
Freya pindah malam itu juga. Ia membereskan pakaian yang dibawanya ketika baru pindah ke rumah itu. Tidak ada satu pun barang pemberian Pramudya Antasena yang ia kemasi. Ia tidak sudi. Meski miskin dan tidak punya apa-apa, ia tidak akan membiarkan sisa harga dirinya diinjak dan dijadikan bahan cemoohan oleh orang kaya sialan itu.
Ruth berdiri di depan pintu sambil menangis. Ia sudah berusaha membujuk dan menahan Freya, tapi gadis itu membisu dan menuli, tidak ingin mendengarkan ucapan dari siapa pun. Semua kalimat penghinaan yang keluar dari mulut suaminya ... ralat, mantan suami, telah membuat hatinya berlubang. Ia tidak memerlukan lebih banyak penghinaan dengan tetap tinggal di dalam rumah itu.
Tidak sampai setengah jam kemudian, Freya sudah menyeret koper lama berisi barang-barangnya melintasi halaman yang hampir seluas lapangan sepak bola. Ia tidak sudi menunggu di pintu rumah itu, tidak sudi berada lebih lama di bawah atap yang sama dengan Pramudya Antasena.
Bahkan Pak Anton yang memohon pun tidak sanggup mengubah pendirian Freya. Pelayan tua itu berdiri di depan pintu bersama Ruth, menatap kepergian sang nyonya dengan wajah berlinang air mata. Seandainya saja Pak Tua masih ada, mungkin hal seperti ini tidak akan terjadi. Hal itu membuatnya semakin sedih dan tidak bisa menahan isak tangisnya.
Dari lantai atas, Pramudya berdiri di tepi jendela, mengawasi kepergian Freya dari kegelapan. Ia tahu apa yang ia katakan dan lakukan telah menyakiti hati gadis itu, tapi tidak ada cara lain lagi. Ia tahu seberapa keras kepalanya Freya.
Jika ia menjelaskan yang sebenarnya, tidak peduli apa yang ia katakan, Freya pasti akan bersikeras untuk tetap bersamanya. Ia tidak bisa mengambil risiko, meski sekecil apa pun itu. Maka untuk sekarang hanya bisa seperti ini. Ia bersumpah akan menebus semuanya ketika sudah berhasil membalikkan keadaan.
Rokok yang hampir habis menyengat jari telunjuk Pramudya, membawanya kembali dari lamunan panjang.
Di bawah sana, siluet istrinya sudah tidak lagi terlihat. Ia mengambil ponsel dan mengirim pesan kepada nomor yang berada di kontak darurat.
[Awasi Nyonya. Laporkan semuanya secara berkala kepadaku]
Di depan gerbang kediaman Antasena, Freya tak henti memaki dan menyumpahi pria yang ia cintai setengah mati.
Iya, Freya sadar dirinya tidak hanya menyukai Pramudya Antasena, tapi sudah jatuh cinta kepada pria itu. Cinta yang membuat rasa sakit di dadanya semakin berlipat ganda. Meski telah mendapatkan perlakuan yang begitu hina, ia masih tetap tidak bisa langsung menghapus rasa cintanya kepada pria brengsek itu.
“Pramudya, kamu bajingan ... benar-benar seorang bajingan sejati.” Freya tersedak, berlutut di pinggir jalan, menangkup wajahnya dengan tangan dan tersengut-sengut.
Rasanya sangat sakit sampai-sampai ia hampir tidak bisa menahannya lagi.
Apa salahnya?
Apa kesalahan yang telah ia perbuat sehingga layak mendapatkan perlakuan sekejam ini?
__ADS_1
Ingatannya kembali ke masa-masa bulan madu di Pulau Dewata. Apakah semua itu sandiwara? Sejak awal pria itu hanya ingin mempermainkan dirinya?
Freya meringkuk seperti bola. Jantungnya seperti tercerabut dari tempatnya, meninggalkan lubang besar yang menganga.
Bodoh.
Katak buruk rupa yang berharap menjadi cinderella, pada akhirnya dibuang kembali ke kubangan berlumpur.
Freya mendongak, menatap langit yang suram tanpa bintang. Malam itu mendung. Gumpalan awan gelap berbayang di sekitar bulan yang tidak bulat sempurna.
Dari kejauhan tampak sebuah mobil mendekat. Cahaya lampunya menyenter ke arah Freya.
Gadis itu berdiri, memperhatikan plat nomor ketika mobil itu mendekat. Ia menyeret koper ke sisi jalan. Itu memang mobil yang dipesannya.
“Selamat malam, betul dengan Nona Freya?” sapa sang sopir yang sudah paruh baya.
“Ya.”
Freya mengangguk dan membuka pintu mobil, memasukkan kopernya yang tidak terlalu besar lebih dulu sebelum ikut masuk dan duduk di kursi penumpang.
“Ke Hotel Delima, ya?”
“Iya, Pak,” jawab Freya sambil menyusut ujung hidungnya. Ia berdeham dua kali untuk menstabilkan suaranya yang terdengar serak dan sengau.
“Baik.” Sang sopir memutar kemudi, berbalik arah dan mengikuti petunjuk dari maps. Pria itu hanya melirik sekilas dari kaca di atas dasbor, lalu kembali fokus ke jalanan di depannya.
Freya menghela napas dan bersandar di kursi. Untung saja sang sopir tidak banyak tanya. Ia sedang tidak ingin berbicara dengan siapa pun saat ini. Ia memejamkan matanya yang sudah mulai bengkak karena terlalu banyak menangis.
Sudah larut malam. Ia tidak ada tempat tujuan, jadi tadi hanya bisa memilih penginapan paling dekat dan paling murah di dekat alamat rumah Lisa. Ia tidak punya keluarga, tidak punya siapa-siapa. Nama Lisa terlintas begitu saja ketika ia sedang kalut.
__ADS_1
Besok ia akan meminta bantuan teman baiknya itu untuk mencarikan kos-kosan yang murah. Mungkin yang lokasinya di dekat kampus, atau di dekat kafe ... yang mana pun itu, pikirkan nanti saja lagi. Saat ini otaknya belum bisa diajak bekerja sama. Semoga besok semuanya sudah lebih baik. Semoga saja.
Di lantai dua kediaman Antasena, ponsel Pramudya bergetar. Ada sebuah pesan masuk, muncul di pop-u**p layar ponselnya.
[Nyonya sudah naik mobil. Saya akan mengikutinya dari jauh]
Pramudya menyugar rambutnya dan menatap di kejauhan. Istrinya sudah pergi. Gadis itu pergi dengan sakit hati dan penuh kepahitan. Rahangnya mengetat dan jari-jarinya terkepal kuat. Orang-orang yang membuatnya terpaksa melakukan semua ini, mereka pasti akan mendapatkan balasan berkali-kali lipat lebih menyakitkan.
Tommy, Tari, Keluarga Wijaya, juga Yoga Pratama.
Yoga Pratama ...
Mengingat nama itu membuat kening Pramudya berkerut dalam. Meski ia sangat membenci bocah ingusan itu, tapi ia juga masih berutang budi kepadanya. Mungkin ia akan sedikit memberikan keringanan kepada bocah sialan itu ... mungkin ... ia tidak ingin berjanji apa pun untuk saat ini. Lihat saja bagaimana perkembangannya ke depan nanti.
Pramudya berputar dan berjalan keluar dari kamarnya, menghampiri ruangan di ujung lorong yang berlawanan, ruangan yang selama ini digunakan oleh istri kecilnya, istri yang sangat disayanginya. Jika bukan karena takut kehilangan, ia juga tidak akan melakukan hal seperti ini.
Panggil dirinya pengecut. Sebut dirinya bajingan. Ia tidak keberatan. Asal Freya baik-baik saja, ia tidak sama sekali tidak keberatan.
Pria itu mendorong pintu dengan sangat pelan, menatap kesunyian yang membuat hatinya terasa gamang.
Tidak ada lagi senyuman secerah cahaya matahari yang menyambutnya. Tidak ada lagi sepasang mata jernih yang menatapnya penuh cinta.
Geligi Pramudya beradu, menimbulkan bunyi gemelutuk yang terasa ngilu. Ia melangkah ke sisi ranjang, duduk perlahan, bergeser ke atas kasur, lalu membaringkan tubuhnya di sana.
Aroma yang sangat disukainya masih tertinggal di atas bantal. Ia menarik selimut dan menutupi separuh tubuhnya. Aroma yang khas itu menyeruak semakin dalam,menggelitik indera penciuman dan memorinya.
Rasa hangat tubuh istrinya seolah tertinggal di telapak tangannya.
Pramudya memejamkan mata, membiarkan pikirannya berkelana kembali ke malam-malam panjang ketika istrinya meringkuk dengan nyaman dalam pelukannya, ketika hari-harinya begitu hidup dan mereka begitu bahagia.
__ADS_1
“Freya, maafkan aku ....”