Istri Kesayangan Tuan Pram

Istri Kesayangan Tuan Pram
Istriku, Ayo Pulang


__ADS_3

Sebelum Freya dan Lisa berdiri dan meninggalkan kafe, terdengar suara yang datang dari sisi kanan mereka.


“Freya!"


Tawa Lisa tiba-tiba berhenti, sedangkan tubuh Freya mendadak menegang. Suara ini ....


Keduanya berbalik bersamaan, mencari si pemilik suara yang tidak terdengar asing.


“Kamu ....” Freya membuka mulutnya dan tidak tahu harus mengatakan apa lagi.


Di depannya, Yoga tersenyum lebar. Pria itu mengenakan kaos oblong hitam yang dipadukan dengan jaket denim dan celana kargo hitam. Dengan penampilan seperti itu, Yoga terlihat sangat tampan. Ia memiliki pesona bad boy yang akan selalu mampu membuat cewek-cewek terpesona.


Buktinya beberapa gadis yang tadinya sempat mengagumi Pramudya kini mengalihkan perhatian mereka kepada Yoga dengan tatapan lapar. Freya mengernyit jijik. Air liur sudah hampir menetes dari mulut mereka. Bahkan Lisa pun terbengong dan menatap Yoga tanpa berkedip.


Tapi itu bukan fokus Freya sekarang. Ia kembali mengamati Yoga menyadari ada sebuket besar bunga lily of the valley di tangannya.


Warna putih cerah dari bunga bakung gunung itu sangat kontras dengan pakaian Yoga, tapi membuatnya terlihat sangat menawan. Perpaduan pria yang maskulin dan bunga yang cantik itu sangat indah, sampai-sampai hampir menyaingi keindahan cahaya matahari senja yang mengambang di langit.


Freya terpana dan hampir menangis. Yoga masih mengingat bunga kesukaannya, dan ... penampilannya masih sama seperti yang ada dalam ingatannya. Ternyata tidak banyak yang berubah.


Sial, bagaimana ini?


Pria ini seperti hantu gentayangan yang selalu mengikutinya ke mana-mana, tapi ia tidak bisa benar-benar marah ... meski Yoga pergi begitu saja tiga tahun lalu dan meninggalkannya tanpa kabar, ia juga tidak bisa benar-benar membencinya ....


Bagaimana ini?


Aku harus bagaimana ....


Di saat Freya masih belum dapat memutuskan apakah harus pergi atau memberi kesempatan kepada Yoga untuk bicara, pria itu telah lebih dulu maju dan menyodorkan buket bunga itu ke arahnya.


Tubuh Freya sedikit tersentak ke belakang. Ia memekik pelan karena terkejut, lalu detik berikutnya terdiam ketika sebuah lengan yang kokoh menopang pinggangnya dengan sempurna.


“Istriku, ayo pulang.”

__ADS_1


Freya merinding mendengar suara itu, apalagi kalimat itu ... seluruh bulu kuduknya meremang. Ia menatap Pramudya yang sedang tersenyum lembut ke arahnya, seratus persen mengabaikan tangan Yoga yang masih teracung dengan memegang buket bunga di depan wajah mereka.


“Aku ....” Freya tidak tahu harus mengatakan apa. Ia tiba-tiba tidak bisa berpura-pura lagi. Sikap dan tindakan Pak Pram membuat otaknya jungkir balik.


Yoga mencoba untuk mendekat untuk menyerahkan buket bunga lily di tangannya. “Freya, aku—“


“Sayang, ayo ....” Pramudya mengabaikan air muka Freya yang bergelombang dan keruh. Ia memberi tekanan lembut di pinggang istrinya dan melangkah pergi.


Ingin merebut istrinya secara terang-terangan. Bercanda, ya?


Mau tak mau Freya terpaksa mengikuti langkah kaki Pramudya, tapi sepersekian detik kemudian, Yoga menahan tangannya yang satu lagi, membuat tubuhnya tertahan di tengah-tengah dan tidak bisa bergerak.


Freya melirik ke belakang, menarik tangannya dari genggaman Yoga seraya berkata, “Lepaskan.”


Biar bagaimana pun, statusnya saat ini adalah Nyonya Antasena.


“Freya ....” Air muka Yoga berubah mendung. Ia terlihat sangat kasihan, seperti seekor kucing liar yang tersesat.


“Lepaskan,” ucap Freya sekali lagi.


“Setidaknya terimalah ini,” pintanya dengan ekspresi memohon.


Freya menggigit bibirnya dan berpaling menatap Pramudya. Mana mungkin ia menerima pemberian bunga dari pria lain di hadapan “suaminya”. Ia masih tahu tata krama dan etika. Untuk kali ini, menurutnya sikap Yoga sudah sedikit keterlaluan. Meski mengetahui rahasianya bahwa pernikahan antara dirinya dan Pramudya hanya pura-pura, tidak sepatutnya dia memberikan bunga di tempat umum seperti ini.


Entah mengapa melihat Freya yang mengabaikan pemberian Yoga Pratama membuat Pramudya merasa sangat puas. Ia menarik pinggang Freya mendekat, lalu menunduk dan mencium pipinya sekilas.


“Istriku sangat patuh dan manis. Suamimu ini akan memberikan hadiah setelah pulang nanti,” ucapnya dengan suara yang agak keras sehingga dapat didengar oleh Yoga.


Lisa yang diam-diam menonton sejak tadi sangat ingin meminjam jempol pengawal dan mengacungkan semuanya kepada Pak Bos.


Bagus, Bos. Jangan biarkan istrimu direbut pria lain!


Pipi Freya memerah mendengar ucapan yang ambigu itu. Ia tahu Pak Pram sengaja melakukannya untuk membuat Yoga semakin kesal. Tapi, untuk saat ini yang bisa dilakukannya adalah terus berakting dengan suaminya. Selain itu, anggap saja ini adalah pembalasannya terhadap Yoga.

__ADS_1


Pergi begitu saja, kembali seenaknya. Apakah dia pikir aku mudah dibodohi?


Freya mendorong bunga yang diberikan oleh Yoga dan menggandeng lengan Pramudya. Keduanya melangkah pergi, meninggalkan Yoga yang menatap punggung mereka dengan tangan terkulai. Buket bunga di tangannya jatuh ke lantai.


Lisa tidak ingin mengganggu Pak Bos dan Freya. Ia kembali ke mobil yang tadi mengantar dirinya dan Freya, meminta sopir untuk mengantarnya pulang. Hari sudah sore, jam kerjanya sudah berakhir.


Di depan sana, Pramudya membukakan pintu mobil untuk Freya. Ia lalu memutar dan masuk dari sisi yang berlawanan.


Tiba-tiba Freya merasa mobil Audi milik Pak Pram terasa sedikit sempit dan gerah ketika pria itu duduk di sebelahnya. Ia bergeser hingga lengannya hampir menempel dengan pintu mobil.


Padahal ia sudah berjanji dan bertekad untuk menjauhi Pramudya Antasena, semakin jauh semakin baik ... tapi mengapa rasanya setiap hari interaksi yang terjalin di antara mereka justru semakin intens? Ia tidak bisa menerimanya.


“Sudah kutransfer ke rekening pribadimu.”


Ucapan yang tiba-tiba keluar dari mulut Pramudya membuat Freya menoleh dan menatapnya dengan heran.


Apanya yang sudah ditransfer?


“Dua ratus juta. Biaya ciuman tadi,” ucap Pramudya dengan santai. Ia bahkan tidak mendongak untuk menatap wajah Freya ketika berbicara.


Mendengar penjelasan itu, Freya mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Ia menarik napas dan mengalihkan tatapannya untuk melihat ke luar jendela.


Jadi malam itu dia tidak mabuk?


Dia sadar dengan apa yang dia lakukan?


Inikah yang dimaksud dengan “hadiah” yang akan diberikan?


Apa dia menganggap aku adalah wanita murahan yang menilai segalanya dengan uang?


Freya sangat marah. Apakah sangat menyenangkan mempermainkan orang miskin seperti dirinya?


Di sepanjang perjalanan pulang, ia tidak berkata apa-apa, juga tidak menatap wajah Pramudya lagi. Ia takut akan lepas kendali dan meninju wajah tampan itu sampai tidak bisa dikenali lagi.

__ADS_1


***


__ADS_2