Istri Kesayangan Tuan Pram

Istri Kesayangan Tuan Pram
Maaf, Aku Salah


__ADS_3

Sejak pembicaraannya terakhir kali dengan Pak Pram, Freya tidak pernah bertemu dengan pria itu lagi. Mereka berdua diam-diam menjalankan kesepakatan bersama untuk bersikap profesional: hanya akan berakting ketika ada Kakek.


Untungnya sejak hari pernikahan mereka, Kakek tidak pernah berkunjung sehingga mereka tidak harus melakukan interaksi yang intim. Pramudya sibuk pergi ke kantor, sedangkan ia sibuk menyesuaikan diri dengan kegiatan di kampus. Begitu saja sudah lebih dari cukup. Masing-masing sibuk dengan kehidupan masing-masing.


Pagi itu Freya bersiap untuk pergi interview. Ia sudah memutuskan untuk mencari pekerjaan sampingan yang lain. Ia tidak mau hanya duduk diam dan mengandalkan uang yang didapatkannya dari Pak Pram. Sebanyak apa pun kekayaan itu, jika ia tidak memiliki sumber pemasukan yang lain, pada suatu saat nanti semua uang itu akan habis.


Ia memeriksa kembali berkas lamaran yang diminta oleh perusahaan tempatnya akan melamar kerja. Mereka meminta CV dalam bentuk fisik juga meskipun ia telah mengirimkan berkas lamaran itu ke email perusahaan.


Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, Freya memasukkan berkas lamaran ke dalam map cokelat yang telah disiapkannya. Ia memasukkannya ke dalam tas ransel bersama ponsel dan dompet, lalu berjalan keluar dari kamar.


“Nyonya, Anda ingin sarapan dulu?” tanya Ruth yang telah menunggu di depan pintu kamarnya.


“Tidak usah. Aku buru-buru.”


“Saya temani—“


“Jangan. Aku ingin pergi ke suatu tempat. Ada Lisa, kamu tenang saja.” Freya terpaksa berbohong. Padahal ia juga telah melarang Lisa untuk datang hari ini dengan alasan Pak Pram akan mengajaknya pergi.


Ia tidak ingin mulut kepo Lisa membongkar semua rencana yang telah disusun dengan susah payah olehnya.


Freya bergegas menuju tangga dan berjalan turun sebelum Ruth kembali mencecarnya dengan berbagai pertanyaan.


Ia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


Pukul 06.20.


Masih ada waktu lebih dari satu jam. Seharusnya itu cukup.


Janji interview di perusahaan makanan kemasan itu akan dimulai pada pukul 08.00. Ia sengaja berangkat lebih awal agar tidak terjebak macet di jalan. Jangan sampai memberi kesan buruk dengan datang terlambat saat pertama kali wawancara kerja.


Freya melompati anak tangga terakhir dan hendak langsung menuju pintu depan. Akan tetapi, Pak Anton mengadangnya di ruang tamu.


“Nyonya, Tuan menunggu di ruang makan untuk sarapan,” ucap Pak Anton.


“Hah?” Freya terbengong sejenak.


Ditambah hari ini, total sudah hampir dua minggu ia tidak bertemu dengan Pak Pram. Pria itu selalu berangkat pagi-pagi sekali, sedangkan ia sengaja menunggu hingga suaminya pergi sebelum keluar dari kamar.


Ia tahu Pak Pram juga sengaja menghindarinya dengan berangkat lebih pagi setiap hari. Dengan begitu mereka tidak perlu bertemu dan berbasa-basi.


Tapi hari ini, ada angin apa? Tumben Pak Pram sengaja menunggunya.


“Silakan, Nyonya.” Pak Anton sedikit membungkuk dengan sopan dan mempersilakan sang Nyonya untuk pergi ke ruang makan.


“Oh, iya, Pak.” Freya memutar tubuhnya dan berbalik arah. Padahal ia sudah bilang kepada Ruth tidak ingin sarapan hari ini.

__ADS_1


Haish ... bagaimana kalau nanti terlambat?


Freya sedikit tergesa memasuki pintu, berjalan dengan cepat menghampiri meja makan dan duduk di sisi yang berseberangan dengan suaminya.


Pramudya yang sedang menatap ponselnya langsung mendongak begitu mendengar suara pelayan yang menyapa istrinya.


Pagi itu rambut istrinya diikat dengan rapi. Ada sebuah jepit dengan model sederhana berwarna hitam yang menahan poninya. Penampilan gadis itu masih tetap sederhana seperti awal mereka berjumpa. Tidak ada riasan yang berlebihan atau pewarna bibir dengan warna mencolok yang membuatnya sakit mata.


Tapi, kenapa gadis itu duduk jauh sekali?


Pramudya mengernyit dan melirik kursi kosong di sebelahnya. Apakah duduk bersebelahan pun tidak bisa?


Istrinya itu masih sama, keras kepala dan tidak ingin terlibat hubungan apa pun dengan dirinya. Entah kenapa perasaan suram yang selama dua minggu terakhir ini tersembunyi di dalam hatinya secara perlahan meningkat. Mood Pramudya naik turun seperti sedang naik roller coaster.


Tidak bertemu salah. Bertemu semakin kesal.


Merasa dirinya sedang diperhatikan, Freya berdeham dua kali sebelum menyapa suaminya.


“Selamat pagi, Sayang ....”


Ini adalah interaksi pertama setelah saling menghindar selama hampir dua minggu. Tidak apa-apa ‘kan bersikap sedikit mesra?


Sialnya, Pak Pram tidak terlihat terpengaruh sama sekali oleh ucapannya barusan. Wajah pria itu masih saja tanpa ekspresi, bahkan tidak berkedip sama sekali.


Freya mengulurkan tangan dan mengambil gelas di hadapannya. Respon Pak Pram membuatnya merasa sedikit canggung. Ia bisa merasakan para pelayan sedang mengasihani dirinya saat itu.


Dasar pria tua. Sangat membosankan.


Pramudya akhirnya meletakkan ponselnya di atas meja dan memandangi gadis mungil di hadapannya itu dengan tatapan yang intens.


Gadis tengil ini ....


“Kudengar kamu akan pergi interview pagi ini.”


Freya yang sedang minum langsung tersedak. Air mengalir naik dari langit-langit mulut dan keluar dari hidungnya.


Sial!


Sangat memalukan!


Pak Anton buru-buru mengambil tisu dan menyerahkannya kepada sang Nyonya, lalu memberi isyarat kepada para pelayan yang ada untuk segera meninggalkan ruangan itu. Ia rasa kali ini Tuan dan Nyonya akan bertengkar lagi.


Diam-diam pria tua itu mengehela napas dan melirik kedua majikannya sebelum ikut keluar. Ia berharap Tuan dan Nyonya bisa hidup akur dan saling mencintai sampai mau memisahkan, tapi nyatanya ... sepertinya itu adalah hal yang mustahil terjadi.


Dalam sekejap di dalam ruang makan hanya terdengar suara Freya yang masih terus terbatuk.

__ADS_1


Ia menyeka mulut dan hidung dengan tisu, lalu menepuk-nepuk dadanya untuk meredakan rasa terkejut dan batuknya.


Pria ini terlalu mengerikan.


Padahal ia mencari informasi lowongan pekerjaan itu secara sembunyi-sembunyi. Bahkan Lisa dan Ruth pun tidak tahu kalau hari ini ia akan pergi wawancara.


Dari mana Pak Pram tahu? Tidak mungkin pria itu menyadap ponselnya, kan?


Seperti bisa membaca isi pikiran istrinya yang mulai sembarangan, Pramudya berkata, “Perusahaan itu adalah salah satu anak perusahaan Antasena Grup. Wakil Direktur mengenali wajahmu dari surat lamaran yang kamu kirimkan ke email perusahaan.”


Freya menggigit bibirnya dan sedikit merasa tidak enak hati. Rupanya ia telah melakukan kesalahan yang cukup fatal. Padahal ia sudah berjanji untuk tidak membuat suaminya malu, tapi ... astaga, kenapa ia bisa begitu ceroboh?


“Itu ... eng, maaf ... aku salah ....” Freya melipat tangannya di atas paha dan menunduk. Ia tidak berani membalas tatapan Pak Pram.


Pramudya hanya bisa menghela napas dan memijit pelipisnya. Setelah diajari oleh Bayu selama di kantor, ia berusaha untuk lebih sabar dalam menghadapi istrinya.


Pejamkan mata.


Tarik napas dalam-dalam.


Embuskan perlahan ....


Ulangi sampai amarahmu mereda ....


Begitu katanya.


“Pram ....” Freya memberanikan untuk memanggil suaminya yang sedang terpekur.


Apakah pria itu sangat marah sampai terkena serangan jantung?


Gawat!


Freya bangkit berdiri dan menghampiri sisi Pramudya. Ia mengulurkan tangan dan hendak menyentuh pundak pria itu, ingin memastikan apakah suaminya baik-baik saja.


Akan tetapi, sebelum tujuannya tercapai, tangan yang kokoh dan hangat itu lebih dulu mencekal pergelangan tangannya hingga tak bisa bergerak.


“Apa yang kamu lakukan?” tanya Pramudya.


Freya terkejut ketika sepasang mata Pak Pram yang gelap bersitatap dengannya. Ia tertegun dan tidak bergerak.


Sial. Kenapa hanya dua minggu tidak bertemu, tapi ia merasa suaminya semakin tampan?


“Ka ... kamu tidak apa-apa?” Freya tergagap dan bertanya.


Pramudya hanya bergumam tidak jelas. Sebenarnya ia pun sedikit terkejut dengan kecepatan gerak refleksnya. Tangannya terangkat begitu saja ketika merasakan ada yang mendekat.

__ADS_1


Tapi, setelah memegang tangan yang mungil ini, ia sedikit tidak rela melepaskannya.


***


__ADS_2