Istri Kesayangan Tuan Pram

Istri Kesayangan Tuan Pram
Haruskah Mencoba?


__ADS_3

Freya terdiam cukup lama dan mencerna apa yang baru saja Yoga katakan. Memintanya mundur dari kontrak pernikahan dan akan membayar ganti rugi ....


Apa dia pikir semuanya akan selesai semudah itu?


Apa dia pikir dengan semua kekayaan yang dimilikinya sekarang, dia bisa membeliku dengan uang?


“Yoga, aku tidak tahu apa maksudmu berkata seperti itu, aku akan menganggap kamu tidak pernah mengucapkannya. Ingat ini baik-baik, apa pun yang terjadi dengan kehidupanku sekarang, kamu tidak berhak untuk mencampurinya.”


“Freya, kamu tidak mengerti. Pramudya dikelilingi oleh orang-orang yang berbahaya. Mereka bisa saja mengincarmu untuk menjatuhkannya. Penculikan kemarin hanya satu di antara ancaman yang ada. Esok atau lusa, siapa yang tahu apa lagi yang akan dilakukan oleh orang-orang itu.” Yoga mencoba menjelaskan.


Jika sebelumnya ia memutuskan untuk menunggu sampai Freya menyelesaikan kontrak pernikahannya, tapi setelah bertemu Tommy Antasena, ia berubah pikiran.


Ia tahu posisi sebagai istri Pramudya sangat berbahaya bagi Freya. Entah berapa banyak orang yang akan menggunakan Freya untuk mengancam Pramudya. Tari Antasena adalah salah satunya. Ia baru mendapatkan informasi dari orang-orang bayarannya bahwa dalang di balik penculikan Freya beberapa waktu lalu adalah Tari.


Entah trik licik apa lagi yang akan digunakan oleh wanita tua itu, terutama setelah berkolaborasi dengan Carissa yang tak kalah berbisa. Ia takut Freya akan ditindas oleh kedua orang itu dan tidak bisa melawan.


“Sudah aku katakan, Yoga. Apa pun yang terjadi, kamu tidak memiliki hak pun untuk berkomentar. Hidup dan matiku tidak ada urusannya denganmu. Sekarang pulanglah. Mungkin sebentar lagi orang suruhan suamiku akan datang untuk menjemput. Aku tidak ingin dia salah paham kalau melihatmu ada di sini.” Sikap Freya yang tadinya sedikit melunak kini kembali menjadi emosi karena ucapan Yoga.


Ia tidak suka urusan pribadinya diatur oleh orang lain, termasuk Yoga sekali pun. Terutama karena Pak Pram dijelek-jelekkan seperti itu. Ia tidak terima. Meskipun ia ditawan dan diancam, satu-satunya orang yang ia harapkan datang untuk menyelamatkannya adalah suaminya itu.


Yoga terdiam. Ia tidak menyangka niat baiknya akan direspons seperti ini oleh Freya. Ia pikir Freya akan setuju dan berterima kasih kepadanya, lalu memutuskan ikatan pernikahannya dengan Pramudya dengan segera.


“Pergilah,” ucap Freya sekali lagi.

__ADS_1


Yoga bangun dari kursinya dengan gerakan yang sangat lambat. Ia tahu memaksa hanya akan membuat Freya semakin kesal. Untuk saat ini yang bisa dilakukannya hanyalah mundur. Lain kali, ia akan menjelaskannya lagi kepada Freya ketika suasana hatinya telah lebih baik.


“Baiklah, aku akan pergi sekarang. Maaf kalau sudah membuatmu kesal. Aku hanya tidak ingin melihat kamu terluka.” Yoga mengangkat bungkusan plastik yang tadi di bawanya dan meletakkannya di atas meja.


“Itu martabak cokelat keju kesukaanmu. Kalau kamu tidak ingin makan, buang saja ... atau berikan kepada orang lain,” imbuhnya.


Setelah itu, Yoga berbalik dan pergi tanpa menunggu balasan dari Freya. Ia tidak sanggup melihat penolakan dari gadis itu.


Freya-nya yang dulu tidak pernah seperti itu.


Freya-nya yang dulu ... tidak pernah marah kepadanya karena pria lain.


Freya-nya yang dulu ... ah, ia sangat merindukan gadis manis tiga tahun lalu, gadis manis yang selalu mengikutinya ke mana pun dan membelanya tanpa peduli siapa yang lebih dulu membuat masalah. Ia selalu benar di mata Freya. Tapi kali ini, sepertinya posisinya telah digantikan oleh orang lain. Rasanya seperti mendapat pukulan di ulu hati, panas dan sesak. Ia kesulitan untuk bernapas.


Dari bawah, Doni menatap rivalnya yang berjalan menuruni tangga dengan sedikit sempoyongan. Apakah pria itu juga ditolak? Apakah ia harus merasa senang karena bukan dirinya seorang yang patah hati, atau merasa sedih karena pria itu juga gagal mendapatkan hati Freya.


Di kantor, Freya menatap kepergian Yoga dengan emosi yang kompleks. Ia merasa rumit di dalam hati. Tadinya ia pikir ia masih cukup menyukai Yoga. Ia pikir ia masih peduli kepada pria itu seperti di masa lalu. Tapi pada kenyataannya, ia tidak bisa terima ketika Yoga memintanya untuk meninggalkan Pak Pram.


Benarkah hanya karena ia tidak rela suaminya direndahkan? Atau karena ia memiliki perasaan khusus untuk pria itu?


Freya duduk di kursi dan memijit kepalanya yang mendadak pening. Benar-benar gawat kalau akting yang ia lakukan ternyata memengaruhi perasaannya terhadap Pak Pram.


Yah, sejak awal ia sudah mengakui bahwa tidak sulit untuk jatuh cinta kepada Pak Pram. Jangan bahas mengenai kekayaannya yang tidak akan habis tujuh turunan delapan tanjakan sepuluh belokan. Wajahnya yang tampan dan otot perutnya yang kencang sudah mampu membuat Freya meneteskan air liur.

__ADS_1


Jika tidak ingat harga diri dan gengsinya, ia pasti sudah melemparkan diri dengan sukarela ke dalam pelukan Pak Pram. Syukurlah otak dan akal sehatnya masih bisa diandalkan sehingga tidak melakukan hal memalukan seperti itu.


Oh, ya, terima kasih juga karena sikap Pak Pram yang menjengkelkan sehingga ia tidak menjadi buta dan tergila-gila kepadanya dengan mudah. Rasanya sangat mengerikan jika ada pria tampan yang kaya, baik hati, ramah, penyayang, penyabar, lemah lembut, dan super perhatian.


Itu sangat tidak masuk akal. Manusia yang terlalu sempurna seperti itu hanya ada dalam penggambaran tokoh utama pria kisah novel romantis. Atau seorang psikopat gila yang mencoba menjebak seorang gadis polos, lalu mengambil keuntungan darinya. Atau juga jelmaan vampir yang ingin mengisap darah korbannya sampai habis.


Freya menepuk kepalanya untuk menyingkirkan pemikirannya yang semakin melantur.


Intinya, ia bersyukur sifat Pak Pram tidak sesuai dengan seleranya sehingga ia tidak gelap mata dan melakukan hal-hal yang tidak-tidak.


Mengenai Yoga ....


Freya mengangkat tangannya dan menekan dadanya.


Ia diam dan merasakan.


Debaran itu sudah nyaris hilang.


Sama seperti api yang hampir padam, cahayanya tak lagi bersinar seterang dulu.


Haruskah ia memberi kesempatan agar nyala itu kembali terang?


Atau haruskah ia menyalakan lentera yang baru untuk menerangi hatinya yang kelam?

__ADS_1


Tapi lentera baru ini sangat berbahaya. Freya takut ia akan terbakar dan hancur di dalamnya.


Haruskah ia mencoba?


__ADS_2