
Pada suatu malam di akhir bulan Oktober, Freya baru pulang dari kafe setelah pukul sepuluh malam. Gerimis turun sejak pagi dan tak kunjung berhenti. Ujung sepatunya basah karena air yang tergenang di pinggir jalan dan puncak kepalanya dipenuhi tetesan air halus yang terlihat seperti kepingan salju.
Freya membuka tas dan mencari anak kunci, membuka pintu dan masuk dengan cepat. Ia kedinginan.
Ia menggosok-gosok kedua tangannya yang serasa membeku sambil menyalakan kompor, hendak merebus air untuk membuat segelas teh jahe untuk menghangatkan tubuhnya.
Sambil menunggu air mendidih, ia pergi ke kamar dan mengganti pakaian dengan cepat, mengeringkan rambut dengan handuk, lalu kembali ke dapur.
Freya baru saja mematikan kompor dan menuang air ke dalam gelas ketika suara bel mengejutkannya.
Siapa yang datang malam-malam begini?
Apakah Lisa? Bukankah si cerewet itu tadi bilang ingin pulang menemui ayahnya?
Suara bel terdengar sekali lagi.
Suara ponsel yang berdering mengagetkan Freya. Ia mengambil ponsel yang masih berada di dalam tas dan memeriksanya.
Ternyata Yoga yang menelepon. Tadi pria itu memang tidak datang ke kafe seperti biasa karena ada lembur di kantor.
Freya mengusap tombol hijau dan menjawab panggilan itu, “Halo?”
“Kamu sudah sampai di apartemen?”
“Ya. Ada apa?”
“Aku membawakan makanan kesukaanmu.“
Rupanya Yoga.
“Tunggu sebentar.” Freya mematikan panggilan telepon dan bergegas membukakan pintu.
“Yoga, kamu ....”
Freya mendadak terdiam ketika melihat orang yang berdiri di hadapannya.
Darahnya berdesir dan jantungnya merosot.
Itu bukan Yoga, tapi Pramudya Antasena, pria yang sangat dibencinya, atau setidaknya ia pikir demikian.
Kenapa bajingan ini yang berdiri di depan pintunya?
Keduanya saling menatap untuk beberapa saat. Tidak ada yang bicara.
Freya mengamati penampilan Pramudya yang terlihat seperti anak kucing yang terlantar. Wajahnya dipenuhi cambang. Bobot tubuhnya menurun drastis. Kemejanya terlihat kusut dan sedikit kebesaran. Wajahnya pucat dan kuyu.
Setelah beberapa detik, tatapan Freya mulai terdistorsi. Kaki dan hatinya secara bertahap menjadi goyah.
Setelah hari berganti minggu dan minggu berganti bulan, ia kira Pramudya Antasena telah lenyap dari hatinya.
__ADS_1
Namun, nyatanya pria itu tidak pernah pergi. Dengan penampilan seperti ini pun pengaruhnya masih sama. Rasa yang ia coba matikan dengan susah payah kini muncul begitu saja, seperti sepotong kayu yang tiba-tiba mengambang di permukaan laut, terombang-ambing di atas air yang begitu luas.
Napas Freya mulai tak beraturan. Pertemuan ini terlalu tiba-tiba. Ia tidak siap.
Sudah berapa lama mereka tidak bertemu?
Rasanya sudah sangat lama, tapi sekarang semua kata-kata kejam yang terlontar dari mulut bajingan ini seperti baru saja ia dengar kemarin.
Tangan Freya bergerak cepat, hendak menutup pintu kembali.
Tapi gerakan pria di depannya lebih cepat, menyelipkan kaki di sela pintu sehingga tidak bisa tertutup sempurna.
“Freya, aku bangkrut ....”
Freya melotot. Genggaman tangannya mengepal dan membuka berkali-kali. Jelas terlihat ia sangat menahan diri untuk tidak memukuli bajingan di depannya itu sampai babak belur.
Peduli setan kalau bangkrut. Untuk apa datang ke tempatnya malam-malam seperti hantu gentayangan?
“Enyah!” Freya mendesis seperti seekor ular yang siap mematuk mangsanya sampai mati.
“Aku tidak punya tempat tinggal. Semua asetku disita. Aku—“
“Apakah aku terlihat peduli? Tidak. Enyah dari sini!” Freya menendang tulang kering mantan suaminya itu dengan kekuatan penuh.
Pramudya mengaduh, menarik kakinya dan mengusap tulang keringnya sambil melompat dengan satu kaki.
Freya menggunakan kesempatan itu untuk membanting pintu tepat di depan hidung Pramudya.
Sayup Freya mendengar suara Pramudya dari luar, disertai suara ketukan yang lemah, lalu suara batuk beberapa kali.
Freya menempelkan telinganya ke daun pintu. Sepertinya bajingan yang tidak punya rasa malu itu sedang menggumamkan sesuatu.
Bruk!
Suara benda yang terbentur cukup keras mengejutkan Freya. Ia menunggu suara ketukan atau panggilan lagi, tapi setelah hampir dua menit, tidak terdengar apa-apa.
Apakah bajingan itu sudah menyerah dan pergi?
Baguslah kalau begitu.
Freya mencibir. “Dasar bajingan. Mengagetkan orang malam-malam saja.”
Ia memutar anak kunci dan membuka pintu dengan sangat hati-hati, ingin memeriksa apakah mantan suaminya itu sudah benar-benar pergi.
Ketika pintu sedikit terbuka, pemandangan yang ada di depannya membuat Freya melonjak karena terkejut. Ia membuka pintu lebar-lebar, menatap tubuh Pramudya yang tergeletak di atas lantai ... tidak bergerak.
“Hei. Jangan bercanda. Aku akan memanggil satpam kalau kamu masih tidak mau pergi.”
Freya menunggu dan menghitung dalam hati, tapi Pramudya masih tidak memberikan reaksi.
__ADS_1
Apa dia mati?
Sial.
Freya berjongkok dan menyentuh kening pria itu.
“Ah!” Ia menarik tangannya dengan cepat.
Panas sekali!
“Pramudya Antasena, kamu memang bajingan! Mau mati kenapa datang merepotkanku?” Freya mendesis marah.
“Oh, Tuhan, aku tidak percaya ini terjadi kepadaku.” Ia bergumam sambil mengepalkan kedua tangannya, menoleh ke kanan dan kiri. Tidak ada satu orang pun yang terlihat.
Freya menarik napas dalam-dalam, menunduk dan menyelipkan kedua tangannya di bawah ketiak Pramudya, menyeret tubuh pria itu masuk ke dalam.
Ia sangat yakin, jika saat ini ada yang melihat ujung sepatu Pramudya tersandung-sandung di depan pintunya, mereka pasti akan mengira ia baru saja melakukan tindak kejahatan dan menyeret korbannya untuk dibuang.
“Kamu brengsek! Berat sekali! Bajingan. Pasti dosamu terlalu banyak.” Freya mengumpat, mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menarik tubuh Pramudya naik ke atas sofa.
Ia lalu kembali ke luar, menatap dua koper besar di depan pintu dengan ekspresi tak berdaya, menghela napas panjang sebelum membawa kedua benda itu masuk.
Freya pergi mengambil kotak obat, menumpahkan hampir separuh isinya di atas meja, mengacak-acak sisanya dan mencari obat pereda demam.
Masih ada tablet paracetamol.
Ia menoleh ke arah Pramudya dan mengernyit.
Pria ini sudah makan atau belum?
“Merepotkan saja.” Ia berdecak sebal sebelum kembali ke dapur, kali ini untuk membuat semangkuk bubur tawar.
Tidak perlu mencarikan makanan yang lain. Sudah ia masakkan saja sudah syukur.
Freya terlalu fokus di dapur yang pintunya terbuka lebar. Ia tidak menyadari pria di atas sofa diam-diam mengulum senyum. Kelopak mata pria itu bergetar, sedikit mengangkat kepala dan mengintip ke arahnya.
Gadis konyol ini masih sama seperti dulu ....
Tatapan Pramudya beralih ke atas meja. Tulisan pada dua botol obat berwarna putih itu menusuk matanya.
Itu obat anti depresan.
Pramudya mengetatkan kepalan tangannya. Sengaja atau tidak, ia telah menyakiti satu-satunya perempuan yang ia cintai.
Kini sudah waktunya untuk menebus semua rasa sakit yang ia sebabkan dalam hati kekasihnya.
***
uhuk, jangan lupa komen, like, dan vote yaaa
__ADS_1
thank you