Istri Kesayangan Tuan Pram

Istri Kesayangan Tuan Pram
Cinta Diam-Diam (2)


__ADS_3

Bulan-bulan berikutnya, Freya disibukkan oleh proses pembuatan ruang tambahan untuk butik dan promosi hasil desainnya di sosial media, mulai dari Instagram, Website, Facebook, dan TikTok.


Lisa menemaninya sepanjang waktu. Setelah pulang dari kampus, mereka berdua langsung pergi kafe untuk mengawasi perkembangan pembangunan butik.


Freya tidak menggunakan jasa arsitek dan desain interior karena over budjet. Ia meminta tukang yang dicari Lisa dari TikTok untuk membangun ruangan sesuai sketsa yang ia buat.


Untuk bagian interior ruangan, Freya juga membuat rancangannya sendiri dengan melihat contoh-contoh dari internet. Ia membeli barang-barang yang dibutuhkan secara online, lalu meminta tukang untuk memasangnya demi menghemat pengeluaran.


Saat malam, ia lembur mengerjakan sketsa pakaian yang nanti akan dijualnya secara online dan untuk dipajang di butik. Pada hari Sabtu dan Minggu, ia akan pergi ke pusat grosir kain untuk memilih bahan, atau mulai menyicil menjahit baju-baju itu. Ia hampir-hampir tidak memiliki waktu luang untuk beristirahat. Dari pagi sampai malam, tidak ada waktu yang terbuang begitu saja.


Selain itu, ia masih harus membuat video dan foto produk bersama Lisa, lalu mengeditnya sebelum diposting di sosial media.


Lisa sampai ketakutan karena melihat Freya yang memaksakan diri untuk bekerja melebihi batas kemampuannya.


“Freya, kamu bukan robot. Tubuhmu butuh istirahat,” tegur Lisa pada suatu malam, ketika mereka baru saja selesai merekam video untuk diupload ke TikTok di ruang tamu.


“Aku sudah istirahat,” jawab Freya tanpa menoleh. Jarinya masih sibuk bergerak di layar ponsel.


“Jangan bohong. Lingkaran hitam besar di bawah kelopak matamu itu tidak bisa membodohi aku.”


“Bukankah kamu sendiri yang bilang kita harus terus upload video sampai viral? Sampai masuk fyp. Dengan begitu baru bisa dilihat oleh banyak orang.” Freya tetap berkutat dengan ponselnya, mengedit video di aplikasi berbayar yang menyediakan beragam fitur yang bagus untuk mengedit foto dan video.


“Iya, tapi bukan berarti kamu jadi seperti ini. Kalau kamu sakit bagaimana? Siapa yang repot? Opening butik bisa tertunda kalau kamu sakit,” cecar Lisa.


“Tidak. Tenang saja. Kalau kamu sudah mengantuk, tidur duluan saja. Sebentar lagi aku juga tidur.”


Lisa berkacak pinggang dan berdecak sebal. Kenapa susah sekali menasihati manusia satu ini?


Ia melirik jam dinding yang di tembok. Sudah lewat tengah malam. Ia memang sudah mengantuk, tapi tidak tega untuk pergi tidur duluan.


Beberapa hari terakhir ia memang sengaja menginap di apartemen Freya. Selain untuk menemani, juga untuk mengawasi gadis itu. Ia benar-benar khawatir dengan kondisi teman baiknya yang mendadak menjadi gila kerja itu.

__ADS_1


“Besok kita masih harus ke kampus.” Lisa masih mencoba mengingatkan.


“Aku baik-baik saja, tidak akan terlambat. Jangan takut. Sana, pergi tidur.” Freya melambai-lambaikan tangannya di udara, memberi isyarat agar Lisa pergi.


Lisa mengembuskan napas tak berdaya. Meski Freya tidak mengatakannya secara langsung, ia tahu temannya itu sering tidak bisa tidur hingga larut malam.


Ia menduga hal itu mungkin terjadi karena perpisahan Freya dengan Pak Bos. Siapa yang tidak patah hati diputuskan pas lagi sayang-sayangnya. Tapi ia juga tidak bisa menjelaskan kondisi khusus yang diketahuinya kepada Freya.


“Baiklah, aku tidur duluan. Kamu jangan memaksakan diri, istirahat kalau sudah lelah.” Lisa menyerah. Ia benar-benar sudah sangat mengantuk. Meski merasa tidak enak, ia tidak bisa memaksakan diri seperti Freya.


“Oke.” Freya mengacungkan jempolnya dan mengulas senyum.


Setelah Lisa pergi ke kamar, senyuman di wajah Freya menghilang. Ia keluar dari menu edit video dan membuka galeri.


Ada banyak foto Pramudya di sana. Ketika pria itu memakai apron dan memasak di dapur. Ketika pria itu sedang fokus bekerja di depan laptopnya. Ketika mereka jalan-jalan di tepi pantai. Ketika mereka sedang berbaring bersama di atas ranjang lalu pria itu diam-diam mencuri ciuman di pipinya.


Senyum di wajah Freya merekah lagi, tapi pelupuk matanya memanas dan tergenang oleh air mata.


Ada begitu banyak kenangan yang tidak bisa ia lupakan.


Bagaimana bisa bajingan itu dengan mudahnya mengatakan sudah bosan?


Pelipis Freya berdenyut nyeri. Kepalanya sakit karena menahan isak tangis.


Ia tidak ingin tidur. Ketika berada di atas ranjang, memori di saat Pramudya memeluknya dengan lembut selalu menyeruak ke permukaan.


Ia sudah terbiasa tidur dalam pelukan pria itu. Sudah terbiasa dengan aroma tubuhnya yang menenangkan. Sudah terbiasa dengan tangannya yang melingkar di pinggang dan memberi rasa nyaman.


Sekarang bagaimana ia bisa tidur?


Baginya, tidur adalah mimpi buruk bahkan sebelum mimpi itu dimulai.

__ADS_1


Freya menangkup wajahnya dengan tangan, menunduk ke atas meja dan terisak pelan.


Bahkan setelah pria itu bersikap sangat kejam, ia masih tidak bisa membencinya.


Satu hal yang tidak disadari Freya, di tempat yang berbeda, seseorang sedang menanggung rasa sakit yang sama.


Pramudya menatap layar ponselnya sambil mengernyit. Video itu dikirimkan oleh Lisa yang diam-diam merekam tanpa sepengetahuan Freya.


Sakit.


Jantungnya seperti diremas setiap kali melihat gadis yang dicintainya menangis. Apalagi air mata yang tumpah itu karena dirinya.


Ia mengusap layar ponselnya dengan jari telunjuk, menyentuh puncak kepala Freya yang sedang tertunduk di atas meja.


Pramudya mengalihkan pandangannya ke layar laptop yang masih menyala. Ada begitu banyak pekerjaan yang harus diselesaikan olehnya. Siang dan malam bekerja keras hanya agar dapat segera bersatu kembali dengan kekasihnya.


Menahan rasa rindu tidak semudah yang ia bayangkan. Ia tidak berani tidur di kamarnya atau pun di kamar Freya. Tempat itu hanya ia masuki ketika siang, saat rasa rindunya sudah tak tertahankan.


Ketika malam datang, ia lebih memilih untuk tidur di ruang kerja, menekuk kaki dan meringkuk di atas sofa. Meski tidak nyaman, ia bisa tidur sekejap tanpa terbangun dan mencari istrinya yang biasa bergelung dalam pelukannya.


Bahkan di kantor pun membangkitkan kenangan akan istrinya. Saat pertama kali mereka bertemu. Ketika gadis itu menatapnya dengan takut-takut sekaligus emosi sebab gajinya dipotong hanya karena secangkir kopi. Pramudya selalu tertawa ketika mengingat momen itu.


Kalau bukan karena banyaknya pekerjaan yang menyita waktunya, rasa-rasanya ia ingin melepaskan semuanya dan berlari ke dalam pelukan istri kecilnya, melepas rindu yang begitu menyesaki dada.


Namun, ia masih harus menunggu. Baru separuh jalan. Jangan sampai semua rencana gagal karena hatinya yang tak kuat menahan rindu.


Seulas senyum pahit terukir di bibir Pramudya. Ia menatap bingkai foto yang berada di atas meja. Wajah cantik dengan sepasang mata yang cemerlang seolah menatap langsung ke dasar jiwanya.


Tatapan matanya perlahan melembut, mengusap wajah dalam foto itu dengan sangat hati-hati dan penuh rasa cinta.


“Sayangku, bertahanlah sebentar lagi. Saat ini semua selesai, aku pasti akan membawamu kembali ....”

__ADS_1


***


__ADS_2