
Pria yang memakai jaket denim itu menghambur ke depan dan memeluk Freya erat-erat, membuat semua orang yang ada di situ menatap mereka dengan ekspresi yang aneh.
Mengapa Nyonya Muda dipeluk pria asing? Apakah dia tidak takut CEO Pram akan menguburnya hidup-hidup?
Freya masih membeku dalam pelukan pria itu dan tidak bereaksi. Ia merasa seperti sedang bermimpi di siang bolong.
“Aku mencarimu ke mana-mana! Kenapa tidak bilang kalau ganti nomor telepon? Aku mencoba menghubungimu, tapi nomormu tidak aktif.”
Pria itu bergumam di samping telinga Freya. Napasnya yang hangat dan lembab membuat Freya tersadar, itu bukan mimpi.
Tubuh Freya seketika menegang. Emosi yang kompleks memenuhi hatinya, lalu air matanya jatuh begitu saja. Pria ini ...
“Hei, hei ... kenapa menangis? Aku sudah kembali. Aku tahu aku salah. Ayo, pulang. Aku janji kali ini tidak akan meninggalkanmu lagi. Aku janji—“
“Pergi!” Freya mendorong pria itu dengan kuat.
Setelah terkejut, rasa sakit menyengat hatinya dengan kuat sehingga membuatnya menangis tak terkendali. Namun, setelah itu amarah membuatnya ingin memukuli pria di depannya itu sampai lumpuh.
“Freya, aku tahu aku salah. Tolong maafkan aku ... aku akan menjelaskan kepadamu nanti. Aku—“
“Tidak perlu!” Freya menyusut air matanya dengan kasar, lalu menoleh ke arah Kikan. “Ayo, pergi.”
Kikan yang sudah menahan napas sejak tadi akhirnya baru berani bergerak. Ia memberi isyarat kepada pengawal untuk menahan pria asing yang hendak menyusul Nyonya Muda mereka masuk ke mobil.
Sebenarnya ia sudah sangat ingin menendang pria asing itu sejak awal kemunculannya, tapi melihat keterkejutan di wajah Nyonya Muda, juga rasa sedih dan tangisannya, ia tidak berani gegabah dan bertindak sembarangan.
Untung saja Nyonya Muda segera mengendalikan diri dan meminta mereka untuk pergi, kalau tidak ... entah apa yang akan dilakukan oleh CEO Pram jika melihat hal ini.
__ADS_1
“Cepat jalan,” pinta Freya setelah melihat Sekretaris Kikan telah memakai sabuk pengaman. Ia menatap lurus ke depan, mengabaikan pria yang sedang bergulat dengan para pengawal di luar.
Pria itu ... setelah menghilang selama tiga tahun tanpa jejak, tiba-tiba kembali seperti ini ... atas dasar apa? Apa haknya berlaku semena-mena seperti itu?
Freya merasakan hatinya seolah tertusuk pisau sekali lagi.
Rasanya sangat sakit.
Sesak ....
Ia meringkuk di sudut dan bernapas dengan susah payah. Setelah tiga tahun, rupanya pengaruh pria itu masih sama seperti dulu.
Sakit sekali ....
“Nyonya, Anda baik-baik saja?” tanya Kikan sedikit cemas.
Ia menyadari sepertinya ini adalah masalah cinta lama yang meminta kesempatan kedua. Sial. Bagaimana kalau Nyonya Muda memutuskan untuk kembali kepada mantan pacarnya itu? Bagaimana dengan CEO Pram?
Rupanya ini arti mimpinya ... pria itu akhirnya kembali ... tapi, sayangnya situasi sudah tidak seperti dulu lagi. Atau, haruskah ia membiarkan semuanya kembali seperti dulu lagi?
Satu per satu kenangan menyeruak ke permukaan, terpapar dengan gamblang di depan matanya. Freya seperti sedang menonton film.
Yoga Pratama datang ke Panti Asuhan Kasih Ibu ketika Freya berusia 7 tahun. Saat itu, meskipun telah berusia 10 tahun, tubuh Yoga sangat ringkih dan lebih kecil daripada anak seusianya sehingga ia menjadi bahan bulan-bulanan anak-anak yang lebih besar.
Freya suka menyendiri di kebun belakang, duduk menggambar di atas kertas-kertas bekas yang sudah tidak terpakai. Tempat itu sangat jarang didatangi orang sehingga ia sangat suka berada di sana. Sampai suatu hari, saat ingin duduk dan menggambar seperti biasanya, ia mendengar suara tangisan samar-samar.
Freya kecil sempat ketakutan. Ia mengira itu adalah suara hantu yang sedang mengganggunya. Akan tetapi, ketika melihat siluet seorang bocah laki-laki yang sedang berjongkok di bawah pohon akasia, meringkuk dan menangis seorang diri, Freya segera mengenali bocah laki-laki itu, bocah yang selalu dibuli oleh teman-teman mereka yang lain.
__ADS_1
Ia mendekat dan duduk di samping bocah itu, mengobrol dengannya meski bocah itu tidak menanggapinya sama sekali. Kemudian, setelah menjelang senja, bocah yang sudah lama diam itu akhirnya bangun dan mengulurkan tangannya kepada Freya. Mereka lalu kembali ke aula bersama-sama.
Freya ingat, sejak saat itu ia menjadi tidak terpisahkan dengan Yoga, bocah laki-laki yang kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan. Tidak ada satu orang pun anggota keluarga yang ingin merawatnya. Bocah laki-laki itu dianggap menjadi beban yang tidak dapat ditanggung.
Tentu saja, begitulah cara semua anak berakhir di panti asuhan itu, termasuk dirinya yang dibuang ke sana ketika masih bayi.
Mereka tumbuh bersama, berlatih diam-diam di kebun belakang agar tidak selalu ditindas, berkelahi dengan semua orang yang mengganggu—baik di panti maupun di sekolah.
Setelah lebih besar, mereka diam-diam menyelinap keluar untuk melihat kehidupan malam yang tidak diketahui semua orang. Bergabung dengan kelompok petarung jalanan, lalu keluar dari panti dan membuka arena mereka sendiri, lalu Yoga menghilang begitu saja ....
Apakah pria itu tahu bagaimana frustasinya ia saat tidak dapat menemukan Yoga di mana pun? Ia tidak makan selama tiga hari, terus mencari seperti orang gila, tapi jejaknya pun tidak ada.
Tiga tahun ... tanpa terasa sudah tiga tahun ... lalu dia kembali begitu saja? Mengira hanya dengan meminta maaf maka semuanya akan baik-baik saja? Ha-ha! Lucu sekali!
“Nyonya ....” Kikan menyentuh bahu Freya dengan hati-hati. “Kita sudah sampai ....”
Freya mendongak dan menatap keluar dengan linglung. Rupanya sudah sampai di kediaman CEO Pram, yang untuk sementara akan menjadi tempat tinggalnya juga.
Ia membuka pintu dan turun tanpa berkata apa-apa. Yang harus dijalani tetap harus dijalani sampai akhir. Masalah antara dirinya dan Yoga ... ia tidak mau memikirkannya sekarang.
Tidak ada yang pasti di dunia ini, ia tahu itu. Sama halnya seperti dirinya yang naif tiga tahun lalu, mengira ia akan bersama Yoga selamanya, nyatanya pria itu meninggalkannya begitu saja.
Dan amarahnya saat ini, siapa yang tahu akan memudar seiring berjalannya waktu, kemudian ia akan bisa menghadapi Yoga seperti tahun-tahun yang lalu.
Siapa yang tahu ....
**
__ADS_1
Saingan cinta CEO