Istri Kesayangan Tuan Pram

Istri Kesayangan Tuan Pram
Bahaya


__ADS_3

Kepala Freya pusing. Tubuhnya diapit oleh dua orang laki-laki yang bau badannya membuat ia mual. Ia harus meringkuk dan menyusutkan tubuhnya seperti seekor udang yang menyedihkan agar tidak tergencet.


Karena pandangannya gelap, ia tidak bisa melihat ke arah mana mobil melaju. Hanya terdengar suara klakson dan mesin kendaraan dari kiri dan kanan. Sesekali mobil yang dinaikinya itu melambat dan berhenti, mungkin karena lampu merah.


Saat itu Freya hanya berharap bisa lekas tiba di tempat tujuan agar ia tidak perlu tersiksa dengan bau badan yang sudah hampir membuatnya pingsan. Para penculik ini sama sekali tidak memerlukan obat bius, ia pasti akan segera kehilangan kesadaran jika tidak segera keluar dari mobil.


Freya menyumpah dalam hati. Pria-pria kurang ajar ini, lihat saja apa yang akan ia lakukan terhadap mereka jika sudah bebas nanti ....


Kedua tangan Freya masih dipegangi oleh dua orang pria di sisi kiri dan kanannya. Ia hanya bisa berharap semoga Yoga lekas mengetahui kalau ia diculik dan menebak ke mana ia dibawa pergi.


Benar-benar sial. Di saat genting seperti ini terpaksa mengandalkan pria itu.


Dobel sial. Bagaimana kalau Pram tahu?


Tamatlah sudah.


Apakah Pak Pram akan mengamuk dan memarahinya habis-habisan?


Freya mengembuskan napas dengan lemah. Ia bertanya-tanya dalam hati, apakah Pak Pram bahkan tahu bahwa saat ini ia sedang diculik?


Selain itu, berapa harga nyawanya di tangan orang-orang ini?


Freya memberanikan diri untuk membuka mulut dan bertanya, “Kalian dibayar berapa untuk menculikku?”


Setelah menunggu cukup lama, tidak ada yang menjawab pertanyaan itu. Freya mencibir di balik penutup kepala. Pelit sekali, basa-basi pun tidak bisa.


Ia ingin bertanya sekali lagi, tapi mobil mengerem dan berhenti tiba-tiba. Cekalan di kedua tangannya terlepas. Tubuhnya tersentak ke depan dan ke belakang, lalu menghantam kepala entah siapa dengan keras.


“Brengsek!” Freya mengumpat.


Sakit sekali!


Ia mengulurkan tangan dan menyentuh keningnya. Ada benjolan sebesar uang logam lima ratusan.


Bajingan-bajingan ini!


Siapa sopirnya? Aku pasti akan membalasnya!


Terdengar suara pintu mobil terbuka. Sedetik kemudian, tangan Freya ditarik dengan keras ke sisi kanan. Kepalanya kembali terantuk tepi mobil dan satu kakinya tersangkut di kursi.


“Sialan! Bisa pelan-pelan nggak?!” Freya memaki orang yang menariknya dengan keras.


Masih tidak ada yang membalas umpatannya. Benar-benar sangat profesional.

__ADS_1


Ia berusaha berdiri dengan stabil, lalu merasakan seseorang mendekat. Tiba-tiba penutup kepalanya dibuka. Ada lima orang pria dengan tubuh tinggi dan tegap mengelilinginya. Semuanya memakai penutup wajah. Ia tidak bisa mengenali mereka.


Freya hampir tidak tahan untuk mencela dirinya sendiri. Pantas saja penutup kepalanya dibuka. Memangnya apa yang diharapkan? Ia akan dibebaskan begitu saja? Jelas mustahil.


Ia menoleh ke sekeliling. Tidak ada siapa-siapa lagi di sana selain mereka berenam. Di sisi kanannya, hanya ada hamparan tanah kosong dan reruntuhan bangunan yang tampaknya sudah lama tidak digunakan. Di sisi kirinya hanya ada tembok yang tinggi menjulang, terlihat seperti bagian belakang dari bangunan perkantoran. Tidak ada yang bisa digunakan sebagai petunjuk.


“Lihat apa?!” bentak salah seorang dari pria itu dengan garang.


Serentak mereka berlima maju mendekat dan mengepung. Kalau bukan karena bos memberi perintah untuk berganti kendaraan dan mengecoh orang-orang yang mengejar di belakang, mereka tidak akan berhenti di sini.


Alih-alih merasa takut terhadap bentakan dan sikap yang mengintimidasi itu, dengan cepat Freya memutar otak untuk bernegosiasi dengan orang-orang itu.


“Siapa yang menyuruh kalian? Aku akan membayar dua kali lipat dari yang dijanjikan olehnya,” bujuknya.


Bukannya sombong, tapi uang yang didapatkannya dari Pak Pram cukup banyak. Selain itu, ia sangat yakin nyawanya dihargai tidak terlalu mahal. Ia pasti bisa membeli nyawanya kembali.


Akan tetapi, pria yang tadi membentaknya hanya mendengkus. Ia menarik tangan Freya dan memaksanya untuk berjalan ke arah mobil pick up putih yang melaju ke arah mereka.


“Hei, pelan-pelan, aku bisa jalan sendiri!” Freya meronta dan berusaha melepaskan tangannya, tapi pria itu justru semakin menarik tangannya dengan kasar dan mendorongnya agar masuk ke dalam mobil pick up yang sudah berhenti di depan mereka.


“Jangan macam-macam,” ancam pria itu sebelum membanting pintu dan menguncinya dari luar.


Freya mengayunkan tangannya untuk menstabilkan keseimbangan. Kepalanya sudah cukup banyak terbentur. Ia bisa gegar otak jika jatuh sekali lagi.


“Dasar bajingan! Aku akan membalas kalian semua! Brengsek!” Freya meraung marah. Bahu dan pinggangnya sangat sakit!


Ia merosot dan duduk sambil bersandar di dinding. Benar-benar bernasib sial.


Mengapa sejak bertemu Pramudya Antasena, hari-harinya tidak pernah baik? Jangan-jangan pria itu sengaja menikahinya untuk berbagi kesialan dengannya?


Puih!


Amit-amit jabang bayi ....


Freya memukul-mukul lantai mobil dengan kepalan tangannya, lalu mengetuk-ngetuk keningnya tiga kali.


Untuk buang sial.


Entah berapa lama mobil itu bergerak, Freya tidak mau memedulikannya. Tampaknya penculikan kali ini ada hubungannya dengan Pramudya Antasena lagi. Karena orang-orang itu tidak mengingat kaki dan tangannya, seharusnya mereka tidak berniat jahat, ‘kan?


Kemungkinan orang yang menyuruh para bajingan ini untuk menculiknya ingin menggunakan dirinya untuk mengancam Pramudya, atau untuk meminta tebusan.


Sudahlah. Pak Pram sangat kaya. Kalian minta saja berapa pun yang kalian inginkan.

__ADS_1


Freya bersandar dengan mata setengah terpejam. Ia sudah hampir tertidur ketika pintu mobil dibuka dan suara pria yang sangat keras mengejutkannya.


“Turun!”


Freya tergeragap dan bangun tiba-tiba sehingga kepalanya yang benjol berdenyut nyeri. Matanya mengerjap linglung dan menatap ke luar.


Seorang pria yang masih memakai penutup wajah sedang berdiri di depan pintu dan menunggunya turun.


Freya menarik napas pelan dan melangkah dengan sempoyongan menuju pintu. Ia duduk di pinggiran mobil dan merosot turun. Tidak bisa melompat, kepalanya masih pusing dan ia masih sedikit mengantuk. Bagaimana kalau ia tersandung dan jatuh ke dalam pelukan pria itu?


Terlalu menakutkan.


Ia turun dan mengamati sekitar. Itu terlihat seperti dermaga di tepi pantai. Ada banyak kontainer peti kemas. Di tempat itu hanya ada mereka berlima. Satu orang dari para penculik itu ikut dengan mobil pick up pergi entah ke mana.


Di mana ini? Tanjung Priok?


“Sekarang apa lagi?” tanya Freya dengan santai.


“Jalan!” Pria itu mendorong lengan Freya agar berjalan ke arah sebuah gedung tua yang letaknya paling ujung.


“Nggak usah dorong-dorong bisa?” Freya berbalik dan memelototi pria itu dengan kesal. Ia muak terus didorong dan terjatuh.


“Diam!”


Pria itu mendorongnya semakin keras sehingga Freya tersandung kakinya sendiri. Untung saja ia sudah lebih siap sehingga tidak sampai tersungkur ke depan. Freya menoleh dengan marah, mengamati postur tubuh pria itu dan menandainya dalam hati. Lihat saja kalau ia sudah bebas nanti. Ia akan membalas dorongan dan tarikan ini dua kali lipat lebih menyakitkan!


Salah seorang pria yang berjalan paling depan segera membuka kunci pada pintu besi, menariknya hingga terbuka lebar. Aroma amis khas air laut yang bercampur dengan besi langsung terpapar ke luar. Freya memalingkan wajahnya dan menutupi hidungnya dengan tangan. Baunya membuat orang ingin muntah.


“Masuk!”


Freya berkelit sebelum pria brengsek itu mendorongnya lagi. Ia melangkah masuk dengan terburu-buru dan menjauh dari si tukang dorong itu.


Bagian dalam gedung itu gelap. Hanya ada satu jendela di sisi kanan yang kacanya sudah buram. Entah berapa dekade tidak pernah dibersihkan. Ada potongan kayu lapuk di lantai, juga jangkar kapal yang sudah berkarat. Kaleng dan botol bir kosong terguling di lantai, berserakan bersama kulit kacang yang sudah hampir berubah menjadi pupuk kompos.


Seekor tikus yang hampir sebesar kelinci melompat dari sudut ruangan dan melesat ke belakang.


Freya mengernyit jijik. Para bajingan ini kenapa membawanya ke tempat yang penuh dengan tikus dan kecoak seperti ini?


Miskin sekali.


**


Jangan lupa like, komen, dan vote yaa.. thank youuu~B

__ADS_1


💙


__ADS_2