
Freya semakin gugup ketika tangan Pramudya terulur ke punggungnya.
Pria ini ... tidak akan memakannya hidup-hidup, ‘kan?
“Ka ... kamu mau apa?” Freya mendongak dan menatap suaminya dengan tatapan yang bias.
Pramudya menaikkan alisnya.
“Mengunci pintu. Istriku, kamu sedang memikirkan apa?” goda Pramudya. Ada senyuman yang main-main melintas di wajahnya.
Suara kunci yang diputar terdengar sangat nyaring di telinga Freya. Ia terdiam seperti orang bodoh. Apakah ia baru saja dipermainkan oleh Paman Tua ini?
“Kamu ....” Freya mendesis seperti seekor kucing yang hendak mengeluarkan cakar dan taringnya, tapi Pramudya lebih dulu menerkam bibirnya.
Freya meronta dan menggeram, tapi Pramudya mengangkat tubuhnya dan menggendongnya dengan mudah.
Refleks kaki Freya melingkari pinggang suaminya dan memeluk leher pria itu dengan erat. Ia tidak berani bergerak sembarangan lagi. Satu tangan Pramudya menahan bokongnya, tangan yang lain menahan tengkuknya dan terus melu-mat bibirnya dengan kuat, sambil membawanya ke sofa.
Freya bertanya-tanya bagaimana suaminya bisa berjalan sambil menciumnya dan dapat menemukan sofa tanpa tersandung.
Pramudya duduk tanpa melepaskan Freya, mendekap tubuh mungil itu dan membiarkannya duduk di atas pahanya.
Sepasang mata Freya terbuka lebar. Ia mendorong dada Pramudya dengan panik dan berusaha melepaskan diri. Posisi ini terlalu intim. Ia bisa merasakan tonjolan besar di bawah sana, menyentuh pahanya dan mengalirkan gelenyar seperti arus listrik.
“Fokus.” Pramudya menggigit kecil sudut bibir istrinya, lalu menjilatnya pelan.
Freya mengaduh, tapi tidak sempat marah. Bibirnya sudah dijarah lagi.
Lidah yang hangat dan basah menerobos masuk, memporakporandakan isi kepalanya sekali lagi.
Tubuh Freya gemetar, menahan serangan yang membuatnya hampir kehabisan napas. Akan tetapi, perlahan ia memberikan respons, membalas ciuman itu dengan gerakan yang kaku dan sedikit ragu-ragu. Ia ingin mencicipi kembali rasa manis yang memabukkan pagi itu, ketika Pramudya menciumnya di villa.
Tangannya terangkat, berpindah dari leher Pramudya, menyusuri tengkuk dan mengusap punggung suaminya perlahan.
Inisiatif itu membuat Pramudya meremang. Arus yang kuat menghantam dan membuat pandangannya berkabut.
__ADS_1
"Istriku, Freya ... sayangku," Pramudya menggeram rendah seraya mengalihkan serangan ke leher istrinya.
Ia mendaratkan ciuman-ciuman panas, lalu menjilat dan mengisap dengan kuat sehingga Freya mengerang di antara deru napasnya yang berantakan.
"Pram!”
“Hm?”
“Sudah. Lepaskan aku dulu.” Suara Freya terdengar serak dan sedikit gemetar, sama seperti lututnya yang tidak berhenti gemetar sedari tadi.
“Tidak mau.” Pramudya menjawab dengan santai. Bibirnya kembali membungkam mulut Freya, sibuk menjajal pengalaman baru yang membuat adrenalinnya melonjak drastis. Ia menyukai perasaan ini.
Freya mendelik dan menahan diri untuk tidak memukuli suaminya.
Benar-benar pria yang suka menindas, juga semena-mena dan tidak tahu malu.
Ia baru tahu ada sisi seperti ini dari seorang CEO Antasena Grup yang katanya anti perempuan.
Bah, ternyata pria ini memiliki bakat terpendam. Bakat yang sudah tertahan sejak lama akhirnya menemukan tempat pelampiasaannya.
Berandalan.
Dasar preman!
Freya terus mengeluh dan memarahi suaminya dalam hati. Bibirnya sudah pegal, tapi pria ini masih belum mau berhenti.
Tolong, tidak bisa bernapas.
Seolah bisa mendengarkan isi kepala istrinya, Pramudya tiba-tiba menjauhkan wajahnya.
Freya tidak berani memandang suaminya. Ia bergulung dan menyusukkan wajahnya di dada Pramudya. Napasnya berat dan berantakan. Sangat merasa malu.
“Aku sudah meminta Ruth memindahkan beberapa pakaianmu ke sini, ada di lemari,” ucap Pramudya sambil menggulung rambut Freya dalam tangannya.
“Apa? Sejak kapan?”
“Sejak kita masih di Bali.”
Sejak masih di Bali?
Freya mendongak dan memandangi penjahat kecil di depannya itu dengan tatapan tak percaya.
Paman, Anda niat sekali!
Pramudya tertawa melihat ekspresi itu.
“Aku melakukannya karena masih ada Kakek di sini. Tidak mungkin kita pulang dan kembali ke kamar masing-masing. Kakek pasti akan curiga,” jelasnya setelah tawanya mereda.
Freya memutar bola matanya dan mencibir dalam hati. Siapa yang akan mempercayai omong kosong itu?
“Baiklah ... baiklah ... aku akan mengakuinya. Aku melakukannya karena tidak ingin berpisah denganmu. Aku tidak bisa jauh-jauh darimu.”
__ADS_1
Pramudya menahan dagu Freya, menatap sepasang mata yang cemerlang itu dengan sungguh-sungguh.
“Nyonya Antasena, itu karena aku sangat menyukaimu.”
Freya terdiam.
Ini adalah pengakuan cinta lagi?
Kenapa panggilan Nyonya Antasena itu terdengar sangat manis?
Ia sedikit berdebar-debar.
“Katakan, kamu menyukaiku atau tidak?” tanya Pramudya. Meski telah mendengar gadis ini meracau ketika mabuk, mengatakan betapa tampan dirinya, betapa gadis ini menyukai dirinya, tapi ia tetap ingin mendengarkan ucapan itu terlontar ketika istri kecilnya ini tidak dalam keadaan mabuk.
Freya yang masih terpesona langsung tersadar dan berusaha menyangkal, “A ... apa ... suka apa? Aku tidak—“
“Jangan membohongi dirimu sendiri. Aku mendengar kamu mengatakannya berkali-kali, ‘Suamiku yang tampan, aku sangat menyukaimu ... kenapa kamu bisa begitu tampan?’. Oh, ada lagi, ‘Sayangku, aku sangat menyukaimu ... peluk aku, ya?’. Kamu juga bilang—“
“Oke. Oke. Mungkin aku memang mengatakan semua itu, tapi itu karena aku sedang mabuk.” Freya terpaksa mengakuinya sebelum semua aibnya disebutkan oleh preman yang sedang memeluknya ini.
“Sekarang katakan lagi, kamu menyukaiku atau tidak?” Pramudya masih bermain-main dengan gumpalan rambut di tangannya.
“Hm. Aku ....” Freya menggigit bibirnya dan mendongak dengan sedikit ragu, memberanikan diri untuk menatap sepasang mata yang memandangnya dengan penuh minat itu.
“Aku menyukaimu, Paman,” ucapnya sambil tersenyum menggoda.
Pramudya tercengang. Otaknya berusaha keras mencerna ucapan yang baru saja didengarnya itu.
Paman?
Gadis yang bernyali besar ini benar-benar memanggilnya dengan sebutan “Paman?”
Tadi itu bukan keceplosan?
Pramudya curiga. Berapa kali gadis ini telah memanggilnya dengan sebutan “Paman” di dalam hatinya?
Ia teringat pertemuan pertama mereka, istrinya ini bersikeras memanggilnya dengan sebutan “Bapak” karena usia mereka yang terpaut cukup jauh.
Jadi sekarang ia telah berubah menjadi “Paman”?
Pramudya tidak tahu harus tertawa atau menangis.
Seandainya saja Pramudya tahu ada embel-embel kata “Tua” setelah kata paman itu, mungkin dia akan benar-benar menangis.
Gadis konyol ini ....
Benar-benar minta diberi pelajaran.
“Siapa yang paman? Sepertinya pelajaran tadi belum cukup.” Pramudya menggeram dan membalikkan tubuh Freya dengan mudah, lalu menyesap bibirnya dengan kuat.
Sangat kuat hingga mereka berdua sama-sama terengah-engah.
__ADS_1
***