
Sepasang mata Pramudya bersinar seperti matahari. Tiba-tiba ia merasa sangat bersemangat, tapi ditahannya perasaan itu agar tidak terlalu terlihat. Jangan sampai Bayu si cerewet itu menyadarinya dan meledeknya habis-habisan.
Ia berdeham dan memasang tampang cuek ketika berkata, “Ya sudah, ayo coba. Kalau takut nanti bilang saja.”
“Oke.” Freya mengangguk pelan.
“Kamu juga mau coba itu?” tanya Bayu kepada Lisa yang berdiri di sebelahnya.
“Eh?” Lisa terkejut mendapat pertanyaan yang tiba-tiba itu. Ia tidak menyangka Pak Bayu akan menawarinya untuk ikut bermain.
“Kamu mau coba?” ulang Bayu.
“Saya ... itu ....” Lisa bingung.
Bagaimana menjelaskannya?
Ia tidak ingin ditemani oleh si gondrong atau si botak, tapi ia juga sungkan meminta Pak Bayu untuk menemaninya. Tapi melihat Freya yang sedang dipasangi harness membuatnya juga sangat ingin ikut mencoba.
“Kalau mau, aku temani,” tawar Bayu. Ia juga ingin mencoba permainan itu.
“A ... apa? Ng ... tidak usah, Pak. Saya lihat-lihat saja dari sini.” Tiba-tiba Lisa jadi gugup.
Mana mungkin ia berani lancang. Sudah diajak untuk ikut liburan saja dirinya sudah sangat bersyukur. Ia mana berani mengharapkan hal-hal yang tidak semestinya.
“Sudahlah, ayo ikut.” Bayu menarik tangan Lisa dan membawanya menyusul Pramudya dan Freya. Sepasang suami istri itu sepertinya telah benar-benar melupakan mereka berdua di sini. Dasar tidak berperikejomloan.
“Pak ... Pak ... jangan, saya di sini saja.” Lisa meronta dan mencoba melepaskan cekalan tangan Bayu, tapi mana bisa tenaganya dibandingkan dengan pria itu. Kakinya tetap terseret-seret mengikuti langkah kaki sang wakil CEO yang semakin cepat.
“Diam atau aku akan menggendongmu ke sana!” ancam Bayu sambil melirik sekilas ke samping. Gadis ini, kalau bertengkar seperti petasan banting, tapi menaiki wahana seperti ini saja tidak berani.
Lisa sudah hampir menangis. Mendadak keinginan untuk mencoba permainan itu hilang sepenuhnya. Telapak tangannya mulai berkeringat, padahal baru mendekat ke arah Pak Pram dan Freya.
Bagaimana kalau sudah terbang nanti? Bisa-bisa dirinya pingsan karena ketakutan. Itu pasti akan sangat memalukan.
__ADS_1
Freya yang melihat Lisa mendekat pun menyapa dengan antusias, “Hei, kamu juga ingin mencoba?”
Lisa menggeleng dengan wajah memelas. Dirinya dipaksa datang kemari, oke? Ia tidak ingin mencoba apa pun!
Berbanding terbalik dengan ekspresi ingin bunuh diri di wajah Lisa, Bayu justru menjawab dengan sedikit bersemangat, “Aku yang mengajaknya mencoba. Memangnya hanya kalian yang bisa bersenang-senang? Kami juga bisa!”
Si gondrong langsung menyambut pernyataan itu dengan antusias. Ia memanggil dua orang rekannya lagi dan memberi instruksi untuk membantu memasang harness di tubuh Bayu dan Lisa.
Freya menaikkan alisnya dan memberi tatapan menggoda ke arah Lisa. Lihat, sepertinya ada kemajuan yang cukup signifikan di antara Pak Bayu dan Lisa.
Lisa yang mengerti arti tatapan itu segera menghampiri Freya dan berbisik di telinganya, “Jangan berpikiran macam-macam. Kami tidak ada hubungan apa-apa.”
Tawa Freya hampir menyembur keluar. Ia belum mengatakan apa-apa, tapi Lisa sudah mengeluarkan ultimatum defensif.
“Aku tidak mengatakan apa-apa, tapi kamu langsung memberikan klarifikasi. Bukankah ini malah jadi sedikit mencurigakan?” Freya balas berbisik.
Lisa menggigit bibirnya karena kesal dan memilih untuk bungkam. Ia tahu, semakin dijelaskan justru akan membuat Freya semakin bersemangat menggodanya.
Untung saja dua orang rekan si gondrong segera datang dan membantu memasang peralatan keselamatan berupa harness dan jaket pelampung.
Ukuran speed boat untuk parasailing jauh lebih besar jika dibandingkan dengan perahu lainnya. Hal itu memungkinkan untuk memakai payung yang lebih besar yang dapat menampung dua orang peserta sekaligus. Selain itu, peralatan keselamatan yang digunakan telah lulus standar internasional sehingga tidak perlu diragukan lagi.
Freya dan Lisa manggut-manggut ketika mendengarkan penjelasan itu. Yah, sebenarnya mereka juga sudah pasrah. Jika terjadi sesuatu dan mereka jatuh ke dalam laut, setidaknya ada dua orang pria tampan yang akan menjadi penyelamat mereka. Menelan satu atau dua teguk air laut seharusnya tidak masalah.
Si gondrong lalu memberi perintah dan membawa kedua pasangan itu untuk naik ke speed boat.
Freya dan Pramudya menaiki speed boat yang berada di sisi kiri, sedangkan Lisa dan Bayu menaiki speed boat yang di sisi kanan.
Si gondrong dan si pelontos bersama dua orang rekan mereka ikut naik dan langsung bersiap di posisi masing-masing.
“Kamu takut?” Pramudya menyempatkan diri untuk bertanya sebelum mesin speed boat dinyalakan.
“Sedikit,” jawab Freya dengan jujur. Baginya, lebih baik berkelahi dengan selusin pria bersenjata ketimbang menaiki wahana seperti ini. Rasanya seperti akan menghadapi hukuman mati.
__ADS_1
“Nanti setelah pulang dari sini, aku akan mencari orang untuk mengajarimu berenang.”
“Hah?”
“Aku tidak suka melihat dirimu yang ketakutan seperti ini. Freya yang aku tahu selalu tegas dan pemberani, itu baru cocok.” Pramudya mengatakan kalimat itu dengan sudut-sudut bibir yang sedikit terangkat.
Freya terpesona untuk beberapa saat.
Pria ini ... sejak kapan begitu lihai bermulut manis? Membuatku semakin gugup saja.
“Semua orang punya kelemahan dan kekurangan, mana ada yang sempurna? Buktinya Pak Bayu takut kecoak.” Freya berusaha mengelak dan membantah. Pria tampan dan kaya yang takut kecoak, betapa menyedihkannya itu.
Pramudya tertawa lepas. Suara tawanya mengalahkan deru mesin perahu bermotor yang sedang membawa mereka menjauh dari bibir pantai.
“Kamu benar, memang tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini, tapi setidaknya kita harus mencoba untuk menjadi lebih baik lagi,” ucap Pramudya setelah tawanya mereda.
Ia sendiri pun memiliki kekurangan. Salah satunya adalah tidak bisa berkomunikasi dan menyampaikan isi kepalanya dengan benar, tapi ia sedang berusaha untuk memperbaikinya sekarang.
Ia lalu menggedikkan bahunya dengan asal dan mengimbuhkan, “Tapi kurasa kamu sudah cukup sempurna. Tidak bisa berenang tidak masalah, aku sudah berjanji akan menjagamu dengan baik.”
Freya sangat ingin melompat dan menceburkan dirinya ke laut.
Biarkan saja dirinya tenggelam!
Ia sungguh tidak tahan menghadapi mulut manis Pak Pram!
***
Note: Parasailing atau terkenal dengan nama Bali Parasailing Adventure adalah aktivitas water sport yang memungkinkan dua orang peserta untuk terbang bersamaan dalam satu payung.
Dalam wahana tandem parasailing, kedua peserta terikat ke harness yang terhubung ke payung parasailing yang akan ditarik oleh speed boat.
Kedua peserta akan terbang di udara dan dapat menikmati pemandangan indah sekitar dari ketinggian.
__ADS_1
Sumber: google.