Istri Kesayangan Tuan Pram

Istri Kesayangan Tuan Pram
Menjalankan Rencana


__ADS_3

“Mereka sedang lengah. Sekarang lah waktu terbaik untuk menjalankan rencana itu,” ucap Tari dengan sepasang mata yang berkilat penuh semangat.


Selama ini, meski tidak ikut campur lagi dalam urusan perusahaan, tapi Pak Tua sialan itu selalu mengirim orang-orang kepercayaannya untuk ikut mengawasi. Dia juga selalu diam-diam mengutus pengawal kepercayaannya untuk membantu menangkal serangan-serangan yang diarahkan kepada Pramudya. Tapi sekarang, baguslah dia sudah mati. Tidak akan ada penghalang yang akan menganggu lagi.


Tari mendekat ke arah putranya, menepuk-nepuk lengannya dengan kuat sambil berkata, “Pak Tua itu sudah tidak ada, orang yang melindungi bajingan kecil itu sudah tidak ada. Sekarang adalah waktunya, Tommy, jangan lemah.”


“Ibu—“


“Diam! Lakukan saja apa yang Ibu katakan! Ini demi kebaikanmu.”


Tommy mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Ia selalu tidak bisa membantah jika ibunya telah mengatakan kalimat pamungkas itu.


Semua yang dilakukan oleh ibunya, itu demi kebaikannya, demi masa depannya.


Ia berbalik dan menatap bayangan Pramudya dan Freya dari kejauhan.


Hatinya gamang untuk sesaat.


Hanya sesaat karena detik berikutnya, suara ibunya kembali terdengar.


“Jika kamu tidak melakukannya, Ibu bersumpah akan mati di hadapanmu!” ucap Tari dengan lantang.


Sebuah mobil sedan hitam menepi di dekat ibu dan anak itu. Tari membuka pintu mobil itu dan masuk, meninggalkan putranya yang masih mematung di pinggir jalan.


Ancaman ini lagi. Tommy merasa sangat tidak berdaya. Antara Ibu dan adik tiri, tentu ia akan lebih memilih ibunya.


Mengenai adik tiri dan istrinya itu ....


Tommy mengalihkan pandangannya, mengikuti laju mobil sedan hitam yang berbelok di tikungan.


Kenapa hidupnya harus begitu kelam?


Kenapa ia harus terlahir dalam keluarga ini?


Kenapa ia harus menjadi seorang anak haram?


Ada begitu banyak pertanyaan “kenapa” dalam kepala Tommy, tapi tak ada satu pun jawaban yang ia temukan.

__ADS_1


Di dalam mobil yang melaju, Tari melirik ke kursi pengemudi. Carissa duduk tegak, tatapannya lurus ke depan. Gadis itu memakai gaun dusty pink. Bibirnya dipoles lisptik nude. Aroma parfum mahal menguar dari tubuhnya yang padat dan seksi.


Tari memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan tatapan iri. Ia merasa cemburu akan kecantikan masa muda yang masih dimiliki oleh Carissa. Ia sendiri, meski telah menjalankan berbagai perawatan rutin untuk mencegah penuaan dini, gejala-gejala yang timbul akibat pertambahan usia itu tetap saja tidak bisa dihilangkan sepenuhnya. Itu membuktikan bahwa hukum alam memang tidak dapat dilawan.


“Informasi apa yang Bibi punya?” tanya Carissa tiba-tiba. Tangannya memutar kemudi, mengarahkan mobil memasuki jalan protokol.


Ia memang sengaja tidak menghadiri pemakaman Pak Tua. Untuk sementara ia sudah memutuskan untuk tidak muncul dulu di hadapan Pram. Dengan begitu, ketika pria itu jatuh dan membutuhkan pertolongan, ia akan muncul seperti malaikat penyelamat. Lalu Pram akan langsung jatuh hati dan kembali kepadanya.


Kali ini ia bersedia datang dan menjemput wanita tua ini karena diiming-imingi informasi mengenai Pram.


“Mereka tidur sekamar semalaman. Orang suruhanku juga melihat mereka bermesraan di dapur meski tidak ada si Tua Bangka yang sudah mati itu. Menurutmu kenapa bisa begitu?” Tari balik bertanya sekaligus melemparkan umpan.


Carissa mengumat dan meninju setir mobil dengan kuat sehingga suara klakson yang nyaring mengagetkan para pejalan kaki.


“Itu tidak mungkin! Bagaimana bisa perkembangan hubungan mereka melesat cepat hanya dalam waktu beberapa hari?” serunya.


Tari menyunggingkan senyum licik.


“Mungkin karena bulan madu itu, mereka menjadi semakin dekat dan terbuka satu sama lain,” jawabnya.


Tangan Carissa terkepal erat sampai buku-buku jarinya memutih. Tidak mungkin Pramudya mau tidur sekamar dengan wanita murahan itu dengan sukarela, pasti karena ada kakeknya sehingga ia terpaksa melakukan hal itu. Ya, pasti begitu.


“Bisa saja dia terpaksa karena harus berpura-pura di depan kakeknya,” cetus Carissa separuh berharap tebakannya itu benar.


Tari mencibir dan melambaikan tangannya di udara. “Kamu tidak mengerti. Itu bukan pura-pura. Pelayanku bilang, cara Pramudya menatap dan memperlakukan istrinya sudah sangat jauh berbeda. Seratus delapan puluh derajat. Itu tidak terlihat seperti pura-pura.”


Setelah mengucapkan kalimat itu, Tari melirik ke samping sekali lagi. Ia merasa sangat senang dan puas melihat ekspresi wajah Carissa yang sangat jelek. Gadis itu terlihat sangat marah dan kesal.


Semakin marah semakin bagus.


Semakin kesal maka lebih bagus lagi.


Dengan begitu barulah bisa menjadi penyemangat untuk menghancurkan Pramudya dan istrinya.


“Bagaimana menurut Bibi? Haruskah kita menjalankan rencana itu sekarang?” tanya Carissa seraya menoleh sekilas.


Seringai wajah Tari semakin lebar. Pertanyaan ini lah yang ditunggu olehnya.

__ADS_1


“Ya, ini adalah waktu yang tepat. Pramudya sedang berduka, pengawasan pasti tidak akan terlalu ketat. Jika kemampuan orang-orang yang kamu sebutkan itu memang sehebat itu, seharusnya bukan masalah yang sulit untuk membereskan ja lang kecil itu.”


Seringai sinis terukir di wajah Carissa. Satu minggu ia duduk diam dan menahan emosi yang bergejolak di dalam dada, itu bukan karena dirinya sangat bermurah hati, tapi karena ia sedang mempersiapkan sebuah rencana ... rencana yang akan membuat ja lang yang telah merampas Pram dari sisinya menghilang selamanya.


“Bibi tenang saja. Kali ini tidak akan gagal. Aku sudah mempersiapkan semuanya dengan baik,” timpalnya.


Tari mengangguk puas. Bagus sekali. Ini seperti yang diharapkannya. Ia tidak perlu campur tangan untuk menyingkirkan ja lang kecil itu. Ketika istrinya mengalami musibah, perhatian Pram si bocah tengik itu pasti akan terpecah. Dengan demikian akan lebih mudah untuk menjatuhkannya. Tari merasa sangat bersemangat.


“Menurut Bibi, kapan waktu terbaik untuk menjalankan rencana itu?” tanya Carissa. Mobil melambat, memasuki area parkir salah satu mal terbesar yang ada di Kota Jakarta. Ia berencana untuk mentraktir Tari Antasena karena sudah memberitahukan kepadanya setiap detail informasi yang didapatkan dari kediaman Pramudya.


“Lebih cepat lebih bagus. Jika masa berkabung sudah lewat, fokus Pramudya pasti akan sangat sulit untuk dialihkan. Apa lagi menurut pelayan utusanku, Pramudya menempeli istrinya sepanjang waktu. Bahkan sudah tidak malu memamerkan kemesraan di depan semua orang. Kamu lihat saja tadi bagaimana dia memeluk gadis kampung itu erat-erat di pemakaman kakeknya.” Tari sengaja menambahkan bahan bakar ke dalam api yang sedang berkobar dan membara. Semakin besar nyala api itu semakin bagus. Ia pasti akan sangat menikmati momen kehancuran Pramudya.


Carissa cemberut. Keningnya berkerut dalam-dalam hingga alisnya hampir bertaut. Kali ini sepertinya ucapan Bibi Tari benar, ia harus segera bertindak ketika ada kesempatan.


Ia menepikan mobil ke pelataran parkir, kemudian mengambil ponsel jadul dari dalam tasnya. Ponsel itu hanya bisa digunakan untuk mengirim pesan biasa dan melakukan panggilan, tidak ada jaringan internet atau berbagai aplikasi canggih yang ada dalam ponsel android.


Carissa menekan tombol bulat dengan gambar gagang telepon berwarna hijau, kemudian memilih nomor tidak bernama yang berada pada urutan paling atas.


Ia mendekatkan ponsel itu ke telinga dan menunggu panggilan tersambung.


“Halo, Nona.” Terdengar sapaan dari seberang sana.


“Lakukan persiapan dan jalankan rencananya. Jangan sampai tertangkap. Kalau tertangkap, ingat, aku tidak terlibat apa pun di dalamnya. Mengerti?”


“Baik, Nona.”


“Kabari aku kalau kalian sudah mendapatkannya.” Carissa menutup telepon setelah mengucapkan kalimat itu. Sekejap kemudian, sudut-sudut bibirnya terangkat naik.


Heh, gadis kampung. Sekuat apa kamu ketika menghadapi dua lusin pria terlatih? Hm. Itu pasti akan sangat mengasyikkan.


“Kamu yakin orang-orang itu bisa diandalkan?” tanya Tari sedikit ragu-ragu.


“Bibi tenang saja, mereka yang terbaik.” Carissa menjawab mantap. Orang-orang ini didapatkannya dari ibunya, mana mungkin tidak bisa diandalkan?


Orang-orang ini ... ia sudah tahu bagaimana cara kerja dan kekejaman mereka. Menurut kata ibu, kalau bukan karena bantuan orang-orang ini, ia dan ibunya tidak akan berada di posisi seperti sekarang. Jadi tentu saja ia mempercayai kemampuan mereka.


Gadis kampung, kita lihat bagaimana kamu ma ti nanti. Aku bersumpah, itu pasti akan menjadi sebuah kematian yang sangat menyakitkan.

__ADS_1


***


__ADS_2