
Kematian Kakek menjadi pukulan yang berat bagi Freya. Ia seperti kehilangan anggota keluarganya sendiri, orang yang paling disayangi olehnya. Setelah selesai pemakaman, ia lebih banyak melamun dengan wajah murung, berbaring di atas ranjang dan mengurung diri di dalam kamarnya. Setelah Kakek pergi, tidak ada lagi yang harus ditutup-tutupi.
Ia yakin hampir semua pelayan di kediaman itu telah mengetahui pernikahan pura-puranya dengan Pak Pram, termasuk Pak Anton, tapi semuanya memilih untuk bungkam dan tutup mata. Mungkin karena Pak Pram telah memperingatkan mereka untuk tidak bicara macam-macam. Tapi, apakah itu semua penting sekarang? Kakek sudah tidak ada lagi.
Rasa bersalah dan penyesalan menggerogoti dadanya. Ia merasa sangat bersalah karena sejak awal telah ikut menipu pria tua yang sangat baik hati itu. Yah, meski pada akhirnya ia dan Pramudya telah menjadi sepasang kekasih, tetap saja pernikahan ini palsu. Itu adalah beban yang menjadi ganjalan di hatinya.
Apalagi, ia belum sempat memenuhi satu-satunya keinginan Kakek untuk memiliki cicit.
Freya menangkup wajahnya dengan tangan dan kembali terisak. Permintaan itu, meskipun sekarang terasa sulit dan mustahil, tapi siapa yang tahu apa yang akan terjadi ke depannya.
Ia tidak keberatan melahirkan satu atau dua orang anak bersama Pak Pram, tapi ia membutuhkan waktu. Proses itu harus dijalani setahap demi setahap. Sayangnya Kakek tidak lagi memiliki waktu. Kakek tidak bisa lagi menunggu.
“Kakek, maafkan aku ....” gumam Freya pelan. Dadanya terasa sangat sesak dan sakit.
Penyesalan merupakan hantu yang menakutkan. Dia mengikuti ke mana saja dan meremas jantungmu dengan kuat.
Sebuah pelukan hangat dan aroma tubuh yang harum melingkupi tubuh Freya. Sedetik kemudian, tubuhnya telah menempel dengan dada yang bidang dan kokoh.
Tanpa mendongak, Freya mengulurkan tangannya dan melingkarkannya di pinggang suaminya. Ia menyusukkan kepalanya ke dada pria itu dan bergelung seperti anak kecil.
“Jangan menangis lagi ....” bujuk Pramudya sambil menepuk-nepuk pelan punggung istrinya.
Ucapan itu membuat air mata Freya mengalir lebih kencang. Bahunya berguncang. Lehernya sakit karena menahan isak tangis agar teredam.
Bagaimana bisa tidak menangis?
Ia tidak akan pernah bertemu dengan Kakek lagi.
Selamanya tidak akan pernah bisa melihatnya lagi.
Pramudya mengecup kening istrinya dan memeluk lebih erat. Hatinya pun terasa sakit, semakin sakit ketika melihat istrinya yang begitu merasa kehilangan dan larut dalam kesedihan.
__ADS_1
Ia tahu Freya pasti merasa sangat sedih karena tidak bisa memenuhi keinginan terakhir Kakek, tapi ia juga tidak bisa melakukan apa-apa. Hal semacam itu tidak bisa dipaksakan. Biarkan berjalan apa adanya. Semua ada masanya. Ia tidak ingin memaksa.
“Freya, kita tidak memiliki kemampuan untuk mengubah takdir. Kakek sudah beristirahat dengan tenang, relakan dia,” bisik Pramudya.
Freya menarik napas panjang, menyusut air mata di pipinya dan menjawab dengan suara yang serak, “Kita bersalah kepadanya, Pram. Kita bersalah. Kakek begitu baik, tapi kita telah menipunya.”
Freya tersedak, bernapas dengan cepat dan berat, mengusap air matanya sekali lagi sebelum mengimbuhkan dengan terbata-bata, “Sejak awal ... kita telah menipunya, Pram. Kakek ... dia tidak tahu kita ... kita telah menipunya, bahkan sampai dia meninggal, dia tidak tahu. Kakek berharap akan ... dia ingin segera memiliki cicit. Aku tidak bisa ... aku tidak bisa memenuhinya. Kakek sudah tidak ada.”
Pramudya berusaha memahami pemikiran istrinya. Konon, wanita lebih sensitif, mereka lebih sering mengutamakan perasaan, bukan logika. Ia tahu istri kecilnya ini sangat perasa meski berpenampilan kuat dan tegar. Ia juga tahu istrinya menyayangi kakeknya dengan tulus dan sungguh-sungguh, oleh sebab itulah kehilangan Kakek membuat istrinya sangat terpukul.
“Ini bukan salahmu, aku yang salah. Maaf ....”
Freya menggeleng. Dirinya juga bersalah. Ia salah karena telah menyetujui pernikahan pura-pura yang sialan ini! Ia bersalah karena telah menipu pria tua itu dan berakting bersama Pak Pram. Ia tidak memiliki kesempatan untuk meminta maaf kepada Kakek lagi.
“Kita bisa fokus pada permintaan Kakek yang lain. Dia ingin kita saling menyayangi dan hidup dengan bahagia, bukankah sekarang kita seperti itu?” ucap Pramudya setelah terdiam cukup lama.
Getaran di bahu Freya perlahan mereda.
“Sudah merasa lebih baik?” tanya Pram.
Freya mengangguk pelan. Hanya tersisa sedikit isakan yang membuatnya seperti cegukan. Tapi sekarang ia memang sudah merasa jauh lebih baik ketimbang tadi.
Pramudya mengangkat dagu istrinya dan menghapus jejak air mata yang tersisa di pipinya.
“Aku ambilkan makan, ya. Kata Ruth kamu belum makan apa pun sejak pagi,” bujuknya. Meski bersedih, ia tidak ingin istrinya jatuh sakit.
Ketika mendengar ucapan suaminya, Freya baru merasakan perutnya perih. Memang belum ada satu makanan pun yang masuk ke perutnya. Selain karena tidak berselera, ia tidak sempat memikirkan hal lain selain meratapi kepergian Kakek.
“Tunggu di sini. Aku ambilkan sebentar.” Pramudya tidak menunggu jawaban istrinya dan langsung bangun dari atas kasur dan bergegas keluar sebelum istrinya berubah pikiran. Ia benar-benar mencemaskan kondisi istrinya.
Ruth sudah menunggu di depan pintu kamar dengan nampan di tangannya.
__ADS_1
“Tuan, Nyonya sudah mau makan?” tanyanya.
“Ya. Berikan padaku.”
Ruth terlihat sangat lega. Ia segera menyodorkan nampan di tangannya kepada majikannya. Ia sangat khawatir, takut terjadi sesuatu kepada Nyonya karena menangisi kepergian Tuan Besar sepanjang hari. Syukurlah kalau Nyonya sudah mau makan. Meski sedikit, tapi setidaknya bisa mengisi perutnya yang kosong.
Pramudya membawa nampan itu dan kembali ke kamar. Ada semangkuk bubur ayam yang belum sempat mereka makan tadi pagi. Sepertinya Ruth sudah memanaskannya karena mangkuknya terasa hangat.
“Sayang, bangunlah. Makan sedikit,” ucap Pram seraya duduk di tepi ranjang.
Freya menumpu tubuhnya dengan siku dan bersandar di kepala ranjang. Ia tidak memedulikan lagi penampilannya saat itu sekacau apa.
Ia menatap Parmudya yang menunggunya dengan sabar, kemudian berkata, “Terima kasih, maaf sudah merepotkan kamu.”
“Kamu tahu aku tidak pernah merasa direpotkan olehmu.” Pramudya menyendok bubur ayam di dalam mangkuk, meniup-niupnya sebentar sebelum menyodorkannya ke mulut Freya.
Freya memakan bubur itu dengan perasaan yang tak karuan. Perhatian Pramudya membuatnya merasa tersentuh. Ia membuka mulut dan memakan bubur yang disuapkan oleh suaminya.
Pramudya merasa lega ketika satu mangkuk bubur itu dihabiskan oleh istrinya. Ia meletakkan mangkuk di atas meja, lalu menyerahkan segelas air hangat untuk istrinya.
Freya menerima gelas itu dan menyesap isinya perlahan.
Pramudya mengambil kembali gelas itu dan meletakkannya di samping mangkuk yang kosong.
“Terima kasih, Sayang. Maaf sudah membuatmu kesulitan seharian ini,” ucap Freya dengan suara yang terdengar serak dan sengau.
Pramudya meraih tangan Freya, menggenggamnya erat-erat sambil membalas, “Mulai saat ini, kita akan menghadapi kesulitan bersama. Apa pun itu, jangan lupa kalau kamu tidak sendiri. Oke?”
Mata Freya memanas lagi.
Kakek, dengarkan janji Pram. Kakek beristirahatlah dengan tenang. Jangan cemas, kami akan hidup dengan baik di sini ....
__ADS_1
***