Istri Kesayangan Tuan Pram

Istri Kesayangan Tuan Pram
Bos Baru


__ADS_3

Dari pantulan kaca jendela kafe, Freya bisa melihat mobil yang dikendarai Pak Pram menjauh. Ia berdiri diam sejenak, entah memikirkan apa. Ada banyak hal yang tumpang tindih di dalam kepalanya.


Selalu seperti itu jika bertemu dengan Pak Pram. Otaknya yang menyedihkan selalu dibuat bingung dan tidak dapat berpikir dengan benar.


“Sampai kapan mau berdiri di depan pintu? Perlu diantar masuk?”


Teguran itu membuat Freya mendongak.


Doni berdiri di depannya, hanya berjarak sekitar tiga langkah. Pemuda itu memakai apron seperti biasa dan sedang tersenyum ke arahnya.


Ah, senyuman itu ...


Freya merasa sangat lega bisa melihat senyuman itu lagi di wajah Doni. Ia membalasnya dengan senyuman yang tak kalah lebar.


“Kenapa tidak bilang kalau mau datang?” tanya Doni.


“Ini mendadak. Tadinya aku mau ke tempat lain ... tapi ....” Freya mengangkat bahu tak berdaya, tidak tahu bagaimana caranya menjelaskan kepada Doni.


Untungnya Doni juga tidak memaksa. Ia menyingkir dari pintu sambil membuat gerakan separuh membungkuk, mempersilakan Freya untuk masuk.


Freya tertawa dan berjalan melewati Doni. Karena masih pagi, kafe belum buka. Biasanya karyawan yang shift pagi harus memeriksa stok dan mempersiapkan semua bahan, memeriksa piring dan gelas, juga menata meja dan kursi sebelum kafe buka pukul 09.00.


Setelah kesalahpahaman waktu itu, Freya langsung menghubungi Doni dan menanyakan dari mana datangnya ancaman atas nama Pak Pram.


Doni memberinya sebuah nomor ponsel. Katanya pemilik nomor itu mengaku sebahai Pak Pram dan mengancamnya untuk menjauhi Freya kalau tidak ingin dipecat dari pekerjaannya.


Hanya dengan sekali lihat, Freya langsung mengenali bahwa nomor itu bukan milik suaminya. Ia pun menjelaskan kepada Doni bahwa masalah itu kemungkinan besar merupakan trik adu domba yang dilakukan oleh orang luar. Siapa pun orang itu, dia ingin menggunakan Doni untuk membuat dirinya dan Pak Pram salah paham dan bertengkar ... kemudian saling menjauh. Tapi, mengapa harus melakukan hal-hal merepotkan seperti itu?


Tanpa dipancing pun ia dan Pak Pram telah menjaga jarak satu sama lain.


Selain menjelaskan kesalahpahaman itu, Freya pun terpaksa menjelaskan status pernikahannya dengan Pak Pram. Ia tidak ingin Doni menjauh karena mengira ia benar-benar telah menjadi Nyonya Antasena. Oleh sebab itulah saat ini ia masih bisa melihat senyum tulus di wajah Doni.


Yah, itu adalah salah satu dampak positif dari kejujurannya.

__ADS_1


Dampak negatifnya adalah Doni akhirnya menyatakan perasaannya secara terang-terangan. Meski tidak memaksa, tapi pemuda itu bersikap ribuan kali lebih baik dan lebih manis dari sebelumnya. Hal itu membuat Freya sedikit merasa tidak berdaya karena ia tidak memiliki perasaan apa pun kepada rekan kerjanya itu. Ia hanya menganggap Doni sebagai kakak laki-lakinya.


“Bagaimana keadaan kafe? Bagaimana kabar Andri dan Jeni?” tanya Freya seraya mengedarkan pandangan. Ia sedikit merindukan tempat ini.


“Stok sudah hampir habis karena Bos Baru tak kunjung datang. Jeni di pantri, menyiapkan piring dan gelas. Andri izin datang terlambat.”


“Kamu sudah cocok menjadi pemilik kafe,” goda Freya sambil mengulum senyum.


Doni tertawa lagi. Ia menyejajarkan langkahnya dengan Freya sambil berkata, “Aku senang akhirnya kamu datang, Bos.”


“Aku akan memecatmu kalau menggodaku seperti itu lagi,” ancam Freya sambil memelototi pria di sampingnya.


Doni tertawa lepas. Sejak kesalahpahaman itu menjadi jelas, perasaannya menjadi lebih lega. Meski presentasenya sangat kecil, setidaknya masih ada harapan untuk mendapatkan gadis yang disukainya ini.


Selain itu, ia juga merasa bersalah karena telah bersikap kasar kepada Freya tempo hari. Harus ia akui, saat itu ia merasa sangat cemburu karena Freya menikah dengan pria lain, juga marah karena diintimidasi oleh pemilik nomor tak dikenal. Oleh sebab itulah ia sempat menaikkan suara dan membentak Freya yang pada saat itu sebenarnya tidak bersalah.


Doni mengulurkan tangan dan mengacak rambut Freya dengan lembut.


“Sudahlah, aku sudah tidak mengingatnya lagi.” Freya diam-diam mundur dua langkah, menjauh dari jarak jangkauan Doni.


Ia tidak ingin pria itu salah paham dan mengira ia juga memiliki perasaan untuknya. Ia tidak mau memberi harapan palsu. Saat ini hatinya sudah cukup dibuat pusing oleh tingkah Yoga dan Pak Pram, tidak perlu menambah masalah yang tidak perlu.


Senyum tak hilang dari wajah Doni meski Freya menjauhinya seperti itu. Ia juga tahu status Freya saat itu adalah istri orang lain. Ia tidak ingin menyulitkannya, tapi ia juga tidak bisa menahan diri untuk memuji.


“Kamu semakin cantik.” Sepasang mata Doni berbinar ketika mengucapkan kalimat itu.


“E-he-he ....” Freya tertawa kaku, tidak tahu harus menjawab apa. Ini sedikit di luar perkiraannya.


Ia tidak menyangka Doni memiliki sisi tidak tahu malu seperti ini. Pria ini biasanya sedikit konyol dan ... yah, sejujurnya ia tidak terlalu memikirkan seperti apa Doni sebenarnya. Ia terlalu fokus bekerja, tidak ingin meluangkan waktu untuk urusan asmara yang memusingkan.


Siapa yang tahu sekarang justru seluruh dunianya jungkir balik dalam sekejap, terikat dalam pernikahan kontrak dengan seorang milyuner dan mantan gebetan yang tak mau menyerah. Sangat merepotkan.


“Aku buatkan sarapan, ya. Kamu mau apa?”

__ADS_1


Pertanyaan Doni membuyarkan lamunan Freya.


“Um, aku sudah makan tadi,” jawabnya.


“Kalau begitu minum? Caramel machiato?”


“Terima kasih, Doni, tapi aku masih kenyang. Oh, ya, aku mau ke atas dulu. Kunci kantor di mana?”


“Eng ... ada di laci kasir. Sebentar, aku ambilkan.” Doni berbalik dan pergi sebelum Freya menjawab.


Freya menarik napas lega. Tadi benar-benar canggung. Ia tidak tahu harus bersikap bagaimana terhadap Doni. Jika menjaga jarak, takutnya dia akan tersinggung. Jika menanggapi kebaikannya, takutnya dia akan salah paham. Sungguh sangat dilema.


Ia berjalan menghampiri Doni yang sedang mencari kunci di laci meja kasir.


“Ada tidak?” tanyanya.


“Sebentar ... seharusnya ada ... di ... sini ....” Doni mendongak sambil melambaikan sederet anak kunci yang berwarna perak.


“Aku membersihkan kantor setiap hari, jaga-jaga jika kamu tiba-tiba datang,” ucapnya seraya menyodorkan kunci itu kepada Freya.


“Thank you. Aku ke atas dulu. Kalau ada apa-apa, cari aja ke atas, ya.” Freya menerima kunci itu dan berpamitan. Ia tidak mau berlama-lama hanya berduaan dengan Doni di bawah. Rasanya sedikit tidak nyaman.


“Oke. Aku lanjut bersih-bersih dulu."


“Oke.”


Freya lega karena Doni masih cukup pengertian, tidak melakukan hal yang aneh-aneh. Menawarkan diri untuk menemani ke atas, misalnya. Itu pasti akan sangat canggung.


Ia menyempatkan diri untuk menyapa Jeni sebelum naik. Setelah bertukar kabar dan berbasa-basi sebentar, Freya langsung ke lantai dua, membuka pintu kantornya dan berjalan masuk.


Untungnya sekarang masih belum akhir bulan. Ia tahu Doni belum menyiapkan laporan bulanan. Ia masih bisa sedikit bersantai.


Seperti kata Doni, ruangan itu terlihat bersih dan rapi. Freya merasa sangat senang, juga berterima kasih kepada suaminya. Semua ini tidak akan ia alami jika bukan karena kebaikan pria itu.

__ADS_1


__ADS_2