Istri Kesayangan Tuan Pram

Istri Kesayangan Tuan Pram
Mari Hidup Dengan Bahagia


__ADS_3

Ketika melihat istrinya berderap keluar dari kamar mandi seperti banteng yang akan mengamuk, Pramudya mengangkat alisnya.


Ada apa lagi kali ini?


Kesalahan apa lagi yang telah dilakukannya?


Jangan bilang gadis konyol ini baru akan memarahinya karena kejadian tadi. Ia sudah bersiap untuk meminta maaf karena telah bertindak sedikit di luar kendali.


“Ada apa, Sayang?” tanyanya setelah istri kecilnya mendekat.


“Kamu!” Telunjuk Freya teracung, mengumpulkan kembali serangkaian kalimat yang tadi sudah disusunnya dengan baik di dalam kepala.


Sial. Kenapa setelah menghadapi Paman Tua ini ia tidak bisa fokus?


Posisi duduk macam itu?


Kenapa kancing bajunya masih belum dirapikan?


“Aku tahu aku salah, maafkan aku, ya,” ucap Pramudya seraya menggerak-gerakkan tangannya di udara. “Kemari dan tidurlah. Aku janji tidak akan macam-macam lagi.”


“Kamu tahu kamu salah?’ ulang Freya dengan mata memicing. Jadi benar Paman Tua ini pernah melakukannya dengan wanita lain?


Ia menggeram seperti seekor macan tutul yang sedang marah.


“Iya, aku mengaku salah. Aku janji lain kali tidak akan mengulanginya lagi.”


Freya menggigit bibirnya dengan kuat.


Masih ada lain kali?


Heh. Paman Tua ini memang minta dihajar.


“Dengan siapa kamu melakukannya? Berapa kali? Di mana?” cecar Freya sambil mengepalkan tinjunya. Ia sudah bersiap untuk memukuli pria mesum ini jika berani menjawab lebih dari tiga kali.


Pramudya menaikkan alisnya lagi. Sepertinya mereka sedang membicarakan dua hal yang berbeda. Ia bergeser ke sisi ranjang dan meraih tangan Freya.


“Apanya yang dengan siapa? Apanya yang berapa kali? Kamu sedang membicarakan apa?” tanyanya.


Freya menepis tangan suaminya dengan kesal. Masih ingin berpura-pura bodoh, ya?


Huh!


“Berapa kali kamu melakukan hal-hal seperti tadi dengan wanita lain?” tanya Freya sambil bersedekap.


“Hal-hal tadi?” Pramudya mengulang pertanyaan itu sambil menahan tawanya. Sekarang ia mengerti kenapa gadis konyol ini tiba-tiba datang seperti angin topan dan ingin menghajarnya sampai mati.


Ia mengulurkan tangan dan mencubit ujung hidung Freya sambil menjawab, “Itu hanya kamu. Tidak ada yang lain.”


“Bohong!” Freya berusaha menahan air mukanya agar tetap terlihat serius meski ucapan Pramudya sedikit menggetarkan hatinya.


“Aku tidak berbohong. Kamu tanya saja kepada Pak Anton atau Kakek, apakah aku pernah membawa wanita pulang untuk menginap atau tidak."


Freya tiba-tiba teringat akan percakapannya dengan Pak Anton waktu itu. Tapi itu ‘kan tidak menjamin apakah Paman Tua ini pernah “bermain” dengan wanita lain atau tidak. Bisa saja dia menyewa hotel, villa, apartemen, atau bahkan di dalam mobil.


Brengsek!


Freya bergidik ngeri karena pemikirannya sendiri.


“Kenapa? Masih tidak percaya?” tanya Pamudya.


“Bisa saja kamu melakukannya di tempat lain.” Freya bersikeras. Tidak mungkin pria ini tidak memiliki pengalaman dengan wanita lain.


Semakin dipikir semakin membuatnya kesal.

__ADS_1


Ia dan Yoga tidak pernah melakukan hal-hal seperti itu. Oke?


Pramudya tertawa. Kedua tangannya terangkat, menarik Freya masuk ke dalam dekapannya. Ia menciumi puncak kepala Freya dengan penuh rasa sayang.


Istrinya ini sedang cemburu ...


Ia merasa sangat senang.


Baru kali ini ia merasa bahagia karena dimarahi.


Konyol sekali.


“Sayangku, aku tidak pernah bermain wanita. Hanya kamu satu-satunya yang bisa membuatku bereaksi seperti tadi. Percaya tidak?” gumamnya sambil mengendusi leher istrinya.


Freya menggeleng. Ia mendorong tubuh Pramudya dengan keras, tapi pria itu tidak mau melepaskannya. Matanya sudah merah dan berkaca-kaca. Emosi yang ditahan kadang membuat air matanya tumpah tanpa permisi. Sungguh memalukan.


Kenapa ia harus merasa sangat kesal hanya karena suaminya pernah menyentuh wanita lain?


Ia masih bisa menerimanya jika hanya sekadar pelukan atau ciuman, tapi kalau sudah pernah tidur bersama, ia merasa tidak rela.


Ia menunduk dan menyusut sudut matanya dengan punggung tangan sambil menggerutu, “Dasar preman. Suka menindas dan semena-mena.”


“Hei, jangan menangis ... aku sungguh minta maaf, ok?” Pramudya meraih ponselnya dan membuka pesan dari Bayu.


“Bacalah,” ucapnya seraya menyodorkan ponsel itu ke hadapan Freya.


“Untuk apa?”


“Baca saja,” kata Pramudya. Ia rela melakukan apa saja demi meyakinkan kekasihnya yang sedang cemburu ini, termasuk mempermalukan dirinya sendiri.


Meski masih kesal, Freya akhirnya melirik ponsel itu dan membaca pesan yang dikirimnya oleh Pak Bayu untuk suaminya.


Dua detik kemudian, ekspresi wajahnya yang semula dipenuhi amarah berubah dengan cepat.


Perjaka?


Itu artinya ....


Freya menelan ludah dengan susah payah dan mengalihkan pandangannya.


Paman Tua, kamu tidak malu menunjukkan aib ini kepadaku?


“Sudah?” tanya Pramudya, menarik tubuh istrinya agar semakin dekat dengannya.


“Masih tidak percaya?” desaknya ketika melihat istrinya tidak memberikan reaksi.


Freya tidak bisa menjawab. Meski hatinya masih kesal dan curiga, tapi pesan itu telah mematahkan seluruh praduganya.


“Tapi kenapa tadi kamu ... tadi ....” Freya menggigit bibirnya dan melirik ke arah suaminya.


Kenapa dia bisa begitu terampil?


Bibir Pramudya melengkung. Ia bisa menebak apa isi kepala gadis konyol yang suka berpikiran sembarangan ini.


Ia menunduk, menyusupkan wajahnya di ceruk leher istrinya sambil mengakui isi hatinya, “Itu karena dirimu, Sayang. Kamu selalu membuatku kehilangan kendali. Berada di dekatmu membuatku tidak bisa menahan diri. Aku sudah menahannya terlalu lama, berusaha menyangkalnya terlalu lama ... maaf, lain kali tidak akan terulang lagi tanpa izin darimu.”


Freya tertegun. Jadi pria ini, bintang yang dirasanya tidak tergapai ini ... ternyata memiliki perasaan yang sama untuknya sejak lama?


Tangannya yang tergantung di udara perlahan bergerak naik dan menyentuh punggung suaminya.


Rupanya ia sudah salah paham.


“Maaf, aku ... um, aku tadi—”

__ADS_1


“Tidak apa-apa. Aku senang kamu cemburu,” sela Pramudya. Inisiatif Freya untuk membalas pelukannya membuat sebuah seringai bodoh muncul di wajahnya.


Dengan reaksi seperti ini, seharusnya istri kecilnya ini tidak pernah melakukan hal-hal intim dengan Yoga Pratama, ‘kan?


Meski sejujurnya ia tidak peduli bagaimana masa lalu istrinya; sejauh apa hubungannya dengan Yoga Pratama, mengetahui ini adalah pengalaman pertama bagi istrinya membuatnya merasa sangat bahagia.


Lihat, berapa banyak prinsip yang telah ia langgar demi istri kecilnya ini.


Pramudya merasa tak berdaya sekaligus sangat puas.


“Freya.”


“Hm?”


“Ingat ini baik-baik. Hanya kamu satu-satunya wanita yang membuatku jatuh hati. Hanya kamu yang bisa membuatku kehilangan kendali. Tidak peduli apa pun latar belakangmu, bagaimana masa lalumu, jangan khawatirkan itu semua. Itu tidak berarti apa-apa untukku. Mari mulai kehidupan yang baru. Oke?”


Freya menelan ludahnya yang mendadak terasa masam dan pahit.


Pria ini memintanya untuk tidak mencemaskan latar belakanganya yang hanya seorang yatim piatu? Seorang gadis miskin yang tidak memiliki apa-apa. Untuk melupakan masa lalunya bersama Yoga Pratama. Untuk memulai kehidupan yang baru sebagai kekasih sekaligus sebagai suami istri.


Bagaimana ia bisa begitu beruntung?


“Sayang?” panggil Pramudya. Ia mendongak dan mendapati wajah istrinya sudah basah oleh air mata.


“Ada apa? Kenapa menangis?” tanyanya seraya mengusap pipi dan dagu istrinya dengan telapak tangannya.


Ferya berusaha untuk tersenyum meski air matanya jatuh semakin banyak.


Mungkin ini yang dinamakan air mata bahagia.


“Mari mulai kehidupan yang baru. Mulai saat ini, di hatiku hanya ada kamu seorang,” ucapnya.


Pramudya mengangguk dan mengecup kedua kelopak mata istrinya bergantian. Janji itu sudah lebih cukup untuknya. Ia tidak menginginkan apa pun lagi.


Ia mengangkat tubuh Freya dengan mudah, membawanya dalam dekapan dan berguling di atas ranjang.


“Pram!” Freya menjerit karena gerakan suaminya yang tiba-tiba.


Pramudya membaringkan tubuh Freya di depannya, bergeser hingga dadanya menempel di punggung gadis itu, lalu menarik menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka.


Setelah mematikan lampu, tangannya menelusup masuk, melingkar di pinggang ramping istrinya sambil bergumam pelan, “Sudah malam. Cepat tidur.”


Tubuh Freya yang menegang perlahan relaks. Ia bergelung dan mencari posisi nyaman.


Pelukan yang hangat ini.


Bahagia yang membuncah.


Semuanya terasa sangat tepat.


Bibir Freya melengkung. Matanya secara perlahan menjadi berat.


Ia sudah hampir tertidur ketika mendengar Pramudya berbisik di dekat telinganya.


“Freya, mari hidup dengan bahagia.”


Lengkungan di bibir Freya semakin lebar. Ia menarik tangan Pramudya dan mendekapnya di dada.


Ya, mari hidup dengan bahagia.


***


yuhu, jangan lupa komen, like dan vote ya. Thank you...💙

__ADS_1


__ADS_2