
Freya membantu Pramudya mengiris daun bawang untuk taburan bubur ayam. Kali itu, dengan kerja sama keduanya, tidak ada lagi bubur atau panci yang gosong. Aroma kaldu yang pekat dari dalam panci memenuhi udara, menyebar ke mana-mana.
Di sebelah Freya, Pramudya sedang membuat secangkir kopi dan segelas susu hangat. Sesekali keduanya saling melirik, lalu melemparkan senyuman seperti sepasang kekasih yang sedang jatuh cinta, seolah dunia hanya milik berdua.
Mendadak Freya melupakan niat semula untuk pergi ke kampus lebih awal.
Sudahlah, mata kuliah pertama baru akan dimulai pada pukul 08.30. Ia bisa datang lima menit sebelum kelas dimulai. Masih ada jam istirahat yang bisa digunakan untuk menanyakan catatan.
Freya memindahkan irisan daun bawang ke dalam mangkuk. Bawang goreng untuk taburan sudah disiapkan oleh suaminya tadi.
Freya membuka tutup panci dan memeriksa isinya. Bubur yang kental meletup-letup bersama potongan daging ayam. Ia memang lebih menyukai daging ayam yang direbus langsung bersama beras daripada daging ayamnya digoreng terpisah lalu disuir-suir.
“Sudah matang,” ucapnya. Ia mematikan kompor dan mengambil piring, tapi Pramudya mencegahnya.
“Aku saja,” ucap Pramudya. Ia tidak ingin tangan istrinya yang mungil terpercik bubur panas.
Freya menyingkir dengan hati berbunga-bunga. Lihatlah suaminya ini, beberapa hari lalu masih kaku seperti batang pohon, sekarang sangat manis dan memanjakannya. Ia sangat ingin melompat dan memeluk pria itu erat-erat, tapi malu jika ada pelayan yang melihat. Selain itu, masih ada pekerjaan lain yang harus dilakukannya.
Freya baru saja hendak memindahkan mangkuk kecil berisi bawang goreng dan daun bawang ke meja makan ketika tiba-tiba Ruth menerjang masuk dengan wajah panik.
“Tuan, Nyonya! Tuan Besar ... cepatlah!”
Freya hampir menjatuhkan mangkuk di tangannya karena terkejut.
Ada apa dengan Kakek?
“Ada apa, Ruth? Katakan dengan jelas,” ucap Freya.
“Tuan Besar tidak bangun ... Tuan Besar ....” Sebelum menyelesaikan ucapannya, Ruth sudah menangis tersedu-sedu. Tangannya yang gemetaran menunjuk-nunjuk ke arah pintu.
Freya melemparkan mangkuk bawang ke atas meja dan berlari keluar tanpa bertanya dua kali. Jantungnya berdentam-dentam tak karuan.
__ADS_1
Apa yang terjadi kepada Kakek?
Tuhan, tolong ... jangan ....
“Freya, pelan-pelan!” Pramudya menyusul istrinya yang melesat menaiki anak tangga dengan langkah panjang-panjang. Meski hatinya pun tak karuan, ia tidak ingin istrinya jatuh dan terluka.
Freya menaikkan punggung tangannya dan menggosok matanya dengan keras.
Tuhan, tidak boleh ... kumohon, tidak boleh ....
Langkah kakinya yang secepat angin mendadak berhenti di depan kamar tamu ketika mendengar suara meraung-raung datang dari dalam. Itu suara asisten kakek.
Tubuh Freya gemetar. Ia sudah bisa menebak apa yang terjadi, tapi tidak berani melangkah masuk untuk memastikannya. Ia tidak sanggup melihat apa yang terjadi di dalam sana. Hatinya menolak keras untuk menerimanya.
“Freya, jangan menangis.” Pramudya memeluk erat tubuh istrinya yang sudah hampir tumbang. Ia mendekap Freya dan memapahnya masuk ke kamar. Ia tetap harus memeriksa kondisi Kakek.
Begitu melangkah masuk, keduanya melihat asisten Pak Tua berdiri di sisi ranjang, menggoyang-goyang tubuh majikannya yang masih terbaring dengan mengenakan baju tidur. Air mata membasahi wajah sang asisten. Matanya merah. Suaranya serak karena meneriakkan nama Pak Tua, terus memanggilnya agar bangun meski tidak ada respons dari sang majikan.
“Kakek bangun! Jangan menakutiku, Kakek ... aku mohon ....” Air mata mengaburkan pandangan Freya. Ia mengusapnya berulang kali, tapi air mata yang tumpah semakin deras. Ia tidak sanggup kehilangan orang yang sudah dianggapnya sebagai keluarga. Satu-satunya orang yang memperhatikan dan menyayanginya dengan tulus.
Pramudya berlutut, memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan kakeknya. Jarinya membeku beberapa saat, menanti adanya tanda-tanda kehidupan. Namun, setelah beberapa waktu, ia melepaskan jarinya dengan gerakan yang sangat pelan. Tidak ada lagi denyut nadi yang terasa. Tubuh renta itu pun telah kaku dan dingin.
Ia berpaling dan merengkuh istrinya ke dalam dekapan.
“Kakek sudah tidak ada.” Suara Pramudya bergetar dan tercekat di tenggorokan.
Ia menatap ke atas ranjang. Ada seulas senyum di wajah kakeknya, seolah-olah pria tua itu hanya sedang tidur panjang, bukannya pergi meninggalkan dunia yang kejam ini untuk selamanya.
“Tuan! Kenapa Anda pergi sendiri? Anda tidak menginginkan saya lagi?” Asisten Pak Tua meraung kencang. Ia menggelosor di atas lantai dan menangis keras-keras, disusul suara tangisan Pak Anton dan Ruth yang bersahut-sahutan.
Dalam sekejap para pelayan berkumpul di depan kamar, ikut menangisi kepergian Pak Tua yang begitu tiba-tiba. Pria itu selalu baik hati dan ramah, tidak congkak dan pemarah seperti banyak orang kaya lainnya. Kenapa orang baik selalu pergi lebih cepat?
__ADS_1
Freya menggeleng kuat-kuat. Bagaimana bisa? Semalam mereka masih makan bersama. Semalam Kakek terlihat begitu ceria dan bersemangat. Semalam Kakek masih membela dan menyanjungnya. Ini tidak mungkin!
“Tidak! Kakek hanya sedang tidur! Kakek hanya kelelahan, dia perlu istirahat! Kalian keluarlah! Jangan mengganggunya!” Freya berteriak histeris.
“Freya, tenanglah.” Pramudya meremas lengan Freya dan memapahnya untuk berdiri. Ia tahu bagaimana istrinya sangat menyayangi Kakek. Ia juga tahu bagaimana kakeknya mengasihi istri kecilnya. Ini adalah pukulan yang amat berat untuk mereka berdua.
Freya berbalik dan mengguncang lengan suaminya dengan kuat. “Pram, Kakek pasti kelelahan. Cepat panggil dokter! Cepatlah! Dokter pasti bisa membangunkan Kakek. Mereka pasti memiliki obat-obatan yang bagus. Cepatlah, aku mohon ....”
Pramudya memeluk Freya semakin erat, menahannya agar tidak tumbang meski ia sendiri sudah hampir runtuh. Ia tidak biasa mengeluarkan emosinya. Hal itu membuatnya sesak sampai hampir kehabisan napas. Tapi ia masih harus tetap kuat demi istrinya. Ia harus kuat.
“Freya, Kakek sudah pergi. Kamu harus tabah. Masih ada aku di sini, tenanglah ....” bujuknya seraya mengusap-usap punggung istrinya dengan hati-hati.
Freya memandang ranjang dengan tatapan kosong sambil meracau, “Kakek hanya sedang tidur. Dia bilang ingin menggendong cicit yang lucu dan imut. Dia tidak mungkin pergi tanpa pamit. Tidak. Kakek tidak mungkin berbohong. Kenapa tidak menunggu, Kek. Kenapa?”
Ia tertatih-tatih menghampiri ranjang, berlutut dan menggenggam telapak tangan yang terasa dingin. “Kakek, maafkan aku ... maaf, Kek. Aku bersalah kepadamu. Aku minta maaf karena sudah membohongi Kakek, tapi sekarang sudah tidak lagi. Aku dan Pram benar-benar sudah ... kami benar-benar saling menyayangi ... ugh, Kakek ... bisakah Kakek bangun? Aku minta maaf, Kek ... tolong bangun ....”
Freya terus menangis dan memohon agar pria tua berhati malaikat itu membuka mata dan bangun, tapi pria tua itu tak bergeming. Dia berbaring dengan tenang seperti hanya sedang tertidur panjang.
Tubuh Pramudya gemetar. Matanya memanas. Seolah ada gumpalan kapas besar yang tertahan di tenggorokannya dan membuatnya tidak bisa bernapas.
Untuk pertama kalinya, satu titik air mata bergulir turun dari pipinya. Ia berutang seumur hidup kepada kakeknya, orang yang membesarkannya dengan penuh kasih sayang, orang yang tidak pernah meninggalkannya walau apa pun yang terjadi, selalu memaafkannya sebesar apa pun kesalahan yang dilakukannya, mendukungnya dengan sekuat tenaga dan segenap kemampuan yang dimiliki. Hanya Kakek yang selalu berada di sisinya.
Sekarang Kakek sudah tiada, dan ia berutang kata maaf ... berutang maaf karena telah membohongi pria tua itu tentang pernikahannya, berutang maaf karena belum sempat memenuhi keinginan sang kakek untuk memiliki cicit.
Dua bulir air mata berkejaran menuruni pipi Pramudya.
Kelak, tidak akan ada lagi pria tua bersemangat yang menggedong dan bermain dengan anak-anaknya. Gambaran itu hanya akan tersimpan di dalam angan selamanya.
**
Otor kabur dulu sebelum ditimpuk 🏃♂️🏃♂️🏃♂️
__ADS_1