Istri Kesayangan Tuan Pram

Istri Kesayangan Tuan Pram
Membalas


__ADS_3

Freya menatap sekerumunan perempuan yang sedang berseru dengan suara tumpang tindih itu, memohon agar mereka dibiarkan pergi.


Akan tetapi, sekelompok penjaga yang berada di sekeliling mereka tidak bergeming. Merek tidak membiarkan siapa pun keluar dari tempat itu.


Freya menoleh ke arah Sekretaris Kikan dan bertanya, “Apakah hal ini tidak akan menimbulkan keributan? Bagaimana kalau orang-orang ini melapor ke kantor polisi? Bukankah itu akan merusak reputasi kantor?”


Kikan tersenyum tipis. Ia menjawab, “Nyonya tidak perlu khawatir. Mari, ikuti saya.”


Mau tidak mau Freya dan Lisa mengikuti Sekretaris Kikan yang telah lebih dulu berjalan menghampiri kerumunan itu.


Freya menghitung dalam hati, total ada tujuh orang yang ditahan oleh para penjaga. Ia bertanya-tanya, apakah mereka memang bersekongkol untuk mencelakai dirinya?


Begitu melihat Kikan dan Freya datang, suara perempuan-perempuan itu sedikit mereda. Tapi beberapa di antara mereka ada yang mencibir dan melotot ke arah Freya dengan ganas, seolah-olah ingin melukai Freya dengan tatapan yang mengintimidasi itu. Sayangnya, Freya tidak peduli sama sekali.


Ia berdiri dengan tenang dan menunggu apa yang akan dilakukan oleh Sekretaris Kikan. Biar bagaimana pun, ia bukanlah seorang yang murah hati. Kalau ada yang berani mencelakainya, ia pasti akan membalas jika ada kesempatan.


Kikan berdiri di depan kerumunan perempuan itu dan berteriak dengan lantang, “CEO sudah memerintahkan, siapa pun yang bekerja sama akan diberi kompensasi yang sesuai. Sedangkan yang melawan atau melapor ke luar, tidak akan mendapatkan apa pun.”


Perempuan-perempuan itu seketika menahan napas setelah mendengar perkataan Sekretaris Kikan. Keheningan yang panjang terjeda di udara. Tidak ada yang berani bersuara lagi. Bahkan berkedip pun dilakukan dengan sangat hati-hati.


Ini terlalu gila! Terlalu semena-mena dan menindas orang! Sialnya, tidak ada yang berani membuka mulut dan membantah. Bagaimana kalau CEO menganggap itu sebagai perlawanan sehingga mereka tidak mendapatkan apa-apa?


Perempuan-perempuan itu akhirnya berhasil meredakan rasa terkejut mereka dan saling menatap, seolah sedang menarik kesimpulan dalam diam: apakah mereka berada di tim yang sama.


Heh. Jangan bercanda. Siapa yang berani melapor keluar dan menghadapi kekuatan hukum Antasena Grup yang luar biasa? Bisa-bisa seluruh tabungan mereka terkuras habis saat persidangan bahkan belum dimulai. Apalagi semua itu terjadi karena kejahatan yang mereka lalukan lebih dulu.

__ADS_1


Melihat sorot kepanikan dan rasa putus asa dari perempuan-perempuan itu, Freya akhirnya bersuara, “Kalian cukup katakan saja, tadi itu ide siapa? Aku akan melepaskan yang lainnya dan tidak akan membuat perhitungan.”


Ucapan Freya terdengar seperti amnesti bagi perempuan-perempuan itu. Serentak enam orang dari mereka menunjuk kepada seorang wanita yang berdiri paling belakang.


“Dia yang mengusulkannya. Katanya kamu hanya seorang pelayan yang memanjat ranjang majikan untuk naik status, jadi harus diberi pelajaran,” ucap seorang perempuan yang memakai seragam office girl.


Seorang perempuan yang lain menunduk dan memilin jarinya dengan ekspresi malu dan mengimbuhkan, “Maaf, seharusnya kami tidak terpengaruh dan mengikuti rencana jahatnya.”


Karena telah bertindak tanpa berpikir baik dan buruknya lebih dulu, mereka hampir saja disiram air panas dan dipecat. Sangat tidak sepadan.


“Dasar sekumpulan pecundang!” umpat wanita yang dikhianati oleh rekan-rekannya itu.


Keenam wanita lainnya tidak peduli hinaan akan itu. Serempak mereka menyingkir sehingga hanya ada si tersangka utama yang berdiri di tengah-tengah. Saat ini, mereka hanya ingin melepaskan diri dari murka CEO Pram.


“Kamu disuruh oleh Amaya?” tanya Freya.


“Apa urusanmu?” bentak wanita itu. “Nggak usah sok suci! Dasar jal*ng!”


Plak!


Suara tamparan yang keras terdengar di aula. Semua orang terkejut melihat wanita yang baru saja mengumpat itu terpelanting dan terjungkal setelah ditampar oleh Freya. Bahkan sudut bibir Sekretaris Kikan berkedut. Ia tidak menyangka kekuatan Nyonya Muda begitu besar, padahal tubuhnya tidak terlalu tinggi, bahkan dapat dikategorikan sebagai “mungil”.


“Tamparan itu karena mulut kotormu berani menyebutku jal*ng. Kalau berani mengatakannya lagi, aku tidak keberatan untuk mengajarimu sekali lagi,” ucap Freya.


Wanita yang ditampar dan terjatuh itu lebih terkejut dibandingkan semua orang sehingga tidak membalas ucapan Freya.

__ADS_1


Pipinya sangat sakit!


Selain itu, ia sama sekali tidak menyangka Freya akan menamparnya seperti itu. Wajahnya terasa panas dan bengkak. Sepasang matanya menyala karena amarah. Ia hendak merangkak dan bangun, tapi Freya menendang bahunya sehingga ia kembali terjungkal.


Sebelum wanita itu bergerak, Freya lebih dulu menginjak telapak tangannya dengan kuat.


“Apa kamu kira aku terlalu baik hati? Atau, kamu kira aku sangat mudah untuk diprovokasi?”


Setelah melontarkan pertanyaan itu, Freya membuka tutup termos dan menyiramkan air panas ke leher dan dada wanita itu tanpa ragu.


“Aaah!” Wanita itu memekik histeris ketika rasa pedih menyengat permukaan kulitnya. Ia meronta dengan kuat sehingga injakan kaki Freya terlepas.


“Panas! Panas sekali! Tolong aku!” teriak wanita itu sambil berguling-guling di atas lantai.


“Kalau tahu sakit, lain kali jangan berpikir untuk mencelakai orang lain lagi.” Freya menatap wanita itu sekilas, lalu berbalik dan berjalan menuju lift.


Semua orang yang ada di tempat itu tercengang. Rupanya Nyonya Muda tidak kalah menyeramkan dibanding CEO Pramudya!


Bahkan Kikan pun sedikit terpana. Tadinya ia pikir Freya akan bermurah hati dan meminta agar semua orang dibebaskan. Akan tetapi, rupanya ia telah salah tebak. Freya adalah orang yang sangat adil. Gadis itu membalas sesuai apa yang dilakukan orang lain terhadapnya, tidak kurang atau lebih.


Kikan memberi isyarat kepada pengawal untuk membereskan kekacauan itu, kemudian bergegas menyusul Freya ke kantor CEO Pram untuk memberikan laporan mengenai kejadian barusan.


Di aula bawah, masing-masing orang berjanji dalam hati, kelak mereka akan sangat sopan dan tidak akan berani menyinggung Nyonya Muda sama sekali.


***

__ADS_1


__ADS_2