
Freya sudah hampir pingsan. Ia ingin meronta, tetapi Pramudya menahannya dan terus mencium bibirnya dengan lantang.
Ia hampir memekik ketika Pramudya tiba-tiba bangkit berdiri sambil menopang tubuhnya. Ia melayang-layang di udara dalam pelukan suaminya, dengan mulut yang masih terisi penuh oleh lidah dan bibir yang padat dan hangat.
Ini terlalu memabukkan ....
Jantung Freya melonjak ketika tubuhnya berputar sepersekian detik sebelum terbaring di atas kasur. Sebelum ia sempat mengelak, tubuh Pramudya yang kokoh dan bidang telah mengungkungnya dari atas.
Pramudya menangkup wajah Freya dalam kedua tangannya. Istri kecilnya terlihat sangat memesona. Wajahnya memerah; matanya berpendar dalam cahaya yang belum pernah dilihatnya sebelumnya; bibirnya yang bengkak terlihat seperti kelopak mawar yang lembut dan memikat, membuatnya ingin mencecap rasa manisnya sekali lagi.
Pandangannya bergeser ke bawah. Ia terpesona dan mengagumi gundukan lembut dan padat yang menyembul di antara kemeja yang tersingkap.
“Sangat indah,” gumamnya tanpa mengalihkan tatapannya dari sepasang bukit kembar itu. Kabut yang pekat mengambang di bawah kelopak matanya. Ada api yang semakin berkobar dan menuntut pelampiasan.
Pramudya mengerang dan mengulum bibir yang manis itu sekali lagi, membujuk agar gadis yang rupawan ini membalas ciumannya, ciuman yang digilainya setengah mati.
Aroma yang lembut dari tubuh Freya membuat Pramudya hampir kehilangan kendali. Bibirnya menjelajah ke bawah, melewati leher dan tulang selangka, terus turun hingga wajahnya hampir terbenam dalam sepasang bukit yang membuatnya tidak bisa mengalihkan pandangan.
Ini terlalu indah ....
Napasnya berat dan tak beraturan. Tangannya menyusup masuk dan menangkup dada yang membusung.
Rasanya sangat pas dalam telapak tangannya
Insting menuntunnya. Ia menunduk, mencecap rasa dan aroma yang memabukkan dari setiap bagian yang dilalui lidahnya. Dorongan untuk menguasai tubuh mungil di bawahnya sangat kuat. Keinginan untuk memberi tanda kepemilikan dan menjadikan gadis itu sebagai satu-satunya miliknya.
Tubuh Freya melengkung. Tanpa sadar ia mengerang dan mendesah, gemetar karena sensasi aneh yang meletup-letup pada setiap bagian yang disentuh oleh suaminya. Gelenyar yang menjalar dan setiap titik di tubuhnya menjadi lebih sensitif.
Perasaan seperti ini ... ia seperti sedang melayang-layang di atas awan. Perasaan gamang bercampur gelisah, tapi ia juga sedikit menantikannya.
Ia terkesiap ketika lidah Pramudya menyentuh puncak bukit yang telah mengeras. Lembap sekaligus hangat.
“Pram ....” Freya memanggil dengan suara yang serak. Wajah Pramudya terbenam di dadanya.
Apa yang dilakukan suaminya itu membuatnya hampir meledak. Ada arus yang berputar di bawah perutnya berputar dan memencar ke segala arah, membuatnya mengerang dengan mata terpejam.
Terombang-ambing di tengah lautan yang sangat luas ....
Pramudya menghidu aroma yang memabukkan. Tangannya menyentuh dan meremas dengan lembut. Bibirnya menjelajah setiap bagian yang terekspos di depan wajahnya.
Dalam sekejap suara gumaman dan des*han yang ambigu bergema di dalam kamar. Freya tidak memiliki kekuatan untuk berpikir dengan jernih lagi. Semua sentuhan yang diberikan oleh suaminya terlalu memabukkan.
Ia memeluk leher Pramudya erat-erat. Kakinya melingkari pinggang yang padat dan berotot itu. Tubuhnya melengkung seperti busur panah, bergerak mengikuti pusaran arus yang membawa jiwanya timbul tenggelam.
Tubuh Pramudya sudah menekan di atas tubuh Freya seluruhnya, tapi ia masih berusaha menahan separuh bobot tubuhnya dengan siku dan lutut. Istrinya terlalu mungil, langsung tenggelam dalam dekapannya.
__ADS_1
Ia memberi jejak api pada setiap bagian yang tersentuh oleh bibirnya, menggigit dan menyesap dengan kuat hingga istrinya mengerang dan tersentak-sentak di bawah kungkungan tubuhnya.
Ketika ia menjauhkan wajahnya, tangan Freya terkulai ke atas kasur. Sepasang bukit indah yang membusung bergerak naik turun dengan cepat.
Pramudya menatapnya dan merasa sangat puas.
Ada bercak kemerahan di mana-mana.
Di leher.
Di tulang selangka.
Turun ke bawah, bercak merah dan biru tua memenuhi gundukan hangat dan kenyal yang membuatnya mabuk kepayang. Ia harus menahan diri dengan susah payah agar tidak menyusupkan wajah di sana lagi.
“Kamu bilang lagi, Paman ini bisa atau tidak?” Pramudya mendekap Freya erat-erat, enggan melepaskannya pergi. Jemarinya bergerak pelan, mengusap perut yang rata dan melingkari pinggang istrinya yang mungil.
Gerakan itu dan tatapan suaminya yang terlihat seperti seekor serigala lapar segera mengembalikan kesadaran Freya. Ia menarik selimut untuk menutupi dadanya.
Ya, Tuhan. Kapan kemejanya dilucuti?
Dan tadi itu, bagaimana bisa ia merespons seperti itu?
Kenapa?
Kenapaaa ... arrrgh!
Rasanya sangat menakjubkan, membuatnya tanpa sadar tersesat di dalamnya.
Freya berpaling, tidak berani lagi menatap suaminya yang masih menindihnya dan menatap dengan intens.
Malu.
Sangat malu sampai ingin menghilang dari muka Bumi.
Selain itu, dengan posisi seperti ini, ia bisa merasakan dengan jelas benda yang mengganjal di atas perutnya. Sesuatu yang panas, keras, dan menekan dengan kuat.
Benda itu ... uh, sangat besar ....
Freya mengangkat tangan dan mendorong tubuh Pramudya. Ia tidak bisa terus bertahan dengan posisi seperti ini.
"Kamu ... kamu ... menyingkir dulu." Freya merinding ketika mendengar suaranya sendiri yang terdengar seperti wanita penggoda.
Bagaimana bisa suaranya berubah seperti ini?
Astaga.
__ADS_1
Pengalaman ini baru untuknya, dan ia tidak tahu harus melakukan apa.
Memandangi ekspresi salah tingkah di wajah istrinya membuat bibir Pramudya berkedut.
"Kenapa harus menyingkir, hm?"
"Itu ...."
Pramudya bukannya tidak tahu apa yang membuat istrinya menjadi panik seperti ini, tapi ia berpura-pura bodoh dan bertanya, “Apanya yang itu?”
"Itu ... kamu ...." Freya menggigit bibir dan tidak tahu bagaimana menyelesaikan kalimatnya.
Paman, tolong, bangun saja dulu ....
"Tegang?" tanya Pramudya ketika melihat Freya tidak mampu melanjutkan ucapannya.
Ia menunduk dan berbisik di dekat telinga Freya, "Bukankah itu reaksi yang wajar? Seharusnya kamu panik kalau dia tidak berdiri.”
"Ap ... apa?" Wajah Freya merah padam. Cuping telinganya terasa panas. Ucapan macam apa itu?
Apanya yang berdiri?
Tiang bendera?
Pramudya mengamati wajah istrinya yang semakin merah padam, semakin menggemaskan ... ia tidak tahan dan menggoda lagi, "Tubuhku memberikan reaksi karena dirimu, bukankah itu bagus?"
"...."
“Ini adalah jaminan kepuasanmu di masa depan. Seharusnya kamu—“
“Diam!” Freya mengangkat tangannya dan menutup mulut Pramudya.
Mulut Pak Pram yang banyak omong dan tidak tahu malu seperti ini terlalu melelahkan untuk dihadapi. Ia tidak bisa mendengarkan ucapan yang tidak senonoh ini lebih banyak lagi.
Merasakan bagian yang masih menonjol dengan keras itu, Freya menggelengkan kepala kuat-kuat.
Tidak ... tidak ... tidak ....
Itu terlalu menakutkan. Tubuhnya pasti akan hancur berkeping-keping.
Freya mengangkat lututnya dan mendorong tubuh Pramudya menjauh. Untung saja kali itu suaminya tidak melawan. Ia berguling dan melompat turun dari atas kasur, lalu melesat secepat kilat menuju kamar mandi. Untuk saat ini, hanya itu satu-satunya tempat persembunyian yang paling aman.
***
Bonusss
__ADS_1