
Setelah berdiri cukup lama dan tidak tahu harus melakukan apa, Pramudya mengeluarkan ponselnya dari saku jas.
Ia terlihat ragu-ragu, tapi tak lama kemudian ia membuka fitur google dan mengetik di kolom pencarian: bagaimana cara membujuk istri yang marah?
Dari baris paling atas muncul sederet saran dari artikel online*.
Yang pertama: minta maaf dengan tulus dan cara yang unik.
Pramudya mengernyit. Unik yang bagaimana?
Minta maaf sambil salto?
Ia mengernyit dan menggeleng. Tidak masuk akal.
Yang kedua: jangan minta maaf secara berlebihan.
Bah, jangankan berlebihan. Meminta maaf dengan cara biasa pun ia kesulitan.
Ketiga: jangan dibalas dengan kemarahan, apalagi bersikap kasar.
Hm ... sepertinya ini adalah akar permasalahannya. Ia sadar sikapnya tadi sudah sedikit kasar.
Uh, ralat. Sikapnya tadi sangat kasar. Pantas saja jika istrinya marah.
Keempat: berbicara lembut dan sabar.
Pramudya mengembuskan napas dengan putus asa. Tugas ini sangat berat. Tuhan pun tahu kesabaran bukanlah salah satu kelebihannya.
Kelima: ajak istri jalan-jalan.
Astaga.
Tidak adakah cara yang lebih mudah?
Keenam: lakukan hal romantis.
Pramudya berhenti membaca.
Semakin ke bawah rasanya semua saran yang ada semakin tidak masuk akal dan mustahil dilakukan olehnya.
Ia berputar dan mengepalkan satu tangannya di udara, tidak pernah menyangka meminta maaf akan sesulit ini.
Tidak.
Sebenarnya tidak terlalu sulit.
Ia juga pernah meminta maaf kepada istrinya sebelumnya. Tapi kali ini sedikit berbeda. Jangan tanya apa yang berbeda karena ia pun tidak tahu itu apa.
Tidak.
Tidak.
Bukannya tidak mengetahuinya.
__ADS_1
Ia hanya tidak ingin mengakuinya saja.
Sekarang katakan ... ia harus bagaimana?
Sebelum Pramudya memutuskan harus melakukan apa, pintu tiba-tiba terbuka, lalu wajah mungil muncul dari balik pintu.
Kedua orang itu bertatapan sejenak tanpa mengatakan apa-apa. Pramudya terlalu terkejut sehingga membeku di tempatnya.Sedangkan Freya sangat terkejut melihat Pak Pram yang berdiri di depan pintu kamarnya.
“Apa yang Anda lakukan di sini?” tanya Freya yang lebih dulu pulih dari rasa terkejutnya.
Tadinya setelah amarahnya mereda, ia hendak turun dan menyapa Kakek. Siapa yang tahu ia jutru menemukan Pak Pram sedang berdiri sambil menatap pintu kamarnya seperti orang bodoh.
Pramudya mengernyit. Sapaan “Anda” ini jelas menunjukkan bahwa istri kecilnya masih marah.
Ia berdeham dengan canggung sebelum berkata, “Aku datang untuk minta maaf. Aku tadi sudah keterlaluan.”
“Oh.” Freya mengangkat alisnya, menatap pria di depannya dengan ekspresi tidak terbaca.
Datang untuk minta maaf?
“Sedikit” keterlaluan?
Freya sangat ingin memukuli pria di depannya itu.
Dia datang minta maaf pasti karena disuruh oleh Kakek.
Apakah kalau tidak ada Kakek, dia akan datang untuk minta maaf?
Apa maksudnya? Aku tidak dimaafkan?
“Aku ....”
“Apakah menyenangkan selalu memperlakukanku seperti itu di tempat umum?” sela Freya sebelum Pak Pram menyelesaikan ucapannya.
“Bukan seperti itu, aku ....” Pramudya melirik ke samping, lalu maju dan menarik tangan Freya untuk masuk ke kamar.
“Apa yang Anda—“
“Ssst ... ada Kakek di depan.”
Freya terdiam. Jarak dirinya dan Pak Pram saat ini terlalu dekat. Tubuhnya hampir menempel di dada yang bidang dan harum itu. Ia buru-buru menggelengkan kepalanya untuk menghalau pemikirannya yang tidak-tidak.
Ia menghela napas dengan berat dan mendorong tubuh Pak Pram menjauh.
“Memangnya kenapa kalau ada Kakek? Anda mengacuhkan saya di tempat umum tanpa mempertimbangkan perasaan saya. Untuk apa saya memedulikan semua omong kosong ini lagi?”
“Kamu ....” Pramudya kehabisan kata-kata. Gadis di depannya ini semakin berani, tapi ia juga tidak bisa marah. Bukankah artikel tadi mengatakan untuk tidak membalas dengan kemarahan, apalagi bersikap kasar. Ia juga masih harus berbicara dengan lembut dan berusaha untuk sabar.
Pramudya mengepalkan kedua tangan di sisi tubuhnya, lalu memejamkan mata dan menarik napas pelan-pelan.
Tidak boleh marah ....
Tidak boleh kasar ....
__ADS_1
Sabar ....
“Pak Pram, ayo batalkan saja perjanjian pernikahan kita,” ucap Freya dengan tenang. Ia semakin tidak tahan dengan sikap pria ini yang selalu arogan dan semena-semena.
Pramudya menggertakkan giginya.
Tidak. Boleh. Marah.
Tidak. Boleh. Kasar.
Harus. Sabar ....
”Kalau Anda merasa tidak nyaman, saya yang akan menjelaskannya kepada Kakek. Saya yakin Kakek akan memahaminya. Mengenai kompensasi yang harus saya bayarkan, Yoga akan membantu—“
“Tidak boleh!” Pramudya membuka matanya tiba-tiba dan berseru dengan kesal.
Apa-apaan Yoga akan membantu?
Membantu apa? Membayarkan kompensasi?
Pramudya benar-benar emosi dibuat oleh istri kecilnya. Ia datang untuk meminta maaf dan berdamai, tapi gadis bodoh ini malah terus membicarakan perpisahan. Masih sempat juga membahas soal Yoga Pratama. Ha! Berani sekali!
Freya sangat terkejut. Ia mengatupkan mulutnya rapat-rapat, tapi memelototi Pak Pram dengan ganas.
Kenapa pria ini berteriak? Seharusnya dirinyalah yang marah!
“Kamu tidak diizinkan berbicara omong kosong lagi. Ingin membatalkan perjanjian sepihak? Aku akan menuntutmu ke kantor polisi!” Pramudya sangat marah sampai-sampai rasanya ia ingin pergi ke ruang kerja dan merobek surat perjanjian yang tersimpan di sana.
Freya tidak mengerti mengapa Pak Pram marah. Mulutnya membuka dan menutup tanpa tahu harus berkata apa. Kenapa Pak Pram selalu emposi setiap kali ia membicarakan pembatalan perjanjian pernikahan mereka?
Sebelum ia sempat membalas semua kemarahan itu, Pak Pram telah berderap keluar dari kamarnya seperti akan pergi menagih utang. Pria itu bahkan sudah tidak peduli jika Kakek masih ada di luar kamarnya atau tidak. Benar-benar menyeramkan.
Sambil berjalan Pramudya melepaskan jasnya dan melonggarkan ikatan dasinya. Rasanya sangat panas dan mencekik. Ia sedikit kesulitan bernapas.
Ia masuk ke ruang kerja, membanting pintu dengan keras, lalu mengempaskan diri di atas kursi.
Seumur hidup, belum pernah ada orang yang membuatnya kesal setengah mati. Rasanya sangat kesal sampai ia ingin membalikkan dunia dengan tangannya.
Kenapa gadis itu selalu ingin melarikan diri darinya? Kenapa dia selalu membicarakan tentang membatalkan pernikahan?
Ini bahkan belum satu bulan, tapi dia sudah sangat tidak tahan dan ingin melarikan diri sepanjang waktu. Karena kekasih masa kecilnya sudah kembali?
Apakah gadis itu sangat menyesal karena telah terikat perjanjian pernikahan dengannya?
Apakah pernikahan ini sangat menyiksa baginya?
Pramudya menggeram dengan suara rendah. Semakin dipikirkan semakin membuatnya marah.
Ia menarik laci dan mengeluarkan map yang berada di tumpukan paling bawah. Lembaran kertas putih dengan tulisan “Perjanjian Pernikahan” tercetak dengan tinta tebal dan hitam, menusuk langsung ke dalam sepasang matanya.
Ia melemparkan lembaran kertas itu dengan kesal ke atas meja.
Benar-benar emosi.
__ADS_1