
Dua hari kemudian, meski masih dengan hati yang sedih, Freya tetap berangkat ke kampus. Sudah terlalu lama ia tidak masuk. Entah sudah berapa banyak tugas yang menumpuk. Ia tidak ingin mendapat penilaian yang buruk.
Selain itu, berdiam di rumah hanya akan membuatnya teringat akan Kakek sepanjang waktu, membuat hatinya semakin sesak.
Kali itu Pramudya menawarkan diri untuk mengantarkannya. Suaminya tidak menerima penolakan dengan alasan apa pun. Jadi, setelah sarapan bersama, keduanya memasuki mobil Pramudya yang sudah siap di depan.
Pramudya memakaikan sabuk pengaman untuk istrinya sambil bertanya, “Kamu yakin tidak apa-apa? Aku bisa minta Bayu menghubungi Dekan untuk—“
“Aku baik-baik saja, jangan repotkan Pak Bayu,” sela Freya. Ia tidak ingin menggunakan kekuasaan untuk mempermudah segala sesuatu. Sudah cukup ia bisa masuk ke kampus tanpa melewati urusan administrasi yang rumit.
Pramudya menghela napas. Gadis ini bisa sangat keras kepala. Ia tahu itu.
“Baiklah. Kalau ada apa-apa, ingat untuk langsung menghubungi aku atau Bayu,” ucapnya.
Freya mengulas senyum tipis dan menjawab, “Oke. Terima kasih.”
Pramudya menggenggam jemari istrinya dan mengecupnya sekilas sebelum menyalakan mesin.
“Ingat baik-baik, kamu tidak sendiri. Ada aku,” ucapnya seraya menempelkan telapak tangan Freya ke pipinya.
Freya tertawa tanpa suara. Tingkah Pak Pram semakin hari semakin mirip dengan tokoh playboy di film-film picisan yang sering ditontonnya, tapi ia merasa beruntung memiliki suami seperti ini. Suami yang selalu mengkhawatirkan dirinya dan bersedia melakukan apa pun. Berapa banyak wanita yang menginginkan suami seperti ini?
Ia mencondongkan tubuhnya ke samping dan mendaratkan sebuah kecupan ringan di pipi suaminya.
“Terima kasih, Suamiku. Sekarang kita sudah bisa pergi? Lisa sudah berpesan untuk jangan sampai terlambat. Dia akan menungguku di depan gerbang masuk.”
Pramudya terkesima. Ini pertama kalinya Freya berinisiatif untuk lebih dulu mencium dirinya. Meski hanya ciuman di pipi, tapi itu terasa sangat sakral.
Ia menunjuk sisi pipi yang belum dicium seraya berkata, “Nyonya, di sini belum.”
“Ngelunjak.” Freya pura-pura melotot dan menarik tangannya. “Ayo, berangkat. Nanti macet.”
Pramudya tidak bercanda lagi. Ia memasang sabuk pengamannya menginjak pedal gas dan mengemudikan mobil keluar dari halaman. Ia juga harus segera tiba di kantor. Ada banyak sekali pekerjaan yang tertunda.
__ADS_1
Kikan sudah mengingatkannya puluhan kali melalui pesan bahwa hari itu akan ada lima pertemuan penting dengan rekan bisnis untuk membahas perpanjangan masa kontrak kerja sama, rapat internal perusahaan dengan dewan komisaris, dan rapat lanjutan dengan perwakilan dari Jewelry.Inc milik Pak Lie.
Ketika tiba di dekat kampus, Freya meminta agar Pramudya menepi beberapa meter sebelum mendekati gerbang. Ia tidak ingin menarik perhatian yang tidak perlu. Jangan sampa timbul gosip yang tidak-tidak jika ada yang melihatnya keluar dari mobil suaminya. Ia tahu orang-orang seperti Tommy dan Carissa pasti akan selalu mencari celah untuk menjatuhkannya.
“Kamu yakin mau turun di sini?” tanya Pramudya.
Freya mengangguk. “Di sini saja.”
“Jaraknya masih cukup jauh dari pintu masuk.”
“Tidak apa-apa, aku sekalian olah raga.” Freya mencondongan tubuhnya, mencuri ciuman singkat ke pipi Pramudya sekali lagi, lalu buru-buru membuka pintu dan berlari menjauh sebelum suaminya itu memberikan respons.
“Dasar gadis nakal.” Pramudya menggerutu sambil tersenyum tipis. Tangannya terangkat naik dan mengusap bekas ciuman itu dengan penuh rasa sayang.
Sudah dua kali dicium istri.
Rasanya seperti mendapatkan jackpot!
Pramudya menginjak pedal gas dan meluncur pergi dengan senyuman masih tertinggal di wajahnya. Benar-benar terlihat seperti seorang remaja yang sedang kasmaran.
“Bagaimana kabarmu?” tanya Lisa. Meski sering bertukar kabar lewat pesan dan video call, ia tetap mencemaskan Freya. Teman baiknya itu sangat terpukul karena kepergian kakek Pak Pram.
Ia tahu tidak ada kata-kata penghiburan yang dapat mengatasi kehilangan di hati Freya, Dan hal itu membuatnya merasa tidak berguna sebagai seorang teman.
“Sudah lebih baik. Ayo, masuk.” Freya menggandeng tangan Lisa dan menariknya berjalan memasuki wilayah kampus.
“Kamu yakin? Seharusnya kamu jangan memaksakan diri kalau belum merasa lebih baik. Pak Bayu bilang dia bisa membantu. Jangan pikirkan bagaimana caranya. Dia pasti bisa membuatmu mendapatkan izin untuk beristirahat dua atau tiga hari lagi,” ucap Lisa dalam satu tarikan napas panjang.
Freya tertawa. Ia tahu Lisa sedang mencemaskannya, dan itu membuat suasana hatinya menjadi jauh lebih baik. Memiliki seorang teman ternyata sangat menyenangkan. Ia tidak pernah merasa sendirian. Tidak perlu menghadapi segala sesuatu dengan berpura-pura kuat dan tegar. Ada bahu yang siap menjadi tempatnya bersandar, tempatnya berkeluh kesah dan mencurahkan semua isi hatinya. Ia merasa sangat beruntung.
“Lisa, terima kasih karena sudah mencemaskan aku, tapi Kakek sudah pergi. Aku beristirahat dua atau tiga hari lagi pun tidak akan membawanya kembali. Hidup harus terus berjalan. Yang bisa kulakukan sekarang adalah memenuhi keinginan Kakek untuk mendampingi Pak Pram, hidup dengan bahagia ... mengejar cita-citaku agar layak dan sepadan dengannya. Menurutmu bagaimana?” balasnya.
Lisa berhenti berjalan. Ia berbalik tiba-tiba dan memeluk Freya erat-erat. “Bagus! Aku senang kamu sudah lebih bersemangat. Tetaplah menjadi Freya yang optimis seperti ini.”
__ADS_1
Freya menggeliat dan melepaskan diri dari pelukan Lisa sambil mendesis pelan, “Malu, dilihat orang.”
“Pffft ... biarin!” Lisa menggayut di bahu Freya dan tidak mau melepaskannya.
“Lisa, hentikan, kamu—“
“Ah!”
“... kya!”
Bruk!
Tubuh Freya dan Lisa terdorong ke samping dan menghantam tembok. Keduanya mengaduh bersamaan sambil mengusap lengan mereka yang terbentur cukup keras. Pakaian mereka basah oleh minuman dingin yang beraroma kopi dicampur susu. Bahkan ada dua butir boba yang menempel di ujung blus putih Freya dan sisa whipcream di dada Lisa.
Sebelum mereka pulih dari rasa terkejutnya, terdengar suara cekikikan yang datang tak jauh dari mereka.
Spontan Freya dan Lisa menengadah ke arah sumber suara, lalu mendapati ada empat orang wanita berpakaian modis yang berdiri sekitar lima meter di depan sana. Tampaknya keempat wanita itu yang baru saja menabrak mereka dengan sengaja.
Lisa menggertakkan giginya.
Tidak.
Jangan katakan itu tidak disengaja karena wanita-wanita ja lang itu datang dari belakang, menabrak dengan sengaja lalu menumpahkan minuman ke tubuhnya dan Freya.
Kalau tabrakan itu tidak disengaja, tidak mungkin boba dan whipcream itu menempel di bagian depan pakaiannya dan Freya.
“Itu pasti disengaja.” Lisa mendesis dari sela giginya. Ia sudah mengepalkan tangan dan siap untuk berkelahi, tapi Freya menahannya.
“Diam dulu,” perintah Freya. Ia tidak mengenali keempat wanita itu. Bertemu pun baru kali ini.
Ada apa? Kenapa mereka tiba-tiba menyerang seperti ini?
Freya mengetatkan kepalan tangannya.
__ADS_1
Pasti seseorang telah memprovokasi perempuan-perempuan ini.
***