Istri Kesayangan Tuan Pram

Istri Kesayangan Tuan Pram
Kekacauan


__ADS_3

Dor!


Prang!


Brak!


Suara tembakan yang menyalak keras disusul kaca yang pecah dan benturan keras membuat Freya terkejut.


Ia mendongak dan menoleh ke sekeliling. Terjadi pertarungan yang sengit. Orang-orang yang sepertinya dibawa oleh Yoga berusaha melumpuhkan para penjahat yang telah menculiknya. Beberapa di antara mereka saling mengacungkan senjata dan melepaskan tembakan.


“Ayo, cari tempat berlindung,” ucap Yoga seraya memapah Freya bangun.


Freya mengikuti perkataan Yoga tanpa banyak tanya. Ia tahu dirinya atau Yoga bisa saja menjadi korban peluru menyasar jika tidak segera menjauh dari tempat itu.


Enam orang pria bersenjata segera mengelilingi Freya dan Yoga sebagai tameng. Mereka mengikuti selangkah demi selangkah ketika Yoga menuntun Freya ke tempat aman.


Untuk saat ini Yoga belum bisa membawa Freya pergi. Para penjahat itu tidak mudah dikalahkan. Jumlah mereka pun cukup banyak. Tadi jika bukan karena ia yang nekat menabrakkan mobilnya menerobos gerbang dan melibas siapa pun yang mengadang, belum tentu ia bisa tiba tepat waktu.


Yoga membawa Freya berlindung di dekat tumpukan drum besi yang hampir menyentuh langit-langit. Enam orang pengawalnya tetap berjaga-jaga di depan mereka. Semuanya memakai rompi anti peluru, helm pelindung, dan senjata laras panjang; tidak membiarkan siapa pun mendekat.


Freya menjauhkan diri dari pelukan Yoga. Rasa takutnya sudah sedikit berkurang. Ia memberanikan diri untuk mendongak dan mengamati keadaan tempat yang mirip gudang penyimpanan itu.


Kekacauan masih terjadi di sekitar mereka. Suara tembakan dan perkelahian terdengar semakin sengit, sesekali disertai jerit kesakitan dan umpatan penuh amarah.


“Dari mana kamu tahu aku ada di sini?” bisiknya .


“Tommy Antasena yang memberikan lokasi ini kepadaku,” jawab Yoga. Ia berutang nyawa kepada Tommy. Jika bukan karena pria itu memberikan catatan lokasi ini, ia tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi kepada Freya.


“Tommy?” Freya mengulangi nama yang disebutkan oleh Yoga dengan sedikit tidak percaya. Rasanya sedikit mustahil pria itu berbaik hati dan memberikan lokasi tempat dirinya akan disekap kepada Yoga dengan cuma-cuma.

__ADS_1


“Kamu yakin dia tidak sedang menyiapkan sesuatu yang lebih berbahaya?” tanya Freya.


Yoga menggeleng lemah. Ia juga sedikit curiga, tapi kenyataan membuktikan bahwa Tommy Antasena memang berniat membantunya menyelamatkan Freya. Ia tidak tahu apa tujuan sebenarnya pria itu menolongnya, tapi ia pasti akan meluangkan waktu untuk berterima kasih dan memberikan kompensasi yang sesuai.


Brak!


Seseorang terempas dan menghantam tembok di dekat Freya. Pria itu jatuh dan merosot ke lantai. Wajahnya babak belur. Ada luka tembak di lengan dan pahanya. Darah mengalir deras dari kedua lubang kecil itu.


“Jangan lihat.” Yoga menarik kepala Freya dan menekannya di dadanya. Anggap saja ia egois, tapi ia tidak ingin kedekatan ini cepat berlalu. Biarkan saja orang-orang itu saling membun*uh, ia tidak peduli, yang penting Freya aman dalam pelukannya.


Di antara semua kekacauan dan keributan yang terjadi, tidak ada yang menyadari kehadiran Pramudya dan Bayu yang menyusul di belakangnya. Dua penjaga yang berada di luar diatasi dengan mudah oleh pengawal yang datang bersama Pramudya.


Dengan isyarat dari Pramudya, dua kompi pasukan khusus yang dibawa olehnya segera bergerak maju dan membantu orang-orang Yoga Pratama.


Dalam kondisi seperti ini, ia harus menekan egonya dan bekerja sama dengan Yoga untuk melindungi Freya.


“Pram, kamu tidak ke sana?” tegur Bayu ketika menyadari arah tatapan sahabatnya. Ia dan Pram sudah datang ke tempat ini secepat yang mereka bisa, tapi masih tetap saja tertinggal satu langkah di belakang Yoga Pratama.


Di saat yang bersamaan, ia ingin menerjang masuk dan menghajar Yoga Pratama, memukulinya sampai lumpuh agar tidak mendekati Freya lagi, tapi ia juga ingin berlutut dan berterima kasih kepada pria itu karena telah datang lebih cepat dari dirinya. Jika bukan karena Yoga Pratama, entah bagaimana nasib Freya.


Pramudya mengepalkan kedua tangannya erat-erat dan menahan napas beberapa detik. Jangan sampai emosinya meledak dan membuatnya kehilangan kendali.


“Di mana Carissa?” tanyanya seraya berbalik dan berjalan cepat meninggalkan tempat itu.


“Pram?!” Bayu yang kebingungan sempat berdiri mematung dua detik sebelum berlari dan mengejar sahabatnya.


“Kenapa pergi? Kamu tidak mau masuk dan mengajak istrimu pulang? Dia bisa salah paham dan mengira kamu tidak datang!” cecar Bayu, tak mengerti dengan sikap Pramudya.


“Di mana Carissa?” Pramudya mengulangi pertanyaannya. Ada nyala api yang berkobar dalam sepasang matanya yang kelam. Ia sudah bersumpah tidak akan melepaskan wanita itu dengan mudah.

__ADS_1


“Orang-orang kita sudah membawanya ke tempat yang kamu perintahkan,” jawab Bayu meski masih tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang dipikirkan oleh sahabatnya.


“Bawa orang-orang suruhannya yang tertangkap itu juga ke sana.”Pramudya berjalan dengan langkah panjang-panjang menghampiri mobil yang tadi diparkirnya sembarangan di pelataran kosong.


“Tapi, istrimu—“


“Paling lama setengah jam. Tidak lebih. Kamu tahu konsekuensinya.” Setelah mengucapkan kalimat itu, Pramudya masuk ke dalam mobilnya dan membanting pintu dengan keras. Ia menginjak pedal gas dalam-dalam, meninggalkan suara ban berdecit kencang ketika mobilnya meninggalkan tempat itu.


Bayu menatap kepergian Pramudya dengan air muka yang keruh. Sesuai dugaan mereka, memang Carissa lah yang menjadi dalang penculikan kali ini.


Carissa sedang dalam perjalanan ke tempat ini ketika pasukan khusus mengadangnya di tengah jalan dan membawanya pergi sama seperti cara orang-orangnya menculik Freya.


Bayu bisa mengerti kemarahan Pramudya, tapi tidak bisa menebak apa rencana pria itu selanjutnya. Mengapa sahabatnya itu membiarkan istrinya berduaan dengan Yoga Pratama lalu pergi begitu saja?


Tiba-tiba sepasang mata Bayu membola. Jangan bilang kalau ... tidak, haruskah ia bergegas dan mencegah niat sahabatnya itu? Ia tahu Pramudya bisa sekejam apa jika membalas dendam. Tapi tindakan Carissa juga sudah di luar batas. Ia tidak bisa membela wanita itu begitu saja.


Di dalam gudang, Yoga menyadari suara perkelahian akhirnya berhenti. Tidak ada lagi suara tembakan atau pukulan dan tendangan yang membuat tulang ngilu. Ia menahan Freya agar tetap menunduk dan berlindung. Ia lalu bangkit berdiri dengan hati-hati untuk memeriksa keadaan.


“Di mana orang-orang itu?” tanyanya kepada pengawal yang berdiri paling dekat dengannya.


Pengawal itu menunjuk ke arah pintu masuk. Lebih dari dua lusin pasukan berpakaian serba hitam sedang membantu rekan-rekannya menghabisi penjahat yang tersisa. Pasukan itu lalu menyeret tubuh para penculik yang sudah separuh kehilangan kesadaran keluar dari tempat itu.


Yoga mengamati, dari pakaian dan kelengkapan senjata yang mereka kenakan, jelas pasukan berpakaian hitam itu memiliki kemampuan di atas anak buahnya, tapi tidak ada yang menyerang dirinya atau anak buahnya. Orang-orang itu hanya membawa para penjahat pergi tanpa mengatakan apa-apa.


Yoga menebak dalam hati, kemungkinan besar itu adalah orang-orang suruhan Pramudya Antasena, tapi ia tidak berniat mengatakannya kepada Freya. Ia ingin menjadi egois sekali lagi.


***


__ADS_1




__ADS_2