
“Aku tahu pernikahan itu palsu, Freya,” pungkas Yoga.
Kali itu ia membalas tatapan Freya dengan berani. Ia sudah menebak Freya akan mengatakan hal itu. Untung saja ia sudah bersiap sebelum maju berperang.
“Kamu?! Bagaimana kamu bisa tahu?” Freya terkejut dan panik.
Dari mana Yoga mengetahui informasi itu? Di kantor, hanya Pak Pram, Pak Bayu, dan Pak Brata yang mengetahui infomasi ini. Siapa yang membocorkannya?
“Tenanglah. Aku tidak akan mengatakannya kepada siapa pun. Aku menghargai keputusanmu. Aku tahu aku tidak layak untuk ikut campur, tapi aku akan menunggumu, Freya,” ucap Yoga dengan sungguh-sungguh.
Dalam waktu dua hari, semua informasi tentang Freya dan Pramudya Antasena telah dikantonginya. Dirinya yang sekarang bukanlah pemuda tidak berguna seperti tiga tahun lalu.
Dalam rentang waktu itu, kakeknya telah mendidik dan menggemblengnya dengan sangat baik. Kini seluruh aset Pratama Group telah menjadi miliknya. Ia bersumpah akan menebus kesalahannya kepada Freya. Menunggu satu atau dua tahun lagi pun tidak masalah. Ia sudah menanti selama tiga tahun tanpa menyerah, ditambah beberapa bulan atau tahun lagi tidak akan berarti apa-apa.
Freya terdiam cukup lama. Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Yang satu adalah pria yang berstatus sebagai suaminya, meski pernikahan itu palsu, ia tetap harus membela kehormatan suaminya. Sedangkan pria yang satu lagi ... yang berada di hadapannya saat ini adalah pria pernah mendiami hatinya.
Melihat Freya yang sangat terkejut dan tidak melanjutkan makan membuat Yoga merasa bersalah. Ia tidak bermaksud mendesak atau memaksakan kehendaknya. Ia takut Freya akan salah paham.
Pundak Yoga luruh dan ia berkata dengan hati-hati, "Aku tidak akan memaksamu. Tidak perlu cemas. Makanlah ....”
Freya menatap sayuran yang telah layu di dalam mangkok dan sisa setengah potongan bakso urat yang mengambang dalam kuah berwarna merah. Entah mengapa selera makannya menghilang begitu saja. Bakso itu tidak terlihat lezat lagi. Ia mendorong mangkok itu menjauh dan bangun dari tempat duduknya.
“Waktumu sudah habis. Antar aku kembali.”
“Freya, tunggu sebentar!” Yoga mengulurkan tangan dan menahan lengan Freya.
Ia terlihat sedikit gugup ketika bertanya, “Apakah pria itu memperlakukanmu dengan baik?"
Yoga mengawasi perubahan di wajah Freya dengan teliti, berharap bisa menemukan sedikit keanehan atau rasa keberatan dari eksresinya.
"Tidak terlalu buruk," jawab Freya sambil berusaha melepaskan cekalan tangan Yoga di lengannya. Karena Yoga sudah mengetahui semunya, maka katakan saja.
__ADS_1
"Kami hanya perlu berakting di depan kakeknya selama enam bulan," imbuhnya dengan jujur.
“Apakah masih ada kesempatan untukku?” tanya Yoga dengan hati-hati.
Jika Freya mengatakan “ya”, maka tidak peduli apa pun yang terjadi, ia pasti akan menikahi gadis itu ... cepat atau lambat ... kali ini bahkan kakeknya pun tidak bisa menghentikannya.
“Antarkan aku pulang,” desak Freya tanpa menghiraukan pertanyaan itu. Untuk saat ini, ia tidak mau memusingkan diri dengan jawaban dari pertanyaan itu. Ia membutuhkan waktu untuk berpikir dan menenangkan diri.
Untung saja Yoga juga tidak memaksa lagi. Masalah ini harus dibicarakan perlahan-lahan. Ia tidak mau membuat Freya kesal dan semakin menjauhinya.
“Tunggu di sini, aku bayar dulu.” Yoga bangun dan menghampiri Mang Deden yang sedang sibuk melayani pelanggan lain.
“Aku akan menunggu di dekat mobil,” kata Freya.
Ia turun dari pinggir trotoar sambil membuka tasnya. Ia berniat mengirim pesan kepada Pak Bayu untuk memberi kabar bahwa ia keluar sebentar.
Siang itu jalanan sangat ramai. Karena lokasinya yang berada di bahu jalan, tadi Yoga memarkir mobilnya agak jauh dari tempat mangkal Mang Deden.
Pintu mobil itu tiba-tiba terbuka, lalu tubuh Freya ditarik masuk sebelum ia sempat menyadari apa yang sedang terjadi.
Freya tidak sempat berteriak, mulutnya telah ditutup dan disumpal potongan kain. Sebuah tangan yang besar dan kokoh menguncinya dengan sangat keras.
Freya menggeram marah dan bergulat hendak melepaskan diri, tapi cekalan di tangannya semakin keras.
"Diam!" bentak salah seorang pria yang ada di dalam mobil.
Pria itu mengambil penutup wajah dan memakaikannya kepada Freya. Dalam sekejap penglihatan Freya menjadi gelap.
Mobil itu telah melaju dan menjauh sebelum orang-orang di sekitar tempat itu bereaksi. Ketika tersadar, mereka berteriak dan menunjuk-nunjuk ke arah mobil yang hanya meninggalkan kepulan debu. Tidak ada yang bisa mengingat dengan jelas berapa plat nomor mobil itu. Juga tidak ada yang berani menghubungi polisi karena takut justru akan dijadikan sebagai tersangka.
Yoga yang telah selesai membayar segera turun dari trotoar dan menyusul ke mobilnya, tetapi ia tidak melihat Freya di sana. Ia mengambil ponsel dan menghubungi Freya, tapi panggilannya tidak diangkat. Pesannya juga hanya dua ceklist abu-abu.
__ADS_1
“Brengsek!” Yoga mengumpat dan meninju udara karena kesal.
Apakah dia pergi tanpa memberitahuku? Tidak ... Freya tidak mungkin begitu.
Ia berbalik dan hendak memeriksa di ujung gang yang biasa dilaluinya dengan Freya ketika kabur dari sekolah dulu. Akan tetapi, sekelompok pria bertubuh kekar tiba-tiba keluar dari Rover dan mengadang di depannya.
“Kalian? Bagaimana kalian bisa sampai di sini?” Yoga benar-benar terkejut. Ia mengira telah berhasil mengecoh orang-orang itu.
Sekelompok pria itu tidak menjawab. Mereka berjalan menghampiri Yoga secara serentak. Sikap itu terlihat bagaikan sekelompok hyena yang sedang mengincar mangsa, mengukur kelemahan lawannya dengan sangat hati-hati.
“Anda sungguh berpikir dapat menandingi kemampuan dan kekuatan Tuan Pramudya?” Salah seorang dari pria itu menyeringai, lalu tanpa aba-aba melayangkan tinju ke wajah Yoga dengan sekuat tenaga.
Bugh!
Yoga yang tidak siap menerima pukulan itu meringis kesakitan dan memegang rahangnya. Rasa asin bercampur dengan aroma besi yang khas menyeruak ke dalam indera penciumannya. Ia menjilat sudut bibirnya, lalu meludahkan cairan berwarna merah yang mengalir dari sela bibirnya.
Satu tendangan melayang lagi ke arah perut Yoga, tapi ia lebih dulu menghindar sehingga tendangan itu hanya mengenai udara kosong.
“Anda sudah diingatkan, jauhi Nyonya kami!” Salah seorang dari pria itu berteriak kencang, lalu kembali menyerang ke arah Yoga dengan ganas.
Sekali lagi Yoga bisa menghindari serangan itu dengan mudah. Sebenarnya, mengalahkan orang-orang itu bukanlah hal yang sulit, tapi saat ini yang paling penting adalah menemukan Freya. Selain itu, ia tidak mau menjadi tontonan orang-orang di sekitar mereka yang mulai mengeluarkan ponsel dan merekam.
Oleh sebab itulah ia menggertakkan gigi dan menahan rasa sakit di rahangnya, kemudian berkata, “Nyonya kalian tidak ada. Cepat bantu aku mencarinya.”
“Apa?!” Sekelompok pria itu berseru serempak.
Pria yang tadi lebih dulu meninju Yoga segera mengeluarkan ponsel dan menghubungi atasannya.
“Tuan, Nyonya hilang.”
***
__ADS_1