
“Kamu sudah mendengarnya?” tanya Bayu yang menyerbu masuk ke kantor Pramudya dengan tiba-tiba.
Itu adalah pertama kalinya Bayu masuk tanpa mengetuk pintu. Berita yang menyebar di lantai bawah terlalu menggemparkan!
Para karyawan bergosip bahwa Nyonya Muda memiliki selingkuhan di luar. Benar-benar ... tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Pramudya masih terlihat serius membaca dokumen di tangannya, membuat Bayu menggertakkan giginya karena kesal. Manusia satu ini!
“Pramudya Antasena, kalau kamu terus seperti ini, aku yakin istrimu tidak akan bertahan lama denganmu! Jangankan enam bulan, bahkan mungkin tidak akan bertahan sampai melakukan resepsi pernikahan!” Bayu mengumpat dengan emosi.
Pramudya mengernyitkan keningnya pertanda tidak senang. Ia mendongak dan menatap Bayu penuh peringatan. Ucapan macam apa itu?
“Kamu menyumpahiku?” tuduhnya.
Bayu mengelak, “Siapa yang menyumpahimu? Aku hanya mengatakan berdasarkan fakta! Kalau kamu terus bersikap dingin dan acuh tak acuh seperti ini, tidak akan ada wanita yang tahan denganmu!”
“Tidak perlu wanita untuk tahan denganku. Kalau mau pergi, ya, pergi saja.” Pramudya menjawab dengan santai, kemudian kembali menekuri dokumen yang menurutnya lebih penting.
“Pria yang digosipkan sebagai selingkuhan istrimu itu, dia adalah Thunder yang menghilang tiga tahun lalu. Aku sudah menyelidikinya. Tiga tahun lalu, dia bukan menghilang tanpa sebab. Kakeknya menemukannya dan membawanya kembali.”
Bayu diam dan menunggu reaksi Pramudya. Sahabatnya itu tetap menunduk dan diam, tapi dari kepalan tangannya yang mengerat, ia bisa merasakan bahwa sebenarnya Pramudya sedikit peduli. Oleh sebab itulah ia menghela napas dan melaporkan hasil penyelidikan yang baru saja dikirimkan oleh orang-orang suruhannya.
“Nama aslinya adalah Yoga Pratama, satu-satunya penerus dari Pratama Group yang ada di Singapura. Dua puluh tahun lalu, pamannya berkolusi dengan lawan bisnis ayahnya untuk merebut Pratama Group. Kedua orang tuanya meninggal di tempat. Yoga terluka parah, tapi masih hidup. Salah satu kaki tangan dari komplotan itu merasa tidak tega, lalu mengirimnya ke Indonesia untuk menghilangkan jejak. Lalu entah bagaimana ia berakhir di Panti Asuhan Kasih Ibu ketika berusia sepuluh tahun dan bertemu calon istrimu di sana.”
Maksud dari ucapan Bayu adalah, jika itu adalah sembarang pria maka tidak apa-apa, tidak perlu dipedulikan. Tapi ini adalah penerus Pratama Group yang tidak kalah besar jika dibandingkan dengan Antasena Grup. Freya bisa direbut kapan saja.
Pupil Pramudya menyusut. Jelas ia memahami apa maksud terselubung dalam informasi yang disampaikan oleh Bayu. Ada sedikit perasaan asing yang bergejolak dan membuat hatinya tidak nyaman.
Seharusnya ia tidak peduli jika gadis itu “berselingkuh” dengan siapa pun. Hubungan mereka hanya di atas kertas, tidak ada keterlibatan perasaan yang mendalam. Namun, perasaan tidak nyaman itu seolah menggerogoti hatinya.
Apakah itu adalah amarah karena gadis itu berpelukan dengan pria lain di depan kantornya? Atau karena egonya yang terluka?
Pramudya semakin kesal karena ia tidak dapat memutuskan apa alasannya.
“Kamu pikirkanlah baik-baik.” Setelah mengucapkan kalimat itu, Bayu berbalik dan pergi.
Sejujurnya, ia sangat berharap Pramudya dapat akur dengan istrinya, tidak akan mengakhiri pernikahan setelah jangka waktu enam bulan. Penampilan dan kemampuan gadis itu tidak buruk, hanya perlu sedikit polesan untuk membuatnya semakin bersinar. Ia akan merasa jauh lebih tenang jika ada seseorang yang merawat sahabatnya itu secara pribadi.
__ADS_1
Namun, melihat sifat keras kepala dan arogan sahabatnya itu, sepertinya keinginannya akan sulit untuk terwujud. Meskipun begitu, ia tetap berharap akan ada keajaiban.
***
Setelah mengucapkan terima kasih kepada Sekretaris Kikan yang telah mengantarnya pulang, Freya mencari Pak Anton dan segera menginterogasi pria tua itu tentang Nyonya Besar yang datang memarahinya dan mengatainya tidak layak untuk Pramudya Antasena.
Awalnya Pak Anton terlihat sungkan, tapi setelah Freya bersumpah bahwa tidak akan membocorkannya kepada siapa pun, Pak Anton akhirnya mengalah dan menceritakan semuanya.
Nyonya Besar itu ternyata hanyalah seorang wanita ketiga yang merusak pernikahan orang lain, bahkan menyebabkan Nyonya rumah depresi dan meninggal, tapi dia dengan tidak tahu malu mengklaim kepemilikan atas rumah utama Keluarga Antasena dan bertindak semena-mena di sana. Oleh sebab itulah Pak Anton memutuskan untuk keluar dan mengikuti Tuan Muda Pramudya. Ia tidak sudi diperintah oleh wanita iblis itu.
Sedangkan mengenai Tommy Antasena, Pak Anton hanya menjelaskan secara garis besar perselisihan di antara kedua bersaudara itu.
Setelah mendapatkan infomasi yang diinginkannya, Freya mengurung diri di dalam kamar sepanjang hari. Ia terlalu malas melakukan apa pun. Sampai waktu makan siang pun ia abaikan karena tidak merasa lapar.
Ia hanya ingin berbaring di kasur dan tidak melakukan apa-apa. Ia tiba-tiba merasa lelah untuk alasan yang tidak jelas.
Mungkin karena pernikahan palsu itu terlalu rumit dan merepotkan ....
Mungkin juga karena kemunculan Yoga yang tiba-tiba membuat mood-nya berantakan dalam sekejap ....
“Nyonya, Tuan mencari Anda.”
Freya berguling dan menutup telinga dengan bantal. Ia tidak ingin bertemu dengan siapa pun saat ini, terutama pria itu, Pramudya Antasena ... ia benar-benar tidak ingin bertemu dengannya.
“Nyonya ....”
Suara pelayan itu terdengar serba salah, membuat Freya merasa tidak tega. Ia mendesah kuat-kuat dan melempar bantal ke sudut ranjang. Dengan langkah gontai ia berjalan dan membuka pintu.
“Nyonya, Anda belum makan sejak siang. Maaf, saya terpaksa mengatakannya kepada Tuan. Sekarang Tuan menunggu Anda di ruang kerjanya,” bisik pelayan itu seraya menundukkan kepalanya.
Freya menatap pelayan yang hampir seumuran dengannya itu dan menghela napas lagi. Itu adalah pelayan yang sama yang melayaninya sejak kedatangannya ke rumah itu.
“Siapa namamu?” tanya Freya.
Gadis itu tampak terkejut. Wajahnya sedikit memucat. Sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu yang tidak-tidak. Freya langsung tertawa.
“Sudahlah, aku hanya ingin berkenalan, bukannya ingin memarahimu. Kita sudah bertemu sejak kemarin, tapi aku tidak tahu namamu,” ucapnya seraya mengulum senyum.
__ADS_1
Gadis itu mendongak takut-takut dan berkata, “Nama saya adalah Ruth, Nyonya.”
Freya melambaikan tangannya. “Lain kali panggil aku Freya saja, Ruth.”
Ruth ingin tertawa sekaligus menangis. Nyonya Muda suka bercanda. Ia tidak punya keberanian sebesar itu, oke? Nyawanya cuma ada satu, akan ia jaga baik-baik. Ia belum bosan hidup.
Freya yang mengetahui Ruth tidak akan menyetujui permintaannya hanya bisa pasrah.
Ia juga tidak ingin menyulitkan gadis itu lagi dan bertanya, “Di mana ruang kerjanya?”
“Silakan, Nyonya, lewat sini.”
Ruth mengarahkan ke lorong sisi kanan mereka. Freya mengikuti tanpa banyak tanya. Ia menoleh ke luar saat melewati jendela berbingkai lebar dengan gaya mediterania. Semburat jingga yang mengambang di permukaan langit membuat Freya menyadari bahwa sudah sore. Ia tidak menyadarinya sama sekali.
Ruth berhenti di depan sebuah pintu cokelat yang berada paling ujung. Bentuk ruangan itu sedikit melengkung, hampir membentuk setengah lingkaran. Ia mengetuk pintu tiga kali, lalu mundur di belakang Freya.
“Masuk.”
Terdengar suara dari dalam. Freya mengulurkan tangan dan memutar gagang pintu.
Ia sedikit terpana ketika melihat Pramudya yang memakai kacamata. Pria itu sedang berdiri di samping meja kerjanya, membaca sesuatu yang entah apa di ponselnya dengan ekspresi serius.
Freya menelan ludah. Ia tidak pernah melihat Pak Pram memakai kacamata sebelumnya. Dengan penampilan seperti itu, Pak Pram terlihat lebih mudah didekati.
Karena Pramudya tidak menoleh dan tidak mengatakan apa-apa, Freya memberanikan diri untuk bertanya, “Permisi, Pak. Anda mencari saya?”
“Hm.” Pramudya bergumam tanpa menoleh.
Freya mematung di depan pintu, tidak tahu harus melangkah maju atau tidak. Jawaban macam apa itu?
Pria ini ... benar-benar sulit dihadapi.
**
Pak Pram versi "mudah didekati" 😁
__ADS_1