
Setelah keluar dari ruang Dekan, Lisa menarik tangan Freya untuk pergi ke gerbang kampus. Ruth sudah menunggu di sana, mengantarkan pakaian mereka. Untung saja Pak Bayu bergerak cepat dan langsung meminta Ruth untuk datang.
Di sepanjang jalan, mereka berdua mendapatkan beragam tatapan dari orang-orang yang berpapasan. Ada yang memberi ekspresi keheranan. Ada yang terlihat penasaran. Ada yang kasihan. Ada pula yang berbisik-bisik sambil tertawa. Apa pun itu, Lisa dan Freya mencoba untuk tidak peduli.
Bukannya mereka terlalu bermuka tebal dan tidak merasa malu, tapi tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk mengatasi macam-macam tatapan itu. Tapi mereka tidak mungkin berhenti dan menjelaskan apa yang terjadi kepada semua orang.
“Fiuuuh ....” Lisa mengembuskan napas panjang setelah tiba di pinggir jalan, menepi di bawang pohon palem meski batang pohon itu tidak mampu menghalangi cahaya matahari yang kian terang.
“Di mana Ruth?” tanya Freya sembari menoleh ke kanan dan kiri.
Lisa ikut mencari, lalu membaca kembali pesan di ponselnya. Ia sudah memberi arahan dengan jelas. Tidak mungkin Ruth kesasar, ‘kan?
“Freya!”
Lisa dan Freya menoleh berbarengan, lalu ekspresi keduanya sama-sama berubah muram ketika melihat seseorang yang baru saja melompat turun dari mobil Audi hitam.
“Kenapa malah berandalan ini yang datang?” Lisa mendesis kesal. Ia berkacak pinggang dan mengadang di depan Freya.
Air muka Freya sedikit melembut ketika melihat penampilan Yoga yang berubah banyak dibandingkan terakhir kali mereka bertemu. Tidak ada lagi penampilan yang necis dan berkelas. Kali ini wajah Yoga terlihat kusut. Ada cambang di pipi dan dagunya. Wajahnya kuyu, sepertinya kurang tidur dalam jangka waktu yang cukup lama.
Yoga berhenti sekitar lima langkah di depan Lisa, menatap melewati gadis itu dan mencari sepasang mata jernih yang seminggu belakangan ini sangat dirindukannya.
“Freya.” Yoga memanggil sekali lagi dengan nada rendah, terdengar sedikit putus asa.
Ia menelan ludah yang terasa getir, kemudian bertanya dengan sedikit memohon, “Bisakah kita bicara?”
__ADS_1
Lisa yang menjawabnya dengan ketus, “Bicara apa? Enyah! Pergi bicara dengan nenek moyangmu!”
“Lisa.” Freya menarik tangan Lisa dan menggeleng pelan.
Lisa mencibir kesal, tapi tetap menyingkir dengan patuh. Biar bagaimana pun, ia tidak memiliki hak untuk ikut campur, apa lagi memutuskan apa yang harus atau tidak harus dilakukan oleh Freya.
Selain itu, ia tidak ingin membuat keributan lagi. Sudah cukup dengan satu pertunjukan konyol tadi. Jangan sampai menjadi viral karena berkelahi di kampus. Sangat memalukan.
Freya berdiri berhadapan dengan Yoga, tapi sudah tidak ada perasaan apa pun yang melintas di hatinya kecuali rasa bersalah. Ia merasa bersalah kepada Yoga karena telah mengabaikan dan melupakannya begitu saja. Rasa bersalah itu hanya sedikit, tapi cukup mengganjal dan membuatnya tidak nyaman.
“Mau bicara apa?” tanya Freya. “Katakan dengan cepat. Waktuku tidak banyak.”
Yoga melirik ke arah Lisa sebentar. Rasanya tidak nyaman membicarakan hal penting sambil ditatap oleh orang luar. Apa lagi ditatap dengan begitu sangit, seolah-olah ia memiliki utang ratusan juta kepada teman Freya itu.
Yoga menelan ludah sekali lagi. Ia tidak bisa protes karena Freya pun tidak menegur temannya itu untuk diam. Itu artinya dia juga ingin cepat-cepat pergi, ‘kan? Tidak ingin berlama-lama berbicara dengannya.
“Ada apa?” desak Freya sambil menoleh ke kanan dan kiri lagi. Ke mana perginya Ruth?
“Aku hanya ingin memberitahukan kepadamu, tawaran itu masih berlaku. Sampai kapan pun akan tetap berlaku. Selain itu, Carissa dan ibu tiri Tommy pasti sedang merencanakan sesuatu. Sebaiknya kamu berhati-hati,” ucap Yoga pelan. Ia tahu harapan itu sudah sangat tipis, atau bahkan sudah hilang sama sekali, tapi ia masih tidak ingin menyerah. Sampai kapan pun tidak akan menyerah.
Freya memaku tatapannya kepada Yoga. Tadinya ia memang sudah berniat menjelaskan kepada pria ini tentang hubungannya dengan Pak Pram, tapi lalu Kakek meninggal. Ia tidak punya waktu untuk mengurusi hal lain.
Ponselnya ia matikan sejak kepergian Kakek, ia tidak ingin diganggu oleh hal lain, termasuk Yoga. Baru tagi pagi ponselnya kembali aktif, dan baterai ponselnya langsung drop karena ratusan notifikasi yang masuk, hampir 90% berasal dari Yoga, mulai dari panggilan tak terjawab hingga pesan suara.
Freya tidak sempat membaca semua pesan itu, apa lagi mendengarkan pesan suara, tapi ia sudah menebak Yoga akan datang mencarinya di kampus. Ia hanya tidak menyangka mereka akan bertemu secepat ini.
__ADS_1
“Freya, kamu dengarkan aku ... situasi kali ini benar-benar berbahaya. Aku tidak ingin kamu terluka. Aku mohon, pergi denganku, ya.” Yoga memohon dengan sungguh-sungguh, berharap hati Freya akan luluh dan mengiyakan permintaannya.
Lisa memutar bola matanya dengan kesal. Bibirnya mengerucut seperti ikan koi.
Mimpi saja, bocah tengik! Bos besar pasti akan mencek*kmu sampai mati!
Freya menghela napas panjang sebelum menjawab, “Aku tahu situasi saat ini berbahaya. Mereka akan menggunakan kesempatan saat Pak Pram lengah karena kematian Kakek dan menyerangnya, mungkin menyerangku, tapi aku tidak akan meninggalkan suamiku. Aku menyukainya.”
“Maafkan aku yang sempat menyetujui tawaranmu, tapi itu hanya sebuah tindakan impulsif karena aku sedang kesal kepadanya. Aku minta maaf karena sudah memberi kamu harapan, aku salah. Yoga, hubungan kita berakhir di sini saja. Yang terjadi di masa lalu, lupakan saja. Anggap itu sebagai bagian dari kehidupan yang sudah tidak bisa terulang kembali. Kamu boleh menganggapku orang asing atau teman lama, tapi tidak bisa lebih dari itu,” imbuhnya dengan suara yang tidak terlalu keras, tapi terdengar tegas.
Dalam jarak yang cukup dekat itu, Freya bisa melihat mata Yoga berkaca-kaca. Ia tergerak oleh rasa kasihan, tapi dikeraskannya hatinya agar tidak luluh. Semua hubungan yang pernah terjalin di antara mereka harus diselesaikan hari ini agar tidak terjadi kesalahpahaman di masa depan.
Tangan Yoga mengepal erat. Suaranya tercekat di tenggorokan. Apa yang ingin ia ucapkan menggumpal dan berdesakan di dadanya.
Berada dalam situasi yang canggung itu, Lisa hanya bisa menggerutu dalam hati dan mundur diam-diam. Ia ingin memberi Freya ruang untuk menyelesaikan masalahnya dengan Yoga. Dengan begitu temannya itu bisa fokus menjalin hubungan dengan Pak Bos. Di matanya, Pak Bos adalah satu-satunya pria yang layak mendampingi Freya, tidak ada yang bisa menandinginya.
“Yoga, aku berterima kasih atas perhatianmu, tapi aku tidak membutuhkan bantuanmu. Aku dan suamiku bisa menghadapinya. Jadi ... jaga dirimu baik-baik. Aku pergi dulu.”
Setelah mengucapkan serentetan kalimat itu, Freya menunggu respons Yoga, tapi pria itu hanya berdiri diam dan menatapnya.
“Kalau tidak ada lagi yang ingin kamu bicarakan, aku pergi dulu,” ucap Freya.
Ia lalu berbalik dan menyusul Lisa.
***
__ADS_1