Istri Kesayangan Tuan Pram

Istri Kesayangan Tuan Pram
Kenapa Kesal?


__ADS_3

Kenapa kesal?


Ia juga tidak tahu.


Sudah berkali-kali perasaan asing ini muncul dan bergemuruh di dalam dadanya. Dan hal itu hanya menyulut kemarahannya semakin berkorbar.


Ia tidak terbiasa dengan sesuatu yang asing, tidak stabil, dan tidak jelas. Dulu, hubungannya dengan Carissa terjadi karena adanya sebuah perjanjian konyol di antara orang tua mereka.


Ia tidak pernah mempermasalahkannya karena sampai minggu lalu, baginya menikahi siapa saja tak masalah. Itu hanya semacam kontrak bisnis yang saling menguntungkan.


Seandainya waktu itu ia menikahi Carissa, kedua keluarga akan saling terikat bukan hanya dalam hubungan pernikahan, tapi juga kerja sama antar perusahaan. Ia tidak pernah melibatkan perasaan apa pun di dalamnya.


Akan tetapi, sekarang saat bersama istrinya, dunianya jungkir balik dalam sekejap mata.


Ia merasa ... haish, bagaimana menjelaskannya?


Meski gadis itu selalu membuatnya kesal dan darah tinggi setiap kali mereka berinteraksi, tapi ada sedikit perasaan tidak rela jika gadis konyol itu kembali kepada Yoga Pratama ketika kontrak pernikahan mereka berakhir.


Ia sampai melupakan kesepakatan mereka dan persetujuannya untuk tidak saling mencampuri urusan pribadi satu sama lain.


Yang lebih gawat adalah ... ia bahkan melupakan janjinya untuk tidak mempermasalahkan jika Freya akan menyukai laki-laki mana pun.


Ia tidak rela!


Benar-benar tidak rela jika istri kecilnya tertarik kepada pria lain.


Pramudya merasa sakit kepala.


Perasaan apa ini?


Kenapa ia tidak rela gadis itu menyukai orang lain?


Pramudya bertanya-tanya dalam hati, mengapa ia memiliki ketertarikan absurd yang tidak dapat ia akui terhadap istrinya?


Apakah karena kemandiriannya? Kekuatannya? Atau karena keberaniannya?


Dengan postur tubuhnya yang mungil, kemampuan istrinya dalam menaklukan lima pria tidak bisa dianggap remeh. Karena ia tidak memujinya secara terang-terangan, bukan berarti ia tidak peduli atau tidak kagum, ia hanya tidak tahu bagaimana menyampaikannya.


Namun, ia tidak mungkin jatuh hati hanya karena hal-hal sepele itu, ‘kan?

__ADS_1


Terutama karena itu hanyalah seorang gadis kecil yang keras kepala, pemarah, pembangkang, dan ...


dan ....


Arrrgh!


Pramudya menyugar rambutnya dengan kesal dan memejamkan mata.


Seumur hidupnya, ia tidak pernah merasa galau seperti ini.


Lalu tiba-tiba di dalam kepalanya muncul gambaran istrinya yang sedang meneriakinya dengan sangat emosi, bertanya kepadanya jika dia tidak boleh menyukai pria lain maka dia harus menyukai siapa?


Emosi Pramudya perlahan mereda.


Itu benar.


Jika gadis itu tidak boleh menyukai pria lain, lalu dia harus menyukai siapa?


Dirinya?


Pramudya berhenti berpikir untuk sejenak. Ia mengambil kembali map di atas meja, menatap lembaran kertas itu lekat-lekat dan menimbang-nimbang dalam hati.


Haruskah ia merobek surat perjanjian ini?


Siapa yang datang? Kakek atau gadis konyol itu?


“Sayang, kamu di dalam?”


Suara Freya terdengar dari luar.


Tangan kanan Pramudya yang sedang menopang dagu tergelincir. Suara itu meski tidak terlalu keras tapi berhasil membuatnya kehilangan kendali.


Gadis sialan itu, sebentar marah-marah dan ingin membatalkan kontrak pernikahan, tidak lama kemudian memanggil “sayang” seolah tidak terjadi apa-apa di antara mereka.


Jadi ingin berpisah atau tidak?


Pramudya bangun dari kursi dan berderap menuju pintu. Ia ingin memarahi istri kecilnya yang selalu semena-mena dan mempermainkan perasaannya sesuka hati. Setelah meminta berpisah dan membuatnya mempertanyakan perasaannya sendiri, sekarang datang dan memanggil “sayang” dengan sangat mesra, apa maksudnya?


Ia memutar kenop dan menarik daun pintu dengan keras, bersiap untuk memarahi istrinya. Akan tetapi, begitu pintu terbuka, kakeknya lebih dulu melotot dan menatapnya dengan kejam.

__ADS_1


“Begini caramu meminta maaf?” serang Pak Tua tanpa memberi Pramudya untuk mengatakan apa pun. Ia merangsek masuk ke ruang kerja Pramudya seraya menoleh ke kanan dan kiri, mengawasi isi ruangan yang ternyata tidak berubah terlalu banyak.


Pramudya melirik ke arah Freya, bertanya-tanya dalam hati apakah istrinya yang tidak berpendirian itu pergi mengadu kepada kakeknya sehingga pria tua itu mendatanginya ke ruang kerjanya.


Di sebelah Pramudya, Freya balas melirik sambil mengerucutkan bibirnya. Ia juga tidak tahu kenapa bisa luluh begitu saja ketika Kakek membujuknya untuk datang berbaikan dengan Pak Pram.


Padahal ia sudah membulatkan tekad untuk meminta berpisah dengan pria kejam itu. Akan tetapi, ketika ia turun untuk menemui Kakek dan pria tua itu mewakili cucunya untuk meminta maaf, Freya pun tidak bisa berkutik. Apalagi Kakek sempat tersedak dan terbatuk tanpa henti karena amarahnya kepada Pak Pram sehingga membuat semua orang panik.


Semua amarah Freya dalam sekejap menguap seperti air pada titik didih, berbaur dengan udara dan menghilang entah ke mana.


Freya membuang muka dan mendesah tak berdaya. Jangan lihat wajahnya yang garang dan temperamennya yang meledak-ledak, hatinya sebenarnya sangat lembut.


Ia tidak bisa menolak jika seseorang meminta tolong kepadanya dengan sangat rendah hati. Apalagi Kakek termasuk sangat baik kepadanya. Pria tua itu selalu memarahi Pak Pram demi dirinya. Sikap Kakek membuatnya merasa sangat bahagia. Sejak kecil, tidak ada orang lain yang memanjakannya seperti itu selain Yoga.


Mengingat Yoga membuat wajah Freya berubah mendung. Setelah amarahnya mereda, ia mulai sedikit merindukan pria itu. Bukan rindu karena perasaan suka antar lawan jenis, tapi lebih seperti perasaan rindu akan kehidupan di masa lalu, ketika mereka masih begitu muda dan menjalani kehidupan dengan penuh optimisme.


Tanpa rasa takut.


Tidak ada kebimbangan.


Jika dibandingkan dengan sekarang, hidupnya selalu diliputi ketidakpastian.


Pramudya tidak lagi memperhatikan Freya. Fokusnya berada pada sang Kakek memilih untuk duduk di kursinya. Ia diam-diam berkeringat dingin. Dari semua tempat duduk yang ada dalam ruang kerjanya, kenapa Kakek harus duduk di sana. Bagaimana kalau tiba-tiba dia membuka laci dan menemukan apa yang ada di dalamnya?


Gawat ....


Pramudya mendekat ke arah Freya, sedikit menunduk dan berbisik di telinganya dengan canggung, “Terima kasih.”


Biar bagaimana pun, ia merasa berutang budi kepada istri kecilnya ini. Hanya Kakek satu-satunya anggota keluarganya yang tersisa. Ia tidak ingin Kakek mendapat serangan jantung karena ulahnya.


Freya mengulas senyum indah di wajahnya sebelum mendongak dan balas berbisik di telinga Pramudya, “Aku melakukannya untuk Kakek, bukan untukmu.”


Pramudya hampir tersedak.


Sudahlah.


Ia pasti sudah gila karena merasa sedikit tertarik kepada gadis tidak bermoral ini.


***

__ADS_1


Pria kejam dan gadis tak bermoral yang sulit mengakui perasaan masing-masing😵



__ADS_2