
Ketika mobil memasuki pelataran rumah, hal pertama yang dilihat oleh Freya adalah Kakek yang sedang berdiri menyambut mereka di depan pintu. Di sampingnya ada sang asisten yang selalu setia menemani, juga Pak Anton yang berdiri tegap dengan senyuman lebar di wajahnya. Ada juga Ruth yang berdiri di belakang barisan pria-pria tua itu.
Ramai sekali.
Freya tidak bisa menahan tawanya. Ia merasa seperti sedang menjadi pejabat yang berkunjung ke daerah dan disambut oleh aparat desa. Hanya kurang karangan bunganya saja.
“Lihatlah, sepertinya Kakek sudah tidak sabar untuk bertemu dengan kita,” ucapnya di sela tawanya.
Pramudya melihat ke depan, lalu menoleh kepada Freya yang tertawa di sampingnya.
“Hm.” Pramudya mengangguk setuju. Entah mengapa tawa istrinya menular. Sudut-sudut bibir Pramudya ikut terangkat.
Berada di dekat istrinya, dengan mudah ia akan merasakan emosi yang sama. Gadis itu sedih, ia ikut merasa sakit hati. Gadis itu bahagia, ia ikut tertawa. Memang tidak masuk akal, tapi itulah yang dialami olehnya.
Sebelum mobil benar-benar berhenti dengan baik, Pak Tua telah lebih dulu menghambur ke depan dan mengetuk kaca jendela dengan tidak sabar.
Pramudya membuka pintu dan turun sambil membawa sebuah papper bag yang cukup besar.
“Kakek,” sapanya.
“Di mana cucu perempuanku?” tanya Pak Tua.
Pramudya terdiam. Baru kali ia diabaikan oleh kakeknya seperti ini. Selain itu, Kakek juga tidak menyebutnya “cucu menantu” lagi, tapi langsung “cucu perempuanku”. Apakah sekarang posisinya telah bertukar tempat dengan istrinya? Pilih kasih sekali.
“Kakek!” Freya melompat turun dan menghambur ke dalam pelukan Pak Tua. Ia juga tersenyum dan menyapa Ruth, Pak Anton, dan Asisten Pak Tua bergantian.
“Aduh, cucuku sudah pulang ... bagaimana bulan madu kalian? Kamu senang tidak? Apakah Pram bersikap baik kepadamu?” Pak Tua menepuk-nepuk bahu Freya sambil memberondongnya dengan pertanyaan.
Freya tertawa kencang. Ia sangat senang! Rasanya seperti pulang ke rumah dan disambut oleh anggota keluarga yang sangat disayang.
Ia tahu dari Pak Pram kalau Kakek tidak pulang selama lima hari, terus menunggu mereka kembali di rumah ini. Hal itu membuatnya merasa sangat terharu. Pria tua ini sangat mencintai cucunya sampai tahap seperti ini, betapa beruntungnya Pak Pram ... ah, seandainya ia juga memiliki anggota keluarga yang menjaga dan menyayanginya seperti ini.
__ADS_1
Freya melepaskan pelukannya dan mengangguk berkali-kali. “Sangat senang, Kek. Pram juga sangat baik.”
“Benarkah? Kamu tidak hanya sedang membelanya, ‘kan?” tanya Pak Tua tak percaya.
Freya tertawa lagi dan menggeleng keras-keras.
“Dia sangat baik, Kek. Dia menemaniku bermain water sport, menjagaku dengan baik, menyuruhku untuk makan yang banyak. Pokoknya dia sangat baik,” ucapnya seraya menggandeng tangan Kakek dan mengajaknya untuk masuk.
Pramudya mengikuti dari belakang sambil mengamati dua orang yang terlihat seperti Kakek dan cucu kandung itu. Ia merasa seperti orang luar yang mengganggu.
“Bagus sekali. Kalau dia menindasmu, katakan saja, Kakek pasti akan memberinya pelajaran.” Pak Tua mengangguk-angguk puas. Begitu baru benar. Sepertinya tidak sia-sia ia memberikan kejutan hadiah bulan madu untuk cucunya.
“Kakek kenapa selalu berpikiran negatif tentang diriku? Sebenarnya siapa cucu Kakek? Kenapa selalu membela istriku?” Pramudya pura-pura mengeluh dengan nada merajuk.
“Tentu saja Freya yang merupakan cucu kesayanganku. Aku tidak ingin punya cucu keras kepala sepertimu.”
Freya tertawa semakin lebar. Ia membimbing Kakek menuju ruang tamu.
“Bagus sekali. Sekarang Kakek dan istriku terang-terangan bersekongkol untuk menindasku.” Pramudya menaikkan alisnya dan memberi tatapan tajam.
Meski pura-pura merajuk, tapi di dalam hatinya Pramudya merasa sangat senang melihat interaksi antara istri dan kakeknya. Sangat sulit menemukan seorang wanita yang tidak berpura-pura dan bersedia mendengarkan kakeknya dengan sungguh-sungguh. Sejauh pengalamannya, hanya Freya seorang yang benar-benar memperlakukan kakeknya dengan tulus.
Pak Anton dan asisten Pak Tua diam-diam saling memandang dan menahan tawa. Lihatlah Tuan Pram yang selalu berada di atas angin itu, sekarang dia tidak dipedulikan sama sekali oleh Pak Tua.
Freya duduk bersisian dengan Kakek, sedangkan Pramudya duduk di seberang mereka. Dengan pemandangan seperti ini, Tuan Pram memang terlihat seperti orang luar, Nyonya lah cucu asli Pak Tua.
Kejadian ini benar-benar langka, tapi mereka tidak berani menertawakan sang majikan muda. Tidak ingin cari mati. Lebih baik pergi mengurus pekerjaan mereka masing-masing.
“Kakek, aku membelikan batik Bali dan songket Sidemen. Tidak mahal, tapi aku harap Kakek suka,” ucap Freya.
“Haish ... bocah ini ... untuk apa begitu repot? Aku sudah tua, tidak memerlukan oleh-oleh. Melihat kalian hidup rukun dan bahagia saja sudah membuatku merasa sangat puas.”
__ADS_1
“Tidak, Kakek ... ini adalah ungkapan terima kasihku untuk Kakek. Aku sangat menikmati hadiah bulan madu dari Kakek. Aku sungguh berterima kasih kepada Kakek.”
Kalau bukan hadiah liburan bulan madu ini, aku tidak mungkin berada di tahap seperti sekarang dengan cucu Kakek ....
“Freya yang memilihnya sendiri dan menggunakan uang pribadinya untuk membeli oleh-oleh ini, Kakek terima saja,” ucap Pramudya seraya menyerahkan papper bag yang tadi dibawanya kepada kakeknya.
“Untuk apa menggunakan uang pribadimu? Habiskan saja uang suamimu. Untuk apa begitu perhitungan? Atau dia tidak mau memberimu uang?” tegur Pak Tua sambil melirik Pramudya dengan ekspresi tidak senang.
Pramudya memijit pelipisnya. Kakeknya benar-benar sudah dimonopoli oleh istrinya.
“Tidak. Bukan begitu.” Freya menyela cepat sebelum Kakek semakin salah paham. “Karena aku yang ingin berterima kasih, tentu saja harus menggunakan uangku sendiri.”
“Kamu ini ... kalau sudah menikah, tidak ada istilah ‘uang suami’ atau ‘uang istri'. Semua yang dia miliki adalah kepunyaanmu juga. Mengerti?”
Freya menyeringai canggung. Pria tua ini ... kenapa dengan mudahnya mengatakan hal-hal seperti ini. Pria tua yang benar-benar sangat baik. Sekarang ia merasa tidak perlu anggota keluarga lain lagi. Kakek saja sudah lebih dari cukup.
Freya mengeluarkan sebuah baju batik dengan corak barong bali dan berkata, “Menurut penjualnya, batik ini melambangkan kekuatan dan dapat menolak hal-hal buruk. Aku berharap Kakek selalu sehat dan kuat, juga selalu diberkati dengan hal-hal yang baik.”
Sebelum Pak Tua berkomentar, Freya sudah mengeluarkan satu lagi bungkusan berisi songket Sidemen dengan warna dominan perpaduan cokelat dan merah bata.
“Kalau yang ini, aku rasa akan sangat cocok untuk Kakek, pasti akan membuat Kakek terlihat semakin tampan,” ucapnya seraya menyerahkan kedua bungkusan itu kepada Pak Tua.
“Anak baik ... kamu membuatku terharu ....” Pak Tua menyusut sudut-sudut matanya yang sudah basah.
Selama ini ia hanya memiliki Pramudya. Meski ada Tari dan Tommy, tapi kedua orang itu tetap terasa seperti orang asing baginya. Sekarang bertambah lagi satu anggota keluarga yang begitu perhatian. Ia merasa Pramudya sangat beruntung bisa memiliki istri seperti ini.
“Kakek, jangan menangis ... aku ikut sedih ....” Freya mengusap-usap punggung tangan Pak Tua dan membujuknya.
Pak Tua mengangkat tangannya dan memanggil Pramudya, “Bocah nakal, kemarilah.”
Ada sesuatu yang ingin ia sampaikan kepada cucunya itu.
__ADS_1
***
Kira-kira Kakek mau ngomong apa, ya? 🤔