
Pramudya sudah ingin memberikan alasan kepada kakeknya dan menolak hadiah itu, tapi Freya menekan punggung tangannya di atas meja dan menggeleng pelan.
Tidak boleh membuat Kakek kecewa.
“Baiklah, Kek. Terima kasih atas perhatian Kakek. Kami akan berangkat besok pagi,” ucap Freya dengan wajah semringah. Tidak sulit untuk berpura-pura bahagia di depan pria tua yang baik hati dan penyayang itu.
Pak Tua hampir bertepuk tangan karena terlalu senang. Bagus sekali. Sangat bagus! Memang tidak salah ia sangat memanjakan cucu menantunya yang pengertian ini!
Pramudya menatap tangan halus yang menempel dengan punggung tangannya. Ia tidak berkedip. Rasanya ada ribuan semut yang menjalar dari sana, berbaris seperti pasukan tentara yang akan pergi berperang, merambat di lengan ... melewati belikat dan masuk ke dalam dadanya, menabuh genderang perang dengan kuat sehingga jantungnya kehilangan ritme.
Perasaan ini ....
Freya mengikuti arah pandangan Pak Pram. Telapak tangannya hanya menutupi separuh punggung tangan suaminya. Entah kenapa wajahnya sedikit terasa panas dan ada lonjakan aneh yang membuat perutnya terasa geli. Ia ingin menarik tangannya, tapi Kakek masih memperhatikan. Sekarang harus bagaimana?
Seringai di wajah Pak Tua semakin lebar. Tampaknya kehadirannya di tempat itu hanya akan mengganggu. Selain itu, apa yang ingin ia sampaikan pun telah selesai. Tidak perlu berlama-lama lagi.
“Kakek tidak akan menganggu lagi. Sebaiknya kalian kembali ke kamar dan persiapan apa saja yang dibutuhkan untuk perjalanan besok,” ucap Pak Tua seraya bangkit dari kursi.
Pramudya dan Freya sama-sama menemukan akal sehat mereka kembali. Keduanya menatap Pak Tua yang dalam sekejap telah berada di dekat pintu.
Suara tawa bahagia Pak Tua masih terdengar dari balik pintu yang telah tertutup. Freya mengembuskan napas lega dan menarik tangannya.
Adegan ini lebih mendebarkan daripada bertarung dengan preman-preman pasar yang suka memalak tukang daging dan tukang sayur.
Padahal ia pernah menempel di lengan Pak Pram dan bergandengan tangan dengan mesra—meski hanya berpura-pura. Ia juga pernah diobati oleh pria itu ketika disiram teh panas oleh Carissa.
Mereka juga pernah saling berhadapan dengan jarak yang sangat dekat ketika pria itu mabuk. Bahkan mereka pernah berciuman! Tapi kebanyakan ia selalu merasa emosi dan ingin memukuli suaminya itu, tidak pernah merasa malu dan gugup seperti sekarang ini. Rasanya ingin buru-buru kabur.
Freya bangun dari kursi tanpa berani menatap wajah suaminya. “Aku ... aku akan—“
“Freya, maafkan aku.” Pramudya menahan tangan Freya dengan hati-hati. Ia tidak ingin gadis itu berpikiran yang tidak-tidak dan marah lagi.
Freya melirik tangan Pak Pram yang menyentuh pergelangan tangannya. Rasa aneh kembali berputar-putar di dalam perutnya dan membuatnya merasa sedikit mulas.
Pramudya menatap wajah Freya.
__ADS_1
Freya menatap tangan Pramudya yang masih melekat di tangannya.
Keduanya terdiam dengan posisi seperti itu selama beberapa saat, sampai akhirnya Freya yang lebih dulu menarik tangannya perlahan.
“Aku tidak bermaksud meninggalkanmu seperti tadi. Aku hanya ... aku ....” Pramudya merasa kesulitan. Bagaimana cara menjelaskan kepada gadis ini mengenai perasaannya jika ia sendiri tidak mengerti apa yang dirasakannya?
Selain itu, ia tidak pernah menjelaskan dirinya kepada siapa pun. Apa yang ia rasakan, apa yang ia pikirkan, rasa sakit ... marah ... kecewa ... benci ... sejak kecil semuanya selalu ditanggungnya seorang diri. Hal itu membuatnya tidak tahu cara berkomunikasi dengan benar, apalagi dengan lawan jenis seperti saat ini.
Akhirnya ia hanya bisa mengembuskan napas pelan dan berkata, “Maaf ... lain kali aku tidak akan begitu lagi.”
Freya akhirnya memberanikan diri untuk menatap Pramudya. Ia melihat ada sorot kesungguhan dan ketulusan yang terpancar dalam matanya yang sekelam malam. Semua rasa kesalnya yang masih sedikit tersisa kepada pria itu akhirnya benar-benar menghilang. Jika tadi amarahnya mereda karena Kakek, kali ini karena ia tahu suaminya benar-benar meminta maaf dengan tulus.
“Aku juga minta maaf ... emosiku sering meledak-ledak. Itu kebiasaan jelek yang sangat sulit diubah. Setiap kali marah aku akan sangat impulsif, mengatakan hal-hal yang kejam dan tidak berperasaan. Maaf,” ucap Freya.
Pramudya mencoba untuk tersenyum meski ia tidak yakin senyumannya sudah terlihat jauh lebih baik daripada terakhir kali ia berlatih atau belum.
“Aku akan menganggap ini berarti permintaan berpisah tadi hanya karena emosi yang meledak-ledak dan impulsif,” ucapnya seraya mengangkat alis.
Wajah Freya kembali memanas. Pertanyaan macam apa ini?
“Aku juga akan menganggap kamu tadi melarikan diri, bukan meninggalkanku. Itu tidak ada bedanya dengan bersikap impulsif,” balasnya seraya mengangkat dagu dengan sombong.
Pramudya tidak bisa menahan diri dan tertawa.
Lihat.
Sepertinya ini adalah salah satu alasan mengapa ia tertarik kepada gadis konyol ini. Berada di dekat istrinya membuatnya mampu merasakan beragam emosi yang tadinya sangat asing baginya. Ia dapat tertawa dengan mudah. Kehilangan kendali diri dalam sekejap mata. Marah karena hal-hal sepele. Bahkan terpesona karena hal-hal kecil yang dilakukan atau dikatakan oleh gadis ini.
“Aku akan menganggap sedang bicara dengan anak kecil dan tidak akan terlalu perhitungan denganmu.” Pramudya membalas setelah tawanya mereda.
Seketika senyum kesombongan di wajah Freya menghilang. Ia sudah akan membalas dengan kalimat yang lebih pedas, tapi Pramudya lebih dulu menyela niatnya itu.
“Karena ada Kakek, malam ini kita harus tidur sekamar. Kamu langsung ke kamarku saja. Aku akan meminta pelayan untuk diam-diam mengambilkan baju tidur di kamarmu tanpa sepengetahuan Kakek.”
Tidur sekamar.
__ADS_1
Dua kata itu seperti mantra yang memaku tubuh Freya.
Sial. Apakah seharusnya tadi ia tetap pura-pura marah saja? Dengan begitu mereka tidak perlu tidur bersama.
Seolah bisa membaca isi kepala Freya yang mulai menggila, Pramudya mengimbuhkan, “Tenang saja, aku akan tidur di kursi dan tidak akan mengganggumu.”
Freya memutar bola matanya. Bukan itu yang ia khawatirkan sekarang. Perasaan yang bergemuruh dan terombang-ambing dengan tidak jelas di dalam dadanya ini ... bagaimana ia bisa tidur dengan tenang? Apalagi kalau harus sekamar dengan Pak Pram?
Tapi mau bagaimana lagi. Ia tidak memiliki pilihan lain. Akhirnya hanya bisa mendesah pasrah, “Baiklah ....”
Pramudya mengangguk puas. Ia bangun dan menggandeng tangan Freya, kemudian mengajaknya berjalan keluar dari ruang kerjanya.
Ia sudah berjanji tidak akan melarikan diri lagi. Mengenai jantungnya yang semakin kehilangan ritme ketika berdekatan dengan istri kecilnya, ia tidak akan berusaha untuk menahan atau menolaknya lagi.
Apa yang akan terjadi maka terjadilah ... ketika tiba waktunya nanti, ia bertekad akan memperjuangkan apa yang seharusnya menjadi miliknya untuk tetap berada di sampingnya.
Di sebelahnya, Freya berjalan dengan pikiran terdistorsi. Ia tidak mengerti, setiap kali ia ingin melarikan diri dari Pak Pram, pada akhirnya ia justru mengambil satu langkah semakin dekat dengan pria itu. Jika terus seperti ini maka kemungkinan pada akhir masa kontrak sudah tidak ada lagi jarak di antara mereka.
Itu artinya ....
Freya mengetatkan kepalan tangannya.
Padahal sudah bertekad untuk menjauhi pria berbahaya ini.
Padahal sudah sepakat untuk menjalani kehidupan masing-masing.
Padahal sudah sepakat untuk tidak saling mengganggu satu sama lain.
Padahal sudah berjanji untuk tidak terjatuh lagi.
Tapi pada akhirnya mereka masih terus terjerat satu sama lain ....
Haruskah ia mempersiapkan diri untuk jatuh yang kedua kalinya?
***
__ADS_1
cieee, yang senyum-senyum sendiri ....
Udah sana nyuci, masak ... 🤣🤣🤣