Istri Kesayangan Tuan Pram

Istri Kesayangan Tuan Pram
Ke Kafe


__ADS_3

Freya duduk di pinggir ranjang dan menatap luka-luka di tubuhnya dengan sedih.


Baru satu hari menjadi istri Pak Pram, tubuhnya sudah babak belur seperti ini. Bisakah ia bertahan hingga 6 bulan?


Sepertinya pernikahan ini tidak akan berjalan mulus seperti yang ia harapkan. Tadinya ia pikir ia hanya perlu menjadi istri yang patuh dan pergi belajar dengan giat di kampus.


Siapa yang mengira ia masih harus menghadapi ibu mertua dan kakak ipar yang kejam, diculik oleh berandalan yang berbau badan, lalu ... masih harus menghadapi orang yang pernah disukainya.


Sedangkan suaminya yang tidak berperasaan itu, setelah membantingnya di atas kasur langsung melarikan diri seperti sedang melihat wabah. Suaminya yang kejam itu bahkan tidak bertanya di mana ia terluka, dia segera berbalik dan pergi begitu saja. Benar-benar tidak memiliki hati nurani.


Oh, tidak, dia sempat mengatakan sesuatu.


“Kamu tidak usah pergi bekerja lagi.”


Apa maksudnya?


Apakah aku dipecat dari Antasena Grup?


“Arrrgh!” Freya menutupi wajahnya dan berteriak kencang, membuat Lisa dan Ruth yang sedang menemaninya hampir melompat karena terkejut.


“Ada apa?” tanya keduanya hampir bersamaan.


“Menjengkelkan!”


Lisa saling bertukar pandang dengan Ruth, lalu kembali menoleh ke arah Freya.


“Nyonya lapar?” tanya Ruth.


“Aku bosan ....” Wajah Freya terlihat sangat memelas.


Kenapa Pak Pram harus melarangnya pergi bekerja? Kalau seperti ini, orang-orang akan semakin seru bergosip bahwa ia menggoda Pak Pram agar dinikahi dan tidak perlu bekerja lagi ... hiks, sangat sedih ....


Ia juga sudah lama tidak pergi ke kafe. Doni tidak pernah membalas pesannya lagi, juga tidak pernah mengangkat teleponnya. Ia tidak tahu apakah sudah dipecat atau tidak. Sangat memusingkan.


Ia tidak bisa hanya duduk diam di rumah dan mengandalkan kekayaan suaminya. Itu semua bukan miliknya. Ia ingin melakukan sesuatu yang berguna sehingga jika tiba-tiba ia berpisah dengan Pramudya, ia masih memiliki pijakan.


Apa yang akan ia lakukan jika Pramudya tiba-tiba mencampakkannya sebelum masa kontrak berakhir? Sementara ia telah kehilangan pekerjaan di Antasena Grup dan Kafe Maple. Memikirkannya sudah membuatnya sakit kepala.


“Nyonya? Anda baik-baik saja? Apa ada yang Anda inginkan?” tanya Ruth sekali lagi. Ia cukup khawatir melihat kondisi majikannya yang tampak tertekan.

__ADS_1


“Bagaimana kalau kita main ke mal?” ajak Lisa dengan bersemangat.


Freya memutar bola matanya dan mencibir.


“Ayahmu tidak tahu kalau kamu sudah tidak bekerja di Antasena Grup?” tanyanya.


“Apanya yang sudah tidak bekerja? Pekerjaanku sekarang adalah menemanimu setiap hari. Kata Bos ke mana pun kamu pergi, aku harus menemani. Dia akan membayar gajiku dua kali lipat setiap akhir bulan,” jawab Lisa dengan bangga.


“Apa?” Freya terkejut. Kenapa dia tidak tahu hal ini?


“Hm.” Lisa mengangguk-angguk dengan sangat puas. Selain dibayari kuliah, ia juga digaji untuk bersenang-senang. Ia merasa akhir-akhir ini hidupnya sangat santai dan enak. Sebenarnya, hanya duduk diam di dalam kamar seperti ini pun tidak masalah baginya. Toh, gajinya akan tetap ditransfer saat akhir bulan. Bagaimana bisa ia tidak senang?


“Kamu—“


Ponsel Freya di atas meja berdering. Ada panggilan masuk. Freya tidak jadi bicara. Ia mengulurkan tangan dan mengambil ponselnya, kemudian melihat panggilan di ponselnya yang ternyata dikirim oleh pemilik kafe.


Freya tertegun. Padahal ia telah mencoba menghubungi Ibu Nancy, sang pemilik kafe itu beberapa kali untuk mengabari mengapa ia tidak bisa datang bekerja selama beberapa hari terkahir, tetapi wanita itu tidak merespons sama sekali. Sekarang dia tiba-tiba menelepon seperti ini, ada apa?


Freya menyentuh tombol terima dengan sedikit ragu dan menempelkan ponsel ke telinganya.


“Halo, selamat siang, Bu,” sapanya.


“Halo, Freya. Maaf Ibu baru sempat menghubungimu. Sejak minggu lalu Ibu di luar kota.”


“Iya, Ibu telepon mau ngomong soal kerjaan. Kamu kapan ada waktu? Ibu ingin ketemu. Bisa?”


“Eh ... itu ... sebenarnya saya lagi senggang sih, Bu. Kalau Ibu mau bertemu sekarang juga bisa.”


“Wah, kebetulan Ibu juga lagi di kafe. Kamu langsung ke sini aja, ya.”


“Oke, Bu. Mungkin saya sampai di sana sekitar dua puluh menit lagi.”


“Nggak apa-apa. Ibu tunggu, ya. Sampai ketemu nanti.


“Baik, Bu.”


“Ada apa?” tanya Lisa kepo. Selain menemani Freya ke mana-mana, tugasnya adalah menjadi mata-mata yang melaporkan ke mana Freya akan pergi kepada Bos Besar.


Ia tahu Bos Besar bukannya tidak percaya terhadap Freya, Bos hanya tidak ingin Freya terus terluka. Buktinya pria itu selalu memerintahkan dirinya dan Ruth untuk menjaga Freya dengan baik.

__ADS_1


“Aku harus pergi ke kafe. Bu Nancy ingin bertemu denganku.”


“Siapa?”


“Bu Nancy, pemilik kafe tempat aku bekerja paruh waktu.”


“Aku ikut!” Lisa langsung melompat turun dari sofa dan mengambil sweater yang digantung di dekat lemari.


“Nyonya, Anda masih terluka.” Ruth mengingatkan.


“Tidak apa-apa, hanya luka kecil.”


Dulu saat masih ikut tarung jalanan, seluruh tubuhnya lebam dan biru-biru hampir setiap hari. Selalu ada luka besar dan kecil yang memenuhi tubuhnya sehingga membuatnya kebal.


Namun, setelah vakum selama tiga tahun tidak pernah bertarung langsung, ia harus mengakui kadar toleransi tubuhnya terhadap rasa sakit mulai melemah. Tapi sepertinya ia akan mulai terbiasa lagi. Ia cukup yakin akan ada pertarungan berdarah selama 6 bulan ke depan. Ia mengingatkan diri sendiri untuk berjaga-jaga dan bersiap dengan baik.


Ruth tidak membantah lagi. Ia ikut berdiri dan hendak membantu Freya bersiap-siap, tapi Freya menolaknya dengan keras.


“Ruth, sudah kukatakan, kecuali aku akan menghadari jamuan makan malam atau acara-acara formal lainnya, kamu tidak perlu membantuku melakukan apa pun,” tegur Freya.


Ruth terdiam. Kalau begitu pekerjaannya sama seperti Nona Lisa, hanya duduk-duduk santai sepanjang hari tanpa melakukan apa-apa. Kenapa ia merasa sedang makan gaji buta?


Sebelum ia sempat protes, Freya sudah pergi ke ruang ganti untuk mengganti kaos oblongnya dengan blus berwarna cokelat muda. Ia memoles bedak tipis-tipis, sedikit pelembab bibir, lalu menjepit rambutnya dengan asal, mengambil tas slempangnya dan berjalan keluar.


Ruth sudah hampir menangis. Kenapa Nyonya sangat sulit ditangani? Ia bahkan tidak diperbolehkan melakukan lulur dan massage. Bagaimana kalau bos tahu dan memecatnya? Ia bertekad dalam hati, ketika Nyonya kembali nanti, ia harus menjelaskan tugasnya sebagai asisten pribadi dengan sangat jelas.


Begitu tiba di teras depan, seorang sopir langsung membukakan pintu mobil dengan sigap dan mempersilakan Freya masuk.


“Terima kasih.” Freya masuk dan duduk di kursi penumpang.


Lisa melompat masuk dan duduk di sebelahnya.


“Jalan, Pak. Nanti ikuti arahan saya saja.”


“Baik, Nyonya.”


Mobil itu meluncur keluar dari halaman rumah Pramudya yang luas. Freya tidak ingin repot-repot mengabari Pak Pram ataupun Pak Bayu. Ia tahu Lisa sudah melakukannya lebih dulu. Pengkhianat kecil yang menempelinya ke mana-mana ini, ia tidak tahu harus marah atau berterima kasih kepadanya.


Setidaknya, dengan laporan yang Lisa berikan secara berkala, ia tidak perlu melaporkan sendiri keberadaannya kepada Pak Pram atau Pak Bayu. Rasanya seperti menjadi tahanan rumah. Sangat canggung.

__ADS_1


Ia mengerti, jika Pak Pram atau Pak Bayu mengetahui di mana ia berada, maka mereka dapat langsung menolongnya jika terjadi sesuatu, sama seperti kejadian tadi pagi. Jika bukan karena Lisa yang memberitahukan kepergiannya kepada Pak Bayu, mungkin saat ini ia masih merangkak keluar dari dermaga dengan susah payah. Oleh sebab itulah ia juga tidak bisa kesal kepada Lisa.


***


__ADS_2