Istri Kesayangan Tuan Pram

Istri Kesayangan Tuan Pram
Jangan Ganggu Dia


__ADS_3

Tommy bersandar di sisi meja kerjanya. Ruangan berukuran hampir sepuluh meter itu terlihat suram meskipun di luar sana cahaya matahari bersinar terang.


Gorden abu-abu yang menghalangi jendela tidak sepenuhnya terbuka. Ia memang sengaja melakukannya. Entah mengapa hari ini ia enggan melihat sinar matahari dan langit yang biru cerah. Mungkin karena suasana hatinya pun sedang buruk. Oleh sebab itulah ia tidak ingin melihat keindahan dalam bentuk apa pun.


Keningnya terlihat sedikit berkerut, terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.


Meski sedang dalam suasana hati yang buruk, penampilannya itu terlihat seperti patung pualam yang dipahat oleh seorang maestro, terlihat sempurna dan mengagumkan.


Jujur saja, bentuk tubuh Tommy Antasena tidak lebih buruk jika dibandingkan dengan Pramudya. Garis tulang rahangnya kokoh, tampak serasi dengan hidungnya yang mancung dan sepasang alis yang hitam dan tebal.


Matanya pun tak kalah memikat. Jika Pramudya memiliki iris hitam yang gelap dan berkilau, sepasang mata Tommy berwarna cokelat cerah yang membuatnya terlihat manis dan lembut.


Perpaduan sepasang mata yang indah dan penampilan yang memikat membuat tidak sedikit perempuan yang tergila-gila dan ingin naik ke ranjangnya.


Lagipula, jabatan sebagai Direktur Utama tidak kalah menggiurkan dibandingkan CEO Antasena Grup. Sayangnya, di mata ibunya, ia selalu kalah dalam segala aspek jika disandingkan dengan Pramudya.


Tommy ingat, sejak mereka masih tinggal di sebuah kontrakan yang pengap dan sempit, ibunya sudah selalu mengingatkannya untuk menjadi nomor satu. Bahkan saat ia belum bertemu dengan Pramudya, ibunya sudah menunjukkan foto adik tirinya yang baru lahir dan mengatakan bahwa kelak, ia tidak boleh kalah sedikit pun dari bocah laki-laki itu.


Sayangnya, sejak kecil hingga dewasa, ia selalu menjadi nomor dua. Dengan cara bersih ataupun kotor, ia tidak pernah berhasil menyingkirkan Pramudya.


Tommy mengernyit semakin dalam. Ia mengulurkan tangan, mengambil gelas berisi wiski di atas meja. Es batu di dalamnya sudah hampir mencair. Ia memutar-mutar minuman dalam gelas itu, kemudian menghabiskannya dalam satu tegukan besar.


Ia meletakkan gelas ke atas meja dengan sedikit keras sehingga suara yang nyaring bergema di dalam ruangan.


Tangannya kembali terulur, ingin mengisi gelas lagi dengan cairan cokelat keemasan yang masih tersisa separuh di dalam botol, tapi terdengar bunyi "bip" dari pintu, pertanda seseorang baru saja mengaktifkan kunci sensor.


Sedetik kemudian, pintu dengan sistem keamanan terbaik itu terbuka lebar, lalu bayangan seorang wanita yang memakai gaun hitam masuk ke dalam ruangan dengan cepat.

__ADS_1


“Lihat apa yang kamu lakukan! Dia berhasil mendapatkan semuanya, tapi kamu malah mengurung diri di sini tanpa melakukan apa-apa! Aku pasti telah berdosa di kehidupan sebelumnya sehingga bisa melahirkan anak tidak berguna sepertimu!”


Suara omelan itu beradu dengan suara ketukan heels di lantai marmer, membuat kepala Tommy tiba-tiba berdenyut nyeri. Tanpa menoleh pun ia sudah tahu siapa yang datang. Dengarkan saja suara yang menyakiti gendang telinga itu. Mana ada seorang ibu yang begitu bermulut tajam selain ibunya sendiri?


“Aku sedang bicara denganmu dan kamu mengabaikanku seperti itu? Seharusnya aku tidak melahirkanmu! Dasar tidak berguna!” Tari Paramitha mengamuk. Ia pergi ke jendela dan menarik kain gorden sekuat tenaga hingga kain gorden itu hampir terlepas dari tempatnya. Seketika cahaya matahari yang menyilaukan memenuhi ruangan itu.


Tommy mengangkat tangan kirinya untuk menghalangi matanya. Ia menghela napas tak berdaya, mengangkat tangan dan mencubit bagian tengan alisnya, berharap dapat sedikit meredakan sakit kepalanya.


"Sudah kukatakan, jangan sering-sering datang ke sini, Bu," ujar Tommy dengan wajah muram.


“Dasar anak durhaka! Masih berani memarahi ibumu seperti itu?!” Tari mengayunkan tas tangannya dan memukuli lengan Tommy.


“Tidak berguna! Aku membesarkanmu dengan sia-sia! Mengabiskan lebih dari separuh hidupku untuk memelihara anak sepertimu, sungguh sangat disayangkan!” Tari masih memukuli putranya dengan membabi buta.


Tommy hanya membiarkan ibunya menggila. Ia tahu ibunya perlu melampiaskan emosinya kepada seseorang, dan kebetulan orang yang tidak beruntung itu adalah dirinya.


Bukan hanya Antasena Grup, tapi juga berbagai aset yang tersebar hampir di seluruh Indonesia. Sedikit demi sedikit, semuanya akan dipindahtangankan atas nama Pramudya. Ia dan Tommy tidak bisa mengelak karena itu adalah isi surat wasiat yang sah di depan hukum.


Bukan hanya anaknya, suaminya yang sudah mati itu pun benar-benar tidak berguna. Apa tujuan syarat yang tidak masuk akal seperti itu?


Bukan hanya mengatakan bahwa siapa yang menikah lebih dulu yang mewarisi semuanya, tapi juga berpesan kepada pengacara untuk membacakan surat wasiat itu lima tahun setelah kematiannya.


Benar-benar bajingan! Apa tujuan pria brengsek itu melakukan semuanya? Apakah dia mencurigai sesuatu sehingga menunda pembacaan wasiat khusus itu selama lima tahun?


Apakah dia mencurigaiku dan Tommy sebelum kematiannya?


Gerakan Tari tiba-tiba berhenti. Ia menarik kerah baju Tommy sehingga putranya itu sedikit menunduk.

__ADS_1


"Apakah ayahmu mengetahui kebenarannya sebelum dia mati?" tanyanya dengan cemas. Kalau sampai benar demikian, habislah sudah.


"Tenanglah, Bu. Orang-orang suruhanku melakukannya dengan sangat baik. Bahkan Pramudya pun tidak bisa menyelidikinya sampai sekarang," jawab Tommy.


Tari melepaskan kerah baju putranya dengan kasar. “Baguslah kalau begitu. Setidaknya otakmu itu masih sedikit berguna.”


Tommy terdiam cukup lama. Ia memperhatikan ibunya yang pergi duduk di sofa yang biasanya ia gunakan untuk menyambut tamu di kantornya itu.


Ia ragu-ragu, apakah akan tetap mencoba mengatakan isi pikirannya kepada wanita yang telah melahirkannya itu atau tidak. Biar bagaimana pun, ia berutang kehidupan kepada wanita itu.


"Pramudya, si bocah tengik itu selalu menentang batas kesabaranku." Tari Antasena mencebik dan menyilangkan kakinya. Ia mengetuk-ngetukkan jarinya di sandaran sofa. Sepasang matanya memancarkan cahaya yang berbahaya.


“Istrinya itu tampak lemah dan tidak berguna. Singkirkan saja dia,” ucap Tari tiba-tiba.


“Ibu!” Tommy menyela dengan keras.


“Apa? Kamu keberatan? Kamu ingin membela gadis itu?” Tari mengangkat alisnya dan memberi tatapan menghina kepada putranya.


“Pantas saja kamu selalu selangkah di belakang adikmu, kamu sangat tidak berguna,” cibirnya dengan tatapan yang sarat akan penghinaan.


Putranya itu kadang bisa terlalu berhati baik, berbeda dengan Pramudya yang tidak pernah menggunakan hati nuraninya. Bocah tengik itu selalu berpikir praktis dan efisien seperti robot. Bahkan terhadap Carissa, manta kekasih yang telah dijodohkan dengannya sejak kecil pun dia bisa begitu tega mengusirnya begitu saja. Mana ada manusia berhati batu seperti itu selain Pramudya Antasena.


***


yuhu, jangan lupa komen, like, dan rate ⭐⭐⭐⭐⭐ yaaa...


thank youu~B

__ADS_1


__ADS_2