
Setelah berganti dengan pakaian yang lebih normal dan manusiawi, Freya berjalan keluar dengan hati-hati. Ia tidak melihat Pramudya di sofa, tapi terdengar suara air dari kamar mandi. Rupanya pria itu pergi mandi ketika Freya sedang berada di ruang ganti.
Freya berdiri diam di tepi ranjang dan mengedarkan pandangannya. Rasanya sedikit tidak sopan kalau membiarkan Pak Pram yang tidur di sofa.
Ia melirik ke sofa dan membuat keputusan dalam hati. Dengan sigap tangannya meraih sebuah bantal dan selimut, lalu berjalan dengan cepat menuju sofa.
Ia menata bantal di sisi paling ujung sofa yang menempel dengan tembok, lalu berbaring dengan kaku menghadap arah yang berlawanan dengan kamar mandi.
Ia tidak ingin tidak sengaja menatap tubuh Pak Pram yang hanya ditutup handuk, lalu dicap sebagai gadis mesum. Hish ... memikirkannya saja sudah membuat Freya merinding.
Ia menutup mata erat-erat dan mencoba untuk tidur. Akan tetapi, setelah bolak-balik beberapa kali, ia masih belum bisa tidur.
Semakin ingin tidur malah matanya semakin melotot. Ia tidak pernah tidur sekamar dengan pria asing.
Freya merasa sangat frustasi!
Apalagi ketika terdengar suara pintu kamar mandi yang terbuka. Kelopak matanya bergetar karena panik.
Sial, kenapa suara langkah kakinya menuju ke sini?
Tap.
Tap.
Tap.
Apa yang diinginkan pria ini? Kenapa suara langkah kakinya semakin mendekat?
Tubuh Freya semakin menegang. Ia bahkan hampir-hampir tidak berani bernapas ketika hawa panas dari tubuh Pak Pram terasa hanya berjarak sekitar tiga jengkal dari lengannya.
“Kamu sudah tidur?”
Suara yang dalam dan megnetis itu membuat Freya hampir terguling dari atas sofa.
Sial! Kenapa hanya suara saja bisa sangat seksi dan menggoda?
Freya merasa telinganya hampir hamil.
“Aku tahu kamu belum tidur. Bangunlah. Aku ingin bicara.”
Freya diam-diam memarahi suaminya dalam hati. Apa yang ingin dibicarakan? Pak Tua, bisakah kamu pergi berpakaian sebelum datang mengajak seorang gadis berbicara?
__ADS_1
Sebelum puas memarahi suaminya, Freya merasakan selimut di tubuhnya ditarik paksa.
“Ahhh!” Freya memekik keras sambil melompat duduk. Ia menutup mata kuat-kuat sembari menggapai-gapai ke depan.
“Kembalikan selimutku! Dasar paman mesum! Setidaknya pergi berpakaian sebelum berbicara dengan seorang gadis!” Ia marah dengan ganas. Kalau bukan karena mengetahui bahwa pria itu baru saja keluar dari kamar mandi dan kemungkinan besar hanya mengenakan handuk atau jubah mandi, Freya pasti sudah membuka mata dan berkelahi dengannya.
Pramudya memperhatikan tingkah konyol istri kecilnya dengan kening mengernyit. Sepertinya gadis bodoh itu sudah berpikir yang tidak-tidak.
“Apa yang kamu pikirkan? Buka matamu!” perintahnya.
“Tidak! Tidak mau!” Freya menolak dengan keras.
Pramudya berdecak sebal. Ia selalu unggul dalam segala sesuatu, tapi jujur saja, kesabaran bukanlah salah satu kelebihannya.
Ia menunduk, meraih tangan Freya dan menempelkannya ke dadanya.
Freya memekik keras sekali lagi. Ia ingin menarik kembali tangannya dengan panik, tapi Pramudya menahan lengannya dengan kuat. Kemudian, ketika merasakan ada lapisan kain yang menutup dada suaminya, sedikit demi sedikit kelopak mata Freya terbuka. Seketika telinganya memerah dan terasa panas. Rupanya ia sudah salah paham, Pak Pram sudah sekalian berganti pakaian di dalam kamar mandi.
Pramudya mencibir dan menahan keinginan untuk menjentik kening istrinya. Kenapa gadis ini bodoh dan naif sekali?
Freya membetulkan posisi duduknya dan menyelipkan anak rambutnya ke balik daun telinga. “Maaf, saya pikir Bapak ... eng, itu ....”
Wajahnya semakin memerah. Ia tidak bisa menyelesaikan ucapannya. Rasanya terlalu memalukan! Kenapa ia selalu menjadi bodoh dan ceroboh di depan Pak Pram? Haish!
Freya tertegun sejenak. Ia mendongak dan membalas tatapan Pramudya. Pria itu masih ragu apakah ia adalah orang yang menolongnya lima bulan lalu atau bukan, tapi sudah mengakuinya dengan lantang saat di meja makan tadi. Benar-benar sangat berani mengambil risiko. Bagaimana kalau ternyata itu bukan dirinya?
Tiba-tiba Freya merasakan emosi yang rumit di dalam hatinya.
Ia balik bertanya, “Kalau Bapak masih ragu-ragu, kenapa mengatakannya kepada Kakek seperti itu?”
Pramudya mencubit alisnya. Panggilan “Bapak” ini membuatnya merasa sangat tua, hampir seperti seumuran dengan kakeknya.
“Bisakah kamu memanggilku dengan sebutan lain?”
“Eh?”
“Aku bukan bapakmu.”
“Itu ....” Freya sangat canggung. Haruskah ia memanggil pria itu dengan sebutan suami? Haia ... tidak bisa! Terlalu aneh! Ia bergidik ngeri hanya dengan memikirkannya saja.
“Panggil namaku saja. Pram atau Pramudya, terserah. Selisih umur kita tidak terlalu jauh.”
__ADS_1
Freya mengigit giginya dengan kuat. Rasanya panggilan itu terlalu intim. Ia tidak bisa.
Selain itu, Pak, tolong ya, selisih 8 tahun itu sudah hampir 10 tahun. Perbedaan generasi kita sudah hampir satu dekade, oke?
Setelah menimbang-nimbang dalam hati, Freya memutuskan untuk menawar, “Bagaimana kalau Mas saja? Atau Bang?”
Mendengar ucapan itu, Pramudya sangat ingin membalikkan meja. Ia berputar ke samping dan memijit pelipisnya.
Panggilan macam apa itu? Seumur hidup, tidak ada yang pernah memanggilnya dengan sebutan Mas, apalagi Bang! Oke?
Setelah menarik napas tiga kali, mengepalkan dan mengeratkan kepalan tangannya dua kali, Pramudya berbalik menghadap Freya dan memberi perintah dengan sungguh-sungguh, “Panggil Pram.”
Freya mengerjapkan matanya yang bulat. Apakah ia akan diusir jika bersikeras memanggil pria ini dengan panggilan Mas?
Ia mengembuskan napas pelan, tidak berani mengambil risiko ketika melihat tampilan Pramudya yang seolah menendang bokongnya jika berani melawan.
“Baik, Pram ....” Rasanya sangat ganjil. Freya hampir menggigit lidahnya sendiri.
Pramudya mengangguk puas. Panggilan ini rasanya lebih enak didengar telinganya. Ia duduk di samping Freya, menyilangkan kaki dan menatap lurus ke arah gadis itu.
“Maafkan karena tidak mengenalimu sebelumnya,” ucapnya dengan sungguh-sungguh.
Freya mengangguk dengan kikuk. Bukan salah Pak Pram karena tidak langsung mengenali dirinya. Ia sendiri tidak mengenali pria itu ketika mereka bertemu kembali di Antasena Grup. Pertemuan waktu itu terlalu singkat dan terburu-buru.
Selain itu, lima bulan lalu rambutnya tergerai panjang sampai pinggang. Ia baru memotong rambutnya dua minggu lalu karena ingin memiliki penampilan yang berbeda sebelum melamar kerja di Antasena Grup.
Dengar-dengar memotong rambut bisa membuang sial, makanya ia mencobanya. Entah itu fakta atau hanya sekadar mitos, buktinya keberuntungan menghampirinya saat hari pertama masuk kerja.
“Apa ada orang yang datang mengganggumu waktu itu?” tanya Pramudya.
Freya mengangguk. “Memang ada yang datang, tapi ketika mereka mencari dan tidak menemukan Anda, mereka langsung pergi.”
Pramudya terlihat lega. Syukurlah kalau gadis ini tidak terluka karena telah berusaha menolongnya.
“Mengenai sepeda motor itu ... aku akan mengembalikan biaya ganti rugi.”
Freya mendongak dengan cepat dan menggeleng. Awalnya ia memang kesal ketika mengetahui bahwa orang yang membawa kabur sepeda motornya adalah Pak Pram. Akan tetapi, mengingat semua keuntungan yang didapatkannya karena menikah dengan pria itu, ia merasa tidak perlu perhitungan lagi.
“Apa yang saya dapatkan dari pernikahan ini sudah lebih dari cukup. Lagi pula itu hanya sepeda motor murah,” ucapnya sambil mencoba untuk tersenyum meski menangis dalam hati. Angsuran sebesar 1,2 juta per bulan itu sebenarnya sama sekali tidak murah untuknya.
Pramudya hanya diam dan menatap lekat ke arah Freya. Jika itu adalah orang lain, mereka pasti akan mengeruk keuntungan sebanyak mungkin. Tidak peduli seberapa banyak yang telah ia berikan, tidak akan ada yang pernah puas. Tapi gadis ini ... apakah dia memang berbeda, atau hanya sedang berpura-pura untuk menarik perhatiannya?
__ADS_1
***