Istri Kesayangan Tuan Pram

Istri Kesayangan Tuan Pram
Lebih Suka Dipanggil Sayang


__ADS_3

Pramudya tersenyum lebar seperti orang bodoh, lalu meraih Freya ke dalam dekapannya dan memeluknya dengan hati-hati.


Tadinya ia sempat khawatir gadis pemarah ini akan menghajarnya sampai babak belur, atau paling tidak menamparnya dua kali.


Sungguh tidak diduga, istrinya justru membalas ciumannya dengan cukup antusias.


Ia berasumsi itu karena istrinya juga memiliki rasa suka untuk dirinya. Tidak heran semalam gadis konyol ini bergelung dalam pelukannya, mendengkur dan mengigau seperti seekor anak kucing yang malas, dan ia sangat menyukai tingkah istrinya yang seperti itu.


Ia menyukai rasa bibirnya.


Ia menyukai sikap malu-malunya setelah berciuman.


Ia menyukai sisi penurutnya yang tidak menolak ketika dipeluk.


Ia menyukai semua tentang istri kecilnya ini.


“Pram ...?”


“Hm?”


“Aku tidak bisa bernapas.”


Pramudya menjauhkan diri dan melonggarkan pelukannya. Ujung hidung istrinya yang memerah dan keningnya yang berkeringat membuatnya mengulum senyum. Sepertinya ia memang sudah memeluk terlalu erat.


Ia menghela napas dan mencium kening Freya dengan lembut.


Perasaan nyaman seperti ini ... ia ingin merasakannya sedikit lebih lama, tapi ia juga tahu istrinya ini pasti merasa sangat malu. Apalagi tadi Bayu dan Lisa sempat memergoki mereka.


“Ayo, sarapan, Sayang,” ucapnya seraya merapikan anak rambut Freya dan bajunya yang sedikit kusut.


Lidahnya sedikit kaku ketika mengucapkan panggilan itu, tapi juga terasa menyenangkan karena kali itu ia mengatakannya dengan sungguh-sungguh dari dasar hatinya, bukan seperti ketika harus berpura-pura di depan Kakek.


Dengan panggilan itu, rasanya secara resmi Freya telah menjadi kekasihnya, hanya miliknya seorang.


Freya hampir menggigit lidahnya ketika mendengar panggilan “sayang” itu.


Setelah menyatakan cinta, memaksanya untuk menjadi pacar, lalu memanggilnya dengan sebutan sayang.


Yah, meskipun ia sendiri sudah berulang kali memanggil pria itu dengan sebutan “sayang”, tapi itu hanya untuk pura-pura. Bukan ketika mereka hanya berduaan seperti sekarang.


Selain itu, tatapan Pak Pram terlihat sangat lembut ketika mengucapkan kalimat barusan.


Apakah jiwa Pak Pram tertukar dengan orang lain?


Freya merasa bimbang. Atau jangan-jangan ini hanya bagian dari halusinasinya karena pengaruh minuman beralkohol semalam.


Melihat wajah bodoh istrinya, Pramudya tidak bisa menahan diri dan tertawa lagi. Ia tidak pernah sebahagia ini hanya karena melihat ekspresi kebingungan di wajah seorang perempuan.

__ADS_1


“Kamu tidak suka dengan panggilan itu? Aku bisa menggantikan dengan yang lain. Katakan, kamu lebih suka yang mana; Baby, Sayang, Honey, Sweetie, atau Istriku?” tanyanya sambil memberikan tatapan menggoda.


Freya benar-benar sudah tidak tahan lagi. Kalau tidak ada tembok di belakangnya dan Pak Pram di depannya, ia pasti sudah jatuh.


Apa-apaan ....


“Pram, kamu menakutiku. Sebenarnya ada apa denganmu?” tanya Freya setelah berhasil menstabilkan jiwanya yang cukup terguncang.


“Apakah semua ini masih kurang jelas untukmu?” Pramudya balik bertanya.


“Ya. Kamu tidak hanya sedang bercanda atau bersekongkol dengan Lisa dan Pak Bayu untuk mengerjaiku, ‘kan?” Freya merasa sangat sulit untuk menerima semua perubahan yang tiba-tiba ini.


Pramudya menaikkan alisnya dan menatap lurus ke dalam mata Freya. Setelah begitu banyak kalimat yang ia ucapkan dan ciuman yang memabukkan, gadis konyol ini masih mengira ia hanya bersandiwara?


Pram mengulurkan tangan dan menahan pinggang Freya, mengangkatnya tiba-tiba dan menggendongnya menuju sofa sehingga istrinya itu memekik karena terkejut.


“Apa yang kamu lakukan? Turunkan aku!” teriak Freya.


Pramudya mendudukkan Freya di sofa, lalu berlutut di depannya.


Freya langsung bungkam ketika melihat ekspresi serius di wajah Pramudya.


“Dengarkan aku baik-baik. Aku, Pramudya Antasena, menyukai istriku yang keras kepala, pemarah, dan impulsif ini. Perasaan ini tidak datang tiba-tiba. Aku sudah menahannya cukup lama. Mungkin ketika mengetahui bahwa kamu adalah penyelamatku. Mungkin ketika kamu terlihat sangat cantik ketika menjadi pengantinku.”


Pramudya mengulurkan tangannya dan mengusap pipi Freya dengan penuh rasa sayang, kemudian mengimbuhkan, “Atau mungkin karena sifat dan sikapmu yang apa adanya, memperhatikan dan menyayangi Kakek dengan tulus, tidak semena-mena terhadap para pelayan, tapi juga tidak mudah ditindas. Freya, apakah kamu tahu kalau kamu luar biasa? Aku menyukai semua yang ada pada dirimu.”


Freya hanya terdiam mendengar semua pengakuan itu. Jadi perasaan di dalam hatinya ini tidak bertepuk sebelah tangan? Bukan hanya dirinya sendiri yang tertarik dan menyukai Pak Pram, tapi pria ini juga menyukainya?


Ia sudah yakin kalau tidak sedang berhalusinasi atau sedang dikerjai.


Pria di depannya ini ... pria yang jauh bagai bintang di langit, kini berlutut di hadapannya dan menyatakan perasaannya dengan lantang.


Freya tidak tahu apakah harus menertawai diri sendiri atau menangis karena terharu.


Rasanya seperti mimpi menjadi nyata.


Ia merasa sangat senang sekaligus takut. Menjadi wanita yang disukai oleh Pramudya Antasena jelas tidak mudah. Ada beban sangat berat yang harus dipikul olehnya.


Tapi untuk saat ini, izinkan ia egois sedikit saja ... ia juga menyukai pria tampan ini ....


Freya mengulurkan tangannya dan menangkup wajah Pramudya. Seulas senyum lebar terukir di wajahnya.


“Aku lebih suka dipanggil sayang,” ucapnya.


Senyuman itu menular dengan cepat. Sudut-sudut bibir Pramudya tertarik ke atas, sangat tinggi hingga terlihat seperti sebuah seringaian yang bodoh.


Kata Bayu, menyukai seseorang bisa membuatmu jadi bodoh dan merasa bahagia hanya karena hal-hal sepele. Apakah yang sedang dirasakannya saat ini termasuk di dalamnya?

__ADS_1


Kalau menyukai seseorang membuatnya menjadi bodoh, ia akan menjadi bodoh dengan sukarela.


Apalagi istri kecilnya ini begitu imut dan menggemaskan. Rasanya ia ingin memasukkannya ke dalam saku dan membawanya ke mana-mana, tidak ingin jauh-jauh darinya.


Melihat wajah bahagia Pramudya, muncul niat Freya untuk menggoda pria itu.


“Jadi sekarang aku ini istrimu atau pacarmu?” tanyanya sambil berpura-pura memasang wajah bingung.


Pramudya yang hendak berdiri mendadak menghentikan gerakannya.


Pertanyaan ini ....


Jadi sekarang gadis ini istrinya atau kekasihnya?


Status hubungan mereka mendadak menjadi rumit.


Ketika kening Pramudya semakin berkerut dalam, Freya tidak bisa menahan diri lebih lama lagi. Tawanya menyembur dengan keras.


“Aku hanya bercanda. Kenapa kamu begitu serius?” ucapnya di sela tawa.


Pramudya mengangkat alisnya dan memberi tatapan penuh peringatan. Ia tidak keberatan jika harus memberi hukuman dengan sebuah ciuman yang penuh gairah satu kali lagi.


Freya segera menyadari tatapan penuh bahaya itu dan menutup mulutnya. Bibirnya masih sakit dan lidahnya kram. Ia tidak mau terbelit lagi di bawah pengaruh memabukkan suaminya.


“Tidak berani menggodamu lagi,” ucapnya seraya menggeleng dengan cepat.


Pramudya menyeringai puas. Istri kecilnya sangat memahami isi kepalanya dengan sangat baik.


Ia berdiri, mengusap puncak kepala Freya seraya berkata, “Baiklah, Sayang. Sekarang sudah bisakah kita pergi sarapan? Kita harus sudah berada di bandara sebelum jam satu.”


Mengingat ia masih harus menghadapi Lisa dan Pak Bayu membuat tubuh Freya menyusut di atas sofa. Seluruh perasaan berbunga-bunga dan antusiasme di hatinya menguap entah ke mana.


Bisa tidak ia berpura-pura sakit dan pingsan saja?


Pramudya tertawa melihat tingkah konyol istrinya itu. Ia tahu dengan jelas apa yang membuat istrinya bertingkah begitu.


“Tenanglah. Ada aku. Mereka tidak akan berani menggodamu,” janjinya.


Freya memutar bola matanya. Suaminya yang sangat percaya diri ini lupa kalau ada kalanya ia hanya akan berduaan dengan Lisa.


Mana mungkin gadis tengil itu akan membiarkannya begitu saja?


Lisa pasti akan menggodanya habis-habisan.


Tapi mau bagaimana lagi, semua masalah tetap harus dihadapi, bukan?


***

__ADS_1


yuhu, like dan komen kalau suka.


thank you 💙


__ADS_2