Istri Kesayangan Tuan Pram

Istri Kesayangan Tuan Pram
Aku Sudah Bosan


__ADS_3

Ketika tiba di rumah, hal pertama yang dilihat Freya adalah Ruth yang berjalan mondar-mandir, menunggunya di depan pintu masuk. Gadis itu langsung menghambur ke arahnya yang baru saja keluar dari mobil.


“Nyonya, Tuan sudah pulang,” bisik Ruth seraya menggenggam tangan Freya. Air mukanya tampak bersemangat sekaligus was-was.


“Apa?”


“Tuan baru saja sampai, sekitar sepuluh menit yang lalu. Saya sudah mengabari lewat WhatsApp. Sekarang Tuan ada di ruang kerja, sedang menunggu Nyonya.”


“Oh. Aku belum memeriksan ponsel." Jantung Freya hampir melonjak keluar. Ia memang melamun sepanjang perjalanan pulang tadi.


Ada harapan yang berbaur dengan rasa takut. Entah kenapa kepulangan Pramudya yang tiba-tiba tanpa mengabarinya membuatnya memiliki firasat buruk.


“Nyonya, hati-hati!” seru Ruth ketika melihat Freya melompati hampir dua anak tangga sekaligus. Ia tidak berani menjelaskan bagaimana penampilan sang tuan ketika tiba tadi.


Freya mengabaikan teriakan itu. Ia separuh berlari ke arah ruang kerja yang lampunya menyala terang. Kelopak matanya memanas. Pandangannya mengabur ketika bulir-bulir air mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia mengangkat tangan dan mengusap wajahnya dengan kasar. Tidak boleh menangis. Pramudya akhirnya pulang, itu sudah lebih dari cukup.


Tanpa mengetuk lebih dulu, Freya membuka pintu dan menerjang masuk.


“Pram ....” Langkah kaki Freya melambat ketika menyaksikan pemandangan di dalam ruang kerja itu.


Asap rokok memenuhi ruangan. Ia mengernyit, menahan rasa gatal di kerongkongan yang membuatnya


hampir tersedak dan batuk. Bau rokok yang memenuhi udara bercampur dengan aroma alkohol dan parfum yang manis. Pramudya tidak pernah memakai parfum dengan aroma menyengat seperti ini.


Freya menahan diri untuk tidak berpikir sembarangan meski detak jantungnya mulai tidak normal, melonjak drastis dan membuat perutnya mual.


Di balik meja kerja, Pramudya duduk bersandar di kursi yang membelakanginya. Ada sebuah rokok yang masih menyala terselip di antara jari telunjuk dan jari tengah pria itu.


Freya tidak bisa berkata-kata untuk beberapa saat. Ia tidak pernah melihat sisi lain dari Pramudya Antasena yang seperti ini.


“Pram?” panggil Freya dengan sedikit ragu-ragu. Jangan-jangan pria yang duduk di depan sana bukan suaminya.


Kursi kerja itu berputar pelan, menghadap ke arah Freya, membuatnya yakin bahwa ia tidak salah mengenali orang. Itu memang suaminya, Pramudya Antasena, tapi dalam versi yang sangat berbeda.


Di bawah cahaya lampu, Freya bisa melihat dengan jelas rahang dan dagu suaminya ditumbuhi cambang tipis. Matanya cekung dan ada lingkaran gelap di sekitar kelopak matanya. Berapa lama ia tidak tidur?


Hati Freya sangat sakit hanya dengan melihat penampilan itu. Beban berat apa yang sedang ditanggung oleh suaminya? Kenapa dia tidak ingin bercerita dan berbagi beban dengan dirinya?


Freya mati-matian menahan agar air mata yang ditahannya sejak tadi tidak jatuh.


“Kamu baik-baik saja?” tanya Freya seraya berjalan maju dengan langkah satu-satu. Ia tidak mengenali suaminya yang seperti ini.

__ADS_1


Alih-alih menjawab pertanyaan itu, Pramudya mendekatkan rokok ke bibirnya, menyesap dalam-dalam hingga rasa panas menyeseki paru-parunya. Ia lalu mengembuskan gumpalan asap putih dari mulutnya. Asap itu bergulung seperti lingkaran cincin yang perlahan membesar, terfokus pada wajah bingung istrinya.


Freya berhenti tepat di depan meja kerja suaminya, menatap lurus ke dalam sepasang mata yang selalu membuatnya tersesat. Mata itu masih sama, tapi tatapannya sudah sangat jauh berbeda.


Rasa getir memenuhi hati Freya. Suaminya memandangnya seperti orang asing, sama seperti ketika mereka baru pertama kali bertemu.


“Apa yang terjadi? Kenapa kamu jadi seperti ini?” tanya Freya lagi. Sebenarnya ada lebih banyak pertanyaan yang berjejalan di kepalanya, tapi ia menahan diri agar tidak membuat keributan.


“Apa karena penculikan itu? Atau ada masalah dengan perusahaan?” Freya masih berusaha berbicara dengan tenang meski Pramudya masih tidak memberikan respons.


Ia sangat ingin mendengar penjelasan dari mulut suaminya, tapi pria itu hanya duduk diam. Jarak mereka begitu dekat, tapi seperti ada jurang tak kasat mata yang memisahkan mereka ribuan meter jauhnya.


Pramudya menekan ujung rokok yang masih menyala ke dalam asbak, memutarnya dengan kuat sehingga batang rokok yang tersisa patah menjadi dua bagian.


Ia lalu mendongak dan membalas tatapan istrinya dengan air muka yang sangat tenang dan tidak terbaca.


“Ayo berpisah. Aku sudah bosan,” ucapnya.


Bibir Freya gemetar. Kuku-kukunya menancap ke dalam telapak tangannya, tapi ia tidak merasakan sakit. Pukulan yang keras menghantam dadanya dan membuatnya sesak napas.


“A ... apa ... apa katamu?” Freya berpegangan pada tepi kursi dan memaksakan diri untuk duduk. Ia takut akan tumbang jika tidak segera duduk.


“Rasanya menyenangkan ketika berusaha mengejarmu, tapi sekarang aku sudah bosan. Kita akhiri saja perjanjian itu sekarang.” Tangan Pramudya bergerak membuka laci meja kerjanya, mengeluarkan setumpuk salinan dokumen dari bagian paling bawah dan menyodorkannya kepada Freya.


“Pram, jangan bercanda. Kamu hanya sedang berpura-pura, kan? Bicara jujur denganku. Apakah karena penculikan itu? Kamu tahu kita bisa mengatasinya bersama-sama. Aku akan lebih berhati-hati. Tidak masalah kalau ada pengawal yang mengikutiku ke mana-mana. Atau ... atau aku ... aku bisa berhenti kuliah. Atau mengambil kuliah online. Yang mana pun itu tidak masalah. Aku tidak perlu pergi ke mana-mana. Sampai semuanya aman, aku akan tinggal di rumah.” Wajah Freya sudah seputih kertas ketika menyelesaikan kalimat yang panjang itu. Ia benar-benar sudah hampir kehabisan napas.


Sudut-sudut bibir Pramudya berkedut. Sebuah seringaian yang penuh ejekan muncul di wajahnya.


“Penculikan apa? Jangan bicara omong kosong. Atau Nona Freya tidak mengerti ucapanku? Aku ulangi sekali lagi. Aku sudah bosan. Nona tahu, aku paling tidak suka dengan perempuan yang menangis dan memohon, bukan? Jangan buat kesabaranku habis. Tanda tangani saja surat perjanjian itu. Aku jamin Nona tidak akan rugi sepeser pun.”


Ucapan yang menohok itu membuat jantung Freya sempat berhenti berdetak untuk sesaat. Pramudya tidak tahu kalau dirinya diculik? Tapi Lisa mengabari Pak Bayu. Bagaimana bisa dia tidak tahu?


“Kamu ... kamu tidak tahu kalau aku diculik?”


Pramudya mengangkat alisnya dan memberi tatapan mencemooh. “Sepertinya Nona sudah salah paham karena sikap baikku akhir-akhir ini. Maaf, tapi apakah Nona benar-benar berpikir bahwa aku peduli?”


Tangis Freya akhirnya meledak. Ia mendongak dan mengusap pipi dan matanya berkali-kali, tapi air yang membanjir semakin banyak.


“Pram ... aku mohon ... jangan begini. Kamu tidak pernah seperti ini. Kita bisa bicara baik-baik. Aku—“


“Aku selalu seperti ini. Kamu yang tidak pernah melihatnya. Tanda tangan dan pergi. Kamu bisa membawa barang-barang yang sudah kuberikan untukmu.”

__ADS_1


Freya tercekat. Ia benar-benar kehabisan kata-kata. Setelah semua sikap manis dan perhatian yang membuatnya luluh, inilah akhirnya ... ia jatuh di jurang yang sama untuk kedua kalinya.


Freya tidak ingin mempercayainya, tapi semua sikap dan ucapan yang merendahkan ini ... ia masih mempunyai harga diri.


Bodoh.


Memang sangat bodoh.


Freya menggigit bibirnya kuat-kuat agar berhenti gemetar. Ia mengangguk pelan, berusaha menangkap bayangan wajah suaminya meski pandangannya kali itu benar-benar telah kabur oleh air mata.


Ternyata ia sudah salah paham. Suaminya tidak pulang karena sudah bosan. Sia-sia ia mengkhawatirkan suaminya sepanjang hari, padahal sepertinya bajingan ini sibuk bersenang-senang sampai lupa waktu.


Meski sudah mempersiapkan diri, rasa sakitnya tidak berkurang, justru terasa berkali lipat lebih menyakitkan daripada ditinggal pergi tanpa penjelasan.


Freya mengalihkan pandangannya kepada tumpukan kertas di atas meja yang menyakiti mata. Dengan tangan yang sama gemetarnya, ia mengambil kertas itu dan merobeknya menjadi dua bagian.


Tidak puas.


Ia merobeknya lagi menjadi empat bagian.


Sangat tidak puas.


Ia mencabik-cabik potongan kertas itu menjadi serpihan, lalu melemparkannya ke wajah Pramudya.


 Ia tidak butuh semua kompensasi sialan itu.


Freya mengumpulkan segenap kekuatan yang tersisa, berbalik dan hendak meninggalkan ruangan terkutuk itu.


“Oh, satu lagi, Pak Brata yang akan mengurus semua proses perceraian. Kamu tidak perlu melakukan apa-apa.”


Blam!


Freya membanting pintu tanpa membalas sepatah kata pun.


Bosan, ya, sudah ....


Siapa yang peduli?


Lisa memang benar. Semua orang kaya itu brengsek dan bajingan!


*

__ADS_1


Iya, iya ... Pak Pram lagi mode brengsek, maki-maki dan tempeleng aja dia ....


__ADS_2