
“Bisa tolong lepaskan tanganku dulu?” tanya Freya setelah berhasil mengendalikan debaran jantungnya yang mendadak menggila.
Padahal ia sudah berusaha sekuat tenaga untuk menjauh dan menjaga jarak, tapi tetap saja ....
Pramudya menurunkan tatapan matanya, melihat jari-jarinya yang melingkar dengan pas di lengan Freya. Perasaan aneh ini ....
“Maaf, aku tahu aku salah, tapi aku bisa menjelaskannya. Bisakah kamu jangan marah?” ucap Freya dengan sangat hati-hati.
Suaranya mengembalikan fokus Pramudya yang sempat terdistorsi. Ia melepaskan pegangannya di tangan Freya dan kembali memasang ekspresi acuh tak acuh.
“Katakan.”
Freya menggigit bibirnya dan dengan gerakan yang sangat pelan duduk di sisi Pramudya.
Hal itu membuat Pramudya mengangkat alisnya dan menatap istrinya dengan perasaan yang rumit. Kenapa ia merasa lebih nyaman ketika duduk bersisian dengan gadis yang selalu membuatnya emosi ini?
Freya berdeham dua kali untuk menjernihkan suaranya sebelum menjelaskan, “Karena Anda sudah melarang saya pergi bekerja di kantor, juga membuat saya tidak bisa bekerja di kafe, maka ... saya mencari informasi lowongan kerja dari internet. Saya tidak mau hidup hanya bergantung sepenuhnya dari uang dan fasilitas yang Anda berikan.”
Pramudya menahan diri untuk tidak merasa kesal. Gadis ini, setiap kali berbicara serius dengannya, maka akan mulai menggunakan sapaan formal yang membuatnya merasa jarak antara mereka berdua sangat jauh.
Namun, ia berusaha menahan diri dan tidak membahas hal itu. Saat ini yang paling penting adalah membuat gadis konyol ini sadar.
“Siapa bilang kamu tidak bisa pergi bekerja di kafe? Bukankah tempat itu sudah menjadi milikmu?” tanyanya.
Freya terkejut. Sepasang mata bulatnya menatap Pramudya dengan bingung. Bukankah akta jual beli sudah ia kembalikan? Bagaimana ceritanya Kafe Mapple masih menjadi miliknya?
“Aku tidak meminta Pak Brata mengganti pemilik di akte. Kafe itu tetap milikmu. Kamu bisa pergi ke sana kapan pun kamu mau. Dasar ... kamu ....” Pramudya mengepalkan tangannya dan memutarnya di udara. Ia tidak ingin mengatai gadis bodoh itu, tapi istrinya itu memang benar-benar keras kepala dan bodoh. Sangat menjengkelkan.
“Tapi, aku—“
“Begini saja. Bagaimana kalau kita bagi saham? Anggap saja aku pemiliknya, kamu yang akan mengelolanya. Setiap akhir bulan, aku akan membagi keuntungan bersih denganmu. Bagaimana?”
Setelah mengucapkan kalimat itu, Pramudya hampir mengacungkan jempol untuk dirinya sendiri. Ia tidak pernah begitu sabar ketika menghadapi orang lain. Tapi entah bagaimana gadis ini selalu menjadi pengecualian. Ia tidak pernah bisa benar-benar marah kepada istri kecilnya ini.
Freya terdiam dan memilin jemarinya. Tawaran itu cukup masuk akal dan tidak membuatnya merasa berutang budi. Selain itu, ia juga tidak akan mempermalukan Pak Pram jika melamar kerja di tempat yang salah lagi.
Bagaimana kalau lain kali ia justru memasukkan lamaran kerja di tempat kenalan Pak Pram? Atau bahkan yang lebih parah lagi, bagaimana kalau itu adalah tempat lawan bisnis suaminya? Bukankah kejadian seperti itu akan sangat memalukan?
__ADS_1
Ia tidak dapat membayangkan rumor yang akan beredar kalau sampai hal itu terjadi. Apalagi jika sampai Kakek mendengarnya.
Akhirnya Freya mengangguk pelan dan menyetujui usul itu. “Oke. Aku mau.”
Pramudya mengembuskan napas lega. Syukurlah ia tidak perlu membuang banyak waktu untuk membujuk si konyol ini.
“Masih mau pergi interview?” tanyanya untuk memastikan.
Freya tertawa canggung. Yang benar saja. Mana mungkin ia masih akan pergi interview. Ia juga tidak sebodoh itu.
“Aku sudah tahu salah, bisakah Sayangku tidak menyindir seperti itu?” jawabnya sambil meremas kedua tangannya di atas paha.
Benar-benar gugup.
Duduk sedekat ini, aroma maskulin yang segar dari tubuh suaminya membuatnya sedikit tidak bisa konsentrasi.
Pramudya mendengkus. Selalu membujuk dan merayu dengan kata-kata manis ketika berbuat salah. Dasar licik.
“Sarapan. Setelah itu aku akan mengantarmu ke kafe,” ucapnya.
Freya sedikit terkejut mendengar perkataan itu. Kenapa hari ini Pak Pram sangat bermurah hati? Selain tidak memarahinya, pria itu juga ingin mengantarnya pergi ke kafe.
Meski otaknya terus berpikir sembarangan, Freya tetap menjawab dengan patuh, “Oke, Sayang. Kamu sudah sarapan?”
“Hm.”
“Tidak mau temani aku makan?”
Pramudya melirik istrinya sekilas. Gadis ini semakin berani ....
Dari balik pintu, Pak Anton akhirnya mengulas senyum lega. Ia mengambil ponsel dari saku celana, diam-diam mengambil foto Tuan dan Nyonya yang tampak sangat mesra. Ia akan mengirimkan foto-foto itu kepada asisten Pak Tua. Ia yakin Pak Tua akan sangat senang melihat kehidupan cucunya yang harmonis.
Freya yang bisa melihat separuh tubuh Pak Anton di balik pintu tak bisa menahan senyum. Ia mengambil piring cantik berisi croffle yang ditaburi gula halus, memotong sebagian kecil dan menusuknya dengan garpu, kemudian sedikit maju dan menyodorkannya ke mulut Pramudya.
“Buka mulut. Pak Anton sedang mengintip,” bisiknya ketika melihat Pramudya hanya menatapnya tanpa ekspresi.
Pramudya menahan napas. Seluruh perhatiannya hanya tertuju pada sepasang bibir merah dan lembap yang bergerak-gerak begitu dekat dengan wajahnya. Udara manis dan segar menggelitik indra penciumannya, membuatnya seolah tersihir dan kehilangan fokus untuk sesaat.
__ADS_1
“Sayang?”
Pramudya berkedip. Seluruh pengaruh magis itu hilang dan otaknya kembali berfungsi dengan normal.
Ia membuka mulut, dengan patuh menggigit potongan croffle yang disodorkan kepadanya.
“Suamiku sangat pintar.” Freya tertawa puas dan kembali duduk di kursinya. Ia lalu menggunakan garpu yang sama untuk menikmati sisa croffle di piring.
Pramudya berhenti mengunyah.
Mereka baru saja berbagi makanan yang sama?
Makan sepiring berdua?
Tiba-tiba Pramudya merasa ikatan dasinya terlalu kencang.
Ia berdeham dan mengulurkan tangan untuk mengambil air minum. Croffle-nya tersangkut di tenggorokan.
Dua tegukan besar air mineral membuat dadanya tidak sesak lagi.
Pramudya menatap gadis konyol yang memakan sarapannya dengan wajah berseri-seri. Sikapnya sangat santai, seolah-olah apa yang dia lakukan tadi sangat wajar dan tidak ada yang salah dengan itu.
Apakah dulu dia sering melakukannya dengan Yoga Pratama?
Mendadak Pramudya merasa kesal. Meski ia sengaja menjaga jarak dengan Freya selama dua minggu terakhir, tapi orang-orangnya tidak berhenti memberikan laporan dan informasi mengenai apa saja yang dilakukan oleh istrinya itu setiap hari.
Yoga Pratama tidak menyerah, masih terus datang mengganggu istrinya setiap saat. Di jalanan, di depan rumah, dan yang lebih sering adalah di kampus.
Ucapan Bayu pun kembali terngiang di kepalanya, mengenai Freya yang akan kembali ke pelukan Yoga Pratama setelah mereka bercerai. Entah mengapa ucapan itu terus mengganggunya.
Mungkin karena selama ini, segala sesuatu yang telah menjadi miliknya, tidak ada orang lain yang bisa merebutnya.
Akan tetapi, istrinya ini bukanlah barang. Mereka hanya terikat kontrak pernikahan selama enam bulan. Setelah itu, apa pun yang dilakukan oleh gadis ini bukan urusannya lagi.
Oleh sebab itulah ia tidak boleh membiarkan debaran jantungnya menjadi tidak beraturan setiap kali berada di dekat gadis ini. Tidak boleh membiarkan dirinya jatuh dan terperangkap di dalam pesonanya.
Pramudya mengingatkan dirinya berkali-kali. Ini hanya permainan. Hanya bisnis. Tidak lebih.
__ADS_1
Ia tidak boleh menggunakan perasaan di dalamnya. Sama sekali tidak boleh.
***