Istri Kesayangan Tuan Pram

Istri Kesayangan Tuan Pram
Maaf, Kamu Terlambat


__ADS_3

Freya hanya menelan ludah dan tidak menjawab perkataan Yoga.


Ia menarik pandangannya dari bangunan yang berkejaran di luar. Dari jam di dashboard mobil, ia dapat mengetahui bahwa perjalanan mereka hanya memakan waktu sekitar 12 menit.


“Waktumu sisa delapan belas menit,” ucapnya.


Seketika senyuman di wajah Yoga menghilang. Sepertinya ia terlalu cepat berasumsi. Jelas ia memerlukan usaha keras untuk mengambil hati gadisnya ini.


Namun, apa pun itu, ia bersumpah tidak akan menyerah. Ia pasti akan mendapatkan kembali hati Freya, gadis pujaannya, satu-satunya wanita yang ia cintai sepenuh hati.


Yoga memarkir mobil di depan gerobak bakso Mang Deden yang sudah menjadi langganan mereka sejak duduk di bangku SMP.


Dulu, ketika bosan mengikuti pelajaran Matematika, Freya akan mengajaknya membolos dan kabur dari sekolah. Mereka berdua yang selalu membawa pakaian ganti di dalam tas biasanya akan menjelajahi tempat-tempat yang berada di luar jangkauan sekolah dan panti asuhan.


Sampai pada suatu hari, mereka kebetulan lewat di tempat ini dan membeli dua mangkok bakso. Sejak saat itulah, bakso Mang Deden menjadi menu kesukaan Freya.


“Sisa enam belas menit. Apa yang ingin kamu bicarakan?”


Teguran itu menghapus semua kenangan yang bermunculan satu demi satu di dalam kepala Yoga.


Ia tersenyum dengan canggung dan berkata, “Freya, waktu di jalan pun kamu hitung? Aku tidak tahu kamu bisa berubah menjadi sangat perhitungan seperti ini. Dulu kamu—“


“Dulu adalah dulu. Sekarang adalah sekarang. Jangan samakan.”


Yoga meremas dan merenggangkan jari jemarinya beberapa kali. Gadis di hadapannya benar-benar sudah banyak berubah.


“Baiklah, tidak apa-apa kalau begitu. Yang penting kita makan dulu. Setelah itu aku akan mengantarmu kembali.”


Awalnya Freya ingin menolak, tapi mengingat ia akan semakin membuang-buang waktu jika saling membantah, maka mau tidak mau ia mengikuti Yoga yang telah lebih dulu menghampiri Mang Deden.


“Dua porsi, Mang ... kayak biasa, yang satu gak pakai mie. Bakso sama sayuran aja. Yang satu komplit, ya,” ucap Yoga.


“Siap, Bos.” Mang Deden mengacungkan jempolnya dan segera meracik dua porsi bakso urat di dalam mangkok ayam jago.


Yoga menarik kursi plastik yang sudah usang dan mempersilakan Freya untuk duduk.

__ADS_1


“Terima kasih.”


“Kamu terlalu sungkan.” Karena penolakan berkali-kali dari Freya, Yoga pun tidak berani mengungkit-ungkit masa lalu mereka lagi.


Tujuannya kali ini hanya satu, menjelaskan semuanya kepada Freya. Masalah gadis itu akan mempercayainya atau tidak, itu adalah hal yang berbeda. Yang penting ia akan menceritakan semuanya lebih dulu.


Freya duduk dan menghindari kontak mata dengan Yoga. Harus ia akui, tempat ini memiliki kesan yang mendalam untuknya. Tidak mudah untuk berpura-pura tegar dan tidak peduli.


“Silakan, Bang,” ucap Mang Deden seraya meletakkan nampan dan memindahkan dua mangkok bakso urat ke atas meja.


“Makasih, Mang,” ucap Yoga. Ia lalu meraih dan menyodorkan mangkok berisi sambal dan botol cuka ke arah Freya.


Freya terdiam, menatap Yoga tanpa berkedip. Pria ini ... masih mengingat semua kesukaannya dengan sangat baik.


Melihat Freya yang hanya menatapnya, Yoga menarik kembali tangannya dengan ragu-ragu.


“Maaf, aku tidak bermaksud ....” Ia tidak menyelesaikan ucapannya, menunduk dan mengalihkan pandangan. Ia tidak sanggup membalas tatapan Freya.


Freya berkedip satu kali, mengambil mangkok sambal dan menuangkan lima sendok penuh cabai halus itu ke dalam mangkok baksonya. Lima tetes cuka ditambahkan lagi ke dalam baksonya, lalu diaduknya agar tercampur rata.


Tangan Yoga pelan-pelan mengambil mangkok sambal dari depan Freya, mengisi satu sendok ke dalam mangkoknya, ditambah kecap dan saos. Ia tidak seperti Freya yang menyukai rasa pedas dan asam. Perutnya tidak kuat.


Tiga tahun ... hanya Tuhan yang tahu bagaimana ia merindukan gadis ini siang dan malam.


Freya menusuk bakso kecil dengan garpu, meniupnya sebentar sebelum menggigit dan mengunyahnya pelan.


Rasa baksonya masih tetap sama, seleranya pun tidak berubah. Ia hanya selalu memesan bakso dan sayuran, tidak pernah memakai mie atau bihun. Tapi anehnya, rasa di dalam hatinya telah banyak berubah.


Sial. Kenapa rasanya asam sekali?


Kening Freya mengerut. Apakah ia terlalu banyak menambahkan cuka? Padahal biasanya ia menambahkan takaran yang sama, seharusnya rasa kuahnya tetap sama. Kenapa kali ini berbeda?


“Freya ...,” panggil Yoga pelan.


“Hah? Apa?” Freya mendongak dan menatap Yoga dengan matanya yang merah.

__ADS_1


Dua butir air mata jatuh bergulir di pipinya.


Ia buru-buru menyekanya dengan punggung tangan dan berkata, “Terlalu panas dan pedas. Payah ....”


Yoga mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Ia ingin mengulurkan tangan dan membujuk Freya seperti biasa, tapi ia sadar, meski kini mereka duduk berdekatan, ia tahu ada jarak yang sangat jauh di antara mereka.


“Freya ....”


“Um ... kenapa tidak makan?”


“Aku ... bukannya aku bermaksud untuk meninggalkanmu begitu saja tanpa kabar. Saat itu, kakekku tiba-tiba datang dan membawaku pergi. Dia tidak mengizinkanku membawa apa pun. Dia membawaku untuk sekolah di luar negri. Semua akses ke Indonesia diblokir olehnya. Aku selalu mencari cara untuk menghubungimu, tapi nomor teleponmu yang lama tidak bisa dihubungi. Email yang kukirim pun tidak pernah kamu balas. Aku tidak bisa kembali ke sini sampai studiku selesai, jadi ....”


Jadi, karena itulah sekarang kamu memiliki banyak uang dan mampu membeli mobil sport. Lalu kamu pikir bisa membeliku kembali?


Freya menelan semua keluhan di dalam hatinya. Ia tidak ingin memberitahukan kepada Yoga, karena mencari pria itu seperti orang gila, tasnya dicopet di jalan.


Semua isi di dalamnya lenyap tak bersisa: uang tunai, ATM yang isinya tak seberapa, kartu identitas, SIM, dan ponsel. Ia hampir menjadi gelandangan karena kehilangan tas itu.


Saat itu, ia terseok-seok pulang ke kontrakan dengan tubuh basah kuyup karena kehujanan, lalu demam tinggi selama tiga hari karena kelelahan dan tidak makan.


Waktu itu, kalau bukan karena ibu pemilik kontrakan yang memaksanya untuk pergi ke klinik tepat waktu, mungkin saat itu ia sudah mati ... bukan karena sakit fisik, tapi karena patah hati yang membuatnya tidak ingin hidup lagi.


Lalu sekarang, pria ini datang dan meminta maaf ... ingin semuanya bisa kembali seperti semula?


Mungkin maaf bisa ia berikan, tapi hatinya yang pernah hancur berantakan itu ....


Freya meletakkan sendok dan garpu di tangannya.


Ia menatap lurus ke arah Yoga, berdeham dua kali sebelum berkata dengan sungguh-sungguh, “Yoga, maaf ... kamu sudah terlambat. Aku sudah menikah. Apa pun yang kamu katakan, itu tidak akan berarti apa-apa lagi.”


Suaranya terdengar sangat tenang. Air mukanya tidak berubah ... tapi air mata yang mengalir di pipinya semakin deras.


Freya menggigit bibir dan berpaling.


Sepertinya rasa masam itu datang dari luka di hatinya yang kembali menganga, naik ke atas dan tersangkut di kerongkongannya.

__ADS_1


Bagaimana pun ia berusaha untuk tetap tegar dan kuat, pada kenyataannya pengaruh Yoga Pratama tak pernah hilang sepenuhnya.


***


__ADS_2