Istri Kesayangan Tuan Pram

Istri Kesayangan Tuan Pram
Jauhi Aku


__ADS_3

Ketika tiba di bawah, pemandangan yang dihadapinya membuat Freya tidak tahu harus berkata apa.


Di depan sana, Lisa sedang duduk dengan sangat manis dan meminum stroberi milkshake dengan gerakan yang sangat anggun. Dan wajah Lisa ... astaga, ekspresi macam apa itu? Sejak kapan temannya bisa memasang wajah imut seperti itu?


Freya tidak tahu harus merasa kagum atau jijik melihat bulu mata Lisa yang bergetar setiap kali melihat Doni melintas di depannya untuk mengantarkan pesanan.


Ia menghampiri temannya yang unik itu dan menyindirnya, “Air liurmu sudah hampir menetes.”


“Apa?” Lisa terkejut, buru-buru mengambil tisu dan menyeka sudut bibirnya dengan panik, lalu cemberut ketika tidak ada apa-apa di sana.


Freya menutup mulutnya dengan tangan dan tertawa puas. Lisa menggulung tisu dan melemparnya, tapi ia berkelit dengan mudah dan menjulurkan lidah ke arah temannya itu.


“Rasakan! Siapa suruh berpura-pura imut seperti itu untuk menggoda pria!” ejek Freya seraya duduk di samping Lisa.


“Tidak bisa melihat temanmu senang, ya?” Lisa memelototi Freya dengan kesal. Merusak suasana saja!


“Sepertinya karena pria tampan kamu sampai melupakan tugasmu adalah menemaniku ke mana saja, bukan untuk tebar pesona.”


Lisa sudah ingin membantah, tapi mengetahui kebenaran dari ucapan Freya membuatnya bungkam. Itu memang benar, tapi ... tidak bisakah ia sedikit bersenang-senang?


Freya kembali tertawa ketika melihat tampang Lisa yang kusut. Ia mencubit pipi temannya itu dengan cukup keras sampai Lisa meringis kesakitan.


“Aku hanya bercanda! Lakukan saja apa yang kamu mau, jangan pedulikan aku,” ucapnya.


Lisa menepis tangan Freya dan mengusap kedua pipinya yang memerah. Aish ... sakit sekali!


“Dasar jahat ....” Lisa mengeluh dengan wajah sangat sedih.


Akan tetapi, ketika melihat Doni yang berjalan mendekat ke meja mereka sambil membawa nampan, seluruh keluhan di wajahnya menghilang begitu saja, dalam sekejap digantikan seulas senyuman lembut yang tampak sangat natural dan manis.


Freya tidak bisa menahan diri dan terbatuk. Gadis nakal di sebelahnya ini, ia tidak mengenalnya. Jangan katakan kalau mereka berteman!


“Nyonya, silakan minumannya.” Doni meletakkan segelas caramel macchiato dan waflle di atas meja dengan gerakan yang sangat terampil. Gerakan itu sangat cepat dan terlatih sampai-sampai tidak ada yang menyadari bahwa jari-jarinya sedikit gemetar.


Freya menatap rekan kerjanya itu dengan heran.


Nyonya?


Apa-apaan itu?


Ia mengulurkan tangan, hendak menyentuh lengan Doni, tapi pria itu menghindar dengan cepat sebelum kulit mereka sempat bersentuhan.

__ADS_1


“Mohon Nyonya bermurah hati, saya masih menginginkan pekerjaan ini.” Doni membungkuk dengan sopan sebelum berbalik dan pergi dari hadapan Freya dan Lisa.


“Doni!” Freya bangkit berdiri dan mengejar pria itu. Ia memanggil dengan suara yang cukup keras sehingga pengunjung lain menoleh ke arahnya, tetapi orang yang ia panggil masih terus berjalan menjauh.


Ada apa dengannya? Apa dia tidak senang karena aku menjadi pemilik kafe ini?


Freya mengejar Doni sampai ke dapur, menarik tangannya dengan keras sehingga tubuh pria itu berputar.


Mereka akhirnya berdiri berhadapan. Dari jarak sedekat itu, Freya harus mendongak agar dapat berbicara sambil menatap mata Doni.


“Ada apa denganmu? Kenapa kamu jadi aneh begini?” tanyanya tidak mengerti.


Doni melirik tangannya yang dipegangi oleh Freya dan mengernyit. Rasa manis dan pahit bercampur dalam hatinya. Ia tidak bisa menentukan rasa mana yang lebih dominan.


Freya menyadari arah tatapan itu dan melepaskan cekalannya perlahan. Sikap Doni sangat aneh. Dia tidak pernah bersikap asing dan menjaga jarak seperti ini dengannya.


“Doni, apa kamu marah karena—“


“Aku tidak marah. Aku hanya tahu bahwa aku tidak layak. Freya, kalau kamu masih menganggapku sebagai teman, tolong jangan berbicara denganku lagi.”


Doni berbalik dan pergi, tapi Freya mengejarnya dan menangkap tangannya lagi.


“Kamu sudah menikah! Untuk apa terus datang menggangguku?”


Suara Doni yang bernada tinggi membuat Freya tanpa sadar mundur dua langkah. Selama mereka bekerja bersama, Doni selalu sabar dan berkata-kata dengan lembut kepadanya. Bahkan ketika ia salah membuat pesanan, atau memecahkan piring dan gelas, atau datang sangat terlambat ... pria ini tidak pernah memarahinya. Tapi kali ini ....


Freya menelan ludah yang terasa getir. Apa yang sedang terjadi?


Seolah menyadari kesalahan yang baru saja diperbuatnya, Doni mengepalkan kedua tanganya erat-erat dan mendongak, menghela napas dalam-dalam sebelum kembali menatap Freya dan berkata, “Aku memang menyukaimu dulu. Salahku karena terlalu takut untuk menyatakannya. Tapi sekarang, membayangkannya pun aku tidak berani. Aku tidak sanggup bersaing dengan suamimu. Jadi tolong, seperti ini saja ... kamu adalah atasan dan aku adalah karyawan.”


Setelah mengatakan kalimat itu, Doni akhirnya benar-benar pergi, meninggalkan Freya yang masih berdiri di tempat semula, mencerna setiap kata demi kata yang baru saja dilontarkan oleh pemuda itu.


Jadi selama ini Doni menyukainya?


Lalu, karena pernikahannya dengan Pramudya, pemuda itu memilih untuk menghindari dirinya?


Karena ia sudah menikah?


Tapi pernikahan ini palsu!


Kenapa ia harus kehilangan teman-teman dan kebebasannya hanya karena status palsu ini?

__ADS_1


Kenapa ia harus diatur dan dibatasi hanya karena menjadi Nyonya Antasena?


Freya mempertanyakan kebenaran dari keputusannya untuk menjadi Nyonya Antasena selama 6 bulan. Semua uang dan fasilitas yang ia dapatkan. Previllege untuk berkuliah di kampus terkenal dengan jalur “orang dalam” ... jika ditukar dengan semua ini, apakah sepadan?


Ia berjalan kembali ke depan dengan linglung, duduk di tempat semula dengan kening yang masih berkerut dalam.


“Freya, ada apa?” tanya Lisa, cemas melihat kondisi Freya yang aneh setelah mengejar pelayan tampan tadi. Ia merasa kali ini tidak perlu melaporkannya kepada Pak Bos. Kondisi Freya terlihat sedikit mengkhawatirkan.


“Apa dia menyakitimu?” desaknya.


Freya akhirnya mengerjapkan mata dan berpaling melihat Lisa.


“Pak Pram mengancam dia agar menjauhiku.”


“Apa?” Lisa berseru tak percaya. “Kamu tidak sedang salah paham, kan? Aku yakin Pak Pram bukan orang seperti itu.”


“He-he ....” Freya mencibir dan tertawa. Buktinya Doni melarikan diri seperti itu ketika melihat dirinya. Apanya yang bukan orang seperti itu?


Freya mengetatkan kepalan tangannya. Rasanya sangat gatal dan ingin menghajar seseorang sampai babak belur!


Merasakan aura membunuh yang memancar dari tubuh Freya, Lisa menjadi panik. Ia berusaha menenangkannya dengan hati-hati.


“Freya, semuanya bisa dibicarakan baik-baik ... kamu jangan marah, oke? Tanyakan dulu dengan jelas,” bujuknya.


“Hm.” Freya hanya mengangguk asal. Masalah bisa dibicarakan baik-baik atau tidak, lihat saja nanti.


Sial. Untung saja ia mengikuti kata hatinya untuk mengisi surat perjanjian pra nikah itu.


Apa ada yang kurang jelas dari kalimat “tidak boleh mencampuri urusan pribadi masing-masing” dan “tidak boleh melarang jika saya ingin menyukai pria lain”?


Dasar preman!


Arogan!


Berdarah dingin!


Lihat saja nanti!


Huh!


***

__ADS_1


__ADS_2